Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 39 Hampir Ketahuan.


__ADS_3

Selamat Membaca๐Ÿ˜˜


Maafkan ya telat up aku akan usahakan dari mulai besok akan rutin setiap hari๐Ÿ˜Š PD banget ya seperti ada yang menunggu saja hihi


***


"TUAN," ujar Galih sudah mulai jengah.


"Seharusnya anda yang bisa menjaga etika dan sopan-santun kepada Presdir kami! Jika anda hanya ingin marah-marah karna proposal anda ditolak. Lebih baik anda tidak datang kemari," sahut Galih lagi dengan masih bersikap santai padahal dia mulai terpancing emosi.


Tamu itu pun keluar dari ruangan kerja dengan sejuta dendam dan perasaan bergemuruh tersulut emosi. Dia merasa terhina dengan lontaran dan sikap dari Presdir diperusahaan Ananda Group.


Padahal kenyataannya Presdir diperusahaan itu sama sekali tidak melontarkan perkataan yang menyinggung tamunya.


***


Malam hari telah tiba, seperti biasanya El mendapati sang suami yang tidak berada disampingnya. El pun kesana kemari mencari sosok suaminya. Namun tetap dia tidak menemukan Antonio.


"Kemana lagi sih? Tengah malam selalu tidak ada? Kemana coba? Tengah malam begini selalu kehilangan, apa lagi ngepet?" gumam El dengan mengumpat.


El pun berjalan keluar kamar dengan perasaan cemas takut sang suami melakukan hal yang diluar batas bersama sahabatnya.


Kenapa El berfikir demikian? Karna kenyataannya memang begitu. Ketika dari lantai atas menatap kebawah, Netra matanya menangkap sepasang manusia yang tengah berciuman.


Yaalloh, apa aku tidak salah melihat? Kok aku rasanya mau melompat dari sini! Aku sungguh tidak ingin mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Batin El berkata lirih.


El pun membekap mulutnya sendiri dengan tangannya. Supaya tangisannya tidak terdengar dan ketahuan dengan kedua orang itu.


Ketika dia akan berbalik untuk kekamarnya kembali, dia tercengang dengan seseorang yang berada didepan matanya.


Orang itu berjalan dan menghampiri El. Memapah nya dan memeluknya. Membelai pucuk kepala El yang tengah sesenggukan karna menahan tangisnya.


"Jangan menangis terus, sayang sekali air matamu," bisiknya tepat ditelinga El.


Untuk sesaat El hanya diam terpaku dengan lontaran nya. El pun melepaskan perlahan pelukan orang itu dan menatap nya dengan matanya masih bercucuran air mata.


"Kak, aku punya hati. Tentu saja aku akan menangis jika suamiku berciuman dengan orang lain. Apalagi dia sahabatku, sedangkan aku tak pernah disentuhnya." El pun langsung membekap mulutnya ketika dia keceplosan membongkar aibnya sendiri.


Willy hanya tercengang dengan kejujuran yang dilontarkan El.


"Benarkah?!" tanya Willy dengan membawa El kedalam kamarnya.


El pun berjalan mengikuti langkah Willy. Tanpa menolak. Mungkin dia akan dengan senang hati menjawab semua pertanyaan yang diajukan Willy.


Dan ternyata ada sepasang telinga yang tengah menguping pembicaraan sodara angkat itu.


What tuan Antonio belum menyentuh nona? Lalu si tampanku daddy nya siapa? Batinnya bermonolog.


Ketika El dan Willy telah berada didalam kamar Willy. El pun duduk dibibir ranjang, dengan Willy berjongkok dihadapannya.


Untuk beberapa saat mereka tak saling berbicara. Mungkin keduanya bingung harus memulai pembicaraan dari mana.


"Duduk disini saja kak, jangan begini?" pinta El dengan menepuk ranjang disebelahnya.

__ADS_1


"Tidak apa, biar begini saja," ucap Willy masih betah dengan posisi duduk pertamanya.


"Apa benar begitu?" tanya Willy dengan serius. El hanya mengangguk.


Willy menghembus nafas dengan kasar. Tak menyangka jika pamannya akan menyakiti hati sang pujaan hatinya.


Willy menatap bola mata indah El yang masih meneteskan air mata. Hatinya terasa nyeri kembali. Sodara yang sangat dia percayai dengan sengaja menyakiti wanitanya.


"Apa selama beberapa tahun ini dia tidak menyentuhmu? Satu kali pun? Lalu Alwi anak siapa El?" tanya Willy dengan mulai berdiri dari jongkoknya.


El hanya diam tak bergeming, dia malah semakin terisak dengan tangisannya. "Jawab El?" tanya Willy lagi.


El masih enggan untuk menjawab. Dia berdiri dan akan berlalu pergi dari kamar Willy. Dengan sigap Willy mencekal pergelangan tangan El.


"Dia anakku?" tanya Willy lagi.


"Lepas kak?" jawab El dengan menghempaskan cekalan tangan Willy.


"Alwi anakku El?" tanya Willy dengan menangkup wajah El.


Keduanya kini hanya saling memandang. Tak ada jawaban disetiap Willy bertanya. Dan dibelakang pintu kamar Willy.


Dia merahasiakan kejadian yang sangat penting ini. Awas kau ya? Berani sekali membohongiku. Batinnya mengumpat.


Orang itu pun pergi menuju kamarnya. Dengan perasaan yang sangat marah. Ketika dia berada didalam kamar dia pun langsung mengambil ponsel dan menelfon seseorang.


Ketika tepat 10 kali panggilan akhirnya yang ditelfon mengangkatnya.


๐Ÿ“ž "Ada apa?" tanya nya ketika sambungan telfon telah tersambung.


***


"Aku butuh jawaban El! Bukan tangisanmu!" seru Willy ketika El masih tak bergeming. Dia pun melepaskan tangannya dari wajah El.


"I-itu tidak penting kak!" seloroh El mulai menundukan kepalanya dan tak berani menatap Willy kembali.


"Tidak penting katamu?" cerca Willy lagi dengan mulai mendekati El.


El hanya menatap kaki Willy yang berjalan kearahnya dengan mulai mundur hingga akhirnya dia terjatuh terlentang keranjang.


"Kenapa malah tiduran diranjang El? Kau mau menggodaku?" tanya Willy menarik tangan El agar duduk ditepian ranjang.


Ketika itu pula Alwi menangis. "Minggir kak Alwi nangis!"


Willy hanya diam terpaku tanpa bisa menahan El untuk menjawab pertanyaannya. El pun berlari untuk memasuki kamarnya dan menuju ranjang tempat Alwi berada.


"Mommy---" sapa Alwi dengan merentangkan kedua tangannya.


El pun merangkak keatas ranjang mendekati Alwi ketika dari kejauhan Alwi sudah merentangkan kedua tangannya.


"Kenapa sayangnya mommy?" tanya El pada Alwi.


Alwi tidak menjawab semua pertanyaan mommy nya dia hanya mengarahkan El agar wanita itu berbaring disampingnya.

__ADS_1


Huhh, penyelamatku. Hampir saja ketahuan. Batin El.


El pun mengusap lembut punggung anaknya hingga dia tertidur. Dan akhirnya dia pun terlelap kealam mimpi bersama buah hatinya.


***


Ketika semuanya telah selesai menyantap sarapan pagi. Semuanya pun kembali kepada rutinitas masing-masing.


Seperti biasanya Putri berangkat bersama Willy. Putri pun mulai membuka suara ketika mereka sedang berada didalam mobil.


"Tuan Willy?" seru Putri.


"Ya," jawabnya santai dengan tangan masih memutar-mutar setir mobil.


"Mmmm... I-ini loh Will?" ucap Putri terbata.


Willy pun memarkirkan mobilnya sejenak untuk mendengarkan lontaran Putri. "Ayo berbicara! Nanti aku tidak konsentrasi menyetir," keluh Willy ketika Putri berbicara namun masih enggan untuk melontarkan ucapannya.


"A-aku---" ucap Putri lagi terbata.


Willy hanya mengernyit ketika mendengar Putri terbata kembali. "Aku mau dicium?" goda Willy dengan mengedipkan mata sebelahnya.


Putri hanya mendengus dan memutar bola mata jengah. "Serius deh ah, kamu mesum terus." Putri mengerucutkan bibirnya.


Willy hanya tersenyum simpul ketika Putri merajuk. Dia selalu merasa puas ketika menggoda kekasihnya. Meskipun dihatinya bukan orang yang berada disampingnya yang dia sayangi.


Ketika mereka telah sampai dikantor, dan mereka pun sudah berada diruang kerja Willy. Putri masih diam membisu dengan selalu menatap Willy. Sampai akhirnya Willy tersadar bahwa Putri ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting.


"Coba kamu berbicara Putri! Aku tidak akan memarahimu," ujar Willy menatap Putri.


"Aku ingin---"


***


Mulut bisa saja berbohong tidak apa.


Tetapi hatimu pasti merasa tidak akan pernah ikhlas.


Ketika milikmu bersama orang lain.


Meskipun kau tahu dia tidak mencintaimu?


Jalan satu-satunya untuk aku dan dia bahagia adalah berpisah...


Meskipun perpisahan bukan jalan satu-satunya menyelesaikan masalah.


Tapi itu adalah jalan dari menyelesaikan masalah untuk kita semua terbebas dari masalah hati.


***


Ceritaku tidak mengandung pembelajaran seperti author author senior. ini hanya sekedar hiburan semata ๐Ÿ™


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2