
Willy kini tengah berada dilantai atas, ia menghadap jendela. Matanya tiada henti-hentinya menatap keindahan kerlap kerlip lampu malam. Ia sangat malas jika harus pulang kerumahnya.
Dua minggu berlalu perjodohan itu dibatalkan sepihak oleh Ima, yang pasti Ananda tidak akan menyetujuinya. Terlepas dari itu semua Willy tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Ting
Sebuah pesan masuk kedalam ponsel Willy, buru-buru Willy membacanya. Betapa terkejut dan begitu sakit hatinya mendengar ancaman yang di kirimkan oleh Ima. Membuat Willy mau tidak mau harus melepaskan dua orang yang bagai berlian dalam kehidupannya, sangat berharga.
💬 "Jangan memperjuangkan anakku lagi! Dan ingat jangan mencoba untuk diam-diam menemui anakku lagi, jika itu terjadi. Dalam semalam perusahaan yang kamu bangun akan bangkrut sekejap mata," acam Ima.
'Nasib orang tidak punya, aku bisa apa. Aku tidak punya harta untuk berkuasa, sebenarnya aku tidak ingin menyerah namun keadaan yang harus membuatku untuk harus terbiasa tanpa kalian,' batin Willy.
Setelah membaca pesan itu Willy pun langsung terduduk lemah di kursi kebesarannya. Dengan tatapan kosong penuh pikiran ia terhanyut dalam tentang isi pesan dari Ima. Putri hanya mampu memandangi prihatin. Karena ia juga dalam keadaan galau kala tahu kekasihnya dipaksa untuk bertunangan dengan nonanya.
Prang...
Sepertinya Putri menyenggol past bunga dipinggir samping pintu kantor Willy. Dengan langkah cepat Willy keluar dari ruangannya untuk melihat apa yang terjadi hingga mengakibatkan kegaduhan dari luar.
Ketika pintu dibuka lebar, tampaklah sosok wanita pengisi hari-harinya. Tengah memunguti pecahan past bunga degan berjongkok. Willy pun ikut membantu.
"Kenapa belum pulang? Apa kamu mau orang tahu kita hanya berduaan disini. Digrebek lalu dinikahkan begitu?! Biar jadi istri pertama," celetuk Willy.
"Ya Alloh otakmu itu." Putri mengusap wajah Willy dengan membacakan ayat kursi.
Willy menepis tangis Putri, "Kurang ajar kamu, kamu kira saya kerasukan," decak Willy tidak terima.
Willy mengamati wajah Putri Yang tengah tertawa, ia lihat lagi wajah Putri dengan seksama.
"Matamu sembab, kamu nangis?" Tanya Willy.
"Ini hanya kelilpan bos ganteng," jawab Putri.
"Akhirnya, mengakui juga kalo aku itu ganteng," ucap Willy memuji diri sendiri. Putri hanya mampu mendelik dan berpura-pura ingin muntah.
(ilustrasi Putri yang akan muntah)
__ADS_1
Setelah beres Willy pun mengantarkan Putri ke apartment nya. Willy juga mengantarkannya sampai kedepan pintu apartment Putri.
"Tuan," panggil Putri ketika Willy akan melangkah pergi. Willy pun berbalik.
"Jangan bersedih terus, aku selalu mendukungmu. Jangan menyerah yah. Perjuangkan jika kamu mencintainya," seloroh Putri.
Willy hanya menganggukan kepala dan tersenyum dengan miris. Entah harus bagaimana jalan yang ia pilih. Willy pun melanjutkan perjalannya untuk pulang.
Dari arah belakang seseorang sedang frustrasi melihat kedekatan keduanya. Apalagi Willy yang ternyata sangat perhatian. Setelah pergi Putri menyenderkan kepalanya di dinding. Memperhatikan Willy yang sampai pergi dan tidak terlihat lagi olehnya.
Ketika telah masuk dan akan menutup pintu seseorang mencegahnya. Dengan seluruh kekuatan Putri menahan pintunya agar lelaki itu tidak bisa masuk.
Tapi sayang karena kekuatannya lebih besar dari dia. Akhirnya pintu pun terbuka. Menampilkan sosok laki-laki yang telah membuatnya merana.
"Aku boleh masuk ya?" Tanya nya pada Putri.
Tidak ada pilihan untuk Putri selain menganggukan kepalanya, seraya mengiyakan. Dengan berbinar-binar ia pun bahagia. Dengan langkah cepat ia memasuki apartment Putri. Putri pun memberikan segelas teh untuk tamunya.
"Ada keperluan apa? Ini sudah malam sebaiknya pulang saja," usir Putri secara halus. Sejujurnya ia tidak ingin mengatakan ini. Tetapi harus bagaimana menyikapinya. Lelaki itu masih mengejarnya.
"Mengapa berbicara seperti itu? Kita kan sudah bertunangan. Mengapa orang lain bisa mengantarmu pulang sedangkan aku ...." Jawabnya lirih, kekecewaan terlihat dimanik mata indah itu.
"Kamu tidak usah repot-repot memikirkan aku. Aku tidak apa-apa kok." Putri tersenyum menampilkan senyuman manis palsunya.
Beberapa detik kemudian, senyuman itu menjadi isakan tangis pilu yang mewakili kesakitannya. Kenyataan yang sesungguhnya mereka tidak bersama. Putri tidak bisa lagi sekedar bergurau kala menggodanya seperti dulu.
Semuanya berakhir dengan tidak mengenakan. Yang ada hanya menyesakkan. Khayalan-khayalan dulu tentang sebuah pernikahan yang sangat indah sungguh membuatnya semakin hancur.
Bagaimana dengan dekorasi yang telah dipersiapkan keduanya. Bertemakan tentang alam yang sangat menyejukkan. Semua khayalan itu harus Putri buang jauh, sejauh mungkin.
Lelaki itu berjongkok dihadapan Putri. Lelaki itu pun seperti sedang menangis, karna bahunya berguncang.
"Aku mohon jangan menemui aku lagi," pinta Putri. Ia juga melepas paksa genggaman lelaki itu.
"Aku harus bagaimana, agar kamu mau menungguku," desah lelaki itu dengan frustrasi.
"Tidak perlu apa-apa lagi," jawab Putri.
__ADS_1
Putri akan beranjak dari duduknya untuk berpindah tempat. Namun lelaki itu dengan cepat menggulingkan Putri disofa hingga akhirnya Putri terlentang di sofa. Ia juga mengukung Putri, Putri memberontak. Ia tidak mau sampai lelaki itu berbuat nekad.
Putri sudah sekuat tenaga untuk bisa terlepas dari kungkungan lelaki itu. Tapi sayang semuanya sia-sia. Tubuh lelaki itu terlalu kekar dan kuat hingga Putri tidak bisa melepaskan diri. Dengan pasrah Putri bernegosiasi.
"Aku mohon lepaskan aku," pinta Putri dengan menghiba.
"Aku tidak akan melepaskanmu, kamu keras kepala tidak mau mendengarkan semua ucapanku. Mungkin seharusnya kamu berbadan dua supaya tidak bisa pergi," ucap lelaki itu dengan tersenyum menakutkan.
Tubuh Putri seketika menegang mendengar ucapan lelaki itu. Apa mungkin ini semuanya hanya ancaman, atau dia benar-benar akan melakukannya. Putri menggelengkan kepala agar lelaki itu tidak berbuat demikian.
"Jangan. Aku mohon menyingkirlah," pinta Putri lagi.
"Sudah kubilang aku tidak akan melepaskanmu,"
Tatapannya sungguh menakutkan, lidahnya menjulur seperti ingin mencicipi tubuh Putri, ia semakin gelisah. Wajahnya sudah pucat pasi. Lelaki itu mendekatkan wajahnya kehadapan Putri. Tetapi dengan cepat Putri menggeleng-gelengkan kepala supaya lelaki itu tidak bisa mencumbunya.
Putri juga memukul-mukul dada bidang itu. Sandaran ternyamannya selama ini. Dengan terpaksa lelaki itu akhirnya mencekal pergelangan tangan Putri dan diletakan diatas kepalanya. Pipi Putri sudah berlinangan air mata. Namun lelaki itu masih tidak melepaskan Putri, entah kemana rasa sayangnya. Mungkin akal warasnya tertutupi karena cemburu.
Lelaki itu sudah mencumbu Putri namun dengan kelembutan meskipun tatapannya menakutkan. Hingga Putri terbawa suasana karena kelembutan yang kekasihnya berikan. Tangan kanannya mencoba meraba dua gunung yang membuatnya bernafs*.
Kesadaran Putri kembali sadar ketika perpagutannya dihentikan oleh lelaki itu. Sebelum lelaki itu melakukan hal yang lebih ia pun membenarkan posisi keduanya.
Lelaki itu mengacak rambutnya frustasi. Ia juga berlalu pergi dari apartment Putri tanpa meninggalkan sepatah katapun. Atau meminta maaf atas perlakuannya pada Putri.
"Aku tahu kasih sayangmu lebih besar untukku, hingga kamu tidak akan berani membuat hidupku berantakan,"
***
Bersabarlah, sebuah perjuangan tidak akan berakhir sia-sia
Jika kamupun bersabar untuk sebuah ujian.
Ujian penguat Cinta kita.
Saling mendukung lah, aku tahu kamu akan selalu menungguku.
***
__ADS_1
tekan jempolnya ok 👍