
Happy Reading... π Tinggalkan jejak π£ dengan like kalianππ
***
El tersenggal menahan nafas yang ngos-ngosan karna berlari menuju kamar agar dengan cepat bisa menenangkan buah hatinya.
Disaat El sudah diambang pintu dan dapat mengatur ritme pernafasan nya secara normal. Dia pun berjalan kearah Willy untuk membawa buah hatinya.
Ya, meskipun Alwi sudah dapat ditenangkan Willy namun El tidak ingin merepotkan Willy, dan mengingat kesehatan Willy belum pulih.
"Istirahatmu terganggu lagi ya kak karna Alwi?" tanya El dengan membawa Alwi dari gendongan Willy.
"Beristirahatlah dikamarmu kak, agar istirahatmu tak terganggu lagi karna Alwi. Trimakasih ya kak sudah repot-repot menunggu Alwi." El tersenyum kearah Willy.
"Hmm." Willy pun berjalan keluar kamar.
***
Pagi kembali datang, dan tentunya semua makhluk hidup didunia telah beraktivitas kembali. Seperti keluarga Nugraha yang sudah menyelesaikan sarapannya. Tapi tidak dengan El, dia sedang memberi makan Alwi dengan berjalan kesana kemari.
Sikecil tumbuh menjadi seorang anak yang aktif. Dan tentunya menguras tenaga. Menjadi sosok ibu sekaligus ayah membuatnya harus extra menjaga Alwi.
Dia sadar akan posisi dirinya saat ini. Dia tidak diharapkan oleh suaminya. Harus bagaimana dirinya menyikapi sikap suaminya? Harus bersikap seperti apa lagi? Dia juga mempunyai hati dan tentunya dia pun terluka saat ini.
"Sayang... Jangan lari-lari terus, kaki mommy pegal nak!" seru El berpura-pura kesakitan.
"Benalkah mommy?" jawabnya dengan cadel dan mendekati El.
Dibelakang El ada Willy yang tengah memandang keduanya dengan haru beserta bahagia. Telunjuk Willy didekatkan ke bibirnya, memberi aba-aba kepada bocil (bocah cilik) itu untuk tidak memanggilnya.
"Mommy---"
"Kenapa sayang?" Alwi pun menunjuk kearah Willy, Willy hanya mampu menepuk jidatnya dengan jemari-jemari tangannya.
Willy berfikir, kenapa bisa sifat menyebalkannya menurun kepada Alwi yang notabenya hanya sebatas keponakan.
Keponakan?
Apa benar dia keponakanmu Willy? Bukan anakmu? Hmm, sampai kapan kau akan berasumsi demikian?
Kenapa tidak mencoba test DNA Willy? Otak pintarnya mungkin tertutup kabut Cinta yang menyelimuti otak bawah sadarnya.
"Loh... Kakak belum berangkat kerja?" tanya El mengernyit heran. Sedangkan Putri telah berangkat kekantor sedari tadi pikir El.
"Aku---"
El hanya mampu menautkan halisnya semakin bingung dengan tingkah Willy. "Aku apa kak?"
"Aku ingin mengajak Alwi kekantor? Apa boleh?" pinta Willy kepada El.
El hanya bingung saat ini, bagaimana jika tidak diperbolehkan? Tetapi jika Willy tau dia adalah anaknya... Tentu saja Willy juga berhak atas Alwi.
__ADS_1
Lama berfikir El pun menganggukkan kepalanya. Menurutnya Antonio kurang memperhatikannya, jadi tidak masalah jika Willy mau memberikan perhatian lebih untuk darah dagingnya.
"Ya, boleh kak, sekalian aku juga mau menjemput Rely!"
Alwi pun dibawa Willy kekantornya, sedangkan El sendiri kerumah Aurelia untuk menjemputnya. Lalu Antonio? Tentunya kekantor nya. Dengan sejuta kesibukkan? Bukan banyaknya pekerjaan. Tepatnya menyibukkan dirinya sendiri.
Ketika hendak turun untuk menjemput Aurelia, netra mata nya menangkap sesosok yang selalu beralasan sibuk untuk meluangkan waktu bersamanya.
Entah sekuat apa ketegarannya? Entah terbuat dari apa hatinya? Selalu memikirkan logika dari pada hatinya. Apakah dia seperti pohon pisang? Iya pohon pisang mempunyai jantung namun tidak mempunyai hati.
Hmm, namun dia bisa mencintai? Sekuat tenaga El supaya tidak terbawa emosi. Beberapa kali El menghembus nafas kasar untuk meredakan emosinya yang akan mulai membludak.
Perlahan El pun menyandarkan punggungnya, memejam mata untuk menetralisir emosinya. Setelah stabil kembali, El pun kembali menatap mereka. Hatinya nyeri mencelos. Mengingat dia jarang bertemu dengan pria itu.
Hati... Bertahanlah menahan emosi beserta cemburu. Kita harus mencari tahu terlebih dulu, mengingat suamiku yang selalu menghampirinya. Kemungkinan besar dia yang selalu mengejar wanita itu. Batin El.
Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti El tidak bisa mendengar. Mengingat jarak mereka yang lumayan cukup jauh. Meskipun jaraknya dekat dia enggan untuk mendengarkan. Hatinya belum siap menerima kenyataan yang sebenarnya.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya laki-laki itu pergi dari halaman rumah wanita itu. El pun melajukan kendaraannya untuk menghampiri sahabatnya.
"No-nona!" wanita itu langsung terperanjat kaget. Terlihat dari bahasa tubuhnya. Dan kegugupannya yang sangat terlihat jelas oleh El.
"Kenapa? Bukankah aku sudah mengabarimu untuk menjemputmu? Lalu kenapa kau terlihat kaget begitu?" cerca El memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
"Tidak apa-apa nona,"
El pun tidak menjawab kembali lontaran pernyataan sahabatnya. Saat ini dirinya malas harus berdebat hal begini. Yang dia ingin ketahui saat ini adalah apa hubungan dua manusia itu.
El pun tak menghiraukan kegugupan sahabatnya. Dia pun melihat kearah samping sosok gadis kecil yang tengah tersenyum merekah kearahnya dan merentangkan tangannya untuk memeluk El.
"Haloo sayang," sapa El kepada gadis kecil yang berada dihadapannya. Dan membawanya ke pelukan hangatnya.
Meskipun kini keadaan hatinya sedang tidak baik-baik saja dan risau melanda direlung hatinya. Tetapi ketika melihat senyumannya rasa itu seakan sirna. Dia merasa sedang memeluk suaminya.
Hmm, wajah gadis kecil itu mirip suaminya. Mungkinkah mereka mempunyai ikatan darah? Atau lebih tepatnya apakah mereka dulu pernah menikah lalu mempunyai seorang anak yang kini tengah berada dipelukan El?
Itulah yang kini El tengah selidiki. Mereka pun memasuki mobil untuk melanjutkan perjalanan. Ketika berada didalam mobil hanya keheningan tercipta.
Hening
Hening
Seperti upacara yang tengah mengheningkan cipta. El enggan untuk bertanya saat ini. Hatinya masih nyeri mengingat laki-laki itu menghampiri sahabatnya. Meskipun ini bukan sepenuhnya kesalahan sahabatnya.
"Sayang." El menoleh sekilas kearah belakang.
"Iya mommy tuan Alwi," jawab El kecil menghentikan permainan bonekanya.
El tersenyum mendengar panggilan gadis kecil itu. "Panggil saja mommy El, tidak masalah bukan Rely?" tanya El pada Aurelia. Dan El kecil menatap Aurelia seraya meminta jawaban.
"Tidak apa nona." Rely pun menganggukan kepalanya kearah gadis kecilnya.
__ADS_1
Tak terasa kendaraan yang tengah dilajukan El pun sudah berada didepan kantor. Dengan seperti biasanya El bertanya terlebih dulu ke resepsionis. Menaiki lift menuju lantai atas menuju keruangan Willy.
"Kak putri," sapa El ketika sudah berada dilantai atas.
"Tuan Willy bersama tuan muda berada didalam nona," jawabnya sudah mengetahui apa yang akan nona nya pertanyakan.
"Oh, baiklah. Terimakasih kak."
Ketika El, Aurelia dan El kecil masuk kedalam ruangan Willy, Willy pun menatap intens Aurelia. Seketika pikiran masa lalunya memutar diotaknya. Dia tertohok mengingat siapa wanita yang berada dihadapannya.
Dia kembali. Batin Willy.
Willy pun bersikap layaknya tak mengenali. Meskipun kini dia sangat ingin memberondongnya dengan sejuta pertanyaan.
"Alwi-nya mana kak?"
Willy hanya menunjuk kearah bawah meja. Dari arah meja berjalan Alwi. Yang bersembunyi ketika suara El terdengar.
"Daddy Willy kenapa membeli tahu mommy," keluhnya dengan cadel ketika dia mengetahui Willy memberi tahu kan persembunyian nya.
El pun berjalan kearahnya dan menggendong buah hatinya yang tengah merajuk. "Mommy hallus menghukum daddy Willy," pintanya pada El.
"Benarkah sayang? Daddy Willy harus dihukum? Hmm," tanya El dengan menggosok gosokan hidungnya dipipi gembul nya.
Alwi hanya terkekeh kegelian ketika mendapat serangan dari mommy nya. Willy hanya tersenyum melihat kearah pujaan hatinya.
"Apa kamu tahu pangeranku?" tanya El pada Alwi dan mendudukan bokongnya kearah sofa. Dan diikuti Aurelia dan El kecil. Alwi belum ngeuh bahwa diruangan itu ada sosok gadis yang selalu dipanggilnya kakak.
"Apa mom?" tanya nya dengan antusias.
"Daddy Willy memberimu hadiah pangeranku!"
***
Jangan membawa masa lalu ketika kamu melangkah menuju masa depan.
Jangan hanya mementingkan perasaanmu sendiri ketika hatimu masih mencintainya.
Pentingkanlah hati dan orang yang selalu berusaha membuatmu bahagia...
Masa lalu hanya bongkahan kenangan.
Bisa atau tidaknya bersatu.
kamu harus tahu statusmu kini..
(El-Suci Nanda Maharani)
***
BERSAMBUNG
__ADS_1