Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 31 Kehadiranmu Menenangkan Jiwaku.


__ADS_3

Tinggalkan jejak like beserta kritikan kalian ya pembaca setiaku 😍😍


Selamat membaca😍😍


***


Setelah gelap malam mereka berpacu dengan pikiran yang sangat panik, akhirnya mereka dapat bernafas lega. Keadaan El dan baby Alwi baik-baik saja.


Ya, setelah kepulangan Willy dari rumah ditengah hutan, Willy pun menghubungi kedua sahabatnya untuk datang berkunjung. Jika dahulu keduanya sangat antusias jika diundang ke kediaman Willy, namun sepertinya kali ini Sastra dan Restu sangat ketakutan. Takut karna pasti Willy akan menyemburkan lava kemarahan diwajah keduanya.


Willy pun tak tinggal diam dia terus saja mengintrogasi dua kurcaci sahabatnya. Sahabatnya pun tak henti-hentinya menjadi sasaran amukan kemarahan Willy.


Keduanya menyanggah bahwa mereka terlibat. Mereka hanya diberi upah dengan menjaga rumah ditengah hutan belantara. Tanpa menjelaskan jika pamannya menculik seorang bayi yang tak lain adalah keponakan dari Willy. Anaknya El.


Perdebatan sengit pun terjadi diantara ketiganya. Willy mengumpat habis-habisan Sastra dan Restu. Sastra dan Restu dengan pasrah tak membantah dan hanya mendengarkan saja sumpah serapah Willy.


Meskipun kedua sahabatnya mencoba membantu untuk meloloskan El. Namun nyatanya tetap tidak menyulut aliran kemarahan dari Willy.


Tap Tap Tap


Suara seseorang menuruni anak tangga. Dan menggendong bayi gembul itu. Ketiganya menoleh bersamaan ketika suara ricauan anak bayi yang tengah diajak bercanda oleh bundanya.


"Mahmud," seloroh Restu memuji wanita yang tengah menggendong bayi gembul itu.


"Macan Etu," timpal Sastra dengan menatap kagum wanita itu.


Kehadiranmu selalu menenangkan jiwaku. Cukup dirimu berada disampingku kemarahanku memudar. Kau bagai obat penawar dikala pikiranku kacau. Batin Willy.


"Heh itu mata kalian, mau kucolok?" sungut Willy.


Sastra dan Restu pun mengalihkan penglihatan mereka ketika mendapat teguran keras dari Willy.


El pun tersenyum kearah tiga pria yang tengah duduk disofa. Dia berjalan dengan anggunnya menggendong buah hatinya.


"Dad---" ricau bayi gembul itu dengan bertepuk tangan.


Sontak saja membuat ketiganya semakin gemas dengan bayi gembul itu. El pun duduk disebelah Willy. Insting batin seorang anak dan ayah memang kuat. Meskipun Willy tidak mengetahui jika dia adalah anaknya.

__ADS_1


Baby Alwi pun langsung merentangkan tangannya dan berpindah duduk dipangkuan Willy. Dengan gemas Willy menciumi seluruh wajah bayi mungil itu. Bayi itu hanya tertawa khas bayi seusinya. Dengan tangannya yang tak bisa diam agar Willy menghentikan ciuman bertubi-tubi itu.


Setelah beberapa menit bermain bayi mungil itupun tertidur pulas dipangkuan Willy.


"Kak," panggil El dengan berdiri dan beranjak pergi.


"Mau kemana?" Willy bertanya dengan kebingungan ketika melihat gadis disampingnya beranjak pergi.


"Mau bawa camilan dulu,"


"Suruh bibi saja El," saran Willy dan diberi anggukan oleh El. El pun duduk kembali ketika dia sudah meminta bibi membawakan camilan.


Setelah beberapa lama menunggu akhirnya bibi pun membawakan camilan beserta tehnya. Setelah camilan itu diletakkan dimeja bibipun berpamitan untuk kembali kebelakang.


"Selamat menikmati tuan, nona, saya permisi," pamitnya membungkukan badan, dan berlalu pergi.


"Dari tadi aku mendengar dari atas kakak marah-marah terus! nggak takut stroke?" seloroh El dengan santainya. Memecah keheningan ketika dirinya datang bergabung.


"Pppppttthhhhh," Sastra dan Restu tak dapat menahan rasa ingin tertawanya.


Keduanya pun tertawa terpingkal-pingkal. Willy pun mulai geram dan tersulut emosi, ledakan lava kemarahan akan meletus. Namun ketika dia menoleh kearah samping seseorang yang tengah memandangnya dengan senyuman. Rasa itu hanyut terbawa arus. Kesejukan yang kini nampak diraut wajah tampannya.


"Jangan marah-marah lagi deh, cepet tua," ejeknya dengan menutup mulut agar tawanya tak menggema membangunkan sang buah hati.


"Sudah seperti susis, suami takut istri. Lagu dari kang Sule," lontar Restu dengan mengalihkan tatapannya.


"Susis wow wo wow wo susis, suami takut istri." sambung Sastra dengan menyanyikan lagu kang Sule.


Willy hanya mampu mendengus menatap tingkah konyol kedua sahabatnya. Dia tidak dapat menghajar keduanya yang kini tengah mengejeknya habis-habisan.


"Berisik, anak gue lagi tidur," sungut Willy dengam melempar bantal kearah Sastra.


"Sini kak, Alwi-nya mau ditidurin dulu," pinta El pada Willy.


Willy-pun memberikan Alwi pada El. El bergegas pergi meninggalkan ketiga pria itu. Setelah menidurkan buah hatinya El pun kembali bergabung dengan Willy dan dua sahabatnya.


"Mereka sudah membantuku kak supaya aku bisa masuk," lontar El ketika dia mendudukan bokongnya disebelah Willy.

__ADS_1


"Tapi mereka terlibat El! yang menculik anakmu itu pamannya si Etu," sungut Willy dengan suara yang mulai meninggi.


"Suuuuttttt." El membekap mulut Willy dengan tangannya hingga wajah mereka berdekatan.


Disaat El akan melepaskan tautan tangannya Willy pun memegang jari jemari El dengan lembutnya. Debaran jantung Willy memompa begitu cepat. Debaran yang hanya terasa jika dirinya berdekatan dengan istri pamannya.


El pun semakin terhanyut dengan tatapan Willy hingga dia pun mulai merasakan debaran yang tak biasanya.


"Ehemm." deheman dari Restu dan Sastra membuyarkan lamunan mereka.


"Mesra-mesraan terusssss, kekamar saja gih," celetuk Restu dengan menyesap tehnya.


"Eh muke gile, nona El sama Willy bukan pasutri kampret," tegur Sastra dengan gigi gemerutuk.


"Lah tapi kalian berdua cocok, keluarga harmonis. Nikah saja nona dengan tuan Willy." Restu memberi saran kepada El.


El hanya tersenyum mendengar candaan yang dilontarkan kedua sahabat Willy. Entah kenapa disaat kejadian tragis itu Willy begitu pun El menjadi seperti benar menjadi pasutri. Karna yang selalu berada didekat dan disampingnya bukan Antonio.


Entahlah setelah pernikahan digelar sosok pria yang selalu dikaguminya berangsur memudar. Tidak ada kata gombalan seperti dahulu.


Panggil mas disetiap sujud dan do'amu. Kata-kata itu hanya mampu terngiang-ngiang dipikiran El. El pun menyadari dan sangat tahu diri. Mungkin perubahan dari sikap Antonio karna dirinya sudah ternoda.


El tidak ingin menjawab candaan mereka. El pun mengalihkan topik pembicaraan. "Kakak harus tau pada saat kedua sahabat kakak akan memberikan minuman. Itulah peluang besarku agar aku bisa keluar dari sana, dan dibantu sahabatku Aurelia," adunya kepada Willy.


"Benarkah?" tanya Willy tak percaya dengan menatap bola mata Indah gadis yang berada disampingnya. El pun menganggukan kepalanya.


"Tuhkan, kami itu penyelamat nona El tuan Willy," ujar Restu memuji dirinya sendiri.


"Ck, besar kepala sekali anda, mentang-mentang El membela kalian," sungut Willy berdecak.


"Tapi ini kenyataan kak illy," sambung El menimpali.


Willy pun tak mampu lagi menyelak untuk menyudutkan kedua sahabatnya. Sastra dan Restu pun tersenyum kearah Willy dengan penuh kemenangan. Karna mendapat kekuatan dari El, sigadis cantik yang sangat berarti untuk hidup Willy.


"Ya, baiklah mereka penyelamat," ucap Willy dengan bola mata memutar malas karna kedua sahabatnya mendapatkan tameng dari gadis cantik yang berada disampingnya.


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2