
"Papa baru pulang?" ketika Ananda masuk kedalam kamarnya.
Ananda hanya mengangguk, ia langsung kekamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit berlalu, Ananda telah selesai dengan ritual mandinya. Ia langsung duduk diseberang El.
Mata El menatap sang papa dengan tatapan yang sangat meminta penjelasan. Bagaimana ia tidak merasa aneh, sang papa kemanapun selalu bersama mamanya. Tetapi tadi El melihat, mamanya pulang dengan keadaan yang sangat kacau.
"Papa tahu tidak," seru El.
"Mama tadi pulang dengan keadaan kacau, papa tidak mengetahuinya? Papa-mama ... Sedang ...." El hanya memandang keduanya, secara bergantian.
Mama Ima masih membisu dengan tatapan kosongnya. Mungkin ia merasa kecewa karena sang suami tidak memberi tahukan perihal masalah kehidupan anaknya.
Meskipun ia hanya mendengar beberapa kata. Tapi itu cukup membuatnya terluka.
"Mmm, sayang... Boleh papa minta kamu keluar dulu," pinta Ananda.
El hanya mengangguk, El berpikir mungkin orang tuanya sedang berada dalam mode berselisih paham. Ia berpamitan pada sang mama. Meskipun tidak ada jawaban, El terus saja mengajak mamanya bicara.
Ia mengecup kening sang mama, dan pergi keluar kamar.
***
Ananda menyelipkan anakan rambut yang berada dipipi Ima. Ia belai lembut pipi Ima dengan penuh cinta. Tatapannya sendu melihat sosok sang istri yang begitu berantakan.
"Mama,"
Ima menoleh tanpa menjawab, setelah menoleh ia langsung memalingkan kembali tatapannya. Ananda mengecup pipi Ima. Tidak ada penolakan, ataupun balasan. Ia masih dengan kebisuannya. Hanya air mata yang menjadi jawabannya.
"Jangan menangis terus," pinta Ananda, lantas Ananda menghapus air mata yang jatuh tak terbendung dipipi Ima.
Tidak ada jawaban lagi, Ima hanya mencekal tangan Ananda. Dan menurunkan tangan itu, dari wajahnya. Ananda semakin tidak betah, dengan gelagat sang istri.
Ia tidak akan pernah bisa, berlama-lama didiamkan oleh Ima. Dia juga mengerti bahwa ia memang bersalah. Dia meminta maaf berulang kali. Dan Ima masih terdiam.
Hingga akhirnya, ia memilih akan menceritakan segalanya. Agar sang istri tidak marah lagi pada dirinya.
"Sebagai permintaan maafku, aku akan menceritakannya. Tapi tolong jangan diamkan aku begini," sahut Ananda dengan frustrasi.
Ima dengan kasar menghapus sisa air mata, dengan telapak tangannya. Tatapannya tajam penuh emosi. Rahangnya mengeras, seperti sudah ingin membucahkan isi hati.
__ADS_1
Nafasnya memburu, sampai bahunya membuncang hebat. Ia sibak selimut itu dengan kasar, sampai terombak kelantai. Ima bahkan turun dari ranjangnya. Berjalan sampai berada dihadapan sang suami.
"Kamu tahu lelaki itu sudah menyakiti anak kita? Dan dengan polosnya kamu bertanya, pada lelaki tidak tahu diri itu kapan akan menikahi wanita lain,"
"Dimana otak warasmu itu? Kamu dulu sekolah tinggi tapi tidak pernah dipakai. Omong kosong, kamu menyayangi anakku,"
"Siapa wanita itu? SIAPA YANG SUDAH JADI DURI DIDALAM RUMAH TANGGA ANAKKU,"
Dengan suara meninggi Ima menunjuk-nunjuk Ananda didepan wajahnya. Ananda tidak menjawab semua umpatan Ima, ia mengerti semua yang ia lakukan karna sangat menyayangi sang anak.
Tapi dimana orangtua yang tidak menyayangi anaknya, bahkan hewan sekalipun menyayangi anaknya.
"Tenangkan dirimu dulu sayang,"
Dengan membawa air yang berada dinakas, ia memberikannya pada Ima. Memberi tempo agar Ima sedikit tenang. Bukannya tenang Ima semakin menjadi.
Ia tidak meminum gelas yang sudah berisikan air, untuk ia minum. Ia hanya menepis gelas itu dengan kasar. Hingga terhempas jauh dari genggaman tangan Ananda. Matanya melotot sempurna, seperti ingin loncat dari kelopak matanya. Ananda masih sabar dengan tingkah istrinya.
"Sayang, dengarkan papa. Kita bicarakan ini dengan pikirin dingin, tidak baik menyimpulkan sesuatu tetapi tidak tahu kebenarannya." Ananda memeluk Ima dengan erat.
Ia takut, barang-barang yang berada didalam kamarnya Ima banting semua. Kini isakan tangis itu terdengar jelas ditelinga Ananda.
"Tolong ceritakan," jawab Ima.
Ananda bernapas lega, akhirnya Ima bisa dengan sadar bertanya. Ia mengusap dadanya, dipandanginya wanita yang sudah mulai menua bersamanya. Ananda memiringkan wajahnya menatap Ima.
Sebelum menjawab pertanyaan Ima, Ananda memapah Ima agar duduk ditepian ranjang.
"Minum dulu yah." Ananda akan beranjak dari duduknya.
Ima mencekal tangan Ananda, ia menggeleng. Ananda pun duduk kembali ditepian ranjang. Ananda meminta Ima agar menghembus nafas secara perlahan.
Ima melakukannya, mereka sesaat terdiam tanpa pembicaraan. Ananda sedang berpikir, bagaimana cara menyampakaikan kata demi kata, agar sang istri mengerti.
Akhirnya ia sudah dapat berpikir, masalah Antonio akan ia bicarakan. Masalah Willy ia tidak akan menceritakannya. Semoga saja ia tidak pernah mengetahui kebenarannya.
"Maafkan papa ya mah, sudah banyak membohongimu. Bukan papa tidak ingin berbagi, tetapi itu lebih baik. Alasannya papa tidak mau mama menjadi seperti ini,"
"Terbukti kan, kalo mama tahu. Mama menjadi begini, segala sesuatu mama selalu dipikirkan dengan dalam. Sampai mama tidak dapat mengontrol emosi,"
__ADS_1
"Sebenarnya, mereka berpisah ...," ucap Ananda, ia tidak bisa melanjutkannya lontarannya.
Ima menatap Ananda dengan menghiba, supaya Ananda menceritakannya, Ananda kembali menghembus nafas secara perlahan.
"Antonio... Sebenarnya...,"
"Drakula, yang akan menghisap darah mama," lontar Ananda.
Ia tertawa didepan Ima. Sedangkan Ima semakin marah pada Ananda, Ananda hanya mengusap wajahnya perlahan. Ternyata sang istri tidak tertawa karena guyonannya.
Ananda jadi malu dan salah tingkah didepan istrinya, "Cepat jelaskan! Atau papa tidur diluar. Tidak usah kekamarku lagi. Tidur diruang tamu," sungut Ima.
Ia lantas menarik tangan Ananda untuk keluar kamarnya. Tapi karena tenaganya kuat Ima tidak bisa mengangkat tubuh Ananda.
Setelah lama mencoba, dan Ananda tidak berpindah tempat. Akhirnya, Ima memutari ranjang dan merebahkan tubuhnya diranjang.
Ia menatap tajam suaminya, dan ia memunggungi Ananda, Ananda lantas mengikuti Ima.
"Dosa hukumnya membelakangi suami, nanti mama dilaknat malaikat," seru Ananda.
Ima langsung membalikan badannya, tetapi ia tidak membuka matanya. Matanya masih terpejam, seolah-olah ia tertidur. Ananda langsung memeluk Ima dan mendekapnya.
Ananda membelai pucuk kepala Ima dengan penuh Cinta, dan akhirnya Ima luluh oleh Ananda. Terlihat dari Ima mencari posisi ternyaman didada bidang sang suami .
"Mah, Antonio dahulu mempunyai kekasih. Entah karena apa wanita itu pergi tanpa meninggalkan jejak, ataupun alasan mengapa ia memilih pergi. Apalagi keadaannya tengah mengandung,"
"Setelah papa selidiki, ternyata alasannya cukup membuat kita tercengang. Ia tidak ingin sang keponakan menghancurkan rencananya. Kalau Antonio menikah dengan anak kita tentunya akan memudahkan dia untuk membalas dendam. Dan ia lakukan melalui El,"
Ima membuka kelopak matanya, ia mendongak menatap Ananda.
"Dia? Dia yang papa maksudkan siapa? Jangan membuat mama semakin khawatir pah," cerca Ima.
Ananda tersenyum memandangi wajah Ayu istrinya, "Dia sudah berada dirumah sakit jiwa mah," jawab Ananda santai dan menutup matanya.
"Pah bangun," ucap Ima, ia menggoyangkan tubuh Ananda agar terbangun dari tidurnya, "Setengah-setengah menjelaskannya. PAPA!!!"
"Besok kita akan berkunjung kesana,"
***
__ADS_1