Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 91. Pertunangan Antonio.


__ADS_3

Ima hanya bisa memasang wajah masam dihadapan suaminya. Tidak ada senyuman yang terukir dibibirnya kali ini. Kala ia memberi tahukan pada keluarga Imam untuk acara perjodohan yang mereka lakukan dibatalkan sepihak oleh Ima.


Ima tidak lagi merayu, ataupun menggoda pada Ananda. Ananda masih juga gengsi untuk memulai bertanya. Apalagi mereka sudah tidak bertegur sapa selama 3 minggu.


Keduanya juga merasa kesepian, namun rasa gengsi yang terlalu besar. Membuat mereka memilih memendam kerinduan.


Malam ini hari lamaran Antonio dan Aurelia, dengan memilih menurunkan harga diri dihadapan istrinya Ananda mengutarakan keinginannya, agar ia dan Ima dapat mengahadiri.


"Ayo mah, kita kesana," pinta Ananda.


"Enggak, malas sekali harus bertamu lagi pada wanita yang menjadi pelakor dalam rumah tangga ankaku,"


"Mamah harusnya cari tahu dari mereka kisah yang sebenarnya. Supaya tidak berprasangka buruk pada orang enggak baik. Ikut saja ayo, sembari kita menjemput El untuk pulang,"


"Iya mereka kok masih disana saja pah, apa El dan Al enggak rindu mama," lirih Ima.


"Sebenarnya rindu. Tapi karena ego mama membuat mereka tidak mau pulang. Makanya ayo ikut," ajak Ananda.


Akhirnya Ima pun mau pergi kesana. Dengan alasan ingin menjemput El.


***


Setelah perjodohan dibatalkan sepihak oleh keluarga Ananda. Willy tidak lagi bertukar kabar dengan Alwi. Biasanya ia akan sengaja berkunjung kesana hanya untuk menemani Alwi. Namun, kali ini ia tidak ingin sampai kerinduannya terobati tapi keluarganya diambang kehancuran.


Biarlah semua yang terjadi dan mungkin akan berlalu. Biarkan semuanya berjalan seperti semestinya. Mungkin semesta tidak mentakdirkan dirinya untuk bersama. Beberapa kali ia berdecak frustrasi hanya karena gelisah menahan kerinduan pada anaknya.


Manja dan selalu ingin bersamanya. Tetapi sudah satu bulan lebih sepekan kini mereka tidak bertemu lagi. Kesedihan selalu saja mewarnai hari-harinya.


"Telpon saja kalau rindu," ucap Antonio yang menyaksikan kelakuan keponakannya.


Antonio tidak sengaja melihat Willy yang mondar-mandir didalam kamarnya.


"Iya, aku akan menghubunginya jika nyonya Ima tidak melarangku." jawab Willy. Antonio pun memasuki kamar Willy, Dan merebahkan tubuhnya.


"Lalu kamu akan menyerah begitu saja? Tidak mau kah kamu bersama-sama mereka lagi?" Tanya Antonio.


"Besar keinginanku untuk bisa menjaga mereka paman. Tapi, kalau keadaannya seperti ini aku harus bagaimana lagi," sahut Willy.


"Berjuanglah, kamu harus memperjuangkan mereka. Bawa calon mantu dan cucu papa," sambung Imam berada diambang pintu kamar Willy.


Bibirnya melengkungkan senyuman, memberi semangat agar anaknya bisa memperjuangkan cintanya. Imam pun berjalan masuk dan bergabung dengan anak dan keponakannya.

__ADS_1


"Semangat, sudah papa ingatkan. Dan papa semangati kamu. Berkali-kali kami mendukungmu, apapun yang kamu lakukan kami akan berada dibelakangmu," sahut Imam memberi semangat.


Dengan berdiri dan mengepalkan tangannya keatas. Ia sudah bertekad sekuat jiwa raganya. Akan memperjuangkan Al fan juga El.


"Makasih pah." Willy pun memeluk Imam.


"Aku enggak dipeluk juga, hmm," lontar Antonio.


Antonio pun mendekati Willy fan Imam, mereka bertiga berpelukan.


"Sudah siap-siap cepat," pinta Imam.


"Kemana pah?" Tanya Willy.


"Pamanmu mau bertunangan dengan seseorang," jawab Imam.


"Nanti dijelaskan, bersiap-siaplah dulu." Sambung Antonio, ia berjalan keluar dari kamar Willy dan Imam pun mengikuti Antonio keluar kamar.


Setelah selesai bersiap-siap, kini mereka sudah dalam perjalanan menuju seseorang yang akan Antonio Lamar.


"Enggak dijelasin ini," Willy.


"Eh lupa Wil," jawab Antonio. Ia menjeda lontarannya karena tertawa, "Itu loh, paman Lamar sahabat El,"


Rem mendadak diinjak Willy karena kaget, Imam dan Antonio hanya berpegangan erat pada kursi yang mereka duduki.


"What," suara Willy meninggi. Hingga ia sampai menepikan mobilnya.


"Jalan lagi Wil, nanti terlambat. Ini sudah pukul 07.00 acaranya pukul delapan."


***


Antonio masih belum menjelaskan perihal lamaran dia kepada seseorang. Willy hanya mampu mengekori Antonio dan Imam saja. Ia hanya bisa mengernyit dan heran. Setahu Willy rumah yang sedang ia singgahi untuk sebuah acara lamaran ini adalah rumah Aurelia.


Perjalanan cinta mereka saja sangat panjang, perjuangan untuk sampai dititik lamaran. Mereka menjadi orang asing dan sempat menikah masing-masing. Hingga keduanya berstatus janda dan duda.


Mata Willy mengedar seluruh ruangan, dia yakin El pasti ada disini. Dan juga Alwi pasti ada. Disaat matanya menoleh kearah kanan, ia mendapati El dan Alwi berada di kerumunan. Willy akan menghampiri keduanya tetapi ia melihat Ima dan Ananda.


Lalu dia pu mengurungkan niatnya untuk menemui mereka.


'Aku rindu kalian, tapi kali ini aku tidak bosa menemui kalian," bati Willy.

__ADS_1


Setelah Willy menjauh, Alwi tidak sengaja melihat Willy. Tanpa berpamitan pada El, ia langsung membuntuti Willy. Kerinduannya tidak bisa ia bendung lagi. Ia bahkan demam namun, tidak dirasakannya.


Alwi berlarian mengejar Willy. Setelah berdekatan ia mencekal lengan Willy. Willy kaget, ia pun perlahan menoleh.


"Daddy," cicit Alwi.


"I-iya nak," jawab Willy.


Tanpa bertanya lagi Alwi menarik Willy untuk menjauh dari kerumunan. Acara lamaran yang kini tengah menyematkan cincin. Tangan kecil mungil itu tetap saja manarik paksa Willy. Sampai sudah jauh dari rumah itu, Alwi melepaskan perpagutan tangannya.


Tangan mungil Alwi menuntun Willy untuk memegang dahinya.


"Daddy aku demam, aku rindu dad," cicit Alwi lagi.


"Daddy juga kangen Al kok, nak. Maafkan daddy belum sempat menemuimu selama ini," jawab Willy lirih.


Percakapan singkat, yang membuat Willy semakin nyeri. Ia benar harus memperjuangkan Alwi dan El. Kasihan anaknya harus menahan sakit karena rindu padanya.


Willy langsung menggendong Alwi. Ia juga bertanya Alwi mau kemana. Jawaban Alwi hanya sederhana. Ingin menghabiskan waktu bersama.


Willy tidak dapat lagi menjawab pertanyaan Alwi. Ia hanya bisa mengecupi wajah kecil itu dengan membombardirnya dengan ciuman. Setelah ciuman itu berhenti Alwi memeluk Willy dengan erat.


"Daddy, tolong jangan pergi lagi,"


"Tidak nak, daddy tidak pergi kok. Cuman daddy banyak kerjaan sayang," jawab Willy.


Sedangkan El dengan Ima tengah khawatir karena orang yang mereka cari tidak kunjung ketemu. Ima bahkan sampai meminta tamu untuk mencarinya cucunya.


Kegaduhan nampak terlihat disana. Harusnya tepuk tangan yang menggema, namun berubah menjadi sebuah kecemasan.


Aurelia dan Antonio tidak kalah khawatir. Apalagi Nuri, karena ia tahu bahwa Alwi tengah demam.


"Nyonya sudah ketemu?" Tanya Aurelia pada Ima.


"Kalau sudah ketemu, cucu saya sudah saya gandeng. Apa kamu tidak melihat saya tidak menggandeng siapapun," ketus Ima.


Aurelia hanya bisa kaget karena jawaban nyonya Ima. Ia semakin yakin bahwa Ima membencinya apalagi sekarang adalah pertunangan mereka. El pun menghampiri Aurelia, ia juga memegang bahu Aurelia.


"Tolong jangan dimasukin kehati ya, mamaku mungkin sedang khawatir karena cucunya tidak ada," Ima memberikan pengertian pada Aurelia.


Kini kekeacauan terjadi lagi didepan pintu utama. Karena Ima memaki-maki seseorang.

__ADS_1


***


__ADS_2