
Pihak WO berlari tunggang langgang kebawah begitu tahu sang mempelai wanita tidak berada dikamarnya. Dengan berlarian kesana kemari ia mencari nyonya besar untuk memberi tahunya.
Ia sudah mencari keseluruh ruangan. Padahal sang nyonya tengah diatas berada didekat kamar El. Karena terlalu cemas hingga ia langsung turun kebawah.
"Ada apa?" tanya Ima ketika ia turun kebawah.
Ima sedikit kebingungan ketika melihat raut wajah pihak WO dihadapannya. Ia terlihat ketakutan.
"Nyo-nyonya... Nona muda tidak ada dikamarnya,"
"Yaalloh El, kamu nekad sekali,"
Ima pun menelpon Ananda untuk meminta bantuan bahwa El telah kabur. Ima cemas memikirkan anak semata wayangnya. Ia menyesal karena telah membuat hubungan ia dan El merenggang.
Ananda sudah beberapa kali memberikan tahukan bahwa El pasti akan baik-baik saja. Tetapi Ima tetap saja meraung-raung, karena semua kesalahannya.
Willy pun dipanggil Ananda untuk membawa Alwi ia hanya kebingungan karena ia didandani seperti pengantin pria bukan menjadi pagar bagus. Sedangkan Willy melihat Ima seperti menangis, tetapi ia tidak begitu jelas melihatnya karena tertupi badan tegap Ananda. Willy pun mengajak Alwi untuk melihat pengantin.
Antonio dan Imam yang telah datang pun kesana dan mengernyit karena kebingungan. Mereka bingung karena melihat keadaan Ima.
"Ini ada apa?" tanya Imam, yang melihat Ima menangis meraung-raung.
"El kabur," Ananda menjawab.
"Sebentar tuan saya akan menelpon Rely, saya yakin nona pasti kesana?" ucap Antonio.
Antonio pun menggeleng karena sudah kali ketiga telponnya tidak diangkat.
"Bagaimana pah?" ucap Ima sesenggukan.
Acara akan segera dimulai, karena waktu sudah sore hari. Ananda meminta pihak WO untuk mendandani kembali Ima karena make-up nya luntur karena menangis.
"Mah, pernikahan ini jangan sampai gagal, kasihan Galih. Biarkan saja dia bahagia untuk sekarang. Kasihan kekasihnya sudah menunggu selama tujuh tahun." Ima mengangguk.
"Papa yakin El tidak akan jauh kerumah Aurelia, akan kemana lagi dia kalau bukan sama dia. Tenang saja, biar Antonio yang akan mencari tahu dimana keberadaan El," terang Ananda.
Ananda dan Ima pun berjalan kearah meja acara ijab qobul, Ananda menjadi wali untuk Galih, karena Galih anak yatim piatu.
Willy berjalan menghampiri Antonio, "Paman aku bingung." Bisik Willy.
"Ini pernikahan kamu dan Galih,"
__ADS_1
Willy semakin bingung karena ucapan Antonio. Setelah Galih mengucapkan ikrar janji suci pernikahan akhirnya Willy mengerti. Ia tidak menyangka bahwa mempelai wanita Galih adalah orang terdekatnya.
Dengan berlari kearahnya ia memayungi keduanya dengan senang. Alwi pun tidak kalah senang kala ia tahu bahwa bukan Galih yang akan menjadi daddy nya.
"Selamat menempuh hidup baru," ucap Willy pada mempelai wanita.
"Terimakasih, maaf tuan meskipun kamu tampan. Tapi aku tidak berminat menjadi istri keduamu," canda mempelai wanita.
Galih dan Willy hanya tertawa menanggapi. Sedangkan Ananda meminta pada Antonio agar Galih dan Willy tidak diberi tahu bahwa El telah kabur.
Ia tidak ingin sampai asisten pribadinya akan pergi dihari pernikahannya untuk mencari El karena mengkhawatirkannya dan meninggalkan pengantin wanita.
***
"Nona El," teriak Rely.
Ia berlari menuju pabrik dan memberitahukan bahwa Antonio menelponnya. Dan El tahu pasti Antonio akan menanyakan keberadaannya pada Rely.
Dengan menghiba El meminta pada Rely agar ia tidak diberitahukan pada Antonio. Ia tidak mau menikah dengan Galih, karena cara ini lah dan satu-satunya untuk menentang pernikahan itu.
"Aku mohon jangan beri tahu mereka Rely," pinta El.
Dengan mengangguk Rely mengiyakan, "Ya sudah aku telpon balik ya nona?" tanya Rely, El pun mengangguk.
"Wa'alaikumsalam, apakah nona El berada disana?" tanya Antonio.
"Tidak ada, dia tidak ada disini," jawab Rely cepat.
"Jujur saja, aku tahu dia ada disana. Ini pernikahannya nona tetapi ia malah kabur," terang Antonio.
"Maksudmu apa mas? Bukannya memang iya pernikahan nona El dengan tuan Galih?" tanya Rely.
"Sebenarnya pernikahan dia dan Willy, tapi dia malah kabur."
"Maksudnya apa sih aku bingung ini mas,"
"Iya sebenarnya memang El akan menikah tetapi bukan dengan Galih, mereka kan sudah mempunyai pasangan masing-masing,"
"Apa disana masih ada El tolong kamu menjauh dulu, nanti aku jelaskan,"
"Halo... Halo... Aduh sinyalnya jelek," teriak Rely.
__ADS_1
Ia pun sedikit menjauh dari El agar ia tidak tahu mereka membicarakan apa.
"Aku sudah jauh dari nona,"
"Kalau bisa kamu bujuk El untuk pulang. Jadi nanti malam akan diadakan akad mereka. Bukankah mereka ingin bersama tapi El malah kabur. Padahal ponakanku sudah pasrah," terang Antonio.
"Aku masih bingung mas," lontar El.
"Yasudah yang penting kamu coba bujuk nona supaya mau pulang ok,"
📞 "Ok, baiklah." jawab Rely ia pun mematikan telponnya.
Rely sejenak berfikir dengan lontaran Antonio, dan akhirnya ia mengerti.
"Oh jadi ceritanya dikasih kejutan. Oalah kejutannya orang kaya beda dari yang lain. Mungkin barang-barang mahal terlalu biasa, hingga kejutannya mainstream," kekeh Rely.
Rely mengajak El untuk pulang kerumahnya. Sedangkan Lastri masih sibuk untuk mengurus pabriknnya.
Kini mereka sudah berada dirumah Rely, "Nuri kemana, aku tidak melihatnya?" tanya El.
"Nuri saya masukkan ke pesantren nona, ini keinginannya makanya saya begitu bersemangat kala mengetahui keinginan anakku," ucap Rely
"Syukurlah, alhamdullah Nuri. Aku bangga sekali pada anakmu,"
Rely pun berbasa-basi kesana kemari untuk sekedar bercanda. Supaya niatnya akan membujuk El akan berhasil. Sekarang pokok dari inti pembahasan sudah mulai akan dibicarakan.
Dengan hati-hati Rely menjelaskannya. Agar Ek tidak merasa dirinya mengusir, atau bahkan tidak ingin El disini karena dia tidak membawa uang. Rely juga ingin sahabatnya bahagia bersama orang yang ia cintai.
"Nona apa kamu tidak bisa menerima saja pernikahan ini? Maaf bukan maksudku tidak ingin menampungmu. Apa kamu tega membuang aku masuk jeruji besi. Tadi yang menjawab nyonya besar, ia akan membawa saya kekantor polisi atas tuduhan penculikan, kalau saya tidak membawa anda pulang nanti malam," dusta Rely.
Sungguh saat ini ia ingin sekali tertawa karena ia membohongi sahabatnya. Ia membuat mimik mukanya sesedih mungkin, meskipun ia ingin tertawa. El pun menunduk dan mengerti akan kesalahannya.
El menghembus napas berat, tidak mungkin ia sampai hati membuat sahabatnya masuk jeruji besi karena ulahnya. Dan akhirnya dengan berat hati ia mengiyakan.
"Yasudah aku pulang, maafkan aku ya. Karena aku kamu semakin buruk dimata keluargaku," sesal El.
'Yaaloh nona maafkan aku. Aku tidak bermaksud menipumu, nanti pas sudah datang kamu akan menyesal karena telah kabur,' batin Rely.
"Yaaudah nona aku akan meminta izin pada mama mertuaku. Aku akan mengembalikanmu pada orang tuamu,"
Setelah selesai berpamitan ia langsung menaiki taksi dan menuju rumah El. Tidak ada percakapan di dalam taksi. El masih diam seribu bahasa, ia tidak mau mengucapkan sepatah katapun karena sejujurnya ia tidak mau untuk pulang.
__ADS_1
***