
Kini Willy telah kembali pulang kerumah El. Bahagia terlihat dari wajah El. Apalagi Alwi begitu ia tahu Willy sudah ada Alwi langsung kekamar Willy.
Willy ditempatkan dikamar belakang. Ananda tidak punya pilihan. Ima membolehkan namun Willy tidak boleh dirumah utama dengan mereka. Meskipun dengan sangat terpaksa ia memberi izin.
"Masih kemari, saya kira sudah tidak akan datang lagi. Seperti jelangkung datang tak diundang pulang tidak diantar," sindiran Ima pada Willy.
"Masih pagi mah, jangan marah-marah," lontar Ananda.
"Daddy, Al bermimpi. Al lihat daddy itu sakit bukan lembur," ucap Willy.
"Biarkan saja sakit, meninggal sekalian biar tidak kemari lagi," sahut Ima.
"Nenek," rengek Alwi tidak terima karena neneknya mendo'akan yang tidak baik pada Willy.
"Nenek bercanda nak," sahut Ima dengan tersenyum kecut. Dan memelototi Willy. Willy hanya tersenyum dan mengangguk memberi hormat. Ima langsung seperti ingin muntah melihat Willy. Sedangkan Ananda dan El tertawa melihat calon menantu dan mertua itu.
Merekapun makan bersama ketika pelayan sudah menghidangkan semua menunya. Setelah selesai dengan sarapan paginya Willy meminta izin untuk mengantarkan El dan Alwi. Tentu saja ada drama dibalik kata iya yang Ima ucapkan.
"Enggak-enggak bisa. Mobil disini banyak izin nganterin. Pergi saja duluan." ketus Ima.
"Nenek, kalo enggak diantarin sama daddy aku enggak mau sekolah," rengek Alwi. Ia berjalan kembali masuk kerumah.
"Tuh kan gara-gara kamu. Makanya enggak usah sok mau ngenter-nganterin segala jadinya cucucku enggak mau sekolah," sahut Ima menghardik Willy.
"Mama kenapa sih, malah marah-marah sama Willy. Wajarlah namanya juga perhatian ayah sama anak," ucap Ananda, ketika ia menghampiri kedepan.
"Iya mama tahu. Memang pantas dipanggil seorang ayah. Orang lagi bunting aja enggak tanggung jawab,"
"Mama, sudah papa bilang ayok kita sekarang kumpulkan Galih, Antonio. Mereka yang tahu segalanya. Bahkan Willy tidak tahu kalau El waktu itu mengandung," jelas Ananda.
"Iya mah, El waktu itu enggak mau kakak tahu. Makanya terjadi seperti ini. Kesalah pahaman mah,"
"Iya ok, stop. Malas mama harus mendengarkan ocehan kalian berdua. Ya sudah bujuk cucuku keatas," titah Ima.
Dengan sangat senang Willy langsung melenggang masuk kedalam. Wajahnya tiada henti tersenyum. Setelah sampai didepan kamar Alwi ia langsung masuk kedalam tanpa mengetuknya.
__ADS_1
Ia mendekat kearah Alwi dan langsung menggendong Alwi. Alwi terperanjat kaget karena langsung digendong Willy. Tanpa aba-aba dan juga tanpa ajakan dari Willy. Namun Alwi juga senang karena akhirnya ia diantarkan oleh Willy.
"Yeee," sorak Alwi. Ia menghadiahi kecupan dipipi kiri-kanan Willy.
***
Kini waktu sudah menunjukan pukul lima. Willy dengan semangat langsung pulang menuju rumah El. Ia masuk dulu kekamarnya dan membersihkan diri. Tak lupa juga ia meminta izin pada Ananda untuk membawa El makan malam diluar.
"Iya sudah boleh pergi saja nak, tapi didepan ya kamu ajak El ke mobilnya. Nanti papa minta Galih untuk meminta izin pada mama El. Supaya dia tahunya sama Galih bukan kamu," jelas Ananda.
Willy pun mengerti dan Ananda langsung menghubungi Galih untuk meminta bantuan agar meminta izin pada Ima. Tanpa penolakan Galih langsung menuju rumah Ananda.
Ananda pun memberi tahukan pada Galih bahwa Ima berada dilantai atas kamar Alwi. Setelah sampai dilantai atas Galih langsung mengetuk pintu. Pintu terbuka dan Ima langsung semringah.
"Ada apa tumben kemari?" tanya Ima dengan ramah.
"Saya mau mengajak nona pergi apakah boleh nyonya?" pinta Galih.
"Tentu saja boleh, sebentar ya Mama panggilkan dulu El,"
"Iya nek," teriak Alwi dari dalam.
Ima berjalan kekamar El, "Sayang cepat dandan yang cantik ok,"
Ima memilihkan pakaian untuk El. El yang yang akan berkencan namun Ima sendiri yang heboh. Ima dengan semangat dan antusias langsung menyuruh El memakai pakaian yang ia pilihkan.
Setelah berdandan ia pun membawa El kehadapan Galih.
'Mas Galih, mau ngajak kemana sih dia,' batin El.
Dengan ragu-ragu Galih menggandeng tangan El dan mengapit nya. Ia juga berbisik pada El, bahwa ia akan memberi kejutan yang spesial untuk dirinya.
Dengan penasaran El menuruti saja lontaran Galih. Setelah keluar dari gerbang El diturunkan oleh Galih. Ia memutari mobil dan menyuruh El untuk turun.
"Mas, maksudnya apa ini?! Aku diturunkan ditengah jalan begini. Kayak cabe-cabean. Katanya mau memberi kejutan spesial," decak El, tidak terima.
__ADS_1
"Nanti datang kejutan spesialnya nona," jawab Galih.
"Ini apa-apaan sih, baru beberapa langkah dari rumah sudah diturunkan." gerutu El.
Setelah beberapa detik akhirnya mobil Willy menepi didekat El. Ia juga tahu siapa orang yang memakai mobil itu. Ia hanya mngernyit kebingungan. Sedangkan Galih berlalu pergi setelah melihat Willy datang
"Selamat malam calon istri," sapa Willy.
Bluss, pipinya merona kembali hanya karena kata itu. El hanya merutuki dirinya sendiri mengapa perasaannya mudah baper.
Willy membukakan pintu mobil dan menyuruh El untuk masuk, semakin merasa menjadi ratu, kala El bersama Willy. Willy mengajak El kesebuah tempat yang indah dan romantis.
Disinilah Willy akan melamar El. Mampu dan bersediakah dirinya menjadi pendamping Willy. Mata El ditutup untuk beberapa langkah ia dituntun oleh Willy.
"Apa kamu bingung El, karena kakak mengajakmu kemari?" tanya Willy, El hanya menganggukan kepala.
Dibukalah kain penutup itu, El melongo takjub akan keindahan yang berada didepan matanya.
"Duduk dulu yah, nikmati saja makan malam hari ini. Inilah kejutan spesial yang kupersiapkan khusus untuk dirirmu,"
Willy menyeret kursi dan mendudukan El dikursi itu. Ia pun duduk dihadapan El. Setelah selesai menyantap makan malam, El diberi sebuah hidangan cuci mulut berupa potongan buah.
Dibeberapa potongan ia menemukan sebuah cincin, ia membawanya dan menatap Willy meminta penjelasan.
"Jika kamu menerima cintaku, pakailah cincinnya dijari manismu. Aku hanya ingin pernikahan kita berjalan karena kita berusaha untuk saling melengkapi, bukan karena sebuah perjodohan yang aku definisika sebuah pemaksaan. Karena tidak ada cinta diantara kita," jelas Willy.
'Yaalloh ini cincinnya indah sekali. Seindah orang yang memberikannya padaku. Apakah perasaam cinta yang selama ini ia harapkan tidak terasa telah tumbuh didalam hatiku. Aku sungguh bahagia," batin El.
El amati cincin itu lalu menatap Willy, ia lakukan secara bergantian. Setelah lama berfikir, akhirnya ia menyematkan cincin itu dijari manisnya. Willy langsung menyeret kursi dan sujud syukur. Tiada henti-hentinya ia mengucapkan Hamdallah karena usahanya selama ini tidak sia-sia.
"Terimakasih El, kakak akan membahagiakan kalian. Maafkan kakak yang telat mengetahui kalian," lontar Willy dengan lirih.
Willy kecup dahi El dengan mesra. Kecupan sayang begitu terasa disanu bari El, ia menamgis tersedu-sedu karena bahagia. Rasanya begitu bahagia sampai tidak bisa mengucapkan apapun untuk mengutarakan perasaannya.
'Beginikah rasanya dicintai dengan tulus?! Aku hanya ingin menangis karena bahagia,'
__ADS_1
***