Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 13 POV El-Suci / Aku Menganggap Ini Mimpi Buruk


__ADS_3

Kenapa begitu tatapannya? Apa dia akan menodaiku? Mengingat ini didalam kamar?!


Apalagi keadaannya yang tak sadar, kesadarannya yang ditutupi dengan keadaannya yang tengah mabuk. Aku harus tepis pikiran buruk ku, mana mungkin.


Dia akan berbuat yang tak senonoh padaku. Dia memeluk ku menghimpit tubuhku, merekatkan pelukannya.


Dia memanggilku kembali, "El." Panggilnya dengan perlahan membuka semua pakaian yang ia kenakan.


"Mungkin dia mau mandi." pikir ku lalu kupegang tangannya untuk membopongnya kekamar mandi.


Namun perkiraanku salah, aku salah besar. Aku terlalu polos menangkis semua pikiran itu. Ternyata hal buruk tengah akan aku alami.


Kenapa disituasi ini kau sepolos ini El, dia tengah dipengaruhi al-koh*l dan alam kesadarannya pun entah kemana.


Apakah mungkin dia benar akan menodaiku?


Apakah dia, dia akan memperk***ku?


Apakah dia mau membuat hidupku hancur?


Aku bodoh, aku bodoh. Kamu bodoh El. Tolong siapa saja diluar sana bantu aku, aku ingin keluar dari kamar kak illy!!


Mata ku pun mulai berkaca-kaca, dia mendorong tubuhku dengan kasar keatas ranjang.


"Kak sadar kak ini El." Ucapku dengan berusaha untuk bangun.


Cup


Tetapi dia malah menc*iumku sekilas Lalu...


Cup


Dia menc**m ku kembali, "Apa-apa-an sih kak lepas,"


Aku berontak sekuat tenagaku, aku tidak mau ini semua terjadi. Aku tidak mau keh*rmat*nku direnggut paksa begini.


Dia kembali melancarkan aksinya, dia membuka paksa pakaianku hingga terlepas dari tubuhku.


"Ah,, kak Will kumohon sadarlah ini jangan dilakukan kak, ini tidak benar kak." aku memukul-mukul kepalanya, menjambaknya.


Bukannya berhenti dia malah mencekal kedua tanganku diatas kepalaku. Aku tidak bisa berbuat apa apa lagi, tenagaku sudah habis terkuras bahkan ini semua hanya sia-sia saja.

__ADS_1


Padahal aku sedikit bisa ilmu bela diri lalu kenapa disaat begini aku tidak bisa melawannya? Apakah karna dia kakak angkat ku jadi aku tidak bisa untuk membuatnya babak belur?


"Ahh... Kak jangan huhuhu," Aku menangis sejadi jadinya.


Dengan suara parau aku menghiba namun tak didengarnya. Aku terlalu memikirkan dirinya. Tetapi tidak memikirkan diriku sendiri. Aku... Aku... hanya bisa menangisi semua ini.


Entah berapa jam dia melakukan hal buruk itu padaku, hingga dia berhenti dan memeluk ku dengan sangat erat dan mencium keningku.


"El aku sangat menyayangimu." Kak Willy berbisik ditelingaku, hingga dia menjatuhkan tubuhnya disisiku dan menyelimutiku.


Aku menangis tak henti-hentinya aku menangis bagaimana hidupku nanti.


Bagaimana dengan orang yang sangat kucintai?


Apakah dia akan menerimaku? Tangis ku pun pecah.


Kutatap manik mata sayup indah yang terlihat kelelahan itu, kupegang wajahnya dengan jemari jemari tanganku.


"Kau sudah kuanggap Kakak ku kenapa kau men**aiku? Kenapa kau mengahancurkan hidupku Kak." Dengan mengusap air mata ku yang berderai.


Tanpa sadar aku terlelap kedalam mimpi.


***


Iya kenyataan dan mimpi yang sangat buruk untuk ku.


Mimpi buruk untuk masa depanku. Bahkan kini aku membencinya dengan seluruh kehidupanku. Aku bahkan tidak mau hanya melihat batang hidungnya bahkan wajahnya sekalipun.


Aku tidak mau tinggal dirumah ini lagi, Mas Tino aku kini hancur sehancur-hancurnya. Aku sangat menyayangimu Mas tapi aku sudah ternoda.


Aku merasa sangat tidak pantas saat ini.


Aku merasa aku tidak layak menjadi makmum mu.


Aku tidak layak menjadi ibu untuk anak-anakmu!.


Ku sibak selimut itu, aku turun dari atas ranjang dan memungut satu persatu pakaian ku, dan kupakai kembali. Dengan air mata yang berderai aku mencoba untuk keluar kamar menuju kamarku.


Dengan langkah gontai aku mulai melihat situasi disisi kiri dan kanan, aku tidak mau para pelayan dirumah ini tau bahwa semalam aku sekamar dengan orang itu.


Ketika suasana aman akupun keluar menuju kamarku, aku berlari kearah kamar mandiku, aku tunggu beberapa menit untuk mengisi air hangat dibath-tub.

__ADS_1


Untuk menghilangkan sejenak rasa penat, sedih, hancur dikepalaku. Aku menggosok seluruh badanku dengan satu botol sabun cair, aku ingin tubuhnya tidak menyatu denganku.


setelah beberapa jam aku membersihkan diri, aku pun keluar kamar dengan mata sembab ku.


"Kenapa ini semua terjadi didalam hidupku. Ketika aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuknya. Kenapa takdir tidak memihak kebahagiaan terhadapku, aku benci diriku sendiri aku benci." Dengan memukul-mukul dadaku dan menangis didalam kamar.


Sungguh aku merasa ini mimpi buruk. Aku akan membuat ini semua sebagai mimpi buruk dalam hidupku.


Aku harus bersikap seolah ini tidak terjadi apa apa yang akan membuat diriku defresi, aku tidak mau menikah dengannya, aku tidak mau menghancurkan kebahagiaan perempuan lain. Meskipun disini aku pun tersiksa.


Bagaimana jika aku hamil? Aku tepis pikiran itu mana mungkin bisa mengandung hanya satu kali dalam melakukan.


Sebisa mungkin aku harus mencoba bersikap layaknya seperti biasa. Aku pun hanya bisa merenung untuk dosa yang kuperbuat. Meskipun masih terasa sakit dan ngilu di sekujur tubuh.


Aku tidak memperdulikan itu semua. Ketika aku tengah melamun dengan pikiran kosong yang mendera otak ku, ada sepasang tangan kekar merengkuhku, dia memelukku dengan erat.


"El." Memanggil namaku dengan lirih aku pastikan dia tengah menangis karena kudengar dia terisak.


Sungguh aku sangat lemah, air mataku jatuh kembali ketika dia berbicara dengan terisak, apa dia menyesali semuanya?? Apa karna dia merasa bersalah? Atau apa? Karna apa?


Aku hanya memukul mukul dada kekar itu dengan kuatnya.


"Kak jahat kamu, bagaimana aku tidak mencintaimu, aku tidak mau menikah denganmu." Dengan sungut menghardik aku menekankan aku tidak mau bersamanya.


"Maafkan aku El."


"Tolong kamu mengerti keadaan ini, kita harus menikah aku sudah menghancurkan hidupmu." Dia ingin bertanggung jawab namun dengan bodohnya aku menolaknya dengan tegas.


Aku tidak mau menghancurkan kebahagiaan orang lain, biarlah disini aku yang menderita biarlah aku yang menanggung ini semua, ini jalan Takdir Hidupku, ini suratan kehidupanku.


Jangan membawa-bawa orang lain untuk hancur di dalam masalah ini. Biarlah cukup aku saja yang hancur berkeping-keeping.


"Tidak perlu kak kumohon jangan memaksaku aku tidak mau hidup bersamamu!"


"Biarlah hanya diantara kita berdua saja yang tau, akan kejadian hal ini. Tapi jangan sampai orang lain tau, bersikaplah biasa aku tidak akan berubah sikap kepadamu. Meskipun kamu menghancurkan hidupku."


"Biarlah yang lalu berlalu, aku memang menyayangimu tapi kasih sayangku hanya sebagai Kakak untukmu tidak kebih dari itu," Penuturanku dengan panjang lebar.


"Pergi kak pergi biarkan aku sendiri, aku ingin sendiri untuk saat ini." Dia pun melepaskan rengkuhan itu dan keluar dari kamar ku.


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2