Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 94. Perjuangan Willy.


__ADS_3

Sebelum memasuki rumah utama Willy mencoba untuk menguatkan perasaannya agar bisa masa bodo dengan kemarahan Ima. Ananda lebih dulu memasuki Rumah dan menuju meja makan.


Galih pun telah berpamitan untuk pulang. Padahal yang diundang datang adalah Galih, tetapi yang datang adalah Willy. Entah seperti apa meradangnya Ima.


Willy berjalan masuk dan mengucapkan salam. Alwi tahu siapa yang bertamu, dengan langkah secepat mungkin ia berlari untuk dapat dengan cepat bertemu dengannya.


'Punya keberanian juga dia kemari. Yang diundang saya Galih. Yang datang anak ini. Ini pasti ide si papa,' batin Ima.


El dan Ima pun berjalan mengikuti Alwi. Sedangkan Alwi sudah berada di gendongan Willy. El tersenyum bahagia melihat kedekatan anaknya dan Willy yang tidak lain adalah ayah kandungnya. El belum mengetahui bahwa Willy sudah tahu Alwi siapa.


'Senang rasanya, akhirnya kakak mau lagi kembali mengunjungi Alwi. Aku akan susah mempertemukan mereka saat ini. Mama selalu memantau, jika dilanggar yang ada mama meradang. Meskipun hanya lewat video call, apalagi bertemu. Tapi syukurlah dia kemari lagi,' batin El.


"Kenapa malah hanya berdiri?! Ayo cepat kita makan," ajak Ananda.


Ia sudah kelaparan tapi mereka masih berada diruang tamu.


"Iya kita, tapi tidak berlaku untuk tamu tidak diundang," ketus Ima.


Intonasi yang sangat sengaja ditinggikan oleh Ima. Ia malas kalau sampai malam ini ia semeja makan dengan Willy. Willy hanya tersenyum, ia mengikuti keluarga Ananda menuju ruang makan. Willy mendudukan Alwi disampingnya, dengan sangat gembira Alwi mengambilkan nasi beserta lauk pauknya.


"Mommy enggak diambilin nih," sindir Ima pada Alwi.


Tanpa menjawab Alwi mengambilkan untuk El. Bahagia terpancar kembali diraut wajah Alwi. Bahagia mungkin karena kini bisa bersama, setelah sekian lama tidak bertemu.


Sedangkan Ima semakin mual dan tidak berselera lagi untuk makan. Dengan menyeret kursi dengan kasar Ima berdiri, dan menatap tajam pada Willy. Willy hanya tersenyum kala pandangan mereka bertemu.


"Papa ini amnesia atau apa sih, mama bilang suruh Galih kemari. Bukan orang lain," Ima memarahi Ananda.


"Galih gak ada, ya sudah papa bawa Willy dari pada makanan mubadzir enggak kemakan sayang, meskipun dikasih kepegawai tetap akan ada sisa. Pamali membuang-buang makanan,"


"Dan satu lagu mah, Willy akan tinggal dirumah kita,"


"AKU TIDAK SETUJU," Ima.


"Kenapa mah?" tanya Ananda.


"Sudah mama bilang, mama tidak ingin dia disini,"

__ADS_1


"Saya tidak berselera makan kalo ada tamu tidak diundang, hanya membuat mual," sungut Ima.


Ia berjalan pergi kekamarnya, "Mom, nenek kenapa sih? Marah-marah terus," tanya Alwi.


"Nenek kamu darah tingginya sedang kumat," jawab Ananda.


Merekapun melanjutkan ritual makannya. Setelah selesai Ananda langsung kekamarnya. Sedangkan Willy, Alwi dan El masih berada diruang makan.


Tanpa mereka tahu Alwi sampai memikirkan dan berpikir keras atas lontaran Ananda yang menyebutkan sang nenek tengah darah tinggi.


"Daddy," panggil Alwi.


Willy pun menoleh kearah Alwi, "Tadi aku lihat nenek, tapi perasaan darah nenek enggak tinggi dari badannya masih utuh terbungkus badan. Tapi Kok bisa kakek bilang nenek darah tinggi. Kenapa bisa gitu yah?" tanya Alwi polos.


El menatap Willy lalu ia menggelengkan kepala. Isyarat bahwa dia yang akan menjawab pertanyaan anaknya.


"Al sayang, maksud darah tinggi itu sebuah penyakit. Bukan berarti darah nenek lebih tinggi dari badannya. Mommy tidak bisa menjelaskannya secara detail kamu tidak akan mengerti, nanti sudah besar juga mengerti oke," jelas Ima. Alwi pun mengangguk.


***


Seperti hari pertama air yang mengalir kekamar Willy dimatikan, al-hasil Willy menjadi menumpang mandi dan buang air besar dikamar bapak kebun.


"Memangnya di kamar tuan tidak ada kamar mandi?" tanya bapak kebun.


"Bukan enggak ada pak, calon mama mertua saya ingin dekat dengan saya jadinya main-main untuk perkenalan," jawab Willy dengan cengengesan.


"Oalah, becandanya keterlaluan toh tuan," jawab bapak kebun.


Dihari kedua kemarin Willy juga mendapat kejulidan kembali. Lampu kamarnya dimatikan dan dikunci dari luar. Entah bagaimana Ima melakukannya. Apalagi dengan suara-suara wanita yang suka bergelantungan dipohon diputar sepanjang malam.


"Calon mama mertua, perhatian sekali," gumam Willy dan tertidur pulas. Meskipun kegerahan.


Dihari ketiga, dengan berlagak sok baik Ima menyeduhkan kopi dan bukan manis yang terasa di lidah Willy, melainkan rasa pahit. Karena tidak diberi gula.


"Bagaimana kopi buatan saya? Manisnya hanya semanis khayalan hidupmu yang hanya akan banyak kepahitan," bisik Ima.


Dihari keempat, Willy tidak merasa Ima akan mengerjainya kembali. Dari awal ia masuk sepulang bekerja dan setelah makan malam selesai. Namun yang dipikirkan Willy salah.

__ADS_1


Ia terjatuh ketika akan masuk kedalam kamar. Didepan pintu kamar Willy dari dalam dengan sengaja Ima memberikan minyak goreng agar Willy terpeleset.


"Yaalloh, pantatku gusti,"


Dihari kelima Ima seperti anak kecil yang tengah bermain, ia menjatuhkan banyak kelereng hingga Willy terpeleset lagi dan kopi yang dibawanya jatuh tertumpah kedada bidangnya.


Dihari keenam, AC dikamar Willy dimatikan. Akhirnya Willy membukakan pintu kamarnya yang berakhir Willy masuk angin. Karena dari luar Ima menyalakan kipas angin. Agar rencananya tidak diketahui Willy ia memberikan obat tidur di air minum Willy.


Dihari ketujuh Willy dikerjai lebih parah, setelah Willy turun dari lantai dua, Ima memberikan minyak goreng dibeberapa anak tangga yang akan menuju kebawah alhasil Willy menggelinding dan ia merasakan nyeri pinggang yang  membuatnya berjalan berjingjit.


***


Didalam ruangan kantornya, Willy melamun dan sesekali tersenyum. Dia hanya merasa lucu sebegitunya Ima sang calon mama mertua mengerjainya. Disetiap harinya akan ada kejahilan yang Ima perbuat.


Meskipun badannya nyeri karena Ima mengerjainya. Dengan sabar Willy hanya menjalani dengan hati senang. Bagaimana pun ia sudah seperempat perjalanan akan sayang jika harus mundur. Apalagi banyaknya suara dukungan yang ia terima.


'Calon mama mertua apapun yang kamu lakukan aku akan tetap memperjuangkan orang yang kucintai," batin Willy.


Putri sudah beberapa kali menyapa Willy agar ia bersiap-siap untuk menemui klien. Hingga akhirnya Putri menggebrak meja, dan membuat Willy terlonjat kaget.


"Mikirin apa cengengesan, kamu pasti sudah berpacaran ya dengan nona?" todong Putri ia pun tertawa.


"Cantik-cantik gila," jawab Willy.


"Hidih, kamu yang gila senyum-senyum sendiri. Orang gila teriak gila. Dasar otak enggak waras," oceh Putri.


"Belikan salep mba sekretaris, pinggang saya sedang nyeri kalo begini bagaimana saya bisa menemui klien," keluh Willy.


"What, sakit pinggang kamu habis ngapain. Atau kamu enggak minum selama beberapa hari. Kasihan tidur dirumah calon mertua malah sengsara," ledek Putri.


"PUTRI," panggil Willy dengan intonasi meninggi.


Putri langsung berlari terbirit-birit.


***


Jangan lupa like nya pembaca setiaku😋😊

__ADS_1


__ADS_2