
El semakin terisak, entah harus bagaimna ia memberi tahukan pada Willy bahwa dirinya tidak merasa tersakiti. Ia menangis karena terlalu bahagia
Ingin rasanya Willy memeluk El, tapi ia tahu mereka belum menikah. Akhirnya Willy memutuskan mengusap pucuk kepala El. Tanda kasih sayangnya pada El. Sentuhannya mampu menghentikan tangisan El, ia menatap Willy dengan sangat dalam. Matanya yang sembab membuat Willy semakin menjadi bersalah.
"Berhentilah menangis El, kakak semakin merasa bersalah. Kamu datang baik-baik saja, lalu pulang dengan keadaan seperti ini? Apa kata papamu nanti El?" ucap Willy, ia gelisah melihat El bersedih.
'Siapa yang bersedih?! Aku sungguh bahagia, tangisan ini tangisan kebahagiaan,' batin El.
El mengangguk, ia tidak ingin membuat Willy semakin dipenuhi rasa bersalah, atas tangisannya. Karena Willy merasa suasana menjadi seperti berkabung, ia memutuskan untuk pulang.
"Maaf ya El, kamu harus pulang bersama Galih," sesal Willy. Ia merasa menjadi lelaki yang tidak bertanggung jawab.
"Tidak apa kak, aku mengerti kok," seloroh El.
El pun lebih dulu pulang bersama Galih. Ia melambaikan tangannya pada Willy. Willy juga membalas lambaian tangan El. Galih hanya merasa sedih, melihat pemandangan yang ia lihat. Ia juga merasakan yang El rasakan.
Kala nonanya merasa bahagia namun sang mama tidak memberi restu. Disaat orang yang salah meminta anaknya diberikan restu. Namun disaat orang dengan tulus Ima tidak memberi restu. Meskipun Galih juga mengerti akan sikap sang nyonya. Mungkin dirinya trauma atas pernikahan pertama anaknya yang gagal karena alasan sang suami tidak mencintainya.
"Berjuang bersama-sama nona supaya kalian bisa secepatnya mendapat restu. Rasanya tidak enak kalau mau kencan harus sembunyi-sembunyi kayak anak abg yang dilarang pacaran," sahut Galih.
"Diam mas, aku lagi tidak ingin mendengarkan nasihat mu," ujar El.
"Mmm, masih belum bisa move on. Jari manisnya seperti ada yang melingkar terbuat dari berlian," lontar Galih.
Dengan refleks El menyembunyikan tangannya. Saat ini ia masih malu untuk memperlihatkan cincin itu, meskipun hatinya bahagia karena telah dilamar.
"Apaan mas Galih, enggak usah kepo. Lihat saja tidak," resah El karena apa yang Willy berikan dapat Galih ketahui.
"Enggak kepo. Memang aku tahu nona. Orang aku yang membantu tuan Willy mempersiapkan segalanya." jelas Galih. Ia masih focus dengan setir mobilnya.
"Ah, benarkah?!" jawab El. Ia langsung menelengkupkan kedua tangannya diwajah karena malu.
***
Kini mereka berdua telah pulang, tentunya tidak bersama. Setelah Willy memarkirkan mobilnya, ia bergegas berjalan memasuki kamarnya. El tahu mobil siapa yang baru terparkir.
Dengan gelisah dan mondar-mandir tidak jelas, "Kirim pesan jangan yah? Bilang makasih dinnernya sangat membuatku berkesan," gumam El.
"Aduh jangan lah, malu juga,"
__ADS_1
Beberapa detik kemudian Willy mengirimi pesan singkat pada El. Dengan berkeringat dingin El melihat nama siapa yang tertera. Ia beberapa kali mengedip-ngedipkan matanya tidak percaya.
Orang yang sedang membuatnya gelisah mengirimi pesan. Rasa tidak percaya karena bisa kebetulan seperti ini membuatnya semakin berbunga-bunga. Dilihatnya lagi gawai yang sedang ia pegang.
Tetapi tidak berubah nama, tetap saja daddy Al. Dan kini El tengah bingung untuk membalas pesan itu.
💬 "Sudah tidur belum calon istri," isin pesan dari Willy.
"Mama kan udah enggak pegang hp lagi kan. Dan juga masa iya mama enggak sopan buka-buka pesan aku," gumam El.
"Balas aja lah aku juga masih rindu. Idih apaan kata rindu kok yang kuucapkan,"
💬 "Belum kak," pesan terkirim dan masih centang dua.
Sudah hampir sepuluh menit El menunggu balasan namun tidak kunjung mendapat balasan. Mau marah-marah eggak enak biasanya juga kalem. Mau jual mahal tapi rasanya ia ingin menurunkan harga dirinya.
Karena tidak ingin membanting harga, akhirnya El pun memutuskan untuk masa bodo. Kini kelopak mata El hampir terpejam, namun karena gawainya bergetar, ia langsung membuka isi pesan yang dikirimi oleh seseorang.
💬 "Sudah larut malam, kenapa belum tidur. Nanti matamu menghitam seperti panda. Hmmm atau mau seperti Alwi kalo tidur dipeluk? Nanti kalo sudah menikah yah El,"
"Idih siapa yang mau dipeluk dia," gumam El.
Ia tertawa membaca pesan itu. Dan tanpa ia sadari si kecil terbangun karena tawanya.
El terkesiap mendengar panggilan dari suara merdu yang membuat jantungnya merasa tenang berdegup. El mengerjap tidak percaya tawanya membangunkan sitampan.
El menepuk punggung Alwi dengan lembut, agar ia kembali tertidur. Beberapa detik kemudian Alwi tertidur kembali. Namun baru saja El akan mengetik ternyata Alwi terbangun kembali.
"Mommy, Al kangen daddy," cicit Alwi.
"Tapi sudah malam sayang. Besok saja. Kan sekarang daddy sudah dirumah kita lagi," jawab El. Alwi menggeleng.
Diambilnya gawai yang dipegang El, ia panggil Willy yang ingin ia temui.
📞 "Daddy aku mau menginap dikamarmu," rengek Alwi.
"Ya sudah keluar, daddy jemput ditaman belakang nak," jawab Willy diseberang sana.
Telponpun dimatikan, Alwi meminta El agar mengantarnya untuk bertemu Willy. Kini mereka ditaman belakang, Willy langsung menggendong Alwi dan mencekal tangan El agar ia mengikutinya.
__ADS_1
El tidak mengeluarkan sepatah katapun, setelah sampai dikamar Willy. Alwi sudah tertidur kembali. Willy pun membawa El keluar kamar setelah menidurkan Alwi. Mereka berdua kembali menatap langit malam.
"Entah kenapa, setelah waktu ngeteh bersamamu. Aku sampai saat ini masih menyukai langit malam meskipun tiada berbintang. Karena Bintang itu kamu, cukup kamu disampingku membuat malam ini terlihat begitu Indah," Ucap Willy.
Matanya masih menatap keatas langit. Malam ini tidak seperti biasa bintang bertebaran. Yang ada hanya rembulan memancarkan sinarnya.
"Kata siapa hanya bintang, itu lihat bulan pun tidak kalah indah dengan bintang yang tidak nampak disetiap malam," jawab El memandang wajah Willy.
Willy pun menoleh dan tersenyum ketika ia tahu El tengah menatapnya.
"Tapi bagiku kau lah Bintang dihatiku," lontar Willy.
"Kayak judul lagi sih kak, kreatif sedikit dong," protes El dengan tertawa.
"Ok baiklah, kamu itu bagaikan cahaya. Dan juga seperti oksigen yang memberikan kehidupan,"
"Gombal,"
'Sepertinya aku sudah jatuh, jatuh cinta padanya. Tapi harus dari mana aku mengungkapkannya. Supaya tidak ada jarak lagi diantara kami. Aku tidak mau lagi berjauhan,' batin El.
"Ini bukan gombal El, tapi sebuah ungkapan rasa yang tersimpan belasan tahun. Kata sayang dan cinta sudah tidak perlu aku ungkapkan,"
"Mungkin kamu pun sudah merasa akan setiap prilaku yang sudah aku perjuangkan hanya utuk dirimu. Semoga kamu juga merasakan hal yang sama," ucap Willy panjang lebar.
"Aku tidak tahu dengan perasaanku ini, yang pasti mungkin aku akan berusaha---,"
"Iya berusaha untuk menjadi istri shalehah. Atau berusaha mencintaiku?" potong Willy.
"Mmm, a-anu kak itu... Mmm---"
"Anu apa El? Berusaha mencintai atau berusaha menjadi istri shalehah?"
"Eh, mmm... I-itu loh kak hmm,"
Willy mengernyit, "Mengangguk saja kalau malu menjawab," saran Willy.
El pun menganggukan kepalanya.
***
__ADS_1
Terimakasih yang telah mendukung ceritaku dari Awal sampai akhir 😘
Tekan jempolnya ya, jempol kalian sangat berarti untukku.