
Adzan magrib berkumandang dengan sangat merdu. Untuk mengingatkan orang Muslim untuk beribadah. Mereka tengah berbincang pun langsung terdiam dikala adzan masih berkumandang.
"Kak, tunggu dulu ya, mau cari mama dulu," sahut El.
Setelah berpamitan ia langsung menuju kelantai atas untuk mencari sosok orang tuanya. Untuk sholat berjama'ah.
Kok, Mama dan Papa nggak ada? Dimana mereka? Batin El.
Setelah beberapa detik berfikir. Pintu ruangan kerja pun terbuka. Disaat yang bersamaan keempatnya keluar. El menyipitkan matanya, keningnye berkerut. Kebingungan, gerangan apa sampai membuat keempatnya diruangan kerja sang papa, sedang membicarakan apa mereka.
El pun mendekat, "Loh, ada mas Galih? Sejak kapan kemari?" tanya El.
"Sejak, Papa suruh kalian masuk," jawab Ananda.
"Sudah nggak usah dibahas dulu Nak, lebih baik sekarang kita semuanya ambil wudhu. Kita sholat berjama'ah. Sholat magrib itu waktunya sempit. Nanti dilanjut lagi nanyanya," sahut Ima.
Merekapun sholat berjama'ah.
***
Tidak terasa waktu cepat berlalu, setelah masa iddah berlalu. Rencana itu mulai akan dipraktekkan. Mama Ima berpura-pura sakit selama beberapa hari ini. Sampai-sampai El tidak bisa tidur hanya untuk merawat Mama tersayangnya.
Ada sebersit rasa penyesalan yang terukir dilubuk hatinya. Sebenarnya, ia tidak tega. Melihat El yang terlihat cemas karna mendengar sang Mama sakit.
Mama Ima sempat merengek ingin membatalkan saja, rencananya itu. Ananda tentu saja tidak setuju, ia sudah bertekad ingin membuat anaknya bahagia. Ia pecaya dengan Willy. Lelaki itu menyimpam cinta yang tidak terbatas untuk anak semata wayangnya.
Sampai akhirnya Ima pun kembali berpikir. Dan bertekad pula untuk tidak merasa bersalah. Demi kebahagiaan El.
"Mah, udah enakan badannya?" Tanya El.
"Lumayan," jawab Ima.
Ia berpura-pura terpejam, dikala El mamasuki kamarnya. El pun memegang dahi sang Mama. Untuk mengecek suhu badannya. Ia pun memakaikan thermometer untuk Mamanya.
"Normal, kok Mah,"
"Yang sakit apanya? Kan sudah kubilang. Mama tidak usah bantu aku untuk mengasuh Alwi. Alwi itu terlalu aktif. Sampai sakit kan sekarang. Nggak mau dengerin sih kalo El bicara. Maafin El ya Mah, sudah membuat Mama sakit?" Ucap El lirih.
Setelah panjang lebar ia berbicara. Ia pun mencium tangan Ima. Ia bergegas keluar kamar, Dan memanggil ART dirumahnya, ia meminta supaya Mamanya dijagakan.
Sedangkan El akan mengantarkan Alwi untuk sekolah, anak itu sudah merengek ingin sekolah supaya pintar.
***
__ADS_1
Setelah pulang mengantar Alwi, El mendengar suara piring terjatuh. El pun memberi tahukan pada Alwi, agar ia tak keluar kamar dulu. El berlari menghampiri kamar Ima, karna suara itu terdengar dari arah kamar sang Mama.
Sesaat dia termangu didepan pintu. Piring pecah berhamburan dilantai kamar sang Mama. Ada Papa Ananda disana, ia terlihat sedang menenangkan sang Mama. El keluar dahulu untuk membawa peralatan. Supaya kamar orang tuanya bersih.
Tampak ART itu sedang berdiri saja, tanpa bergerak.
"Ini, ada apa Pah? Kok kamarnya berantakan begini?" Tanya El.
"Eh, maaf non saya melamun. Sini non, biar mba saja," ucap Art dirumah El.
El pun tersenyum, dan menepuk bahunya. Lantas Art itu, langsung sesegera mungkin untuk membereskan pecahan piring, Yang berantakan dikamar majikan.
Setelah selesai ia pamit pergi, "Mama kamu, maunya dirawat sama Putri, kan kamu tahu El, Putri itu bekerja dengan Willy." Ananda menggerakkan badannya untuk melihat El.
"Mau dirawat sama kak Putri? Sejak kapan Mama dekat dengan dia Pah?" Tanya El, ia pun duduk disamping sang Papa.
"Ya, sejak dikampung El."
"Ya sudah suruh saja kak Putri merawat Mama, biar aku yang menggantikan pekerjaan kak Putri sementara, jadi sekretaris kak Willy,"
Akhirnya, terucap juga dari bibir cantik putriku. Batin Ima.
Sangat gampang, anakku memang tidak perlu dibujuk. Tidak perlu juga kau berlama-lama akting. Batin Ananda.
El pun keluar kamar, ketika ia telah memberikan pendapatnya pada orang tuanya.
Ananda pun memberikan kabar baik itu pada keduanya. Mereka sudah bernapas lega. Karna El, tidak perlu dibujuk. Tetapi, dia sendiri yang menawarkan diri. Sungguh rencana yang sangat berjalan mulus.
💬 "Syukurlah tuan, aku bahagia. Rencana tuan dan nyonya berjalan mulus," puji lelaki itu.
"Ayo Pah, kita jalan-jalan ah." Ima akan beranjak dari ranjangnya.
"Kok jalan jalan sih, ya harus tetap berbaring lah. Kalo mau bebas ya nanti kalo El enggak ada dirumah,"
"Yah Pah, jadi maksud Papa, Mama harus terus saja berbaring begitu?" Tanya Mama Ima sedikit muram.
"Lah iya, kan namanya juga orang sakit. Kalo jalan-jalan enggak sakit dong," canda Ananda.
"Papa...," gertak Ima.
"Tapi, aku hanya membantu kamu Pah. Supaya anak kita bisa dekat sama Willy,"
"Ya terus, Papa harus bagaimana?" tanya Ima.
__ADS_1
"Ya beri hadiah dong. Karna Mama berhasil membuat El mau," ucapnya berbinar-binar.
Ananda tidak menghiraukan ucapan sang istri. Ia lantas berjalan dan mengunci pintu kamar.
"Loh aku mau jalan-jalan. Tapi kenapa pintunya malah dikunci sih Pah," cerca Ima.
"Iya, ayo jalan-jalan Mah. Papa mau nengok jalan tol Papa dong Mah, kan belom selesai Mah," ucap Ananda dengan mengedipkan matanya.
"Ih, udah tua juga. Udah punya cucu. Ingat umur dong. Ayo Pah jalan-jalan," rengek Ima.
Ananda tidak menjawab lagi rengekan Ima. Ia langsung menggulingkan badan istrinya dan menindihnya.
***
"Pah, Mah," panggil El.
Ia mengetuk beberapa kali pintu kamar orang tuanya. El khawatir karna dari tadi kedua orang tuanya belum keluar. Dan tidak biasanya Mama dan Papanya mengunci pintu. Lama El menunggu, dia belum menyadari. Akhirnya ia teringat.
"Eh, masa sih lagi ... Mama kan lagi sakit?!" ucap El.
Ia berbicara sendiri didepan pintu kedua orang tuanya. El terlihat tertawa teringat kebodohannya.
"Mentang-mentang janda, jadi tidak mengerti," ucapnya lagi dengan tertawa sambil berjalan.
"Aku kan tidak pernah diberi kehangatan. Jadinya gagal focus,"
El tergelak kembali kala mengingat pintu kamar orang tuanya terkunci. Ia geli sendiri dengan pikiran kotornya.
"Tapi tidak apa juga, aku sudah pernah menikah, jadi mungkin tidak masalah."
Ketika El tengah tertawa, Alwi menghampiri El. Ia terlihat kebingungan melihat sang Mommy tertawa sendiri. Ia mengamati gerak-gerik sang Mommy. Lalu Alwi pun tersenyum.
"Mommy bahagia sekali kelihatannya? Pasti karna Daddy Wil ya mom?" tanya Alwi.
El pun menoleh kearah Alwi, "Kamu ini segala sesuatu dikaitkan sama Daddy Wil aja," jawab El.
"Ya karna, aku juga selalu bahagia kalau dekat dengan Daddy Wil,"
El mengerjap memandang Alwi, ia pun memeluknya, "Nanti Daddy Wil sering kesini kok Al," hibur El.
"Benarkah Mom?" tanya Alwi, El hanya mengangguk.
"Tapi Mommy kerja lagi sama Daddy Wil, tidak apa?" tanya El, Alwi hanya mengangguk. Karna kegirangan ia menciumi El sampai wajah El dipenuhi ludah, maha karya dari Alwi.
__ADS_1
"Yeayyy,, asyikk ketemu tiap hari sama Daddy Wil,"
***