
'Aku yakin Alwi anaknya Willy, tapi yang jadi masalahnya mereka melakukannya atas dasar apa? Jika karena saling mencintai, tapi kenapa El tidak mau perjodohan ini terjadi,' batin Ima.
"Mah, sedang apa?" tanya Ananda.
Ima kaget dan gugup dihadapan suaminya, "Tidak sedang apa-apa pah," jawab Ima.
Merela langsung kembali untuk ke IGD. Dokter Sastra dan bahkan Restu tengah ada diperkumpulan keluarga itu. Restu mondar-mandir dengan gelisah. Sedangkan Aurelia nampak biasa saja.
Dokter Sastra berulang kali meminta maaf karena telah lalai menjaga pasien. Disaat kontrol pada siang hari Dian sudah tergeletak didalam kamar dengan tangan terluka. Tidak ada yang mencurigakan seperti biasanya, makanya Sastra tidak memberikan pengawalan ketat.
Keluarga mengerti, karena pasien bukan hanya Dian yang harus mereka kontrol. Dokter Sastra juga menjelaskan disaat Dian tengah menjalani terapi psikiater semua berjalan normal. Bahkan tanda Self injury tidak terlihat pada dirinya.
Self injury adalah mencederai tubuh sendiri dengan disengaja, dengan maksud tertentu, dan tidak dapat diterima secara sosial, tanpa niat bunuh diri.
Self Injury umumnya dilakukan secara rahasia (jarang memberi tahu orang lain). Sehingga biasanya seseorang yang melakukan Self Injury seringkali menutupi luka akibat Self Injury dengan pakaian, perhiasan, atau perban. Self Injury dapat terjadi di usia berapa pun.
Namun dokter Sastra menjelaskan kembali bahwa Dian tidak mengalami defresi berat atas kelakuannya selama ini. Entah apa maksud untuk dirinya melakukan semua ini.
Disaat dokter Sastra menjelaskan, ternyata Dian tidak dapat diselamatkan karna terlalu dalam menyay*at pergelengan tangannya.
"Maaf tuan, saya sudah berusaha. Tetapi Yang Maha Kuasa berkehendak lain,"
"PAMAN," teriak Restu.
"Yang sabar ya bang, ikhlaskan agar dia tidak berat meninggalkan dunia. Meskipun kita tahu bahwa ia meninggal karena bunuh diri tidak diterima oleh bumi," ucap Resty. Hanya mendapat anggukan kepala dari Restu.
Sastra langsung membantu dan memapah Restu yang jatuh merosot kelantai, Resty tidak henti-hentinya memberi semangat pada Restu. Bahwa ini sudah jalan takdir yang digarisakan Allah Swt.
***
"Sudah lah kita sedang membahas masalah perjodohan kita bukan tentang masalah Alwi," cerca El.
__ADS_1
"Ya baiklah," jawab Willy.
"Apa kamu tidak akan keberatan jika aku menjadi ayah baru untuk Alwi?" tanya Willy pada El.
El pun menoleh, "Aku tidak keberatan kak," jawab El.
Kini mungkin sudah tiba waktunya untuk Willy mengetahui bahwa Alwi siapa. Mereka sebentar lagi akan menjadi pasangan suami istri. Tentu saja tidak boleh ada sesuatu yang mereka tutupi. El sudah mantap akan memberi tahukan.
Sebelum mulut El menyampaikan, dokter Sastra memanggil Willy dan memberitahukan pada keduanya bahwa Dian telah pergi. Kini tiba saatnya untuk jenazah dibawa kerumah duka.
'Mungkin belum saatnya aku untuk memberi tahu segalanya kak,' batin El.
***
Setelah perdebatan akhirnya Dian akan dibawa pulang kerumah Restu. Meski Ananda sudah meminta untuk jenazah dibersihkan dirumahnya. Namun keponakan Dian adalah alasan yang lebih kuat hingga akhirnya Ananda mengerti.
Antonio membawa Nuri bersamanya, sedangkan Willy membawa Alwi. El menemani Aurelia dimobil Ambulance. Restu juga berada disana dengan berhimpitan, keempatnya hanya memandangi jenazah dengan rasa sedih.
Sastra dengan setia berada disamping Restu, dia mengusap air mata Restu dengan tisu agar air matanya tidak terjatuh pada tubuh jenazah. Setelah selesai kini tiba pada pemakaian kain kafan. Beberapa tetangga pun membantu, Restu tidak henti-hentinya menangis disaat kain kafan diikatkan diatas kepala.
Kapas dan kamper sudah dipakaikan dibeberapa bagian tubuh jenazah. Hati Aurelia juga tak luput dari kesedihan. Orang yang sedari kecil telah merawatnya. Meskipun ia sempat membenci, tetapi jauh didalam lubuk hatinya ia menyayangi lelaki itu.
Aurelia tidak dapat menahan rasa sesak didadanya disaat kini tiba jenazah untuk dikebumikan. Ia jatuh pingsan. El dan Ima menunggu Aurelia dikamar untuk menunggu Aurelia terbangun dari pingsannya.
Sebelum menuju pemakaman, jenazah dibawa untuk disholatkan, setelah selesai disholatkan kini pelayad dan juga yang lainnya telah membawa jenazah untuk dikebumikan. Disaat jenazah sudah di adzani kini Restu lebih sakit bagai belati menusuk hatinya. Kisah-kisah pengorbanan sang paman kini memutar dimemory ingatannya.
Rasa sesak menyelimuti relung jiwanya. Apalagi disaat dia melihat pamannya sudah terkubur oleh tanah. Kini hanya tanah tempatnya berpulang.
Para pelayad sudah pulang, kini tertinggalah Restu, Resty, Sastra, keluarga Ananda dan Imam. Mereka menjadi saksi bisu bagaimana Restu merasa terpuruknya dan merasa kehilangan atas kepergian Dian. Restu memeluk nisan Dian dengan rintihan kesedihannya. Dipegangnya gundukan tanah itu dengan penuh kesedihan.
"Paman, mengapa kamu melakukan hal tidak berguna itu. Aku sudah bilang meskipun kamu melakukan hal apapun kamu akan kalah itu bukan hakmu," ucap Restu dengan lirih.
__ADS_1
"Sudah sayang, pulang yah. Jangan begini terus aku sedih melihatmu." Resty memeluk Restu dari belakang.
Restu pun menoleh pada Resty, ia juga mangangkat tubuh Resty agar mereka dapat berdiri. Restu berjalan perlahan menghampiri Ananda, setelah dihadapan Ananda Restu langsung bersimpuh dikaki Ananda. Semua orang yang berada disana tercengang.
"Ma-maafkan paman saya tuan, a-atas perlakuan paman saya. Di-dia tidak banyak berterima kasih padamu. Sa-saya sangat malu. Saya sudah menasihati paman, tetapi dia tidak mau mendengarkan saya tuan. Mohon ampuni saya," ucap Restu dengan gugup.
Ananda mengangkat badan Restu, "Bangun nak, kamu tidak bersalah atas perlakuan yang telah dilakukan oleh pamanmu. Dan saya pun sudah memaafkan pamanmu,"
Wajah Restu yang menunduk kini mendongak menatap Ananda, air matanya terus saja berlianang. Willy dan Sastra tidak menyangka jika Restu akan seperti ini. Mereka baru mengetahui rapuhnya sang sahabat yang terlihat paling konyol.
Willy dan Restu memapah Restu. Mereka berpelukan dengan erat. Saling menguatkan, mereka juga meminta Restu untuk mau ikut dengannya liburan.
Meskipun mereka tidak berencana, namun kata itu refleks mereka katakan untuk menghibur sahabat mereka.
"Setelah pengajian pamanmu yang ketujuh kita akan berlibur, tidak ada penolakan," ucap keduanya bersamaan.
Ketika menyadari perkataan temannya Restu dengan lantang tertawa. Resty pun mendekat kearah Restu dengan memeluknya.
Diseberang sana sepasang kekasih tengah memperhatikan gerak-gerik semuanya.
"Ya Alloh kasihan tuan Restu," ucapnya dengan membersihkan ingusnya dengan tangan dan mengelapkannya diranting pohon disekitaran tempatnya berdiri.
"Kamu jorok sekali." kekasihnya pun memberikan sapu tangan pada wanitanya.
"Owww, ini bukannya pemberian dariku? Masih selalu dibawa! Kamu kok menepati janji," ucapnya dengan gembira. Ia juga memegang tangan sang kekasih.
"Isshh ini ingusmu jadi kena tanganku,"
Wanitanya tertawa, "Maafkan aku sayang,"
"Ya sudah cepat pulang saja kerumah tuan Restu. Saya masih banyak pekerjaan,"
__ADS_1
***