Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 57 Resmi Bercerai.


__ADS_3

El pun berbalik menghadap Antonio. Ia memegang jaket yang sempat Antonio sematkan agar tidak terjatuh dari bahunya. El pun berjalan dan mendudukam bokongnya dikursi yang sudah tersedia disana.


Antonio pun mengekori El dan mengikuti El duduk disebelah El. Mereka masih terdiam beberapa saat. Menikmati malam yang dingin tanpa kehangatan.


"Aku sudah mengugatmu mas, kita hanya menunggu sidang saja," ucap El.


"Nikmati masa-masa kita masih bersama mas, kalo sudah berpisah kamu tidak akan bisa melihat aku dan Alwi disaat kamu terbangun, oh... Ya ampun, aku dan Alwi memang tidak berarti. Mana mungkin kamu akan merasa kehilangan," ucap El lagi dengan tertawa namun bergetar menahan tangis.


"Apa aku boleh terbuka akan kisah masa laluku? Agar kau mengerti! Aku tetap akan menyayangimu gadis kecilku...," jawab Antonio lirih.


El mengangguk, "Ceritakanlah, agar kebencian tidak bersarang dihatiku. Dan akan benar-benar mengikhlaskan walaupun aku dikhianati," lontar El.


"Dengarkan baik-baik, aku ingin berbagi kisah menyedihkan ini, setelah bertahun-tahun aku memendamnya, aku harap kamu tidak akan selamanya membenciku!"


Antonio menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, itu dia lakukan secara berulang-ulang.


"Aku dan dia ... Mungkin kamu tahu siapa yang kumaksud, sudah menjalin kasih sedari aku duduk dibangku Sma El itupun mas, sudah kelas 3, Cinta monyet, dan cinta pertama,"


"Aku sering mengerjainya, meskipun sekolah kami jauh tapi entah mengapa aku selalu menunggunya. Waktu itu dia masih kelas 6 sd,"


"Dulu booming banget kakak-adean. Dan kebetulan aku nyaman sama dia. Hingga aku kuliah dan lulus, aku pun bekerja diperusahaan paman Imam, beliau orang yang menjadi wali setelah orang tuaku tiada,"


El pun beranjak dari duduknya dan berpamitan untuk membawa minuman untuk mereka berdua. El membawa minumannya dan menghidangkannya untuk mereka berdua.


Antonio menenggak dahulu minumannya, sebelum ia melanjutkan kembali ceritanya.


"Rasa itu berubah menjadi Cinta El, sungguh hati ini goyah. Dia tumbuh menjadi perempuan yang cantik, meskipun. Tidak secantik dirimu," ucap Antonio.


"Gombal kamu mas, ingin rasanya aku mencubit ginjalmu," jawab El.


El tertawa dengan gombalan Antonio begitupun Antonio tertawa karna mendengar jawaban El.


"Sampai pada akhirnya... Entah kemana gadis itu pergi. Aku kehilangan jejaknya,"

__ADS_1


"Aku, sudah mencari-cari dirinya kemana-mana. Tapi nihil, tidak sama sekali aku mendapatkan informasi. Aku sudah berusaha untuk optimis, bahwa dia akan aku temukan, tapi nyatanya... Dia tidak aku temukan,"


"Setelah menikah denganmu... Dan kau mengenalkannya aku tidak asing dengan dirinya. Setelah kucari tahu ternyata dia,"


Antonio tidak dapat lagi melanjutkan ceritanya dia hanya menunduk dan membuang nafas secara kasar. Beban berat yang dipikulnya selama ini menjadi ringan.


Setelah dia menceritakannya pada El. El iba, El pun sesenggukan karna menangis. Antonio pun menoleh, ia sempat bertanya-tanya kenapa El menangis.


"Aku terharu, kalo dinaskahkan akan menjadi sebuah novel yang menyedihkan. Saling mencintai namun harus berpisah karna keadaan. Dan bertemu kembali karna takdir yang menentukan. Selamat kalian adalah pasangan paling penomenal didunia kalian berdua,"


"Apa kamu tidak...."


"Tidak mas, aku sudah ikhlas," Ujar El.


***


Hari ini proses perceraian sedang berlangsung, Antonio tidak mengikuti sidang supaya proses berjalan secara cepat dan hanya memakan separuh waktu dari jangka yang diberikan Pengadilan Agama sekitar 6 bulan jika kedua belah pihak mendatangi persidangan.


Sidang Putusan verstek dijatuhkan jika tergugat tidak hadir pada sidang pertama, atau proses putusan didalam pemeriksaan dipengadilan tanpa hadirnya tergugat.


Setelah beberapa sidang yang dijalani selama kurang lebih 3 bulan, akhirnya El dan Antonio telah resmi bercerai. Kini mereka sudah tidak lagi tinggal disatu atap. Kemarin mereka tinggal dikediaman Imam, kini El dan keluarganya akan kembali kerumah mereka.


"Mom kok kita pergi dari sini?" tanya Alwi.


El sejenak memberhentikan pekerjaannya, ketika dia sedang memasukkan pakaiannya kedalam koper. Dia bingung harus berkata apa untuk menjelaskan kepada anak tampannya.


Apalagi Alwi yang selalu bertanya kembali ketika pertanyaannya telah dijawab.


"Mmm, ini kan rumah paman Imam, kita harus pulang kerumah kita dong masa disini terus sayang," jawab El.


El pun merentangkan tangannya agar lelaki tampan itu mau mendekat. El pun Mendekap tubuh mungil itu. Beberapa menit berlalu Ima pun mendatangi kamar El.


"Ayo nak," ucap Ima.

__ADS_1


Mereka berdua menoleh, "Nek, aku nggak mau pergi dari sini," rengek Alwi merajuk.


Alwi meminta dan memohon supaya mereka tidak berpindah rumah. Anak itu mungkin sudah betah dan nyaman dengan rumah itu. Tapi, kini Antonio dan El telah resmi bercerai.


Akan ada fitnah jika mereka masih tinggal bersama, apalagi El yang sudah merasa cintanya hilang bersama terkuaknya fakta yang membuat hatinya terluka.


Willy juga ikut membujuk sitampan yang merajuk tidak ingin berpindah rumah, Ima pun tak kalah lebih bingung dengan rajukan Alwi. Hingga membuat ia pusing. El pun memanggil Papanya, agar sang Mama beristirahat saja. Tanpa perlu memikirkan Alwi.


"Mama istirahat saja ya? Mungkin Mama terlalu banyak pikiran karna El, bercerai. Mama tidak usah memikirkan El, El baik-baik saja Mah," ucap El, lembut memberi pengertian pada sang Ima.


Setelah Papa Ananda datang kekamar El, ia hanya bingung karna tidak tahu masalah yang kini mereka tangani.


"Mamamu, kenapa Nak?" tanya Ananda ketika ia sudah berada didepan pintu.


El menceritakan tentang Alwi yang sedang merajuk, hinga akhirnya sang Mama merasa pusing. Ananda pun akan membujuk Alwi, tapi El mencegahnya dan ingin Ananda hanya merawat ibunya. El juga memberi tahu bahwa dia dibantu Willy. Papa Ananda pun membantu sang istri untuk memapahnya kekamar merek.


El masuk lagi kedalam, lelaki kecil itu tetap bersikukuh. Dia tidak mau pergi, ia tetap ingin disini. Supaya selalu dekat dengan Willy.


Setelah dibujuk dengan berbagai cara akhirnya Alwi mengerti dan mau berpindah rumah. Sungguh membuat El kewalahan dengan sikap Alwi yang terbilang keras kepala.


Willy juga akhirnya harus mengantarkan mereka terlebih dulu. Meskipun hari ini Willy harus kekantor, tetapi demi Alwi ia mau mengantarkannya.


"Yeayyy, daddy Wil ikut, yeyeyeye," ocehnya dengan gembira.


El pun teringat Aurelia dan Putri ia memanggil keduanya untuk bersiap-siap. Setelah itu mereka pun berpamitan pada Imam, Antonio untuk pergi. Mereka pun masuk kedalam mobil, setelah berada didalam mobil.


"Kalo aku tidak dirumah itu lagi juga tidak apa, tapi daddy Wil harus mau tinggal dirumahku," celoteh Alwi.


El membekap mulut Alwi dengan telapak tangannya, "jangan didengar ya kak," ujar El.


Alwi melepaskan tangan Ima dan kembali berseru, "Aku tahu mom daddy Anton itu sebenarnya daddy-nya teh Nuri. Berarti sekarang daddy-ku, daddy Wil. Daddy mau kan jadi daddy Alwi? Nikah saja sama mommy-ku yang cantik ini dad!"


"Kata siapa Al? Kamu jangan suka ngawur,"

__ADS_1


***


__ADS_2