
1 minggu berlalu, pengajian telah selesai. Restu masih terlihat terpuruk akan kepergian sang paman. Willy dan Sastra memaksa Restu untuk ikut berlibur bersama mereka.
"Ayo Tu, aku udah minta cuti meskipun cuma dua hari," bujuk Sastra.
"Kalian pergi saja, aku belum ingin berlibur. Disaat pamanku telah terkubur dan kuburannya masih basah," jawab Restu.
"Pergi saja mas," sambung Aurelia.
Tatapan Restu teralihkan, dia pun menatap lekat Aurelia. Akhirnya ia manggut-manggut sendiri.
"Kamu Aurelia Anandita?" tanya Restu memasang wajah serius.
Seketika tatapan semua orang yang berada disana teralihkan menatap Aurelia.
"Kenapa dengan mommyku om?" tanya Nuri memasang wajah cemas.
Restu pun menatap Nuri dan Aurelia secara bergantian. Ia melengkungkan senyuman dihadapan Nuri. Ia lantas berdiri dan berjalan pergi. Semua orang yang berada disana nampak seperti kebingungan dengan gelagat Restu.
Resty pun mengikuti Restu pergi. Beberapa menit berlalu, Restu pun lantas kembali. Ia duduk kembali dikursinya. Dengan tatapan yang sangat lega ia pun memberikan kepada Aurelia sebuah bungkusan. Aurelia menatap heran pada Restu.
"Ini untuk saya?" tanya Aurelia masih keheranan.
"Sebelum paman wafat, ia meminta saya memberikan ini padamu. Ia juga meminta maaf atas kesalahannya dahulu karena telah memisahkan kamu dengan tuan ...." Restu pun menatap Antonio.
"Dia berharap kalian bisa bersatu," ucap Restu.
'Bisa bersatu?' batin Ima.
"Ok, aku akan ikut. Tapi kalian harus mau jika aku mengajak Aurelia dan anaknya," pinta Restu. Willy dan Sastra pun mengangguk.
***
Kini mereka tengah diperjalanan menuju puncak, Willy merasa tema tentang alam sangat cocok untuk menenangkan pikiran. Mereka bisa sesuka hati untuk berteriak, melampiaskan kepenatan yang mereka pikul masing-masing.
Setelah sampai di Villa semuanya langsung masuk kekamarnya masing-masing. Tetapi tidak dengan El, ia sudah berjalan-jalan karena Alwi ingin langsung menikmati kesejukan yang tidak ia dapatkan selama berada di ibu kota. Hanya sesekali ia mendapatkan kesejukan ketika ia pergi kekampung Nuri.
"Mom, dad, selfie ayok," ajak Alwi.
Willy dan El hanya saling memandang, El pun mengangguk. Willy langsung memegangi camera ponsel lalu mengarahkan kesana kemari untuk mencari angel photo yang cocok. Cekrek... Beberapa photo telah terlihat sangat bagus.
__ADS_1
Sedangkan di Villa tengah cemas, dan sibuk mereka semua mencari Willy, Alwi dan juga El.
"Enggak usah khawatir, tadi mereka langsung jalan-jalan," seloroh Restu.
Merekapun bernapas lega, Restu pun memberi tahu pada Sastra bahwa ia akan menyusul Willy. Mereka berjalan menyusuri jalan dengan samping kanan dan kiri dipenuhi dengan kebun teh.
"Sayang, tuan Willy mengerti bahwa kamu butuh ketenangan," ucap Resty.
Restu hanya mengangguk, dan mengecup tangan Resty dengan sayang. Ia juga berteriak disepanjang jalan. Setelah lama berjalan akhirnya merekapun menemukan keluarga yang tengah bercanda dan terlihat sangat bahagia.
Mereka berdua menjadi penonton ketiganya. Sesekali Resty dan Restu pun tersenyum melihat pemandangan keluarga bahagia itu.
"Dad, itu teman daddy." tunjuk Alwi. Ketika ia berbalik melihat dua orang yang tengah menonton ketiganya.
"Eh pengantin baru kok malah kemari? Suka tidak dengan dekorasinya? Berbulan madu lah. Anggap saja ini kado pernikahan dariku untuk kalian," ucap Willy.
"Kamu sudah memberi kami kado yang sangat bagus, dan special. Dan sekarang bulan madu juga digratiskan. Ya begitulah nona kalo si bos memang selalu mementingkan sahabatnya," jawab Restu.
"Geer kamu!" ketus Willy.
"Ya sudah sekarang kita kembali ke Villa saja. Al, pulang yah mommy cape nak," lontar El.
Alwi pun mengangguk. Setelah perjalanan yang lumayan menempuh waktu sekitar 25 menit lamanya, kini mereka sudah berada didepan Villa. Wangi sosis dan jagung menyeruak diindra penciuman Alwi. Hingga anak kecil itu berlari memasuki Villa dengan tergesa.
"Sini tuan." Nuri melambaikan tangannya agar Alwi mendekat.
"Makasih teh." Alwi pun membawa sosis yang diberikan Nuri.
"Teh, nanti kalo udah besar nikahnya sama Alwi yah," lontar Alwi.
Nuri hanya tertawa menanggapi lontaran Alwi. Antonio dan Aurelia juga tertawa ketika mendengar ucapan Alwi. Mereka hanya bisa menggelengkan kepala dengan kepolosan Alwi.
"Aku serius teh, tunggu aku pintar dan sukses." bisik Alwi lagi.
"Iya, terserah tuan saja. Kita masih kecil tuan," sahut Nuri ia memakan lagi sosis bakar yang berada ditangannya.
'Ini masih terasa sakit. Melihat mereka bercanda seperti keluarga bahagia,' batin El.
Keempatnya berjalan mendekati Aurelia dan Anton, "Masih siang udah bakar-bakaran," ucap Restu.
__ADS_1
"Anakku mau, tenang saja aku sudah membawa cadangan dua kali lipat untuk kita malam nanti," sahut Antonio.
"Eh tuan saya hanya bercanda," seloroh Restu.
Antonio hanya tersenyum, dan kembali membantu Aurelia. Restu pun menanyakan keberadaan Sastra. Karena hanya ada baby sitter yang merawat anaknya yang berusia satu tahun.
"Saya yang pengantin baru, si Sastra yang bulan madu," celetuk Restu.
"Sudah kubilang, pengantin baru dikamar saja. Malah jalan-jalan," jawab Willy.
Keduanya hanya saling melempar tawa. El, Antonio dan Aurelia juga ikut tertawa. Disast bersamaan itu pula Sastra keluar dengan rambut basahnya.
"Tuhkan apa ku bilang, bulan madu dia," sahut Restu.
"Mumpung cuaca adem, dan sedang cuti kerja," jawab Sastra.
Semua orang yang tengah berada disana hanya tertawa mendengar guyonan ketiga sahabat itu.
***
Kini dihalaman belakang tengah sibuk menentukan tanggal pernikahan yang cocok untuk El dan Willy. Mereka juga mendatangkan pak Ustadz untuk menentukan tanggal yang tepat.
Setelah lama diperbincangkan, akhirnya tanggal dijatuhkan pada bulan 1 rajab. Ananda dan Imam setuju dengan tanggal yang sudah diberikan pak Ustadz.
Disaat perbincangan Ananda dan Imam, ponsel Ima mendapat notif baru yang berisi pesan tentang semuanyta Willy dan El. Dengan langkah cepat, secepat super Dede. ia pergi dari perkumpulan untuk membuka notif pesan.
Dengan cemas dan berkeringat dingin ia perlahan membuka pesan yang telah lama ia tunggu. Dibukanya satu persatu pesan itu dengan tangan bergetar. Bahu mengguncang hebat, tubuhnya merosot merasakan sakit yang begitu dalam.
"Sudah aku duga, ada yang tidak beres," gumam Ima.
"Korban asusila, dan menahan luka disaat dia masih remaja sudah mengandung dan menahan malu," lirih Ima.
Ia lalu berdiri dan menuju kedua orang itu dengan emosi yang menggebu. Setelah sampai dihadapan keduanya Ananda dan Imam hanya kebingungan melihat mimik muka Ima. Terlihat menahan amarah dan emosi.
Ima melempar ponsel yang ia bawa dihadapan keduanya, "Kamu kenapa mah?" tanya Ananda.
Ima tidak menjawab lontaran Ananda, yang ada ia hanya menatap tajam pada Ananda. Ananda perlahan membuka pesan itu. Matanya membulat sempurna. Kini Imam pun membuka apa yang telah dilihat Ananda.
Lagi-lagi Imam pun membulatkan matanya sempurna tidak percaya, ia cemas perjodohan ini akan gagal.
__ADS_1
"Mah, dengarkan papa dulu," ucap Ananda.
***