
Selamat membaca🌷🌷🌷
***
El hanya menatap Willy dengan sendu. Sejuta luka yang bersarang di benaknya sungguh sangat membuat dadanya terasa sesak.
"Om Anton, kenapa tidak kemari El?" tanya Willy, lelaki itu menyingkap anak rambut El dan menyelipkannya kedaun telinga.
Aku tidak mungkin menjawab bahwa pamannya tidak pulang sampai larut malam begini, aku juga tidak mungkin membicarakan aib suamiku padanya. Lirih batin El.
"Di-dia kelelahan kakak, karna lembur," jawab El. Dengan sedikit gugup dia memapah Willy agar lelaki itu berbaring kembali ranjang.
"Benarkah?"
El pun mengalihkan tofik pembicaraan. "Kakak sudah makan belum?" Willy hanya memicingkan satu halisnya. Dirasa El tidak menjawab pertanyaannya.
"Ini sudah larut, tidak baik jika kamu keluar seorang diri," ujar Willy dengan menarik tangan El. "Kemari El!" pinta Willy untuk El mendekat kearahnya.
"Kau lihat aku dan Alwi?" tangan Willy pun melepaskan cekalan ditangan El dan membelai lembut pipi gembul itu. "Dia mirip denganku!"
Deg
El hanya gugup, dan semakin bingung harus memulai dari mana. Apakah ini saatnya untuk memberitahu Willy bahwa dirinya---.
Ah tidak yang ada dipikiran El hanya berusaha mengelak, tidak mungkin dia akan berbicara bahwa Alwi itu adalah anaknya. Apalagi diruangan itu tidak hanya Willy namun juga Putri kekasih Willy.
"Kenapa melamun lagi? Nanti kesambet El apalagi ini tengah malam!" goda Willy dengan tersenyum kearah El dan mengusap lembut punggung jemari El.
Gatel banget sih jadi laki, pengen rasanya aku nampol itu mukaknya hahaha. Batin Putri mengumpat tingkah Willy.
Karna tangisan Alwi Putri pun terbangun. Putri pun memberikan laporan kepada dambatan hatinya tentang tuannya.
Kelotek prang
Suara tutup gelas terjatuh ketika Putri akan membawa air minumnya. El dan Willy pun menoleh kearah Putri dengan tangan masih berpegangan.
Pengganggu ... padahal ini aku mau menyelak El siapa tau dia membuka suara bahwa sitampan ini anakku. Batin Willy.
"Maaf aku mengganggu yah?" lontar Putri dengn tersenyum kecut karna malu mendapat tatapan indiminasi dari Willy.
"Dia hanya bersikap manis padamu nona, kepadaku tidak pernah bersikap manis," adu Putri pada El. El hanya tersenyum menanggapi aduan Putri.
"Makan saja gula biar manis," jawab Willy dengan ketus.
__ADS_1
El pun melepaskan tautan tangannya. Dan beranjak mendekati Putri untuk membantunya. "Ini kak, mau minum kan?" ujar El dengan memberikan segelas air putih kehadapan Putri.
"Terimakasih nona." ucapnya dengan tersenyum manis kearah El. El hanya mengangguk.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 6:30, namun Antonio masih betah berada dalam mimpinya. Dia bahkan melewati solat subuhnya, karna sang istri tidak membangunkannya. Bagaimana mau membangunkan dia tidak pulang kerumah.
Lelaki itu... Suami orang yang tak pulang karna seorang mantan? Ck, jika orang tua El tahu jika kelakuannya seperti itu mungkin akan membawa pergi jauh anak semata wayangnya.
Tuan Antonio kali ini kau sangat keterlaluan terhadap nonaku. Geramnya ketika dia membuka email dari kekasih hatinya.
Namun hatinya seketika berbunga seperti sedang jatuh Cinta. "Tuan, kau pelipur lara untuk nonaku."
Galih pun kerumah sakit untuk melihat keadaan Putri dan Willy. Ya, meskipun sudah tahu bahwa keduanya baik-baik saja.
"Selamat pagi nona El," sapa Galih pada El, dan membungkukan badannya.
"Mas Galih."
"Nona kenapa? Menangisi tuan Willy karna kecelakaan? Bukankah mereka baik-baik saja?" cerca Galih pada El.
"Memangnya mataku sembab ya mas Galih? Ini semua karna... Ehh, tidak karna apa-apa kok mas."
Willy pun masih bergulat dengan ponsel ditangannya. Entah apa yang membuatnya betah untuk berlama-lama menatap alat canggih itu. Namun faktanya dia sedang mengawasi para karyawan kantornya apakah jika tidak ada dirinya karyawannya benar-benar bekerja dengan baik.
Senyum tipis tersungging dari bibirnya. Dia sangat bersyukur kepada seluruh karyawannya, karna mematuhi setiap aturan yang berada dikantornya.
Willy pun meletakkan ponselnya dan melirik sikecil tampan yang sedari malam belum terbangun. Dengan usilnya Willy menusuk-nusuk pipi gembul itu. El pun menggeleng-gelengkan kepala kearah Willy, supaya dirinya tak membangunkan buah hatinya.
Alwi Nanda Nugraha. Hanya nama itu yang selalu berada dalam isi pikirannya. Dia hanya ingin El memberitahu benarkah bahwa anak tampan itu adalah...
El akan menyuapi Willy namun entah apa yang membuatnya melamun. Sudah beberapa kali El memanggil namun tak ada sahutan.
"Kak," seru El membuyarkan lamunan Willy.
"Ehh, kenapa El?" tanya Willy, tangannya masih betah untuk menusuk-nusuk pipi bayi gembul itu.
Willy pun menoleh kearah El, dan membuka mulut untuk makanan yang disodorkan El. Diranjang sebelahpun mereka tak kalah keromantisannya.
"Sudah selesai makannya, ayo minum sayang." pinta Galih.
"Suapin ke, males banget sih cuman nyodor-nyodorin sendok kemulut susah amat apa ya?" gerutu Putri dengan menghempas tangan Galih.
__ADS_1
"Yaampun, manjanya padahal yang luka kakimu, bukan tanganmu," goda Galih dengan mencolek dagu Putri.
"Tapi dari tadi tuh aku belum makan, kok ngomongnya sudah selesai sih," cerca Putri dengan tangan bersedekap dan mengembungkan pipinya. Galih terlihat senang karna membuat dia marah.
Galih pun mengalah dan menyuapi Putri. Galih memang type pria yang kurang peka dan tidak romantis. Tidak pernah memberikan kado ataupun sesuatu yang membuat terkesan.
(Lah kayak suamiku nih kurang peka dia, Author curhat😂)
"Sekarang sudah kenyang perutmu itu?" tanya Galih. Ketika dia telah selesai menyuapi Putri.
"Sudah---"
Galih pun mengangkat tangannya dan menatap arloji yang tersemat ditangannya. Waktu sudah menunjukan pukul 7:30 tak terasa sebentar lagi sudah waktunya untuk bekerja. Bagi Galih rasanya waktu terasa singkat jika tengah berduaan dengan Putri. Dan rasanya pun masih ingin berpacaran dengan gadisnya.
"Aku pamit yah? Sebentar lagi mau masuk kerja!" pamitnya pada Putri. Putri hanya meng oh-kan saja. Meskipun kini hatinya masih tersemat kerinduan yang amat dalam, Galih pun berjalan menuju El dan Willy untuk berpamitan.
Berbeda hal dengan Willy yang selalu memberikan perhatian lebih meskipun didepan kekasihnya, yaitu Putri. Agar istri pamannya itu selalu bahagia. Meskipun, Willy tahu pernikahan itu memang menyakitkan untuk keduanya.
Namun Willy juga tidak bisa mencampuri rumah tangga pamannya. Dia tidak berhak berspekulasi, apalagi dia tidak tahu menahu tentang rumah tangga pamannya.
Apakah salah menikah?
Itulah yang pantas disematkan pada diri El. Gadis yang selalu memikirkan orang lain, tanpa memikirkan diri sendiri. Namun saat ini dia juga tengah bimbang.
Jika dia menyudahi pernikahan ini bagaimana dengam buah hatinya? Dia membutuhkan sosok Ayah untuk tumbuh kembangnya.
Jika dia berpisah dengan Antonio bagaimana buah hatinya? Apakah jika El menjanda Willy akan menikahinya?
Hmmm, jawabannya tentu saja akan selalu menerima bidadari dambatan hatinya.
Kalo Galih pergi, jadi kamcong lagi deh, melihat sama mendengar rayuan maut sibuaya yang mendekati istri orang. Batin Putri mencela Willy.
"Tuan Willy... "
***
Hai apakah ada yang rindu sama Author amatir ini😂maksudku ceritaku. Maaf yah ini lagi sibuk didunia nyata,jadi telat up😂😂
Tetap setia dengan ceritaku dan menunggu aku up😍😍
Jangan lupa like dan komen, itu membantu semangatku😍😍 semakin mengebu-gebu...
***
__ADS_1
BERSAMBUNG