
Bugghh
"Auwww," dari arah belakang nampak pengendara sepeda motor menabrak belakang mobil Antonio karna dia berhenti secara mendadak tanpa adanya sen.
Wanita yang mungkin bisa dibilang Mama muda itu pun turun dari motor dan menghampiri mobil yang ia tabrak. Ia lalu mengetuk pintu.
Dan terbukalah pintu itu. Dia malah gugup sendiri karna ditatap dua orang pengendara mobil yang ia tabrak.
Kayaknya sedang ada cekcok rumah tangga. Tapi apa harus sampe mengerem mendadak membuat orang celaka. Batin wanita itu.
"Ehemmm," dia berdehem untuk mengusir rasa kegugupannya.
"Lagi ada masalah rumah tangga Mas? Lah toh yah diselesaikan dirumah. Jangan dibahas sambil mengendara. Jadi nya beginikan mencelakai orang kamu Mas?! Untung saja saya tidak apa-apa. Kalo kenapa-kenapa bagaimana dengan nasib anak-anak saya?" ucap wanita itu memberi peringatan.
Antonio pun keluar dari mobil dan membungkukan badannya. Meski pun dia terkenal arogan namun, saat ini dia diposisi salah. Tentunya dia akan meminta maaf atas kecerobohannya.
"Maafkan saya nona. Apakah ada yang terluka? Mari saya obati. Kita kerumah sakit sekarang?" pinta Antonio.
"Saya tidak apa-apa Mas, yang jadi masalah itu motor saya lecet. Dan Mas tahu?" wanitu itu pun menghembus nafas kasar terlebih dulu, "Motornya mana masih kredit. Udah lecet. Haduhh pusing saya Mas. Saya udah apik-apik makenya. Eh Mas nya mengendara dengan ceroboh dan akhirnya membuat saya rugi," omel wanita itu.
Antonio hanya mampu menggeleng-geleng kepala. Wanita memang makhluk yang aneh. Mungkin itu yang ada dibenak Antonio bukannya mengucap syukur karna keadaannya baik-baik saja. Tapi dia malah mengomel karna motornya lecet.
Antonio pun bernegosiasi. Dia meminta wanita itu untuk tenang. Karna Antonio akan bertanggung jawab atas kerusakan motornya.
"Nona tidak perlu khawatir. Saya akan membiayai semua kerugiannya. Dan lecetnya motor anda. Ini kartu nama saya, anda bisa menelpon saya. Dan beritahukan saja berapa nominal nya untuk motor anda dibengkel. Nanti saya yang akan melunasinya. Saya mohon untuk sebesar-besarnya anda untuk memberi maaf atas kecerobohan saya," pinta Antonio.
Wanita itu pun membawa kartu nama Antonio. Dia pun menyetujuinya. Dan pergi. Antonio pun kembali kedalam mobil.
Dia menjalankan kembali mobilnya. Kali ini tidak ada percakapan lagi. Setelah terjadi insiden. Beberapa menit lagi El sudah akan tiba dihalaman kantor Willy. Dengan membuka seatbelt dan memutari mobil. Dan berhemti tepat disamping Antonio yang terduduk didalam mobilnya.
"Tolong, untuk se-segera mungkin untuk mengambil keputusan." tanpa mendengar jawaban Antonio El pun berlalu pergi dari hadapan Antonio dan memasuki kantor Willy.
***
__ADS_1
Waktu sudah memasuki jam pulang kerja. Willy pun tadi telah memberi pesan pada El, untuk menunggunya supaya pulang bersama. El pun menunggu Willy.
Ketika Willy sudah berada diparkiran keduanya pun memasuki mobil. Lagi lagi Willy gugup. Entah harus berbicara apa?! Padahal mereka selalu bersama dalam beberapa minggu ini. Namun entah kenapa selalu keheningan yang tercipta.
El masih memikirkan lontaran Antonio. Dia masih mencerna semua penjelasan Antonio menurut syariat agama. El merasa terhempas harga dirinya. Mengapa dia tidak meng-iyakan saja tanggung jawab Willy dulu.
Dia tidak perlu memikirkan perasaan Putri. Kekasih Willy, tetapi wanita itu tidak egois. Dia tidak mungkin berbahagia diatas penderitaan perempuan lain. Apakah itu akan membuat El bahagia? Tentu saja dia berpikir, dia pasti akan merasa bersalah.
"Melamun? Memikirkan apa?" tanya Willy mencoba memulai percakapan dan memecah keheningan.
"Aku tidak melamun kakak," elak El dengan milirik sekilas kearah Willy dan memandang kearah kaca mobil.
Terlihat deretan pedagang dorongan disekitar jalan. El tampak menikmati perjalanannya. Dia merasa bersyukur, meskipun dirinya dilanda banyak masalah, namun tetap saja kebutuhannya selalu tercukupi.
"Kenapa El? Mau juga jualan begitu? Atau mau jualan seblak dan dijual online?" tanya Willy.
Entah apa yang membuat Willy bertanya seperti itu?! El hanya berfikir menimbang lontaran Willy. Willy semakin ingin tertawa atas diam nya El. Dia yakin El tengah menimbang pertanyaannya.
Sungguh membuat hatinya menggelitik. Ingin jungkir balik karna tertawa. El masih tak bergeming apa benar dia akan berjualan seperti apa yang dia lihat.
"Malah tertawa?" tanya El kebingungan.
"Boleh El, nanti kakak modalin ok," ucap Willy.
El hanya mengacungkan jempolnya seraya kegirangan. Apa sesederhana itu membuat hati wanita disampingnya bahagia? Willy hanya geleng-geleng kepala. Sekaligus aneh dengan pola pikir adik angkatnya, sekaligus belahan jiwanya.
Mereka pun sudah memasuki halaman rumah. Mereka berdua keluar mobil dan berjalan beriringan. Nampak terlihat pemandangan yang tak biasa. Antonio tengah membacakan dongeng untuk Alwi.
Sejak kapan lelaki itu perhatian terhadap buah hati El.
"Hallo sayang, sedang apa dengan Daddy? Tumben nih sossweet begini?" tanya El dan masih berdiri melihat interaksi keduanya.
Willy hanya berjalan melewati. Tanpa ikut menimpali. Lelaki itu sadar diri, mungkin kedekatan itu akan menjadi awal baik untuk pernikahan mereka. Pemandangan yang jarang terlihat setelah pernikahan itu terjadi.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari kedua lelaki yang sangat berarti untuk El. Hingga akhirnya dia keatas untuk membersihkan dirinya.
Willy lebih dulu turun kebawah dan Alwi pun berpindah tempat. Dengan berdekatan dengan Willy. Willy pun memperlihatkan sebuah potret yaitu seblak dengan campuran cokro/ceker ayam.
"Yammmi," ucap Alwi ngiler melihat potret dari ponsel Willy.
"Ayo beli Daddy Will?"
"Mommy nya Alwi katanya mau jualan seblak, terus dijual online," ungkap Willy. Alwi semakin girang. Antonio dan Ima hanya tersenyum. Mungkin mereka mengira Willy hanya bergurau.
Willy pun berjalan kedapur dan Alwi pun bercengkrama lagi dengan Antonio dan Ima.
Setelah selesai mandi El pun berjalan turun menapaki anak tangga untuk menghampiri Antonio dan Alwi. Namun El melihat sekarang bukan hanya mereka berdua. Ada Ima ikut bercanda dalam isi percakapan mereka. El juga tidak mengetahui bahwa Willy pun berada didapur.
"Wah kayaknya seru nih," ucap El ketika dia sudah menginjakan kaki dilantai dasar. Ketiganya menoleh. Alwi hanya melambaikan tangannya agar El ikut berkumpul bersama.
"Momm sini, kayaknya seblak ceker enak. Uummm, mantul." Alwi dengan gaya seakan dia tengah memakan makanan yang dia sebutkan.
"Lah, tahu dari mana seblak sayang?" jawab El.
"Dari Daddy Willy Momm! Katanya Mommy mau jualan seblak online? Hebatt Momm yeyyy," Alwi nampak menggoyang-goyangkan badannya karna kegirangan.
"Benar itu Nak?" tanya Ima penasaran.
"Kak Willy nya dimana Mah?" tanya El mengalihkan pembicaraan.
Alwi pun menunjuk kearah dapur. El pun berjalan menuju dapur. Dia sedikit gemas dengan kakak angkat nya itu. Bisa-bisanya berkata demikian. Sungguh membuatnya ingin menonyor sang kakak. Setelah dia sampai didapur.
"Kakak," teriaknya dengan menggema. Sehingga perkumpulan yang berada diruang tamu pun berjalan menuju dapur.
Mereka pun akhirnya berkumpul didapur. Willy masih berkutat dengan masakannya.
"Daddy Will yang bikin? Kan Mommy yang mau jualan Dadd?" tanya Alwi ketika dia melihat Willy memasak.
__ADS_1
El semakin geli. Sungguh rasanya dia tak tahan lagi ingin tertawa. Akhirnya El pun membantu Willy, Ima ingin membantu namun El menahannya. Hingga Ima Antonio beserta Alwi hanya menunggu matang saja makanan bernama seblak itu.
***