Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 89.


__ADS_3

Di perkampungan El dan Aurekia tengah menikmati sore hari dipinggir sawah. Dengan ditemani ubi bakar. Wanginya sungguh menggoda indera penciuman El. Sampai rasanya ia ingin segera melahapnya.


Padi yang akan mulai dipanen dan bergoyang-goyang seirama sungguh pemandangan yang sangat jarang terlihat. Sesekali Aurelia pun menggoyangkan orang-orangan sawah untuk mengusir burung yang singgah untuk memakan padi.


Setelah kenyang menikmati pemandangan sawah, keduanya pun memilih untuk segera pulang dan membersihkan diri. Tidak lupa juga mereka menggiring Nuri dan Alwi yang sudah kotor karena bermain lumpur.


Setelah perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya merekapun sudah sampai dirumah Aurelia. Keduanya pun membantu anaknya untuk segera membersihkan diri.


Mereka kini telah membersihkan anaknya masing-masing. Dengan langkah cepat Alwi memasuki kamar Aurelia untuk mengajak Nuri bermain kembali.


"Sholat dulu, ini sudah Ashar," titah Aurelia.


Setelah selesai menjalankan sholat Ashar, Nuri dan Alwi langsung bermain. El dan Aurelia masih berada didalam kamar. El sekilas kemudian melihat paper bag yang membuat nya kepo. Ia masih ingat itu adalah pemberian dari Restu.


"Belum dibuka?" tanya El membuka percakapan dikala keheningan tercipta. Aurelia pun menatap paper bag itu.


"Belum nona." sembari Aurelia membawanya.


Aurelia menatap paper bag itu, hanya sebuah dairy yang mungkin catatan harian Almarhum Dian.


'Kenapa harus mendapat surat dari dua orang yang berbeda. Alasannya karena mereka tidak sempat menyampaikan. Aku sakit kala mengingatnya, kalo mereka masih hidup aku masih bisa memeluknya,' batin Aurelia.


"Gak apa, buka aja. Jangan ragu-ragu!" titah El.


Aurelia membuka perlahan buku dairy itu. Tetapi ia enggan untuk membaca. Sampai akhirnya Aurelia meminta El untuk membacakannya.


"Nona... Anu, mmmm... Ini tolong," ucap Aurelia gugup.


"Kenapa?" tanya El.


"Apa tidak apa saya meminta nona untuk membacakan buku dairy ini,"


"Tentu saja boleh, kita kan sahabat." El pun membawa buku itu ditangannya. Aurelia mengangkat tangannya dan memegang jemari El. Matanya juga berembun.


"Apa saya masih pantas dipanggil sahabat? Saya pasti di cap pelakor oleh nyonya. Saya tidak pantas selalu mendapat kebaikan nona," sahut Aurelia.


El menatap Aurelia, "Biarlah, orang hanya memandang dari sudut pandang saja. Tidak melihat dari berbagai sudut. Meskipun mama beranggapan begitu sekalipun, kita tetap sahabat kok. Tapi jika suatu hari nanti mamaku meminta kita untuk tidak bertemu lagi, maafkan aku ya."


"Mmm... Jika kamu merasa seperti apa yang dituduhkan mamaku si pelakor. Apa kamu pernah menggoda suamiku?" jelas El panjang lebar.

__ADS_1


"Iya saya mengerti nona, eh... Aku ti-tidak seperti itu nona," jawab Aurelia.


"Iya aku percaya,"


Tentu saja El akan percaya. Semuanya dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


El pun membuka lembaran buku dairy satu persatu. Di bab terakhir mereka tampak serius untuk mencermati isi dari tulisan Almarhum.


"Aurelia, keponakanku. Maafkan pamanmu ini yang telah membuat hidupmu hancur. Paman tidak bermaksud, untuk membuat kalian terpisah begitu. Paman hanya tidak mau kalau waktu itu sampai kamu menggagalkan rencana paman. Namun Alloh berkehendak lain. Memang seharusnya paman jangan terlalu berambisi untuk memiliki sesuatu yang bukan milik paman. Bagaimanapun caranya itu tidak akan berjalan mulus. Paman menyesalinya. Maafkan paman meskipun kata maaf tidak akan membuat luka kalian dulu sembuh. Paman pun sangat malu pada tuan Ananda. Yang telah begitu baik pada paman. Hingga akhirnya paman memutuskan untuk berpura-pura gila. Dan juga mengakhiri hidup paman sendiri."


Itulah isi buku dairy dilembaran terakhir. Aurelia berkaca-kaca, dan akhirnya bulir bening lolos membasahi pipinya. El pun mengusap air mata Aurelia.


***


Dihalaman belakang Alwi dan Nuri tengah bermain dengam asyiknya. Mereka bercanda tanpa beban seperti orang dewasa yang memikul beban hidup di memory ingatannya. Disela-sela pemainannya.


"Teteh gimana?" tanya Alwi.


Nuri pun berhenti dari permainannya dikala Alwi bertanya.


"Apanya yang gimana?" tanya Nuri lagi.


Seketika Nuri terkekeh, "Nanti aku udah tua tuan. Kamu masih muda enggak bakal cocok lah. Aku tetap teteh mu saja," jawab Nuri santai.


"Tidak apa dong, tunggu Alwi sukses ya teh, nanti Alwi juga mau bikin pabrik tahu bulat disini," lontar Willy.


"Entar aku hitung dulu ya perbedaan usia kita. Tuan baru 5 tahun. Aku udah 11 tahun. Kita beda 6 tahun tuan sangat jauh," jelas Nuri.


"Pokoknya teteh Nuri harus jadi istrinya Al." ucap Alwi. Alwi juga meninggalkan Nuri yang masih bermain dihalaman belakang rumahnya.


"Dasar aneh, masih kecil udah mikirin cinta-cintaan. Tuan Al, tuan Al." decak Nuri, ia jadi membereskan mainan hanya seorang diri.


"Eh nak, tuan Alwi nya kemana? Kok mainnya sendiri," tanya Lastri.


Setelah seharian ia mengontrol pabrik tahu bulat miliknya. Peninggalan sang anak yang masih tersisa untuk menyambung kehidupannya. Ia sedikit merasa terbantu. Meskipun sebenarnya ini adalah warisan untuk Nuri.


Tapi entah kenapa Rely memilih untuk Lastri saja yang mengelolanya. Bahkan ia tidak tahu bahwa Rely keibu kota untuk bekerja menyambung hidup dirinya dan anaknya. Setelah Lastri tahu ia pun menahan kembali Rely untuk tinggal di rumah El. Sehingga mereka berdua pun akhirnya tinggal dirumah Lastri.


"Oh gitu," jawab Lastri. Ia pun membantu Nuri untuk membereskannya.

__ADS_1


***


"Rely aku pergi dulu ya, aku lihat Alwi kayaknya


dia sedang marah," ucap El.


Ia bergegas pergi karena melihat dari balik pintu sosok anaknya yang terlihat sedang marah. Setelah sampai didepan pintu El pun memasuki kamarnya. Pemandangan pertama yang ia lihat si tampan tengah duduk ditengah-tengah ranjang dan melipatkan kedua tangannya didada.


El tersenyum sekilas melihat kelakuan anaknya, dengan perlahan El mendekati ranjang itu. Ia duduk ditepiam ranjang.


"Ehemmm, kayaknya ada yang lagi ngambek nih," ucap El.


Alwi menoleh, ia masih memancarkan sedikit kemarahannya. Terlihat dari bibirnya yang mengerucut.


"Iya mom," jawab Alwi.


"Kenapa memang?" Tanya El.


Hubungan antara anak dan ibu diantara mereka sangat dekat. Sehingga Alwi akan menceritakan semuanya pada sang mommy.


"Teh Nuri enggak mau Alwi Lamar mom," ucap Alwi.


"Ffftthhh." El tertawa kala mendengar keluhan sang anak. Bisa-bisanya dia melamar seorang gadis diumurnya Yang masih 5 tahun. Mengerti apa dia soal rumah tangga. El pun berhenti tertawa tatkala Alwi semakin garang seperti kucing garong.


"Malah ketawa lagi, kaya teteh." Alwi semakin kesal pada El.


"Sini dulu nak." El menepuk-nepuk samping kiri nya agar Alwi mendekat kearahnya. El juga mengarahkan agar Alwi tiduran dipahanya.


"Bisa jelasin nggak akar masalahnya sayang, "


"Ya tadi aku lamar teh Nuri mom, katanya usia kita jauh, sama masih kecil juga,"


"Lah kenapa harus marah? Kan memang benar adanya kalo Alwi masih kecil. Belum kerja, masa udah lamar-lamar anak gadis orang." El mencubit gemas hidung Alwi.


"Terus kalo Alwi mau lamar harus gimana mom?" Tanya Alwi. Tangannya memeluk sayang tangan El.


"Ya harus kerja, ingat sayang harga diri lelaki adalah bekerja dan bertanggung jawab. Ingat pesan mommy sampai kamu beranjak dewasa sayang,"


***

__ADS_1


Bantu like dan komennya dong kesayangan, supaya aku makin semangat up nya.


__ADS_2