
"Iya sudah mas Tau!" Lontarnya dengan melepaskan tangan dari pipiku.
"Lalu bagaimana? Aku? Apakah salah jika aku?" Sungguh aku tak mampu melanjutkan perkataanku rasanya berat sekali untuk berucap.
"Tidak salah." Dia pun tersenyum kearahku, Dan menyalakan mobil itu kembali untuk melanjutkan perjalanan kami.
Sungguh aku tidak bisa menebaknya, apa maksud dari perkataannya. Apakah dia akan? Iya akan mencintaiku?
"Lanjutkan dulu pendidikanmu, jika mas sudah tidak ada siapa yang akan mengelola perusahaan orang tuamu?" Lontarnya lagi tanpa menoleh kearahku.
Mereka memang tidak mengetahui kebenarannya, bahwa aku melanjutkan pendidikan ku tanpa sepengetahuan mereka. Tapi tak apa aku berbohong ini semua demi aku bebas dari orang yang menguntitku.
"Memang mas mau kemana?" Aku memberikan pertanyaan atas lontaran ucapannya yang tak ku ketahui maksudnya.
"Kau mungkin juga tau. Setiap mahluk hidup dimuka bumi ini akan meninggal! Didalam agama islam kita tidak akan tau kapan waktu itu. Waktu ajal menjemput kita."
"Berusahalah supaya lebih pintar dariku, ini beban berat untukmu." Ucapannya mampu membuatku terhenyak, terhempas bagaikan terpeleset jatuh kedasar jurang curam.
"Maksud mas beban berat itu apa?" Aku tak mampu menjawab aku hanya mampu melontarkan lagi pertanyaan padanya.
Apakah maksudnya bahwa dia tidak mau membalas perasaanku. Atau pun mungkin karna aku terlalu bodoh untuknya? Apa aku tidak layak untuk dirinya?
"Hmm," Dia hanya berdehem.
Aku semakin ingin mengetahui apa makna dari perbincangan kami. Maksudnya jika sudah tidak ada itu apa? Apa dia akan meninggalkanku juga? Yaaloh jangan ambil dia lagi aku ingin melayaninya membalas jasa atas dasar keluargaku dan perasaanku yang memang aku sudah menyayanginya melebihi saudara.
"Mas Tino," Panggil ku dengan suara melemah.
"Iya." Dia menjawab tanpa menoleh ataupun menggeser badannya untuk menatapku, kalo untuk menggeser kearahku mana mungkin dia sedang menyetir aku hanya berdecak kesal kuarahkan pandanganku untuk tak memandanginya.
Setelah perjalanan yang begitu lama menurutku, seakan waktu menjadi lambatnya seperti jalannya kura-kura.
Akhirnya kami pun sampai ditempat tujuan, aku mulai membuka sabuk pengaman itu, dan membuka pintu mobil untuk keluar, namun tanganku dipegang sebelum aku membuka pintu mobil.
Aku memandang pegangan tangan itu, dia pun melepaskan pegangannya dari tanganku.
"Panggil aku disepertiga malam mu, dan akan aku selipkan namamu disetiap sujud dan do'aku, jangan lupa belajar menjadi istri solehah." Titahnya dengan segera keluar dari mobil.
Aku hanya diam mematung mendengar penuturannya, apakah dia juga menginginkan aku menjadi makmum nya?
Semoga kita berjodoh suami idaman dalam do'a dan mimpiku. Tanpa kusadari mungkin kak illy mendengarkan semua pembicaraanku dengan mas Tino.
"El kamu mencintai pamanku?" Pertanyaan pertama yang membuat ku malu bukan main, aku hanya mengangguk tanda aku membenarkan pertanyaannya.
"Semoga bisa bersama, dia lelaki yang baik kamu pun gadis baik pasangan yang serasi." Ucapan apa ini? Dia mendukungku tapi raut wajahnya seperti orang yang sedang bersedih.
Dia pun nampak berjalan menaiki mobil bersama temannya. Dia memang sering pergi bersama kedua temannya, jadi tak ada alasan mengapa aku mencintai pamannya!! Semua karna sering nya menghabiskan waktu bersama.
Apa dia sedang bersedih? Kenapa kak illy tak pernah bercerita kepada ku.
Setelah mobil yang ditumpangi kak illy menghilang dari pandanganku, kudapati paman Imam sudah berdiri diruang tamu, apa dia mendengarkan semua pembicaraan kami?
Lagi-lagi aku harus mendapati situasi seperti ini lagi. Kenapa ketiga pria tampan ini selalu mengintimidasiku.
__ADS_1
"Sayang ikuti paman." Pintanya dengan berjalan.
Aku pun mengikutinya tanpa menolak, setelah menaiki anak tangga perjalanan kami menuju ruang kerja paman. Disana juga ada mas Tino. Lagi-lagi aku mulai gemetar karna kegugupan.
Pertanyaan apa yang membuat mereka membawaku keruang kerja seperti ini? Ini pasti sangat penting sekali sampai aku digiring keruang kerja.
"Paman sudah mendengar semua kenapa tidak berkata jujur?"
Aku hanya diam mematung, mendengarkan pertanyaannya.
"Sepertinya paman pun harus pergi untuk bersembunyi dahulu seperti orang tuamu, supaya kedua anak paman hanya terfocus menjagamu nanti."
"Tapi paman aku ingin bertemu kedua orang tuaku." Aku hanya berkata ingin bertemu dengan mereka, dengan mataku tampak mulai berkaca-kaca.
"Tidak bisa sayang jika kau mengikuti kami kita tidak akan tahu siapa musuh didalam selimut dari keluargamu," Jawab paman dengan penjelasannya.
"Makanya untuk memancing cepat cepat lah untuk kuliah supaya mereka mulai mencari tahu tentang dirimu dan melupakan keluarga paman untuk sementara waktu," Ucapnya lagi kepadaku.
"Iya paman tadi saja sudah terang-terangan ada orang yang akan berbuat jahat kepadanya, namun dia berpura-pura tidak tahu perihal orang-orang ku yang mengawasinya," Seloroh mas Tino menimpali.
"Perkataanku tidak didengarnya paman dia terlalu ceroboh untuk masalah ini, aku tahu dia masih belum terlalu mengerti, tapi aku juga tahu dia pasti mengetahui sesuatu hal yang membuat orang-orang itu akan menculik El," celoteh mas Anton lagi pada paman.
"Coba kau telfon Willy Anton?" Kudengar paman memberi perintah pada mas Tino.
Percakapan yang kudengar hanya keluar dari mulut mas Tino saja.
"Wa'alaikumsalam, cepatlah pulang ada hal penting yang harus kamu ketahui dan harus kita perbincangkan," Perintah mas Tino pada kak illy.
Percakapan apa itu? Sesingkat itu? Apa kak illy akan mengerti? Yang kuduga pasti dia mengerti orang yang sangat misterius ternyata ketiga pria dirumah ini.
Dia mengetuk pintu "Tok.. Tok.. Tokk..
"Masuk." Sahut paman Imam.
Dia pun mulai membuka pintu dan berjalan menuju kearah kami untuk bergabung dalam perbincangan.
"Ada apa om, pah?" tanya nya kepada dua pria itu.
"Menurutmu bagaimana supaya paman bisa pergi untuk bersembunyi? Kau kan tahu will paman sekarang sudah tidak muda lagi, dia butuh istirahat yang cukup. Supaya nanti jika terjadi sesuatu hal kita hanya terfocus untuk menyelamatkan El saja, kau tau beberapa minggu aku harus pergi keLN untuk pekerjaan," Ungkap mas Tino panjang lebar kepada kak illy.
"Menurutku.. Coba rekayasa kecelakaan dulu yang dijatuhkan kejurang boleh diulang lagi pah?"
"Jadi disana coba lah papah seolah-olah kecelakaan dan dilarikan kerumah sakit?! Dan kau El beraktinglah sesedih mungkin untuk mengelabui," lontarnya panjang lebar menjelaskan pemikirannya.
"Lalu setelah itu ambulan didatangkan dengan dua mobil yang satu pergilah secepat mungkin dengan berlawanan arah dan cobalah serapih mungkin agar meraka tida curiga, dan yang kedua berjalanlah lambat, untuk mengelabui. Didalamnya harus ada orang yang berpenampilan sesuai paman yang akan dilarikan kerumah sakit, dan buatlah drama seolah-olah paman terluka parah, intinya penyamaran harus sedetail mungkin mirip dengan paman" sambungku dengan lantangnya.
Ketiga pria itu tampak tersentak dengan penuturanku, sungguh lama-lama aku bersikap bodoh akan segera terbongkar, aku pun tertunduk supaya mereka tidak mencurigai ku.
"El kau punya pemikiran seperti itu, menjawab dengan cepat dan mengerti arah pembicaraan kami? Sebenarnya apa yang kamu ketahui tanpa kamu berbicara terbuka kepada kami?" tanya mas Tino penuh selidik dan mengintimidasi ku atas semua penuturanku.
Aku hanya mampu menggigit jari kuku ku. Sungguh aku merasa mati gaya disini. aku harus menjawab apa untuk pertanyaan dari mas Tino.
__ADS_1
"Aku hanya refleks saja berbicara mas! jika tidak masuk akal boleh cari jalan lain," jawabku dengan kegugupanku.
"Aku rasa tepat dengan penuturan El om, kita coba rekayasa kecelakaan itu setelah beberapa hari om pergi,"sambung kak illy.
"Baiklah papah harus pura-pura sakit nanti nih?" tanya paman Imam kepada kami.
Sontak kami bertiga pun menatap kearah paman Imam secara bersamaan. Yang ditatap hanya tergelak.
"Yasudah pembahasan selasai cepat bersihkan diri masing-masing." Perintah paman Imam.
Kami bertiga pun menjawab secara bersamaan.
"Iya paman/pah, kami permisi." Pamit kami kepada paman Imam.
Setelah itu kami bertiga keluar dari ruang kerja dengan menuju kamar masing-masing, setelah mas Tino lebih cepat masuk kedalam kamar, dan tak kusangka kak illy malah mengikuti ku masuk kedalam kamarku.
"Ada apa kak?" tanyaku padanya.
"Mmm anu El, kakak suka sama ... " pertanyaannya menggantung, lalu kupotong pembicaraannya.
"Suka sama ka Putri ya ampun iya cocok sekali mas kamu sama dia cantik dan tampan," jawabku dengan antusiasnya.
"Kamu salah El, aku... Aku hanya mencintaimu bukan orang lain," celotehnya dengan wajah datarnya.
Aku tersentak kaget dan aku mulai mundur perlahan
"Pppppphhhhhhh." tampak dia menahan tawanya.
Dia malah tergelak dengan ekspresiku, apa sih maksudnya berbicara seperti itu?
"Hahahahaha," Dia tertawa dengan lantangnya.
"Kau kenapa El? Bukankah tentang perasaan kita tidak tahu kepada siapa kita akan jatuh Cinta?" tanyanya lagi padaku.
"Apa sih kak maksudmu? Aku kaget sekali ini, ini bercanda kan? jangan membual kak."Aku berteriak seraya membenarkan ucapannya bahwa bercandanya sungguh sangat keterlaluan.
"Yasudah mandi lah dulu supaya kau bisa berfikir. Otakmu kusut sekarang." Berbicara dengan menyentil keningku.
Kebiasaan buruknya tidak pernah berubah, kurang ajar sekali ingin sekali aku menjambak rambutnya dan menampar pipinya, biar pujaan hatinya bertanya siapa yang berani menganiayanya.
"Kenapa kau tersenyum sendiri El kau gila? Yaampun gadis kecil cantikku sudah tidak waras rupanya." ejeknya dengan lantang.
"Pergi gak kak illy... PERGI." Aku berteriak kesal padanya.
"Iya kakak pergi." Pamitnya dan keluar pergi dari kamarku.
Aku memijat pelipisku, aku merasa pusing dengan tingkahnya yang berubah-ubah.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG