Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 21 Pelakor Versi Pria Tampan


__ADS_3

"Memangnya kenapa denganku?"


"Apa kau patah hati?" tanya Putri lagi dengan hati-hati.


Willy terlonjak kaget, dengan pertanyaan Putri.


ciiitttt


Rem mobil berhasil diinjak secara mendadak hingga mengakibatkan Putri terjungkal kedepan. Putri pun meringis memegangi jidatnya.


"Apaan sih? sebegitu kagetnya kamu ketika aku bertanya itu?"


"Kenapa coba? Hayoo, yaampun apa kamu jatuh Cinta pada istri orang? tapi dia istri pamanmu."


"Benarkan pertanyaanku?" tanya Putri lagi bertubi-tubi.


"Jika aku cemburu memangnya kenapa?"


"Aku tidak apa-apa." jawab Putri dengan polos dan masih mengelus jidatnya.


"Kamu tidak cemburu? jika aku cemburu pada istri orang?"


Benarkan dugaanku, kamu mencintai nona El yang cantik. Aaahhhh, memikirkannya saja aku sudah kagum pada nona El. Dikelilingi orang yang tulus menyayanginya.


Putri dengan wajah pura-pura kagetnya, namun hatinya bersorak sorai, setidaknya dia aman tidak akan ada cinta segitiga diantara mereka. Cintanya hanya untuk satu pria. Pria yang begitu hangat terhadapnya.


"What?"


"Sekarang pelakor bukan cuma perempuan saja ternyata, versi cowonya juga ada yaitu kamu," ejek Putri pada Willy.


"Pelakor versi pria tampan." Putri tertawa terbahak-bahak.


"Sepertinya itu cocok untuk julukan mu saat ini tuan Willy Nugraha Abraham."


"Tapi ..." dengan sejenak Putri berfikir, dengan tangan terangkat mengetukkan jari jemarinya kebibir.


"Tapi pelakor itu perebut laki orang Will, nah kamu kan cowo. Berarti perebut istri orang, kalo disingkat jadi ... PE-IS-OR."


"Lah gak pantes masa iya, peisor?! Yaudalah tetep aja yang pertama pelakor ya Will?" Putri memegangi perutnya dengan menutup mulut, tertawa terpingkal-pingkal.


Willy tersenyum tipis, mendengar guyonan Putri, hatinya yang nyeri sedikit terobati dengan tingkah Putri yang menurutnya konyol.


"Kau ... " tersenyum menyeringai dengan perlahan-lahan mendekat kearah Putri.


"Isshhhh, mau apa kamu mendekatiku?"


"Mau men**** bibirmu." Willy tersenyum jahil.


"Awas kalau kau berani mencuri c***** pertamaku," Ancam Putri kepada Willy.


"Aku kekasihmu," dengan nada melemah.


"Otak mesum menyingkir kau,"


Willy pun mulai mendekatkan wajahnya, mendekatkan hidungnya dengan hidung Putri, dan memegangi tengkuk kepala Putri, hembusan nafas mereka kini terasa di keduanya. Mereka kini bertukar nafas dengan jarak beberapa senti.


Putri hanya mampu mengeluarkan keringat dingin dikepalanya hingga mulai menetas didahinya.

__ADS_1


"Ayolah, aku hanya bercanda," seloroh Willy dengan nada mengejek, karna yang mesum adalah Putri.


"Kurang ajar." sungut Putri sengit dengan mendorong Willy agar menjauh dari hadapannya.


Putri hanya mampu mendengus kesal, niatnya untuk mengejek Willy. Namun ternyata malah dia yang diejek habis-habisan.


Perjalanan dilanjutkan kembali, dengan Willy masih tertawa terbahak-bahak.


Setidaknya aku sudah berhasil memancingnya, meskipun berupa pertanyaan yang menjalur bahwa dia mencintai nona muda.


***


Kini mereka telah sampai dengan selamat dirumah itu, Putri pun diminta untuk menginap. Tanpa menolak Putri hanya mengangguk menyetujui.


Galih tidak menginap karna dia bersi kukuh untuk tetap pulang keapartemennya. Entah kenapa dia selalu menolak jika harus menginap.


Tap..


Tap..


Suara dari sandal jepit menuju kamar, untuk memberitahunya sudah waktunya untuk sarapan.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan pintu kamar mengusik penghuni kamar, yang kini tengah bersiap-siap, untuk dipanggil menuju ruang makan.


Ceklek...


"Ah nona, selamat pagi." sahut Putri dengan menatap El dari ujung rambut hingga kaki.


Dia termangu dengan penampilan El, yang kesan dan notabenya sederhana. bagaimana tidak dengan daster yang ia kenakan dan juga sendal jepit yang ia kenakan.


"Tidak kenapa-kenapa!"


"Tapi pandangan kakak menatap lekat penampilanku, apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya El lagi.


"Tidak bukan begitu nona, kau masih terlihat anggun meskipun dengan memakai sendal jepit dan memakai daster," jawabnya dengan memuji.


"Benarkah?"


"Aku terharu dipuji habis-habisan!"


Mereka pun berjalan beriringan menuju ruang makan, dua orang laki-laki yang selalu El hormati, apalagi mas Tino yang kemarin malam sudah menyandang status suami El.


Dan El pun kini bukan perawan lagi, dirinya sudah mempunyai tanggung jawab menjadi seorang istri.


El dengan telaten memberikan nasi beserta lauk pauk diatas piring Antonio, begitupun dengan Putri dirinya juga memberikan apa yang dilakukan oleh El.


Sarapan pagi pun telah berakhir dengan tanpa sepatah katapun. Mereka menuju taman belakang untuk sekedar berbincang-bincang.


"Putri," panggil Antonio.


"Iya, tuan," jawab Putri.


"Bisakah kamu tinggal saja dirumah kami, untuk menemani El?" pintanya pada Putri.


"Bagaimana Will apa kamu tidak keberatan jika Putri disini?" tanya Antonio pada Willy.

__ADS_1


"Aku terserah Putri saja, kan ada bagusnya juga dia disini supaya bisa menemani El." jawabnya pada El dengan tatapan teduh dan penuh cinta.


Tatapannya? mengisyaratkan akan perasaan yang teramat dalam, tatapan penuh cinta. Apa benar kamu mencintai El Willy? jika benar begitu kenapa tidak pernah berterus terang. Biarlah saat ini aku menjaga orang yang kau cintai dan aku pun tidak akan menyentuhnya meskipun aku menikahinya. aku akan menyerahkan El padamu setelah aku mendapatkan kedua orang yang paling berharga dihidupku. Batin Antonio.


Egois sekali Antonio, dia terlalu memikirkan dirinya sendiri. Tanpa memperdulikan perasaan orang lain.


Putri hanya mengangguk saja. Itu akan lebih mudah mengorek perasaan Willy terhadap El. Galih sudah tau tentang Antonio secara detail.


Peristiwa masa lalu Antonio yang dikubur dalam-dalam. Tanpa sepengetahuannya Galih mengorek dan menggali kuburan itu dengan berhasil mendapat informasi yang ia temukan.


Wanita itu?


[Baca terus ya kelanjutannya supaya tau siapa masalalu Mas Tino] Author.


Fakta dan kenyataannya mampu membuatnya bergidik, disini yang dikorbankan nonanya. Kemungkinan suatu hari, nonanya akan mendapatkan luka yang teramat dalam.


***


Malam sunyi ditemani seorang suami yang sangat dicintainya, tentu akan menjadi pelangi Indah untuk kehidupannya.


Ketika pintu kamar terbuka, nampaklah laki-laki yang teramat El sayangi.


"Belum tidur?" tanya Antonio pada El, ketika memasuki kamar. El masih belum terpejam.


"Belum mas," jawab El dengan menundukan kepalanya.


"Kenapa El?" tanya nya lagi melihat tingkah El.


Antonio mendekati El perlahan-lahan, memegang dagu El, supaya mereka dapat bersitatap.


"Tatap mas El." pinta Antonio dengan mulai menurunkan tangannya dari dagu El.


"Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa mas tidak menyentuhmu." menarik nafas sejenak.


"Bukan mas membencimu, ataupun merasa jijik terhadapmu." Antonio mengangkat tangannya, lalu mengelus pipi gadis yang kini sudah menjadi istri sah nya.


"Meskipun kamu bukan mengandung anakku. Tapi percayalah aku juga mengharapkan kehadirannya."


"Lalu maksud mas apa?" sahut El dengan kebingungan.


Menurutnya Antonio terlalu berbasi-basi dan belum masuk pembicaraan inti.


"Mas tidak bisa menyentuhmu, mas tau kamu akan berfikir jika mas jijik terhadapmu. Mas juga tau ini sebagian sunah. Dan mas tau, mas berdosa terhadapmu tidak memberimu nafkah lahir batin." ungkapnya panjang lebar dengan berjongkok menghadap El.


"Maafkan mas El, mas hanya tidak ingin kamu tidak terbebani dengan kehamilanmu, dan juga rasa traumamu. Meskipun mas tidak mengetahui siapa yang telah berbuat be*** padamu." ungkap Antonio.


Aku berbohong lagi dihadapanmu gadis kecilku, aku tau siapa lelaki itu. Tapi aku tidak bisa menghukumnya. Maafkan aku.


"Mas ... "


.


.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2