Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 61 Daddy Anton daddy nya teteh, bukan Daddy Alwi.


__ADS_3

" Hoaaamm," Alwi menguap ketika dia baru terbangun dari tidurnya.


Diedarkan pandangannya untuk melihat sekitar, lelaki tampan itu beranjak turun dari ranjang. Mencari sosok mommy-nya. Dia mengucek-ngecek matanya karna belum sepenuhnya nyawanya terkumpul.


"Mom," panggil Alwi ketika didepan Pintu.


Karna jarak yang tidak terlalu jauh dari kamar dan ruang tamu. El pun berdiri dari duduknya, dan berjalan menghampiri Alwi. Dia memapah anak tampannya.


"Mom teteh mana?" tanya Alwi.


"Masih bobo tuan," jawab Aurelia.


Lelaki berparas tampan itu pun akhirnya duduk dipangkuan El dengan menutup kembali kelopak matanya. Diluar terdengar suara bariton yang sangat familiar itu terdengar.


Sontak saja Alwi langsung memaksakan membuka kelopak matanya dan turun dari pangkuan El, dia berlari kedepan pintu utama dengan sempoyongan. Sebegitukah cerianya lelaki kecil itu ketika hanya mendengar suaranya saja?


El dan Aurelia pun berjalan beriringan untuk mencari tahu siapa tamu yang datang berkunjung. Keduanya hanya saling memandang, ternyata dua orang lelaki tampan itu paman dan keponakan!


"Ada apa mas, kak, kemari?" tanya El ketika dia tahu siapa yang bertamu.


El melihat keduanya hanya saling beradu pandang dan mengangkat bahu.


"Mmm, anu ini loh El. Tadi kudengar Aurelia diculik, jadi aku meminta alamat rumah Aurelia dari supir kamu," jawab Willy.


Alwi hanya mencekal tangan Willy dan mengayunkan tangan Willy. Dia tidak terlalu ambil pusing untuk pertanyaan dari mommy-nya.


"Dad," panggil Alwi.


Keempatnya pun menoleh pada Alwi, Alwi terus saja merengek pada Willy, hingga dia mengerti dengan gelagat Alwi, Willy langsung menggendong Alwi kedalam, dan Alwi terlelap tidur kembali.


El canggung ketika berada ditengah-tengah keduanya. Dia merasa menjadi orang ketiga.


"Mas, yang sabar ya! Sampai masa iddah kita selesai," ucap El.


Setelah selesai berucap, El pun berlalu pergi dari Antonio dan Aurelia. Keduanya salah tingkah. Ketika El pergi, kegugupan dari keduanya tidak dapat disembunyikan. Hingga mama mertua Aurelia pun datang.


"Loh kenapa tidak disuruh masuk?" Ibu Lastri memegang bahu Aurelia.


Lastri pun langsung mempersilahkan Antonio untuk masuk kedalam. Aurelia tidak menjawab sepatah kata pun. Ia juga tidak banyak bertanya sama sekali pada Antonio. Setelah sampai diruang tamu.


Bu Lastri membawakan minuman untuk tamunya.


***


Setelah selesai dengan ritual makan malamnya mereka pun berbincang-bincang sebelum kantuk akan menyerang.

__ADS_1


"Bu, sepertinya kami harus pulang!" ucap El.


"Ini sudah malam nona, apa sebaiknya tidak besok saja pulangnya?" jawab Lastri.


Antonio menyikut Willy dari samping, "Kami pulang sekarang ya bu? Besok kami harus bekerja kembali! Kalo kami bolos nanti kami dipecat," ucap Willy.


"Iya bu, apalagi ini sudah malam hari. Kami takut dibilang ada apa-apa jika kami pun harus menginap," sambung Antonio.


Lastri menghembus nafas perlahan. Baru saja dia merasa bahagia karna banyak yang bertamu padanya, hingga dia merasa banyak sodara. Apalagi hadirnya Antonio dan Willy.


Wanita yang merasa kesepian itu merasa jika anaknya yang telah tiada masih ada disekitaran dirinya. Ia nampak mengangguk pelan. Antonio dan Willy pun pergi berpamitan.


Sedangkan Alwi terus saja menangis ketika dia tahu Willy telah pergi, dia terus saja ketus pada El. Mungkin balita itu sedikit kesal pada mommy-nya. Mengizinkan Willy pergi ketika dirinya masih bermain.


Apalagi dia tidak tahu kapan Willy pulang. Nuri pun mengikuti Alwi yang merajuk. Ia lantas masuk kedalam kamar Alwi.


"Tuan, jangan bersedih terus. Tadi kan mommy nya tuan sudah bilang, kalo Daddy Willy dan Daddy Antonio juga bakal kesini lagi besok," seloroh Nuri.


"Teteh apaan sih bawa-bawa Daddy Antonio?! Daddy Antonio itu Daddy nya Teteh, bukan Daddy Alwi," sungut Alwi.


Alwi terus saja menangis, memeluk gulingnya, dia merajuk terus-menerus. Biasanya jika Nuri yang datang emosinya mereda, tapi kali ini Alwi semakin marah.


"Tuan kok marah sama aku? Tapi Daddy ku sudah meninggal tuan," jawab Nuri.


"Lah yang waktu aku dengar itu bohong begitu teh?" ucap Alwi dan langsung terduduk dari tidurnya dan melepaskan guling yang sedang dia peluk.


"Aku dengar ... Kalo aku cucu nya kakek, tapi aku bukan anaknya Daddy Antonio teh!"


"Siapa yang bilang tuan?" tanya Nuri semakin penasaran.


"Kakek-ku teteh,"


***


"Aduh Mah, cucumu itu selalu saja merajuk seperti itu," keluh El ketika Alwi merajuk.


"Wajar mungkin non kan kalo Ayah sama Anak berpisah ya begitu kan?" sambung Lastri menimpali.


El langsung gugup, yang tadinya gelisah dan mondar-mandir sambil memegang pelipisnya langsung terhenti disaat Bu Lastri menjawab lontaran El.


Mama Ima hanya tersenyum menanggapi, "Mereka tidak terikat darah Mba, hanya keponakan dan paman saja," imbuh Ima.


Lastri pun mengangguk pelan, "Maafkan saya, sudah salah berpikir tapi mereka berdua ada kemiripan," tutur Lastri.


Mama Ima melihat intens pada El, dia jadi merasa aneh melihat gelagat anak semata wayangnya. El memalingkan wajahnya ketika dia tahu tatapan ibunya.

__ADS_1


'Benarkah tuan Alwi anaknya tuan Willy? Tapi kan nona menikah dengan tuan Antonio? Apakah ada yang tidak kuketahui? Batin Aurelia.


Aurelia hanya menjadi pendengar untuk percakapan ketiganya.


"Mba, nak Rely saya permisi masuk dulu ya kekamar, El ikuti Mama!" ucap Mama Ima.


Ima berjalan masuk kekamarnya dan El mengekori Mama-nya untuk masuk kedalam kamar. Setelah keduanya sampai Mama Ima masih terdiam.


"Sayang ... Apa kamu tidak ingin curhat sama Mama?" tanya Mama Ima.


El sejenak memandang sang Mama dengan sendu. Ia tampak berkaca-kaca dan buliran air mata pun terjatuh dipipi mulusnya. Sesedih itukah ketika Ima bertanya seperti itu.


El memeluk Mama-nya dengan erat, semakin erat pelukannya, semakin terdengar keras tangisannya. Mama Ima hanya membelai pucuk kepala anaknya.


"Belum mau bicara ya sayang? Mama tunggu sampai kamu siap ya?!"


Mama Ima menenangkan anaknya dengan sentuhan lembut yang kini tengah ia lakukan. Ia sakit melihat anaknya menangis seperti ini, ketika keduanya sedang larut dalam kesedihan, ponsel Mama Ima membuyarkan keduanya.


El melepaskan pelukannya, Mama Ima mengangkat telpon, tertera sang suami yang menelpon.


"Sayang, sebentar ya Papa mu menelpon ini," izin Ima.


El pun mengangguk dan membersihkan sisa air matanya dengan telapak tangannya. Tanpa berpamitan El pun keluar dari kamar, niat hati ingin menemui Aurelia tetapi keduanya berpapasan. Nuri dan Aurelia sedang berbincang dan sempat El dengar ketika ia membuka pintu dan keduanya melintas.


"Mom, kata tuan Alwi, aku ini anaknya Daddy Antonio," ucap Nuri.


Itulah yang El dengar dari pembicaraan keduanya. El kaget dengan lontaran Nuri hingga akhirnya dia memutuskan untuk kekamar Alwi.


Setelah sampai, "Sayang,"


"Aku masih ngambek sama Mommy," jawab Alwi.


Alwi langsung membalikan badannya membelakangi El. El memegang bahu Alwi.


"Sayang, ada yang mau Mommy tanyakan!" seru El.


"Tanya saja, aku akan jawab, meskipun sedang ngambek," jawab Alwi.


"Tadi nangis? Katanya cowok nggak boleh cengeng,"


"Tadi mah, lupa mom. Kan manusia ada lupanya."


El hanya tertawa menanggapi jawaban anaknya.


"Kata siapa teh Nuri anaknya Daddy Anton?" tanya Ima.

__ADS_1


"Kata Kakek, berarti Daddy-nya Alwi Daddy Wil,"


***


__ADS_2