
Terjadi perdebatan diantara keduanya. Antonio enggan untuk menerima lontaran El yang terkesan tidak masuk akal. Dari kapan wanita itu sudah mengetahui rumah rahasianya. Bodohnya dia selalu mempercayakan segalanya pada Galih.
Antonio menatap tajam pada El. Dia masih tidak terima.
"Dari kapan kamu tahu segalanya El?" tanya Anton.
"Sewaktu aku menggantikan pekerjaanmu! Kekejamanmu dan kelakuan tak senonohmu yang dilakukan dirumah ini!" seru El dengan nada meninggi.
"Hentikan El, aku sekarang berusaha menjadi lebih baik. Harusnya kamu bisa mengerti," jawab Antonio dengan nada mulai melemah.
"Ya, memang seharusnya. Mas kamu harus mengejar dia dan anakmu!" sahut El lagi.
"Kamu tahu segalanya?" tanya Anton dengan mulai mengacak rambut frustrasi.
"Mas kamu tidak usah, merasa bahwa dirimu manusia yang tidak bermoral. Cukup merubah hidupmu lebih baik. Dan... Tolong jaga sahabatku," lontar El dan berlalu pergi dari ruangan itu.
Antonio mengejar El, "El tunggu!" pinta Antonio.
El masih enggan untuk berbicara lagi pada Antonio. Dia semakin berjalan cepat, tanpa mendengarkan panggilannya. Untuk membahas apalagi. Semuanya sudah dia ketahui. Lantas untuk apa lagi mereka berdebat yang tidak perlu lagi diperdebatkan.
Bahkan merekapun tidak terlibat apapun setelah proses perceraian selesai. Antonio dapat mengejar El, ia mencekal tangan El sangat erat. Hingga El meringis karna kesakitan, tangannya pun terlihat memerah.
El pun berhenti, lalu memandang Antonio dengan tatapan tajam, "Bisa kamu lepaskan Mas, cekalan tanganmu ini menyakiti tanganku. Apakah belum puas setelah melukai hatiku ini?" tuduh El.
Antonio langsung melepaskan cekalan tangannya, dia tidak menyadari. Yang dia inginkan hanya El, untuk berhenti disaat dia memanggil namanya.
"Ada apa lagi?" geram El.
"Aku, ingin kamu tidak membenciku. Itu saja, aku sakit melihat sorot matamu yang terlihat kamu membenciku," mohon Antonio.
"Ok! Tapi tolong lepaskan tanganmu, dari pergelangan tanganku!" ketus El.
Antonio tidak sadar, setelah dia melepaskan. Selang beberapa detik ia mencekal kembali pergelangan tangan El. Ia refleks melakukannya. Karna dia tidak ingin El pergi tanpa mendengarkan permintaan maafnya.
"Apa?" Tanya El.
"Aku ingin, sikapmu seperti dulu," pinta Antonio.
"Seperti dulu ya? Masa iddah pun belum berlalu. Lukaku masih menganga,"
"Maafkan aku, hanya itu yang bisa kuucapkan. Meski aku tidak bisa mengobati luka hatimu," lirih El.
El pun berjalan tiga langkah dari hadapan Antonio. El membelakangi Antonio, ia sekarang masih enggan untuk berbicara secara empat mata dengannya. Meski sekarang terjadi, karna ini tidak disengaja.
__ADS_1
"Iya, aku memaafkanmu," jawab El.
***
Sepanjang perjalanan yang sangat ramai lalu lalang kendaraan. Tetapi hatinya masih terasa sepi. Perpisahan karna pernikahannya hanya seumur jagung. Sungguh, membuatnya menjadi terpuruk.
Meski didalam lubuk hatinya yang terdalam, dia bisa menerima. Dia memahami bahwa Cinta tidak bisa dipaksakan. Terlepas karna dulu dia berpikir Antonio mencintainya. Setelah mengetahui kebenarannya dia merasa telah terlalu bodoh. Mungkin dulu rasa cintanya, hanya sebatas Cinta monyet saja.
"Hanya Cinta monyet saja El, bukan Cinta sungguhan atau bahkan hanya cicintaan," gumam El.
Dia sesekali hanya mengulum senyum, mengingat kebodohannya dulu. Setelah perjalanan yang ditempuhnya cukup jauh akhirnya dia sampai dihalaman rumahnya.
Ia bergegas masuk. Dan kekamar orang tuanya. Dimana Alwi masih merajuk. Willy belum sempat berkunjung, karna kesibukannya yang kini tengah menangani projek besar. Hanya itu yang El ketahui.
El menyembulkan kepalanya untuk melihat situasi kamar Mama dan Papa-nya. Ia tidak melihat mereka. Akhirnya ia bergegas akan ketaman belakang.
"Nona," panggilnya.
Langkah El terhenti, ketika seseorang memanggilnya. El masih ingat betul, suara merdu itu siapa. Wanita cantik yang bekerja dengan Willy yaitu Putri. El pun membalikan badannya dan memandang heran Putri.
"Kenapa?" tanya El.
"Mencari Nyonya, dan tuan ya?" tanya Putri.
"Hmm, memang siapa lagi yang akan kucari selain mereka!" jawab El.
"Eh, maksudmu apa? Cemburu ya karna aku sering jalan sama Kakak?" ejek El.
'Huff, aku tidak pernah cemburu melihat nona dengan tuan Willy. Yang aku cemburukan ketika melihat asisten pribadi nona, selalu memprioritaskan nona,' batin Putri
"Melamun, ketahuan cemburunya," canda El. Dia pun berlalu dari hadapa Putri.
"Yah, disangka cemburu sama tuan Willy sibuaya buntung," ucap Putri.
Putri masih tidak menyadari bahwa dibelakangnya ada seseorang yang mendengar umpatannya.
"Siapa yang kamu juluki buaya buntung?"
Putri tercekat, bahkan seakan dia tidak bisa mendorong ludahnya untuk masuk kedalam kerongkongannya. Suara bariton itu sangat dia hapal. Dia pun membalikan badannya dengan ragu-ragu.
"Kamu selalu mengumpatku ketika aku tidak bersamamu. Hmmm," sungut Willy.
"Eh, tidak begitu," sanggah Putri.
__ADS_1
"Lalu?"
"Mmm, a-anu a-aku tidak mengumpatmu kok," ucap Putri dengan senyum terpaksa.
"Kamu bohong, mau aku cium?" Willy berjalan perlahan kearah Putri.
Putri pun perlahan mundur untuk menjauh dari Willy, "Hentikan! Tuan," tegas Putri.
"Ok," ucap Willy.
"Ingat kalau bukan jam kerja kita apa? Jangan berprasangka buruk tentang kekasihmu sendiri, kalo aku menikahi orang lain, baru deh kamu mengumpatku. Karna jelas aku itu salah,"
"Kita hanya sekedar karyawan dan bos, yang berkedok pasangan. Minggir lah, aku mau pergi. Pengang telingaku kalo sedang dekat kamu,"
Putri menyentak bahu Willy, dan berlalu pergi. Mereka berpacaran. Tapi kesan seperti pacaran tidak nampak. Pasalnya Willy selalu acuh pada Putri. Sedangkan Putri selalu masa bodo.
***
"Daddy Wil," sapa Alwi.
Ia berlalu menuju Willy dengan gembira. Sangat bahagia sekali anak itu, karna Willy datang bertamu kerumahnya. Willy berjalan kearah ketiganya dengan memapah Alwi.
"Loh kak, katanya sibuk tapi kemari?" tanya El.
"Memangnya tidak boleh sayang?" sambung Mama Ima.
"Eh, bukan begitu juga maksud El mah,"
"Sudah-sudah, duduk saja. Dan kamu El, tidak perlu bertanya. Yang penting Alwi tidak merajuk lagi padamu. Karna kamu mengizinkan Willy pergi tanpa berpamitan pada cucu Papa," potong Papa Ananda.
"Iya deh, ngalah aja. Kak Willy banyak yang bela." El pun mendudukan kembali bokongnya.
"Mommy tidak suka apa, jika Daddy Wil kemari?" sahut Alwi menimpali.
"Anak mommy, sensitif banget sih kalo soal Daddy Wil,"
Mereka akhirnya saling melempar senyum. Pada akhirnya Alwi sudah memaafkan El, karna Willy telah datang. Gampang sekali memaafkan karna Willy ada ditengah-tengah mereka.
El pun kini yang berpura-pura merajuk pada Alwi. Karna Alwi lebih memperhatikan Willy. Hingga akhirnya Alwi memohon minta maaf pada El. Karna kesalahannya membuat sang mommy sakit hati.
Tentu saja itu hanya akting El. Ia hanya ingin tahu seberapa besar rasa sayang anaknya jika dia sedang marah.
Ternyata Alwi masih menyayangi El begitu dalam. Sampai-sampai Alwi akan menangis karna El masih tidak memaafkan Alwi. Pemandangan yang bahagia. Putri melihat mereka dari kejauhan.
__ADS_1
Senyuman manis tersungging dibibirnya yang cantik, "Seharusnya kalian yang bersama dalam ikatan pernikahan,"
***