
Ananda menanti Ima didepan gerbang, dengan tatapan tajam Ananda menyuruh Ima untuk masuk kedalam. Security hanya merasa ketakutan disaat ia mengetahui kemarahan majikannya.
Ima lantas masuk kedalam. Setelah mereka didalam kamar. Ananda ingin mengintrogasi Ima. Namun yang terjadi diantara keduanya hanya saling terdiam. Ima yang tidak mau berbicara lebih dulu pada suaminya. Dan dia juga memendam dendam karena sang suami menutupi segalanya dari Ima.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Galih mah?" tanya Ananda.
"Mama hanya minta dia mencarikan jodoh untuk El. Kalau tidak ada yang cocok ya mau tidak mau Galih yang akan menjadi menantuku. Aku hanya mau Galih, bukan lelaki itu." Ima membuka anting yang ia pakai lalu berjalan menuju kamar mandi.
Dari pada beradu argumen dengan suaminya Ima lebih memilih untuk merendam tubuhnya dengan air hangat. Itu akan jauh lebih membuat tubuhnya rilexs. Dari pada harus mendapat ceramah dari sang suami.
***
Galih berjalan dengan lusuh, mukanya yang berantakan dan merasa hidupnya diambang kehancuran. Tidak menyangka jika ia akan mendapatkan masalah serumit ini. Harus pada siapa ia meminta bantuan.
Disaat ia bingung dengan pemikirannya. Ananda menelpon Galih, Galih dengan cepat mengangkatnya. Ananda meminta Galih untuk menuruti saja perkataan Ima. Bagaimana pun caranya, perjodohan El dan Willy masih berlaku. Tidak akan ada Galih menjadi menantu Ima.
Dengan bahagia Galih mengerti yang diucapkan Ananda. Kini Galih dapat bernapas lega. Untung saja ia belum menceritakan semuanya pada pujaan hatinya.
Galih merebahkan tubuhnya diranjang, bahkan ia tidak sempat mengganti pakaiannya, karena terlalu lelah. Lelah karena takut ucapan sang nyonya menjadi kenyataan.
"Aku hanya mencintai dia," gumam Galih. Ia pun memejamkan matanya untuk pergi kealam mimpi.
***
"Mungkin sekarang sudah saatnya kamu tahu Wil," ucap Antonio.
Antonio menghembus napas perlahan dulu.
"Sebenarnya, Alwi adalah anakmu. Seperti yang kamu pikir semua orang sudah mengetahui, meskipun ini semua hanya salah paham. Paman minta jangan berhenti berjuang, jika kamu mencintainya. Apapun masalahnya tidak akan jadi penghalang. Meskipun orang tua perempuanmu tidak menerimamu. Percayalah restu itu pasti akan hadir,"
"Bodoh aku paman, tidak mencari tahu sendiri. Dan sekarang mamanya El tahu aku siapa. Pantas saja dia bersikeras untuk memisahkan kami,"
Antonio tidak henti-hentinya memberi semangat untuk Willy. Kisah cinta pasti akan berjalan lika-liku tidak melulu lurus. Dan dipenuhi dengan pengorbanan, jika mencintainya perjuangkan. Jika tidak tinggalkan pilihlah, pilihan sesuai kata hatimu.
Dan akhirnya Willy bertekad akan tetap memperjuangkan El. Apapun masalahnya ia akan tetap maju. Willy pun berpamitan kedepan pada Antonio. Dia harus membawa gawai yang tertinggal dimobilnya.
Willy mengernyit, ketika Putri memberinya sebuah pesan.
__ADS_1
💬 "Hallo tuan sayang, besok aku kerja lagi sama kamu. Aku sudah tidak tahu apa yang harus kulakukan supaya kamu bisa tertawa. Pokoknya tetap semangat meskipun masalah mendera,"
Itulah pesan singkat yang Putri kirim. Willy hanya bingung, kenapa kekasihnya tidak menandakan tanda-tanda cemburu. Tapi jika diputuskan ia tidak mau. Willy tidak mau memperumit pikirannya dengan Putri, yang ia pikirkan hanya El.
***
Setelah Willy melewati masa-masa yang tidak pernah ia pikirkn sebelumnya, ia berguling-gulig diranjangnya dengan bergeliat. Dia mendudukan bokongnya dan bersandar dipunggung ranjang.
Ia pun sholat subuh, setelah selesai Willy lantas membukanya, pesan dikirim pukul 00.10, jagoannya mengirimi pesan singkat hanya untuk memberikan ucapan selamat malam.
💬 "Daddy, selamat malam. Selamat tidur mimpi indah,"
'Dia anakku, aku harus memperjuangkan kamu nak,' batin Willy.
Setelah beranjak dari pembaringan Willy membersihkan diri. Ia pun turun kebawah. Pagi-pagi ia sudah disuguhkan dengan Putri yang sudah berada ditengah-tengah mereka.
Willy menyeret kursi lalu mendudukan bokongnya. Tidak ada sapaan apapun untuk saat ini. Setelah selesai dengan sarapan paginya Putri pun meminta Willy untuk ia ikut kemobilnya. Mereka berdua pun menaiki mobil yang sama menuju kantor.
"Mungkin kamu enggak jodoh, sudah jangan buang waktumu lagi. Nyonya sudah tidak srek lagi sama kamu,"
Willy menghembus napas berat, "Bukannya disemangatin malah dipatahin semangat. Gimana sih kamu, dasar pacar gak ada akhlak," sahut Willy.
Putri hanya memutar bola mata jengah, "Au ah, dasar buaya buntung," gumam Putri.
"Aku masih bisa mendengarnya,"
"Bodo amat,"
Willy hanya tertawa menanggapi. Ternyata dia merasa Putri hanya madunya. Meskipun tidak ada ikatan pernikahan ia jadi memikirkan ingin menikahi keduanya.
"Aku akan perjuangkan dia, lalu menikahi kamu. Ideku bagus bukan?" tanya Willy, ia menaik turunkan halisnya sebelah.
"Kurang ajar, aku mau dijadikan madu sama kamu? Yang ada juga aku jadi istri pertama." ketus Putri. Ia memukul lengan Willy dan menjewer telinga Willy.
Willy hanya mengaduh kesakitan dan tertawa. Entahlah apa yang ada didalam pikiran Putri sang pacar Willy. Ia selalu menyemangati nya. Padahal jika status pacar pada umumnya, ia akan marah jika lelakinya memperjuangkan orang lain. Putri malah sebaliknya.
Setelah berhasil membuat Putri cemberut dan sepanjang jalan hanya mengerucutkan bibir. Tidak terasa ia sudah sampai dipelataran kantornya.
__ADS_1
"Turun," titah Willy.
Putri menggeleng, ia bersedekap dan menatap kesamping kaca mobil Willy.
"Sudah sampai, hmm," ucap Willy. Ia mengucapkan dileher jenjang Putri.
"Apa sih tiup-tiup dileher. Napas kamu bau." Putri memencet hidungnya terlihat seperti kebauan.
"Masih normal! Enggak ada rasa kamu mau, ehemm... Eheman... Masih ting dong," sahut Willy.
"Kamu pikir aku wanita apaan, ting-ting kali bukan ting doang." lagi-lagi Putri bersedekap dan mengerucutkan bibir, ia berhasil membuat Putri marah. Seperti biasanya ia akan merasa terhibur jika Putri marah-marah padanya.
Putri masuk lebih dulu menuju kantor, sedangkan Willy mengekori. Willy tidak henti-hentinya tertawa. Dan para karyawan hanya memandang Willy dengan kekaguman.
Untuk sesaat kesedihan Willy terobati. Meskipun sebentar lagi ia tidak akan berkonsentrasi dalam bekerja.
***
"Mom, ayo kita kerumah tuan Alwi," pinta Nuri.
Aurelia lantas segera memboyong Nuri kedalam taksi. Setelah sampai didepan gerbang rumah El, keduanya turun. Alwi terlihat sedang memeluk gerbang dari dalam. Wajahnya menandakan kesedihan.
"Mom, tuan Alwi kenapa yah?" tanya Nuri.
"Enggak tahu sayang." merekapun berjalan mendekati Alwi.
"Teteh," seru Alwi.
Wajahnya nan murung kini berganti keceriaan dikala Nuri datang.
"Tuan kenapa?" tanya Nuri.
"Ayo masuk teh,"
Alwi pun meminta sequrity untuk membuka pintu gerbang. Setelah dibuka merekapun masuk kedalam rumah. Ima melihat mereka dari atas.
'Entah pantas disebut apa wanita itu. Dia pelakor menurutku, dia wanita yang menjadi duri dalam rumah tangga anakku,' batin Ima.
__ADS_1
Dari arah belakang ada yang memegang pundak Ima, "Jangan bilang mama juga akan membuat Nuri dan Alwi menjauh? Jangan lakukan mah, kasihan anankku,"
***