Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 28 Syukuran


__ADS_3

Kini Galih sudah mengetahui semua. Sampai kapankah Antonio akan menutupi anak itu? Sampai kapan dia akan berterus terang?


Jika anda masih mencintai wanita masa lalumu kenapa kau tidak mengakhiri pernikahanmu dengan nonaku? Batin Galih.


Kini Galih merasa jengah dan ingin membongkar semuanya. Namun apalah daya, dirinya tidak ingin membuat nonanya terluka. Apalagi sekarang dia telah melahirkan. Sosok ayah sangat berperan penting untuk perkembangan tuan muda kecilnya.


***


Brakk


Brakk


Suara-suara didalam kamar. Dia memecahkan semua benda yang berada didalam kamar. Apakah gerangan yang membuat lelaki itu mengamuk?


"Kurang ajar, kenapa gadis kecil itu selalu bebas dari genggamanku,"


Penjaga dirumah merasa khawatir mendengar keributan didalam kamar bosnya. Dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar itu. Lalu membuka handle pintu.


Penjaga itu terkejut melihat keadaan kamar yang berantakan.


"Ini semua karna kalian bodoh, membereskan satu gadis saja tidak becus. Tidak ada gunanya kalian," hardiknya dengan kemarahan.


Lelaki itu setiap harinya hanya marah-marah, kekesalannya diluapkan dengan memecahkan barang-barang yang berada didalam rumah.


"Tuan, coba lihat ini," ucapnya dengan memberikan map. Map berisi tentang gadis kecil itu.


Senyum licik menyeringai dibibirnya. "Sepertinya akan lebih mudah jika anaknya saja kita culik," perintahnya pada penjaga itu.


Lelaki itu merasa mendapat kekuatan baru untuk melumpuhkan incarannya. Dengan menculik anak dari gadis kecil itu tentunya akan mempermudah kejahatannya.


"Hahahahaha,"


"Tapi tuan anak itu masih kecil dan masih butuh asi kasian jika dipisahkan sekarang, kita tunggu sampai usinya 3tahun saja," saran penjaga itu kepada bosnya.


Laki-laki itu hanya menganggukan kepalanya, lalu mendudukan badannya ditepian ranjang dengan memeriksa beberapa laporan-laporan tentang gadis itu.


"Misi kali ini kalian harus berhasil, saya tidak ingin gagal lagi!"


***


Kini usia tuan muda kecil Alwi Ananda Nugraha sudah menginjak tiga tahun. Dengan mengadakan syukuran kecil-kecilan. El pun memberikan undangan kepada tetangga-tetangga terdekat.


El dengan segala kesibukannya mengurus Alwi, tak lupa pula membantu para bibi untuk menata makanan-makanan untuk acara nanti setelah ashar tiba.


"El, sini biar bibi saja nanti kamu sakit," titah Antonio pada El untuk duduk tidak perlu membantu.


Semenjak El melahirkan El memutuskan kuliahnya dan lebih focus untuk merawat anak pertamnya. Antonio dan juga Willy sudah membujuk El dengan sejuta cara supaya gadis itu mau untuk melanjutkan pendidikannya.

__ADS_1


Setelah dibujuk akhirnya dia mau melanjutkan kuliahnya, setiap hari anaknya dibawa oleh bibi. Dengan alasan supaya dia bersemangat dengan belajarnya.


El sudah membereskan skripsinya. Menjadi kebanggaan tersendiri untuk dirinya sendiri. El tidak melanjutkan dulu kuliahnya sampai Alwi sudah mengerti untuk ditinggalkan. Makanya ketika anaknya berusi tiga tahun dia yang paling antusias. Karna beberapa tahun ini dia lebih banyak belajar ketimbang mengurus anaknya.


"Wajarlah mas, namanya juga syukuran untuk anak sendiri," ujarnya dengan menggendong Alwi.


"Itu benar nona El, biar saya saja dengan para bibi!" sambung Putri memotong perbincangan pasutri itu.


"Sini biar kakak gendong Alwi-nya," pinta Willy untuk mengalihkan menggendong anaknya El.


El pun kembali untuk membantu menata makanan bersama Putri. Aurelia pun nampak dari depan pintu bersama anak gadisnya.


"Aunty," panggilnya dan berlari mengahampiri El.


El sigadis kecil, titisan dari El-Suci. Apakah pantas bila dipanggil seperti itu?


El dengan senang hati memberi salam hangat kepada gadis kecil itu, yang kini sudah berusia sebelas tahun. Namun tingkahnya masih manja terhadap El. Meskipun El tidak ada ikatan saudara dengannya.


"Sayang sudah besar yah!"


"Selama beberapa tahun aunty tidak bermain denganmu karna aunty ingin menyelesaikan sekolah aunty. Sini peluk aunty nya," pinta El dengan merentangkan tangannya untuk dipeluk El kecil.


"Aunty sudah punya tuan Alwi masih sekolah?" tanya El kecil dengan melonggarkan pelukannya.


"Iya kan supaya pintar," jawab El dengan nada menggoda.


Dan dimanakah Aurelia? Aurelia tengah membuntuti orang yang mencurigakan. Aurelia pun mengirimkan pesan singkat kepada tuannya.


💬 "Tuan, suruh orang-orangmu untuk membereskan beberapa orang yang sudah kupoto tadi," isi pesannya lalu terkirimkan.


Dan benar saja orang-orang itu telah ditangani oleh bos Aurelia. Aurelia memang bukan hanya terlihat cantik, namun kepiawaiannya mampu membuat orang tertipu.


Tingkah dan penampilannya lemah gemulai mana mungkin orang bisa berfikiran kalau dia lincah dalam bela diri.


Sepertinya yang diincar bukan lagi nona, tetapi tuan muda kecil. Batin Aurelia.


Aurelia pun berjalan mencari El dan El gadis kecilnya, beserta tuan muda kecilnya. El mengarahkan beberapa penjaga untuk menghalangi tuan muda kecil.


Aurelia juga memberi arahan agar para tamu untuk berada dibelakang supaya dengan mudah keluar.


💬 "Semua sudah aman. Jalankan dengan khusuk untuk acara-acara syukuran tuan muda kecil Alwi,"


Aurelia pun tersenyum kemenangan dan penuh kelegaan didalam jiwanya.


FlashBack💦


Ketika pesan itu diterima, dia langsung bergerak cepat untuk melumpuhkan beberapa orang penyusup.

__ADS_1


Penyamaran mereka sangat tak dapat dan tak mudah dikenali dengan mata jeli.


"Sedang apa kalian mengendap-ngendap?" tanya penjaga rumah.


Dilantai atas dan tepatnya dibelakang orang yang telah mengendap-ngendap mereka pun dengan sigap untuk menunggu aba-aba dari orang yang berada didepannya.


Penjaga yang bertanya pun mengedipkan matanya dan berhasil melumpuhkan musuh dihadapannya tanpa harus mengeluarkan senjata api.


Mereka pun berpencar kembali untuk mencari para musuh yang menyusup kerumah kediaman Nugraha. Sebelum acara dimulai para penjaga rumah sudah dapat membekukan beberapa orang penyusup.


"Tuan semuanya sudah aman terkendali," lapornya.


"Kerja yang bagus urus mereka dan buat mereka mengaku supaya bosnya dapat kita ketahui kelemahannya," titahnya pada orang suruhannya.


"Anda tidak akan dapat menyentuh seujung rambutpun untuk mencelakai nona ataupun tuan muda kecil saya," ucapnya dengan penuh kemarahan.


FlashBack💦


"Kau pintar dalam menyusun siasat," puji laki-laki itu.


Aurelia pun menoleh dan terkesiap, jantungnya memompa dengan cepat. Seluruh anggota tubuhnya terasa berhenti. Dia mencoba sekuat tenaga untuk dapat tenang. Meskipun saat ini sangat sulit dirinya menelan ludahnya kekerongkongannya.


"Maksud tuan Willy apa?" jawabnya dengan sok polos, meskipun kini dia tengah mengalami kegugupan dan keringat dingin mulai myeruak didalam tubuhnya.


Sebelum Willy melontarkan pertanyaan, datang dari arah belakang El, Antonio, Galih, Putri dan El kecil tentunya.


"Sedang apa kalian?" tanya Antonio pada Willy.


"Menurutmu kami sedang apa pamam?" bukannya menjawab Willy hanya memberikan Antonio pertanyaan kembali.


"Sudah-sudah acara mau dimulai ayo kak, mas, semuanya kita mulai," ajak El kepada semuanya.


Acara sudah berjalan dengan lancar. Kini waktupum sudah menunjukan pukuk 5:30. Dan acarapun telah selesai dengan sebagaimana mestinya tanpa gangguan.


***


Willy pun mengikuti Aurelia hingga kerumah kontrakan sederhanya.


"Tunggu!" titah Willy menghentikan langkah keduanya.


Aurelia pun menoleh, dia pun kembali tegang, Aurelia pikir dia telah terbebas dari pertanyaan-pertanyaan Willy. Namun nyatanya lelaki itu malah membuntutinya hingga kerumah kontrakannya.


"Kenapa tuan Willy?"


***


Berikan like dan votenya dong (^_^)

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2