
"Kamu kalo mau ngajak anak orang jalan-jalan itu minta izin memangnya kamu siapanya cucu saya? sampai berani-beraninya membawa cucuku pergi tanpa izin," hardik Ima didepan para tamu undangan.
Bu Lastri hanya bisa memberi saran, agar ia tidak terlalu memaki Willy. Bagaimanapun Lastri tahu kedekatan Willy dan El.
"Kamu sabar toh mba, ini didepan umum," nasihat bu Lastri.
Willy hanya mampu berdiam diri tanpa mencoba membela diri. Saat ini Willy menjadi bahan cemoohan para tamu-tamu.
"Iya ya, jadi orang kok gak sopan banget,"
"Untung datangnya cepat kalo telat nanti kalo dilaporin kepolisi gimana. Jadinya kan kesalah pahaman,"
"Enggak bertanggung jawab banget jadi orang,"
"Ya wajarlah dia enggak akan mengerti, kan belum jadi orang tua,"
"Ganteng-ganteng kok enggak tahu sopan santun sih,"
Serentetan cemoohan yang Willy dengar, biarlah semua mengumpatnya, meskipun didepannya sendiri. Bukan debelakangnya. Yang terpenting dia tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan pada Willy.
"YaAlloh mama," gumam El.
El dan Aurelia berjalan menghampiri Ima. Ia berusaha untuk menenangkan sang mama. El juga meminta pada para tamu undangan untuk tidak mencemooh Willy. El juga memberi tahukan bahwa Willy yang bersama anaknya. Adalah orang yang sangat dekat dengan Alwi.
El juga menjelaskan kedekatan mereka berdua sudah seperti ayah dan anak. Para tamu undangan meminta maaf pada Willy. Dan sangat menyayangkan prilaku Ima karena sudah berprasangka yang tidak baik.
Pada akhirnya acara pertunangan itu terpaksa dibubarkan karena kegaduhan yang Ima buat. Untung saja acara menyematkan cincin sudah berjalan lancar. Karena acara saat ini tengah menikmati jamuan untuk para tamu undangan.
Sedangkan Ananda dan Imam tengah menonton mereka, "Maafkan istriku," cicit Ananda.
"Tidak apa, anggap saja sebagai pembelajaran. Agar anakku bisa terbiasa dengan kemarahan istrimu," sahut Imam.
Mereka berdua saling melempar senyuman. Lalu menatap kembali mereka yang tengah beradu mulut.
"Oh, sekarang kamu sudah berani membuat ibumu sendiri malu dihadapan orang banyak El." Maki Ima, wajahnya sudah memerah karena menahan gejolak amarah.
Kini kebencian Ima pada Willy berkali-kali lipat dari sebelumnya. Setelah El lebih memilih membela Willy. Namun El tidak bermaksud demikian, ia hanya membenarkan apa yang sebenarnya. Sebelum El menjawab Ananda berseru.
"Kamu memang salah mah, harusnya kamu berterima kasih karena Willy yang membawa cucu kita, jika orang lain kita tidak akan tahu bagaimana keadaan cucu kita," sambung Ananda.
__ADS_1
"Bela saja terus, lelaki tidak bertanggung jawab ini." ketus Ima.
Alwi terbangun dan mengucek matanya. Ia sedikit risih dengan kegaduhan yang ia dengar. Sebenarnya Alwi tidak ingin terbangun dari tidurnya. Ia terlalu nyaman dan terlalu rindu akan sosok Willy.
Alwi mengedarkan pandangannya merasa aneh, karena menurutnya pesta belum berakhir tetapi rumah mulai sepi. Ia juga menatap satu persatu orang yang berada diruangan itu. Alwi hanya mengernyit kebingungan. Tetapi tangan mungilnya tetap memeluk leher Willy. Alwi pun tidak memikirkan Willy yang kini tengah kesemutan.
"Kok berisik sih nek, Alwi lagi bobo. Kangen daddy," cicit Alwi.
Ima dengan lembut meminta Alwi agar turun dari gendongan Willy. Tetapi Alwi tetap ingin berada di gendongan Willy.
"Nenek kan sudah bilang, daddy Al nanti daddy Galih," sahut Ima.
"Sayang turun dulu yuk, kasihan daddy Wil nya kesemutan."Alwi menggeleng tidak mau turun.
"Bohong nenek kamu Al, nenek kamu lagi ngaprank," potong Ananda.
"Ngeprank kek? Kok kaya youtubers sih," jawab Alwi.
"Iya nenek kamu mau bikin konten sayang," sahut Ananda.
'Eh gila si papa demi melindungi lelaki itu, sampai mempermalukan aku didepan cucuku,' batin Ima.
Antonio, Aurelia, Lastri dan Willy tidak berucap seditpun untuk menengahi perdebatan yang terjadi karena kesalah pahaman.
"Pulang yuk Al," ajak Ima.
Alwi menggeleng dan semakin merekatkan pelukan dileher Willy, hingga Willy terbatuk-batuk.
"Enggak. Nenek jahat selalu marahin daddy. Padahal daddy enggak ada salah nek. Al yang salah enggak izin sama mommy,"
Ima lagi-lagi dibuat mual karena pembelaan dari sang cucu, apalagi anak dan bahkan suaminya. Jika dia tidak ingat bahwa cucunya masih kecil, rasanya ia ingin menceritakan segalanya pada sang cucu agar ia mengerti.
"Al pulang ya nak," ajak Willy.
Kini tatapan Alwi pun beralih pada willy, Alwi kembali lagi menggeleng dan memberi tahu bahwa ia tidak mau untuk pulang. Ima sudah membujuk dengan rayuan, sampai akan membuatkan pabrik eskrim.
Tapi sayang Alwi masih tidak terayu. Pendiriannya tetap pada prinsipnya. Ia ingin agar El dan Willy bersatu.
"Aku mau pulang,"
__ADS_1
Itulah yang Alwi ucapkan ketika ia sudah risih dengan rengekan sang nenek. Ia juga memberikan syarat tertentu agar keingianannya dapat terpenuhi.
"Aku mau pulang dengan daddy Wil,"
Sebenarnya Ima sedikit kesal, dilihat dari raut wajahnya. Tetapi mungkin karena ingin Alwi pulang. Ia terpaksa mengiyakan. Agar Alwi tidak membencinya.
Tidak ada diperdebatan seperti biasanya, Ima langsung ke mobil tanpa berpamitan. Akhirnya Ananda yang berpamitan pada semuanya. Setelah selesai dengan acara berpamitan Ananda pun menUju mobilnya untuk pulang dan diikuti oleh El.
***
Kini Antonio yang menyetir, Imam didepan dan Willy duduk dibelakang bersama Alwi. Alwi tidak henti-hentinya bermanja pada Willy.
"Tidur ya, sudah malam," pinta Willy.
Alwi pun memejamkan matanya dan tertidur pulas di gendongan Willy. Imam sesekali menoleh kearah belakang. Rasa bahagia akan ia dapatkan jika pemandangan ini tidak terjadi karena perdebatan dulu.
Imam hanya bisa berd'oa semoga Ima bisa mengerti dan merestui anak semata wayangnya. Ia sakit begitu sang anak dipermalukan didepan orang banyak. Apalagi tadi ia berbicara pada Ananda semua baik-baik saja. Rasanya dia ingin menjauhkan El dan Willy.
Tetapi karena Alwi cucunya jadi ia bisa bernegosiasi dengan rasa sakitnya.
"Bagaimana nak? Masih mau memperjuangkan atau berhenti berharap karena dipermalukan?" ucap Imam.
Ada sedikit sindiran yang ia ucapkan, lalu Antonio pun menyahuti.
"Sayang jika berhenti, ibarat kata kamu sudah ditengah jalan. Masa mau balik lagi," sambung Antonio.
"Kalo aku mencoba membela diri, dia yang mencemarkan nama baikku."
"Lalu sekarang kamu mau melaporkannya?" tanya Antonio.
Willy seperti tengah berfikir untuk pertanyaan Antonio. Ia memejamkan mata dan menghembus napas secara perlahan. Seperti tengah meringankan beban hidupnya. Antonio hanya bisa menatap Willy dari kaca depan mobilnya.
Antonio tersenyum melihat kelakuan keponakannya, "Perjuangkan jika mencintainya. Toh udah dipermalukan tadi, tapi enggak malu kan. Sudah sayang Wil lanjut saja putuskan urat malu," celoteh Antonio.
"Gila kamu paman," seloroh Willy.
Antonio dan Imam tertawa mendengar jawaban Willy.
'Apa harus tetap berjuang?! Tapi ada benarnya juga kata papa dan paman. Sudah dipermalukan, berarti harus di putuskan urat malu,' batin Willy.
__ADS_1
***