Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 87. Ima ingin Galih Yang menjadi menantunya.


__ADS_3

"Mama tidak akan melakukannya. Tapi tolong mama minta itu mama Nuri jangan pernah kemari lagi." Ima menunjuk Aurelia.


Ima langsung pergi dari hadapan El. El hanya menggeleng kepala tidak percaya dengan prilaku sang mama. Meskipun ia mengerti, karena mungkin sang mama tidak terima. Dan menganggap bahwa Aurelia adalah penyebab rumah tangganya hancur.


El bingung harus dari mana ia menyampaikan kebenaran ini. Ia tidak mau sampai kesalah pahaman ini berlanjut.


"Mama, kenapa jadi begini sih," gumam El.


***


Galih sudah membawa setumpuk berkas untuk diberikan pada sang nyonya. Ia ingin agar nyonya-nya tidak berpikiran bahwa ia akan menjodohkannya dengan El. Ia merasa sadar diri, dan tidak pantas bersanding dengan nonanya.


Ima pun datang kekantor dan menuju ruangan Galih. Sebelum ia sampai di tempat tujuan ia berpapasan dengan Antonio.


"Nyonya," sapa Antonio. Ia juga membungkukan badannya.


Ima hanya berhenti dan mendelik pada Antonio. Ia malas sekali berbicara pada orang yang telah membuat anaknya terluka. Antonio juga mengerti akan sikap perubahannya. Mungkin karena dia sudah mengingkari janji.


Tanpa menjawab Ima melenggang pergi menjauhi Antonio. Setelah sampai diruangam Galih, ia pun memasuki ruangan itu. Ia duduk disofa, tanpa berbicara Galih pun memberikan berkas-berkas yang diminta Ima.


"Ini nyonya," ucap Galih, dengan memberikan berkasnya.


"Kerja yang bagus, pantas saja suamiku selalu percaya padamu," puji Ima.


Galih hanya membungkukan badannya, Ima pun membuka lembaran demi lembaran yang diberikan Galih. Setumpuk berkas yang membuat Ima bersemangat untuk membaca dan melihat semua biodatanya.


Dilembar kesekian Ima mengernyit, "Pengusaha batu bata, umurnya 38 tahun. Anak dua. Idih duda iya kali anakku suruh jadi baby sitter untuk mengasuh anaknya. Ogah, meskipun kaya," umpat Ima.


"Tapi nyonya perusahaannya maju dan berkembang, mana mungkin nona akan jadi baby sitter nyonya. Dia juga pasti mampu membayar orang, agar nona tidak kecapean," jawab Galih.


Ima hanya menggeleng dan tidak setuju. Meskipun dia kaya, tetapi dia duda. Sudah dipastikan dia lelaki yang tidak benar. Semenjak dia mengetahui kebenaran tentang Willy pikirannya selalu berfikir semua lelaki sama.


Setelah membuka lembaran entah keberapa Ima kembali lagi, berseru. Setelah Galih kesana kemari bersama Antonio untuk menemui klien.


"Pengusaha tahu bulat. Mmm, cukup menarik. Hebat juga tahu bulatnya mencapai pemasaran sampai luar negeri. Tapi anakku jadi dagang dimobil kolbak,"

__ADS_1


"Tahu bulat digoreng dadakan lima ratusan halal, kasihan El dong kulitnya jadi hitam. Terus nanti kulitnya enggak mulus kecipratan minyak," protes Ima lagi.


Galih hanya sibuk bekerja, tanpa menghiraukan protesan dari nyonya-nya. Setelah setumpuk berkas sudah ia baca dan nihil tidak ada yang cocok dan pas untuk El. Ima langsung berjalan dan duduk dihadapan Galih.


Ima mengembalikan setumpukkan berkas itu pada Galih. Dengan harap-harap cemas Galih menunggu lontaran Ima.


"Ada yang pas untuk dijadikan menantu nyonya?" tanya Galih. Dengan perasaan gelisah ia ingin Ima menjawab iya. Semoga do'a Galih terkabul.


Ima menggeleng dengan kaget Galih menjatuhkan bolpoin yang tengah ia pegang.


"Enggak ada yang cocok. Nggak ada yang klop dihati aku. Apalagi dihati anakku. jadi sebagai gantinya kamu harus mau menjadi menantu ku,"


"Lelah sekali rasanya membaca setumpukan berkas sebanyak ini. Siapkan mentalmu sebentar lagi kalian akan bertunangan, ok!" seru Ima.


"Tapi nyonya," sebelum protesannya dijawab Ima berlalu pergi dari jadapan Galih.


***


Ima pulang dengan perasaan gembira. Ternyata tetap yang terbaik baginya adalah asisten diperusahaan milik suaminya. Dengan langkah cepat ia memasuki kamar nya.


"Nek, berisik," ucap Alwi yang sedang belajar.


"Eh cucu nenek yang ganteng. Sini, sayang," pinta Ima.


Alwi pun mendekati Ima, "Mau tahu enggak daddy baru Alwi?" tanya Ima.


"Daddy Al kan daddy Wil nek." jawabnya dengan bersedekap.


"Bukan Al, tapi daddy baru nya Al itu daddy Galih," terang Ima.


"Hentikan mah, omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan. Jangan mengada-ngada kasihan dia sudah bertunangan," cerca Ananda, menimpali ucapan Ima.


El langsung menutup telinga Al, ia juga langsung membawa Alwi untuk masuk kedalam kamarnya lagi. El juga memberikan wokmen agar Alwi tidak mendengar keributan nenek dan kakeknya.


"Al, pakek ini dulu ya? Belajarnya sambil dengarin musik enggak apa-apa? Biar gak kerasa nulisnya cepat." ucap El. Alwi hanya mengangguk, dan menuruti perintah El.

__ADS_1


Ini kali pertama mereka bertengkar dihadapan El dan Alwi. El juga tidak mengerti dengan pemikiran sang mama. Bisa-bisanya ia akan menjodohkan El dan Galih. El sudah menganggapnya kakak, dan Galih sudah menganggap El seperti adik kandungnya. Meskipun Galih masih memanggilnya nona.


"Kenapa harus begini sih?!" gumam El masih mendengarkan keributan dari mama dan papanya. Ia menguping didalam kamar. Karena perdebatan mereka berlangsung didepan kamar Alwi.


"Cari tahu secara rinci segalanya mah, jangan cuma kamu tahu akhirnya yang hanya anak kita menjadi korban."


"Pokoknya aku tidak setuju! Kamu dengar ini sampai kapan pun aku tidak akan merestui mereka. Aku tidak mau anakku menikah lagi tetapi tidak dengan orang yang bertanggung jawab seperti pamannya. Pasti kelakuannya enggak jauh-jauh beda dari pamannya. Yang harusnya cari tahu itu kamu!"


"Percaya saja. Memang mereka sudah menjelaskan apa pada dirimu? Disogok apa kamu? Kamu punya segalanya. Jangan membuat anak sendiri sengsara karena keinginanmu," ucap Ima panjang lebar.


"Ya Alloh mah, istighfar enggak baik kamu bicara meninggi pada suamimu. Aku lebih tahu segalanya dari kamu mah," jawab Ananda masih melembutkan suaranya agar amarah istrinya mereda karena kesalah pahaman.


"Maafkan mama pah, tapi keputusan mama tidak bisa diganggu gugat. Mama mau Galih yang menjadi suami El," terang Ima lagi.


"Mama masih mendengarkan papa, yang egois kamu mah," sahut Ananda.


"Terserah papa, mama mau ke kamar saja. Malas sekali harus berdiskusi dengan orang yang inginnya menang sendiri," omel Ima. Sembari mulutnya komat-kamit tidak terdengar jelas lagi oleh Ananda.


Ceklek.. .


Suara pintu terbuka, El menghampiri Ananda yang tengah pusing memikirkan sikap sang mama. El mengusap lembut tangan sang papa memberinya kekuatan.


"Mama mu entah kerasukan apa El. Apa perlu papa Ruqyah?" tanya Ananda sudah mulai geram.


"Ah papa, kalian hanya sedang dalam berselisih paham saja. Aku hanya bingung bagaimana nanti Alwi nanyain pah. Aku harus apa jawabnya," tanya El sedikit gusar tentang perselisihan yang terjadi pada orang tuanya.


"Kok bingung? Bilang saja, neneknya ngeprank,"


El tertawa sejenak lalu terdiam kembali. Bisa-bisanya papa Ananda sesantai itu menyikapi sikap sang istri yang berubah drastis dan 180° berbeda. Santay namanya juga sultan enggak bakal memikirkan beras habis.


"Papa ini santai banget menyikapi mama. Andai ada laki-laki yang seperti papa, meskipun aku tidak mencintainya aku akan tetap mau menikah dengannya," seloroh El. Anandan tersenyum dan mengelus pucuk kepala El.


"Kamu tahu siapa dia?"


***

__ADS_1


__ADS_2