Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 84. Terkuak part2.


__ADS_3

Ima langsung berlalu pergi dari hadapan Ananda. Ananda pun meminta Imam untuk pulang dahulu. Ia juga akan membujuk Ima untuk tetap merestui perjodohan ini. Agar pernikahan keduanya sakinah, mawadah, warohmah.


Dengan membungkukan badannya ia pun pamit untuk pulang. Ananda lantas langsung berlari menuju kamar. Ia menekan handle pintu dan membukanya perlahan. Ia dudukkan bokongnya diranjang bersebelahan dengan sang istri.


Ananda perlahan memegang jemari Ima. Tidak ada penolakan seperti biasanya, wanita itu akan diam membisu seribu bahasa tatkala ia sedang marah.


"Mama, meskipun tahu segalanya. Tolong jangan batalkan perjodohan ini. Kasihan Alwi, dia sudah begitu bahagia bahwa ia dan Willy akan tinggal satu rumah," ucap Ananda.


"Aku tidak akan merestui mereka," hardik Ima.


"Mah, percayalah pada papa itu semua tidak disengaja. Willy melakukannya dibawah kesadarannya karena pengaruh obat," ucap Ananda menghiba.


Tetapi wanita separuh baya itu keras kepala. Ia tidak akan mengiyakan keinginan Ananda. Ia tetap akan melakukan apa yang telah ia ucapkan.


"Pah, maaf untuk malam ini mama tidak mau seranjang dengan papa. Mama harap papa mengerti keadaan mama," pinta Ima.


Untuk saat ini Ananda tidak mempunyai pilihan, selain mengiyakan. Ia tidak mau sampai perjodohan ini gagal, apalagi waktu yang sudah didepan mata tinggal sepekan lagi. Dengan langkah gontai ia melangkahkan kakinya menuju kamar tamu.


Ananda memikirkan bagaimana esok hari disaat anak dan cucunya pulang, sang nenek tidak mengizinkan kembali mereka bertemu. Ia yakin dengan lembut ia akan memaksa El untuk menjauh dari Willy, dan akan menjauhkan Alwi dengan ayah kandungnya.


'Aku tidak percaya kamu senekat ini mah, sampai menyewa detektif hanya untuk menguak kebenaran yang sebenarnya,' batin Ananda.


'Mama gak nyangka papa tega tidak memberi tahu mama,' batin Ima.


Keduanya saling tidak percaya ditempat ranjang yang berbeda dan jarak tempat menjadi pemisah keduanya.


***


Mereka telah diperjalanan saat ini. Hanya tertinggal Restu dan Resty. Willy sudah memberi tahu pada mereka bahwa mereka diberi waktu liburan oleh Willy selama satu minggu.


Sedangkan Ima masih setia menunggu anak dan cucunya didepan gerbang. Security yang menjaga hanya kebingungan dibuatnya. Tidak biasanya sang nyonya menunggu sampai didepat gerbang utama.


"Nyonya apa sebaiknya nyonya menunggu didalam saja," saran security.


Ima pun menoleh, "Disini saja pak, saya sedang rindu cucu," jawabnya dengan melengkungkan sebuah senyuman. Security hanya mengangguk tanpa memberikan saran kembali.


Lama Ima menunggu mereka, kini tibalah sebuah mobil akan masuk gerbang. Dengan santainya Ima meminta security tidak membukakan pintu gerbang.

__ADS_1


"Pak secu, buka dong Alwi sama Daddy mau masuk." teriak Alwi, ia menyembulkan kepalanya dijendela kaca mobil.


Ima pun keluar dari gerbang utama, ia juga membuka pintu mobil. Dan memapah Alwi dan juga El. El hanya menatap bingung sang mama. Tidak biasanya sang mama berprilaku seperti ini.


Willy pun tak kalah bingung dengan gelagat calon mama mertuanya. Hingga akhirnya Willy pun keluar dan menyalami Ima. Ima masih menampilkan keramahan dihadapan Alwi. Perlahan namun pasti ia akan menjauhlan mereka.


"Nak Willy, sampai sini saja mengantarnya ya," seru Ima.


Tanpa mendengar jawabam dari Willy, Ima langsung memboyong keduanya masuk kedalam. Ada rasa sakit yang menjalar, tentang perubahan sikap Ima yang terlihat jelas.


Willy lantas menurunkan 2 koper dan menitipkannya pada security. Ia tidak meminta untuk masuk.


"Maaf tuan, kata nyonya. Nyonya tidak menerima lagi tuan untuk bertamu kerumah ini. Apalagi untuk bertemu dengan tuan muda Alwi,"


"Kok bisa begitu pak. Salah saya apa?" tanya Willy.


"Maafkn saya tuan, saya juga tidak tahu alasannya apa," jawab security.


Dengan berat hati, Willy berjalan tidak bersemangat menuju mobilnya. Ia juga nampak berkaca-kaca. Dan bertanya-tanya. Salah apakah dia sampai Ima 180° berbeda dari biasanya. Mengapa sepulang liburan malah mendapat kesedihan.


Ia langsung menancapkan gas begitu cepat agar cepat sampai dirumahnya. Ia ingin bertanya apa yang terjadi selama dirinya pergi. Mengapa perbedaan Ima, begitu berbeda 180° dari biasanya.


Setelah sampai didepan rumah Willy memarkirkan mobilnya. Ia lantas masuk kedalam tergesa-gesa. Willy memutuskan untuk beristirahat dahalu sampai ia terlihat bugar.


Ketika Willy menjatuhkan bobot tubuhnya diranjang miliknya. Perkataan sang security membuat Willy yakin ada sesuatu yang membuat Ima seperti membencinya. Namun apa, Willy tidak tahu masalah apa yang membuat wanita separuh baya itu meminta dia agar tidak bertemu lagi dengan Alwi.


'Apa nyonya Ima sudah tahu semuanya,' batin Willy.


Ia lantas memejamkan matanya. Berkelana kealam mimpi.


***


"Mah kenapa sih?" tanya El ketika mereka sudah menidurkan Alwi.


"Kenapa apanya sayang?" Ima berbalik bertanya.


"Ya tumben aja mama enggak izinin kakak masuk dulu. Malah mamah jemput aku didepan gerbang,"

__ADS_1


"Ya karena lagi rindu cucu mama lah," Ima pun pergi dari hadapan El.


Ek pun berjalan menuju kamarnya. Ia merebahkan badannya diranjang. Ia berguling-guling tidak jelas diatas ranjang. Ia terhipnotis tanpa sadar, El telah terpesona dengan ketampanan Willy. Memikirkan perlakuan Willy padanya membuatnya mengagumi sosok kakak angkatnya.


Ia mengingat saat mereka sedang berjalan-jalan. Tanpa ia sadar pula ia menggigiti bantal.


"Apa iya aku juga sudah jatuh cinta padanya tanpa sadar," gumam El. Setelah beberapa saat pun El terlelap kealam mimipinya.


Setelah kurang lebih setengah jam, El pun terbangun. El merentangan tangannya, menggeliat diatas ranjang empuknya. Ia lantas bergegas masuk kamar mandi dan membersihkan diri.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, ia pun melihat jam dinding yang berada dikamarnya, sudah waktunya makan malam. Ia pun turun kebawah.


"Mah, Alwi masih tidur?" tanya El.


"Iya, biarkan saja tertidur. Kasihan dia kelelahan. Cepat kamu kesini kita makan malam," titah Ima.


Merekapun makan malam dengan tenang dan tanpa percakapan. Setelah selesai Ima pun meminta El untuk tetap berada ditempat duduknya.


"Mah, jangan," pinta Ananda.


Ima menghembus napas berat, lalu menatap Ananda Ima pun menggelengkan kepala.


"Maaf pah, mama udah enggak cocok lagi sama dia," ucap Ima dengan jujur.


El hanya mendengarkan perdebatan papa-mamanya. Ia tidak menyahuti, ataupun menengahi. Terlebih dia tidak tahu menahu pembahasan kedua orang tuanya.


El pun beranjak dari duduknya dan membawa makanan dari kulkas. Setelah apa yang ia mau telah ia bawa. El pun kembali duduk ditengah-tengah orang tuanya.


"El, mama mau kamu dengan Willy tidak usah bertemu lagi. Dan kamu dengar nak, perjodohan kalian batal," kelakar Ima.


Ima lantas berdiri dan pergi dari ruang makan. El hanya melohok tak percaya dengan lontaran sang mama. Mengapa perubahan sang mama secepat itu.


Sebenarnya apa yang terjadi disaat dia pergi, ia menatap Ananda dengan lekat.


"Sebenarnya apa yang terjadi pah?"


***

__ADS_1


__ADS_2