
"Jawab dong kak, atau aku tidak akan membantumu," kesalku dengan menahan amarahku.
"Sudah kau urus saja semuanya, jangan banyak protes." perintahnya lagi tanpa menoleh kearahku.
"Ya, baiklah! Lalu mau dimana? dicaffe saja ok!" Cicitku masih kesana kemari mencari caffe sebelum mobil terparkir dihalaman kantor.
"Tuh didepan caffe turunin aku disini deh kak." Aku meminta seraya diturunkan dicaffe yang kutunjuk.
"Ok nanti aku kesini lagi, hubungi aku jika sudah selesai semuanya." Menoleh kearahku dengan tatapan dinginnya.
Sungguh jika bukan kak illy ingin saja aku menghempaskan lelaki ini ketengah laut, aku ingin melihatnya tenggelam.
Aku mulai memboking satu ruangan dan mendekor nya dengan secantik mungkin dibantu dengan karyawan caffe, setelah semuanya selesai aku pun duduk untuk meregangkan otot-otot ku yang terasa lelah untuk memandu orang-orang melakukan hiasan-hiasan diruangan tersebut.
Aku mulai memikirkan ucapan-ucapan paman semalam dan ucapan kak illy ,apa mereka sudah tau semuanya, memang selama ini aku berbohong kepada ketiga pria tampan itu.
Memang banyak sekali hal-hal yang kulakukan tanpa sepengetahuan mereka.
Tapi kenapa mereka bisa tau aku meneruskan pendidikanku? Apa mas Galih? Yasudahlah semua nya sudah terlanjur diketahui jadi aku tidak akan berpura-pura lagi untuk semua hal yang kulakukan.
Aku pun mencoba menghubungi kak illy seraya aku memberi tahunya bahwa semuanya sudah selesai.
"Assalamu'alaikum kakak tampan." Aku memutar bola mata jengah. Rasanya, malas kalaupun hanya berpura-pura memuji laki-laki itu.
"Semuanya sudah selesai, kapan datang kemari?" tanyaku padanya.
"Iya sekitar setengah jam lagi aku sampai El." Jawabnya dengan memutuskan panggilan sepihak.
"Haduh, dia ini tidak punya sopan santun ternyata" Aku berdecak.
"Eh mas Tino pasti sudah sampai ya." Aku antusias membuka ponsel untuk mengetahui kabarnya.
"Tapi kasian ya disana pasti sudah malam, sudah lah nunggu dihubungi saja kali ya!" Aku bertanya lalu menjawab sendiri, sungguh seperti orang bodoh jika orang melihatku bertanya menjawab sendiri.
Ya memang semalam mas Tino berangkat setelah perbincangan diruang kerja, mungkin pekerjaan sangat penting jadi dia dengan cepat terbang kesana.
Eh tunggu bukankah kak illy sudah menjalin kasih, lantas apa maksudnya dengan ingin meminta kak Putri sekretarisnya untuk menjadi kekasihnya? Sungguh aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya yang membuatku bingung.
"El." Panggilnya menghampiriku.
"Kak ini maksudnya apa? Bukan kah kalian sudah menjalin kasih lalu kenapa berbicara padaku akan mengatakan perasaanmu padanya?" Aku bertanya dengan milipat kedua tanganku didepan dada.
Kak illy hanya berdecak. "Maaf El kakak ralat maksudnya makan romantis " lontarnya dengan diiringi senyuman manis merekah membuatku terkesiap untuk memandanginya.
Sungguh baru aku menyadari dia setampan itu.
Seketika kekagumanku teralihkan ketika benda bernama ponsel terdengar berbunyi nyaring.
"Ya, hallo."
"Apa?!"
"Iya aku segera kesana, cepat hubungi ambulance!"
"Paman ku tidak apa-apa kan?!"
Kesadaranku tiada tetapi diganti dengan kegugupan, kecemasan semua menjadi satu. Padahal ini semua akting semata.
Tapi karna konsentrasiku menjalar menjadi dua bagian jadi, aku tida bisa berfikir jernih. Kulihat kak illy hanya biasa saja.
"Kak ayo." Aku menggandeng kedua tangan sepasang kekasih itu.
__ADS_1
Padahal kedua orang atau sepasang kekasih ini belum menikmati hasil jerih payahku. Namun apalah daya karna situasi.
Mungkin ini semua sudah diatur oleh kak illy.
***
Kudapati sepasang kekasih itu tengah dimabuk Asmara. Tetapi masih terasa ada kecanggungan diantara mereka, mungkin karna ada aku.
"Tuan," Cicitnya dengan pelan.
"Kenapa masih memanggil Tuan nama saja atau sayang biar seperti orang pacaran kalo tidak berada dikantor." Sarkasnya dengan masih memutar stir mobil.
"Huft.. Cuma bisa mendengar dan melihat orang pacaran." Keluhku dengan mendelikan mataku kearah depan.
"El, kenapa kamu?! Makanya jangan jomblo," Ejeknya padaku.
"Haishhh, mentang-mentang punya pacar. Kak Putri putusin aja ini laki-laki menyebalkan." Umpatku dengan mengerucutkan bibirku.
"Nonakan sebentar lagi juga mau jadi Nyonya Antonio." Tuturnya dengan menoleh kearahku dengan senyuman dibibirnya.
Aku melirik kearah kak illy kudapati gurat senyum tadi mengejekku berubah menjadi murung seperti ayam yang kehujanan.
Kenapa lagi dia?! Raut wajahnya cepat sekali berubah-ubah.
***
Kami pun sampai ditempat yang kami tuju.
"Tenang El." Dia mengekoriku dari belakang.
"Paman mana?" Aku histeris dengan air mata yang mulai berjatuhan.
"Ayo kerumah sakit sekarang." Ternyata terlambat ambulance sudah menuju rumah sakit.
"Sepertinya ada yang mengikuti kita." Ujar kak illy sambil melirik kaca spion.
"Yasudah kita ikuti ambulance yang jalur kesana supaya orang itu mengira disana paman berada," Lontar kak Putri.
Setelah sekitar lima puluh menit menempuh perjalanan, kami pun sampai diparkiran rumah sakit.
Dengan tergesa dan memasang wajah sesedih mungkin untuk mengelabui musuh keluargaku. Dan benar saja orang-orang itu sedang mencari informasi tentang kecelakaan ini.
Untung saja orang yang berbadan seperti paman wajah nya dipenuhi dengan perban, jadi mereka tidak akan mengetahui jika itu bukan paman.
Syukurlah aku bisa bernafas lega mereka sudah percaya, mereka akan mengira paman koma dan berobat keluar negri.
Sungguh rencana yang sangat mulus. Semulus jalan aspal yang baru.
"Kak aku ketoilet sebentar." Pintaku berpamitan untuk menuju toilet.
"Kakak temani ya El, atau Putri mengantarmu ya?" usulnya dengan raut wajah yang terlihat mencemaskanku.
Aku hanya mengangguk tanda aku menyetujui pilihannya.
Ketika aku tengah akan memasuki toilet seseorang memegang tanganku dan membekap mulutku. Entah apa maksudnya. Aku hanya dibuat bingung dengan orang yang baru kutemui. Aku menyatukan kedua alisku tanda aku tidak mengerti akan sikapnya.
"Haiii.. Aku hanya ingin berkenalan, kita senasib!!" Tungkasnya dengan mengulurkan tangannya.
Satu kata yang terucap dariku. "Cantik".
__ADS_1
"Lalu maksudmu apa senasib?" Tanyaku seraya memicingkan mataku.
"Aku Aurelia Anandita."
"Kau gadis aneh," Tungkasku menyentuh bahunya dan berlalu pergi dari hadapannya.
Seketika langkahku terhenti ketika dia berbicara kembali. "Percayalah aku akan menjadi patner mu suatu saat nanti." Sahutnya dengan memberikanku selembar kartu nama.
Aku pun memasukan kartu nama itu kedalam saku celanaku. Aku pun keluar dari toilet ketika aku selesai dengan hajatku.
"Haduh sungguh lega." Ucapku seraya meraba perutku.
Aku pun berjalan menuju ruang icu dimana hari ini juga akan terjadi keberangkatan paman palsu berobat keluar negri.
Akhirnya misi pun selesai, kak illy pun mengantarkan kak Putri kerumahnya, dengan berjalan keluar mobil dan beriringan menuju kedalam rumah.
Sungguh pemandangan ini membuat jiwa jombloku meronta ronta ingin digandeng. Tapi apalah daya statusku tidak diperjelas sama mas Tino.
"El tunggu ya, anak kecil tidak boleh iri ya." Ejeknya dengan diiringi gelak tawa.
"Kurang ajar." Sungutku dan memutar bola mata jengah.
"Pergi sana, cepetan lah ngantuk kali aku." Penuturanku dengan menguap.
"Nona tidak ikut? Supaya kenal dengan saudara perempuanku?!" tawar nya supaya aku mengikuti mereka masuk.
"Tidak usah kak takut ganggu." jawabku dengan menutup mulutku tanda aku menertawakan kak illy.
Mereka pun berlalu pergi menuju rumah kak Putri. Tidak berlalu lama kak illy pun memasuki mobil.
Deru mesin mobilpun dinyalakan dan menyusuri jalanan yang sudah nampak sepi, karna memang sudah hampir tengah malam. Ponsel ku pun berbunyi tanda panggilan masuk datang, dan ini sebuah panggilan video.
Aku dengan centil nya merapikan rambut dan sempat-sempatnya menyisir rambut terlebih dulu. Orang yang disebelahku hanya mendelik mungkin dia berfikir aku terlalu berlebihan.
Tapi tidak apa-apa yang terpenting dia orang yang selalu kutunggu-tunggu kabarnya.
"Hallo Assalamu'alaikum.. Calon imam idaman." salamku tidak percaya itu yang terucap dari mulut ini.
"Maaf mas." Tungkasku dengan menundukan kepalaku.
"Wa'alaikumsalam.. Calon bidadari surga." Dia hanya tersenyum dengan menatapku seperti penuh cinta.
"Ah mas Tino," Jawabku dengan merona.
Dan ternyata orang disebelahku membuat suasana romantis menjadi hilang, dan kejahilannya mulai dia tampakan lagi.
"Om." Panggilnya dengan mengarahkan arah hp yang kupegang mengarah padanya.
"Gadis kecilmu sudah ingin menikah sepertinya om." Dia pun menertawakanku.
Sontak keduanya tampak tertawa dengan guyonan kak illy.
"Kak illy sih aku aja gak ganggu waktu pacaran kamu." Aku berdecak sebal sekali rasanya.
Kudengar keduanya hanya tertawa.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG