
Rintik hujan membasahi bumi. Rintikannya memalaskan. Malas untuk beraktifitas. Yang ada cuma ingin merebahkan badannya diranjang. Apalagi ini waktu malam. Semakin menggoda untuk segera menjatuhkan tubuh dan berbaring diranjang empuk itu.
El menatap jam yang berada didinding, rasanya ia ingin melepaskan gaun yang sudah ia kenakan. Rasanya tidak ingin pergi, jika mengingat bukan Willy yang memintanya.
Ia terlalu banyak berhutang Budi. Lelaki itu tidak mengetahui tentang Alwi, tetapi lelaki itu dengan sabarnya masih mau untuk mengurusnya. Bahkan disuruh malam hari untuk sekedar menenangkan Alwi, ia pun datang tepat waktu.
Setelah beres dalam berdandannya, El pun keluar kamar. Willy terlihat termangu menatap El. Tatapannya begitu ia mengagumi. El beberapa kali berbicara, agar mereka segera untuk ketempat tujuan.
Tetapi Willy masih membisu, menatap El. Alwi sampai turun tangan untuk menyadarkan Willy.
"Daddy, jadi pergi tidak?" Alwi mengguncangkan tangan Willy. Iapun tersadar dari lamunam.
"Anak mama terlalu cantik sih." Mama Ima melewati ketiganya dan sempat-sempatnya berbalik kearah El dan mengedipkan matanya.
El tersenyum menanggapi. Willy, El, dan Alwi-pun berpamitan. Willy lantas melajukan kuda besinya ketempat tujuan. Disepanjang perjalanan Alwi tidak henti-hentinya tertawa.
Ia mengingat kala Willy masih melamun melihat mommy yang terlihat sangat cantik malam ini. Willy dan El hanya tersenyum, sesekali juga El dan Willy tertawa.
Mobil pun sudah memasuki parkiran, mereka masuk kedalam gedung pernikahan. Alwi dan El mengikuti arah kemana Willy melangkah.
Hingga mereka menjadi tatapan para tamu undangan, kedatangannya yang terlambat membuat semua tamu melihat ketiganya begitu takjub. Cantik, tampan, apalagi sang anak yang titisan dari benih keduanya. Sungguh membuat paras Alwi begitu digandrungi para tamu undangan.
"Aduh, tuan tampan. Mau jadi mantu tante?" tanya tamu yang sedang berpapasan dengan Alwi.
Ia juga sempat-sempatnya menghadang perjalan ketiganya untuk menuju pelaminan. Ia juga sempat berselfie ria dengan sang tamu.
"Mom-mommy," panggil Alwi.
Alwi juga mengguncangkan tangan El, agar El mensejajarkan tubuhnya.
"Kenapa nak?"
"Tante-tante tadi cuntil," bisiknya pada El.
Sontak saja membuat El tertawa dibuatnya, meskipun Willy tidak mendengar percakapan mereka. Tetapi, ia mendengar El tertawa. Meskipun kebisingan yang tampak memengangkan telinga.
Willy menghentikan laju langkahnya, sampai El menubruk tubuh Willy. Alwi hanya cengengesan melihat Willy dan El.
"Ngerem mendadak." El memukul pundak Willy. Ia juga memegangi hidungnya yang terasa panas karena menubruk punggung Willy.
"Maaf," jawab Willy.
Mereka bertiga kembali berjalan saling menuntun, setelah ada beberapa tangga Alwi berlari dan berdiri ditengah-tengah pengantin. El sampai bersemu merah karena menahan malu.
Mempelai wanita begitu antusias atas kedatangan Alwi, ia langsung menggandeng tangan Alwi.
"Tuan tampan, daddy nya. Daddy Willy kan?" tanya sang memepelai wanita.
Restu menyikut pinggang ramping Resty dengan sikutnya. Resty malah tidak menghiraukan Restu. Restu hanya bisa membuang nafas kasar.
"Jangan asal nebak dong dek, kalo bukan nanti bagaimana tanggapan orang tuanya," ucap Restu menasihati.
Restu tidak mengingat Alwi, karna dulu ia bertemu dengan Alwi masih kecil. Tentu saja akan ada perubahan pada anak kecil ini. Apalagi Restu hanya bertemu dengan Alwi beberapa kali saja.
__ADS_1
"Enggak salah nebak, dia memang anaknya ak ... Eh maksudku anaknya El," sahut Willy menimpali keduanya.
"Tuan tampan, boleh berkenalan tidak?" tanya Resty.
Alwi terlihat mangap-mangap mulutnya ketika El menatap Alwi, ia tahu yang dikatupkan anaknya mommy, tantenya cuntil, bahu El berguncang lagi, lagi-lagi dia menahan tawa. Karena gelagat Alwi.
"Mau enggak jadi anak tante?" tanya Resty lagi, ketika perkenalannya tidak dijawab Alwi.
Alwi menggelengkan kepala. Ia pun berjalan kearah sang mommy dan mengumpat dibelakang El. El pun meminta maaf atas prilaku Alwi. Restu dan Resty mengerti karena usianya yang masih kecil tentu akan membingungkan jika ditanya seperti itu.
El dan Resty pun sudah terlihat akrab. Terlihat dari Resty yang suka berbicara, membuat El akhirnya mau menjawab setiap yang ia tanyakan.
Karena mereka tamu terakhir dan terlambat datang, merekapun jadi mempunyai waktu lama untuk berbincang, setelah kurang lebih perbincangan 15 menit. Willy, Alwi dan El pun turun dari pelaminan. Saat Willy akan turun datang Sastra.
"Jangan turun Wil, kita foto bersama dulu," pinta Sastra.
Mau tidak mau merekapun berfoto dahulu. Setelah itu mereka turun bersama-sama.
Setelah sesi menyantap hidangan, hiburan, dan juga sesi berfoto telah selesai, Alwi pun tertidur pulas. Pengantin dan tamu undangan berswa foto, Restu meminta kepada MC untuk meminta Willy naik keatas panggung untuk menyumbangkan suara emasnya yang merdu.
Willy sempat menolak, namun karena banyaknya yang request akhirnya dia akan naik keatas panggung. Sebelum Willy naik ia meminta izin pada El. Dan El mengizinkan. Willy juga meminta Sastra untuk menggendong Alwi sementara, disaat dirinya sedang berada diatas panggung.
"Akhirnya datang juga, setelah dibujuk dengan seribu cara ya! Bukan jurus bayangan seperti naruto. Ok, baik kita akan kembali pada tuan Willy untuk menyumbangkan sebuah lagu,"
"Ok, musik. Eh belum tahu ini mau nyanyi lagu apa tuan?" Tanya MC setelah basa-basi.
Willy sesaat terdiam seraya berfikir, "Genrenya, bebaskan," sahut Willy.
Serempak menjawab 'iya', tapi Restu meminta Willy menyanyikan lagu Malaysiaan. Talent yang dimiliki Willy membuat dia mampu menyanyikan bergenre apapun.
Willy hanya mampu menggerutu dalam hati. Tidak mungkin dia mengumpat pengantin dihadapan tamu undangan. Sedangkan Sastra hanya mampu tertawa lepas mendengar keinginan Restu.
'Pinter banget si Etu nyari kesempatan. Supaya Willy mau dia diperintah,' batin Sastra.
"Ok, sesuai permintaan pengantin ya. Mari kita dengarkan," ucap MC.
Terdengar tepuk tangan dari semua tamu undangan. Alunan beberapa musik menjadi satu, Dan terbentuklah alunan musik yang sangat enak untuk didengar. Willy pun bernyanyi.
***
Coba kau ingat ingat kembali
Siapa yang ada disaat kamu terluka
Aku bukan dia
Namunnya kau tak pernah merasa
Aku bukan dia
Namunnya kau tak pernah merasa
Setelah semuanya kini berlalu
__ADS_1
Luka dihatimu tak lagi berasa pilu
Pahit yang kutrima
Manisnya orang lain yang punya
Pahit yang kutrima
Manisnya orang lain yang punya
Kekasih dimana kurangnya aku padamu
Sehingga kau tak dapat melihat cinta
Sakitmu selalu aku yang ada untukmu
Senangmu tak pernah kau bagi untukku
Harusnya aku bukanlah dirinya
Orang yang pertama kau cinta
Harusnya aku bukanlah dirinya
Orang yang pertama kau cinta
Setelah semuanya kini berlalu
Luka dihatimu tak lagi berasa pilu
Pahit yang kutrima
Manisnya orang lain yang punya
***
"Mendalami sekali tuan Willy, apa mewakili isi hati anda?" Tanya MC, ketika Willy telah selesai bernyanyi.
'Alah, skakmat kamu Wil, jujur ya. Supaya El tahu isi hati kamu,' batin Restu.
'Skakmat, jawab yang jujur. Supaya tahu pujaan hatimu ini,' batin Sastra.
"Mmm, iya mewakili perasaan pada seseorang," jawab Willy santai.
'Widih, lagaknya kayak orang yang yang berani. Nyatanya tidak pernah mengungkapkan,' batin Sastra.
'Alah si kalem, jujur juga,' batin Restu.
"OK, tuan Willy. Terimaksih, partisifasi anda untuk memeriahkan pernikahan dari tuan Restu. Semoga cepat sang pujaan mengerti," ucap MC.
Tepuk tangan begitu sangat menggema didalam gedung, sampai Willy tidak menghiraukan kembali lontaran-lontaran MC yang meminta beribu kata terimakasih.
Dari dalam mobil tampak sepasang kekasih yang tengah melihat El dan Willy. Mereka berdua meminta pelayan untuk memangsangkan kamera tersembunyi, agar keduanya bisa mnegetahui apa saja yang dilakukan majikannya.
__ADS_1
"Waduh sosweet banget deh," ucap wanita itu dan menggigit bahu calon suaminya.
***