
Ketika nona El keluar dari kamarku, hatiku merasa bersalah. Aku merasa menjadi orang ketiga didalam rumah tangga mereka. Apalagi setelah aku tadi dengar bahwa nona akan menggugat tuan Antonio?
Sungguh aku tidak bermaksud demikian, aku tidak bermaksud membuat pernikahan orang hancur. Aku hanya ingin orang yang kucintai bahagia bersama kehidupan barunya.
Tetapi kehadiranku rupanya membawa bencana didalam rumah tangganya. Andai waktu dapat aku putar kembali, aku tidak akan datang lagi kekota ini, aku pun juga tidak akan mau bekerja sama dengannya.
Setelah beberapa bulan berlalu akhirnya mereka telah resmi bercerai. Haruskah aku merasa bahagia? Apa aku harus berbahagia disaat wanita lain tersakiti oleh diriku? Apalagi dia sahabatku!
Yaaloh, andai aku dapat memilih. Aku hanya ingin suamiku hidup kembali saja, hanya dia orang yang mampu mengerti keadaanku, setelah lama aku menangis dan merenung telpon ku berbunyi, aku pun mengangkatnya.
📞 "Assalamualaikum," salam sang penelpon.
"Wa'alaikumsalam,"
"Sayang kapan pulang? Mama rindu cucu mama,"
Ucapnya diseberang sana, ternyata dia mantan mama mertuaku. Meskipun kami bukan bercerai, tetapi cerai paksa atau cerai mati. Karna suamiku meninggal.
📞 "Iya, aku sama Nuri pulang mah, tunggu kami," jawabku pada mama mertuaku.
Panggilan berakhir, apakah dia tahu bahwa anakku bukan darah daging anaknya. Tetapi, rasa cinta dia padaku dan pada suamiku tidak membuatnya membenci anakku. Ahh, bodoh. Ya mungkin dia tidak membeci anaku, dia belum tahu kebenarannya.
Aku berdiri dari dudukku dan bergegas untuk berjalan, dan mencari keberadaan tuan rumah. Aku kelantai atas untuk mencari tuan Imam. Aku akan meminta ijin padanya.
Setelah aku sampai didepan pintunya, aku pun mengetuk nya. Beberapa saat aku menunggu, hingga akhirnya pintu terbuka.
"Ada apa? Tumben menemuiku?!" ucap tuan Imam padaku.
Aku terdiam karna bingung harus berkata apa.
"Apa kita hanya berdiri saja didepan pintu tanpa berbicara? Aku sudah tua nanti aku encok," ucap tuan Imam lagi, ketika dia tidak mendengar jawaban dariku.
Tuan Imam pun membawa aku keruang kerjanya. Setelah sampai, "Mmm... Tuan, a-anu i-ini," ucap ku gugup.
Harus bagaimana ya aku berbicara menyampaikannya? Aku sungguh malu.
Tuan Imam terlihat mengernyit, "Kenapa?"
"Saya ingin izin pulang tuan," pintaku sambil menundukan wajahku.
"Boleh, tapi kan kamu tahu bahwa yang membawamu kemari El, jadi seharusnya kau meminta ijin padanya. Apa kau belum tahu jika mereka akan pulang kerumah keluarga El?" jawab tuan Antonio.
__ADS_1
Aku terkejut aku tidak tahu, bahwa mereka akan berpindah rumah. Aku hanya tahu bahwa mereka sudah resmi bercerai. Aku harus membantu nona sebelum mereka pergi.
Aku mendongak dan menatap tuan Imam, dan menggelengkan kepalaku perlahan, aku pun pamit untuk pergi. Pergi menemui nona El.
Aku berjalan dengan tergesa-gesa hanya untuk menemui nona El. Hari ini memang masih pagi jadi masih nampak sepi. Para bibi juga masih sibuk berkutat dengan wajannya. Aku terlebih dulu menyapa mereka.
"Selamat pagi mbak! Mbak maaf ya belum bisa bantu dulu, aku ada urusan sama nona El," ucapku meminta izin pada mbak.
Dia mengangguk, "Iya enggak apa nona," jawabnya dengan memberikan senyum manis dipagi hari.
Aku langsung menghampiri kamar nona El, tapi kulihat pintu kamarnya terbuka sedikit. Aku pun menengoknya, ternyata ada tuan Willy bersama nyonya Ima.
Kuurungkan niatku untuk menemui nona, akhirnya aku membantu bibi yang berada didapur.
***
Kini aku sudah berada didalam mobil menuju rumah nyonya dan tuan Ananda. Putri dan tuan Galih didepan. Sesekali keduanya bercanda seperti layaknya sepasang kekasih.
Kekasih? Masa sih?! Kan Putri kekasih tuan Willy pikirku dan menggelengkan kepala karna otakku terlalu bodoh berasumsi seperti itu.
Menempuh perjalanan yang sangat lama menurutku, meskipun nyatanya jarak dari rumah tuan Imam dan tuan Ananda terbilang tidak jauh tidak juga terlalu dekat. Karna waktunya orang-orang bekerja tentu saja membuat jalanan macet dan membuat perjalanan terasa lama.
'Akhirnya sampai.' Itulah yang bisa aku ucapkan ketika aku sudah berada dipekarangan rumah tuan Ananda.
"Rely ayo masuk, kenapa bengong," titah nona El padaku.
Ah, aku melamun ternyata, kukira aku bermimpi ini kenyataan ternyata. Aku pun mengekori nona El dan mengerti dengan beberapa ruangan yang nona El jelaskan.
Seperti biasa aku melihat tuan Alwi menempel pada tuan Willy. Kadang aku merasa heran. Kenapa demikian?! Apakah... Ayolah Aurelia jangan berpikiran buruk terus otakmu ini.
Setelah tuan Alwi teringat dengan anakku El-Nuri akhirnya tuan Willy bisa pergi untuk kekantornya. Mereka pun bermain bersama. Kini tibalah saat yang tepat, ketika nona El memberi tahukan aku kamar untuk kusinggahi.
Sepertinya ini waktu yang tepat, suapaya aku dapat berbicara pada nona dan meminta izin.
"Nona," panggilku padanya.
"Hmmm,"
"Aku...,"
Hah, terasa berat lidahku untuk berucap, aku pun menghembus nafas secara perlahan dan membuangnya. Terlihat sekali aku gugup didepannya. Terlihat nona hanya menautkan halisnya. Mungkin dia aneh melihatku.
__ADS_1
"Aku mau pulang dulu nona,"
"Pulang?!" jawab nona dan mengulang kata ku. Aku pun mengamgguk.
"Kasihan tampanku dong kalo El pergi, tidak lama kan?" tanya nona El padaku.
Dia masih sama seperti dulu, dia tidak terlihat membenciku. Padahal aku sudah menghancurkan rumah tangganya. Apa harus selalu bersikap manis padaku? Apa aku pantas masih mendapatkan kebaikan darinya?
Aku hanya melamun dengan pikiranku, bercampur dengan khawatir tidak biasanya ibu mertuaku menyuruh pulang setelah sekian lama. Biasanya dia akan merasa terobati meskipun hanya lewat telpon atau video call.
Hingga sahutan nona El menyadarkan lamunanku, "Hey, melamun?! Mikirin apa? Mikirin pacar?"
Aku hanya menatap wajah cantik itu dengan sendu, aku pegang tangannya hingga akhirnya aku menangis didepan nona El. Dia mengusap lembut bahuku.
"Eh, kok nangis sih," lontar nona El.
Kulihat dia terkejut dan khawatir. Apakah harus selalu kudapatkan semua kebaikan hatinya? Rasanya dadaku sesak, dan rasanya aku ingin menangis mencurahkan semua keadaan hatiku.
"Aku orang yang tidak tahu diri nona," ucapku.
"Siapa yang bilang?" tanya nona El.
Mengapa dia bertanya seperti itu? Tentu saja aku siapa lagi, orang yang sudah menghancurkan kebahagiaannya.
"Aku nona," ucapku dengan air mata yang terus membanjiri pipiku.
Nona El memegang bahuku dan meminta aku untuk melihatnya.
"Lihat aku Rely,"
"Tidak ada yang menjadi orang ketiga, tidak ada pula orang yang tidak tahu diri. Diantara kita hanya kesalah pahaman saja yang terjadi,"
"Kami resmi bercerai bukan karna dirimu. Itu semua kehendak kami berdua. Kami memang tidak bisa lagi bersama. Kasihan mas Tino kalau kami masih tetap bersama, dan hatiku juga kasihan karna merasa hampa,"
Itulah yang terucap dari mulut nona El. Benarkah seperti itu? Nona El pun melepaskan tangannya dari bahuku dan tersenyum manis padaku.
Sungguh melegakkan hatiku. Penjelasannya mampu membuat ku bungkam dan tak mampu menyanggah lontarannya.
"Terimakasih nona," hanya itu yang mampu kuucapkan.
"Jadi kapan pulangnya? Aku saja yang antar?"
__ADS_1
***