
Tambahin kelist favoritmu supaya tau aku upπ·
Selamat Membacaππ
***
"Ma-maksudmu?" tanya wanita itu dengan terbata.
Dipikirannya terlintas bahwa laki-laki disampingnya tidak pernah menyentuh gadis yang sudah berstatus istri dimata agama dan hukum. Lalu anaknya? Anak siapa? Selama 4tahun membina rumah rumah tangga!
Wanita itu terus menatap laki-laki yang berada disampingnya. Namun laki-laki itu belum menjawab pertanyaannya. Dia masih menatap keatas langit yang gelap namun Indah karna Bintang menghiasinya.
Wanita itu masih bergulat dengan pikirannya yang kacau! Apakah karna kehadirannya? Apa salah jika dia ingin melindungi gadis yang sudah berstatus istri dari mantan kekasihnya?
Antonio pun menundukan kepalanya, dirasa dia telah kenyang melihat indahnya pemandangan diatas langit yang gelap. Segelap kehidupannya tanpa sosok wanita disampingnya.
"Apakah pikiran kita sama?" Antonio memegang jari jemari lentik itu dengan menggemgamnya erat. Dengan menampilkan senyum yang terlihat gigi putihnya. Wanita itu pun mendongak untuk menatap laki-laki itu.
Antonio pun menunjuk hati, pikiran, dan inti dari tubuhnya. "Aku masih menjaganya untukmu," jawabnya dengan tatapan sendu.
Wanitu itu langsung melepas paksa jari jemarinya yang dipegang Antonio. Hatinya tertohok. Dia bisa merasakan sakitnya ketika dia tidak disentuh oleh suaminya.
"Jangan pernah bilang ba-bahwa ka-kamu belum menyentuh istrimu?" tanyanya lalu, "hahahahha," wanita itu berdiri dengan menatap tajam Antonio. "Lalu anak itu? anak siapa? kau pikir aku bodoh hah,"
Antonio langsung berdiri dan menarik tangan wanita itu untuk masuk kedalam rumah. Dia takut mengganggu penghuni kontrakan lainnya karna teriakan wanita yang begitu dicintainya.
"Dia bukan anakku," jawabnya dengan mengangkat tangannya dan wanita itu. Wanita itu menepis nya.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan tuan Antonio," geramnya lalu mendorong tubuh Antonio yang semakin menghimpitnya hingga wanita itu tak dapat memundurkan kembali langkahnya.
Tembok yang berada dibelakang wanita itu rasanya ingin dia robohkan untuk menjauh dari hadapan pri itu. Antonio menghimpit tubuhnya. Diapun mendekatkan arah wajahnya untuk saling menyatukan.
Ketika wanita itu tetap bersikeras memberontak dan mengucapkan umpatan-umpatan yang tak enak didengar Antonio
Dasar laki-laki tidak tau diri!
Suami macam apa kau membiarkan hati istrinya terluka.
Dan kau disini malah menemuiku sedangkan istrimu menunggumu?
Kamu tidak pantas menjadi seorang ayah!
Kamu tidak pantas dipanggil Daddy oleh anakku.
Kamu bukan ayah yang baik untuk anakku!
__ADS_1
Jleb
Bagai angin surga bagi Antonio, berarti benar dugaannya. Bahwa anak itu ... gadis kecil itu anaknya.
"Aku mencintaimu." Antonio mengecup sekilas bibir wanita itu. "Kita harus menikah---"
Wanita itu menggelengkan kepalanya tidak menyetujui keinginan Antonio. "Kita adalah serpihan kisah masa lalu,"
Wanitu itu menarik tangan Antonio dan memaksa Antonio agar cepat pergi meninggalkan kediamannya. Dengan perasaan dongkol dan menyesali setiap lontaran kata yang salah diucapkannya.
Namun Antonio tetap berada didalam mobil, bahkan tertidur didalam mobilnya. Antonio lebih memilih untuk tidur di mobilnya dari pada pulang kerumahnya.
Yang berlalu, biarlah berlalu...
Dan Jangan lagi kau cari aku
Dan harap kau tahu bahwa diriku...
Bukan milikmu lagi seutuhnya...
Maaf ini author nyanyi dulu mewakili hati wanita ituππ
Ada yang tau siapa? jawab dikolom komentar dong... hihihi
***
Terdengar beberapa kali ponsel El berdering. Bukan tidak ingin menjawab namun Alwi sibayi gembul itu saat ini sangat rewel dan susah untuk ditenangkan.
Tingg tanda pesan masuk datang.
π¬ " Nona El maaf saya mengganggu, saya mengalami kecelakaan bersama tuan Willy. Tolong datang nona. Kami sudah menghubungi tuan Antonio namun tak dapat balasan." pesan yang dikirim Putri.
"Huaaa... Huaaaa..."
Anak itu terus saja menangis tiada henti-hentinya digentongan El. "Sayang sudah jangan menangis terus, kita sekarang akan kerumah sakit untuk menjenguk Daddy Willy okay," ujar El untuk menenangkan Alwi.
Ketika El menyebutkan nama Willy si anak gembul itu langsung terdiam. Dia anak pintar pikir El, namun sepintas hati El begitu saja terasa sesak. Mungkin El telah salah memilih jalan karna tidak ingin menerima pertanggung jawaban Willy.
El pun mendudukan bayi mungil itu dan memangsangkan sabuk pengaman. Diapun melaju pesat untuk kerumah sakit.
Willy dan Putri mengalami kecelakaan disaat keduanya tengah kembali untuk pulang. Mereka mendapat pekerjaan keluar kota. Dan mengharuskan keduanya hadir untuk peresmian hotelnya.
Setelah beberapa menit melaju mobil itu pun sudah mendarat tepat dihalaman rumah sakit. Untung saja rumah sakit terdekat dikota itu dan hanya memakan waktu kurang lebih satu jam.
Masih dikatakan untung untuk El, karena kecelakaan itu tak jauh dari rumahnya. Hingga bisa mengurus Willy dan Putri.
__ADS_1
"Apa lukanya tidak parah Sus?" tanya El khawatir ketika dia memasuki ruang perawatan. Suster itu pun membalikan badan dan menoleh kebelakang.
"Nyonya, anak anda tidak boleh dibawa kerumah sakit." El ditegur Suster ketika dia menanyakan keadaan Willy dan Putri.
"Tapi ini darurat Sus, dirumah tidak ada siapa-siapa, lalu jika anak saya bangun bagaimana?" sanggah El dengan ketus.
"Oh, baiklah maafkan saya nyonya jika perkataan saya kurang berkenan," timpal Suster perawat. Suster itu pun menceritakan keadaan pasiennya yang tidak terlalu parah.
"Baiklah karna keluarga pasien sudah tiba saya permisi nyonya," pamit Suster dan melenggang pergi dari kamar ruang perawatan Willy dan Putri.
El pun tengah menggendong bayi gembul itu untuk tertidur. Karna ruang perawatan ruang VIP tentu saja ada kamar khusus untuk penunggu pasien. El pun akan menidurkan Alwi namun ketika tubuhnya bersentuhan dengan ranjang.
"Huaaaa... Huaaa.... " Alwi menangis kembali dengan kencangnya. Hingga membangunkan Willy dari tidurnya. Untung saja tidak diberi obat bius, jika diberikan Willy tidak akan mendengar suara tangisan itu.
"El," panggil Willy dengan merubah posisinya untuk duduk.
"Eh, kakak maaf ya Alwi nya mengganggu waktu istirahatmu ya?" tanya El dengan terlihat lesu karna kelelahan, bayi itu sangat rewel hari ini ditambah Antonio yang tidak pulang membuat pikirannya semakin kacau. "Aku keluar dulu ya kak, gak tau ini Alwi rewel terus dari magrib kak," adu El kepada Willy.
"Kenapa harus keluar?" tanya Willy yang akan menjatuhkan kakinya kelantai. "Eh kak jangan turun. Biar El kesana," cegah El dan diapun berjalan mendekati Willy.
Willy pun meminta Alwi untuk berpindah gendongan. "Anak tampan kenapa rewel? seorang laki-laki tidak boleh cengeng ya!" nasihat Willy pada Alwi.
"Dad-Dad-Daddy," ricaunya, dengan gemas bayi itu ditidurkan diranjang Willy dan langsung mengerjapkan matanya hingga tertidur dipelukan Willy.
Mommy bersalah padamu sayang, memisahkanmu dari Daddy kandungmu. Bahkan mommy tidak memikirkan dampak untuk perkembanganmu waktu itu. Batin El.
Ketika Alwi sudah tertidur pulas oleh Willy. Willy pun menatap El yang tengah melamun. "El, kenapa melamum? ada masalah?" cerca Willy dengan raut wajah serius.
El pun tersadar dari lamunannya dan menatap Willy. Begitu pilu isyarat sorot matanya. Mata El nampak berkaca-kaca. Sontak membuat Willy panik dan langsung turun dari ranjang perawatannya, menyeret kursi dan mendudukan bokongnya disamping bunda bayi itu.
Willy menyapu air mata El dengan telapak tangannya. "Jangan menangis ya?" pinta Willy pada El. "Kamu terlalu lelah yah El mengurus sitampan itu." tunjuk Willy kearah Alwi.
El pun menggelang cepat. Baginya tidak ada kata kelelahan untuk mengurus buah hatinya. Willy pun hanya menggoyangkan pangkal bahunya. "Lalu?"
***
Tidak ada kata lelah untuk mengurus buah hatiku yang kulahirkan dari rahimku .
Tidak ada keluh kesah yang harus kuucapkan ketika buah hatiku tengah rewel.
Namun yang paling kulelahkan adalah ...
Ketika rewelnya karna belum bertemu denganmu.
***
__ADS_1
Hai masih Setia dengan ceritaku? makasih banyak aku peyuk ahhh maacihh πππ·
BERSAMBUNG