
Kini Ananda telah memasuki kamar kembali setelah dia mendapat kabar baru dari seorang pria yang sangat ia percayai. Tidak menyangka bahwa wajahnya yang terlihat alim menyimpan sejuta masa lalu kelam.
Dia salah karna mencari tahu masa lalunya ketika semua telah terjadi. Tetapi, setidak nya dia mengetahui dari pada tidak sama sekali. Ananda masih terjaga dan melamun diranjangnya. Banyak sekali faktor yang membuat pikirannya kacau.
Meskipun Ananda juga tidak bisa mengklaim bahwa dia manusia yang tidak baik. Tetapi dia juga berusaha bukan menjadi yang lebih baik? Kadang Cinta membutakan. Segalanya karna Cinta membuat lelaki yang sangat dia percayai untuk menjaga anak semata wayangnya sampai melukai.
***
Pagi ini El tidak kekantor lagi, karna Antonio sudah bisa bekerja kembali. Setelah selesai sarapan seperti rutinitas biasanya, Antonio dan Willy kekantor. Ananda, Imam dan juga Ima nampak bercengkrama diruang keluarga.
Sebelum Antonio pergi ke kantornya dia memberikan tas yang berisi perlengkapan sekolah, siapa yang membelikannya? Tentu saja El. Siapa yang menyuruh Antonio untuk memberikannya? Jawabannya adalah El lagi.
Aurelia pun menerima pemberian Antonio. Ia pun berlalu pergi untuk kekantor. Dari kejauhan Nuri tampak bingung, membawa apakah Aurelia sampai harus membawanya kekamar? Nuri berlari mengejar Aurelia.
"Mom itu apa?" tanya Nuri pada Aurelia.
"Apa sayang?"
"Itu yang mommy bawa. Tas itu!" Nuri menunjuk pada tas yang sedang Aurelia tenteng.
"Ini yah, perlengkapan sekolahmu dari Daddy-nya tuan Alwi,"
Nuri terlihat bersemangat karna dibelikan beberapa peralatan sekolah. Gadis kecil itu pun membantu Aurelia untuk mengangkatnya.
Dari arah belakang ada anak balita yang mengejar Nuri. Lelaki tampan itu pun bersemangat untuk mengajak Nuri bermain.
"Kak Nuri," teriaknya dengan berlari menghampiri Nuri.
Nuri melambaikan tangannya agar Alwi mendekat. Setelah Alwi sampai, Nuri membawa Alwi untuk bermain. Nuri membawa 2 buku beserta pulpen untuk digunakan mereka bermain.
"Kak, mainnya sekolah-sekolahan ya?"
"Boleh tuan Alwi, biar pinter nanti pas masuk sekolah. Sudah mengerti abjad kan? Tinggal gabungannya ya?"
"He'ehh... "
Mereka berdua pun bermain bersama. El hanya melihat keduanya dengan tersenyum. Bahagia dia melihat mereka berdua. El pun berjalan menghampiri kamar Aurelia.
__ADS_1
Ada yang harus dia sampaikan, dia juga sudah tidak ingin lagi melihat kemesraan mereka dibelakangnya. El ingin keduanya bersatu kembali. Seharusnya mereka memang bersama bukan berpisah.
Akhirnya El sampai didepan kamar Aurelia, diapun mengetuknya. Beberapa saat pun pintu terbuka menampilkan Aurelia yang tengah berdiri berhadapan dengan El.
El sempat membenci. Tetapi setelah dia mengetahui semuanya dia pun mengerti. Mereka berpisah bukan karna tidak lagi saling mencintai, tetapi sesuatu hal membuat mereka harus terpisah.
"Aku boleh masuk?" tanya El.
"Eh, boleh nona masuk saja," jawab Aurelia.
Keduanya pun berjalan memasuki kamar. Keduanya duduk ditepian ranjang. El masih tidak berbicara, ataupun bertanya. Dia masih menata hatinya dan merangkai kata-kata Indah untuk dilontarkannya.
Dia akan menyerahkan apa yang seharusnya wanita itu miliki. El tidak mau dia menjadi penghalang cinta keduanya, lama El melamun. Akhirnya dia pun menghembus nafas secara perlahan untuk melepaskan semua sesaknya.
"Kau tahu, aku akan berpisah dengan mas Tino? Banyak sekali yang tidak bisa kugapai darinya. Dia tidak pernah menempatkan aku dihatinya, dia hanya mencintai satu wanita yang mungkin bagian dari kisah masa lalunya," ucap El memecah keheningan.
"Apakah kau tahu juga siapa wanita itu? Aku sudah tahu semuanya! Tentang mereka yang setiap malam bertemu, entah disengaja atau tidak disengaja!"
"Aku tahu juga, wanita itu selalu menghindar namun, suamiku selalu mengerjar wanita itu. Jadi mungkin aku tidak salah jika aku meminta untuk berpisah? Dari pada dia selalu berbuat yang tidak senonoh dengan wanita itu,"
"Bagaimna menurutmu Rely?" tanya El.
Bukankah seorang sahabat akan selalu terbuka satu sama lain?
"Kita bersahabat bukan? Seperti kamu dulu berusaha untuk aku mau menjadi sahabatmu!" Ujar El.
"No-nona... Maafkan aku," ucapnya terbata.
Aurelia memegang tangan El, dia mengucapkan beribu kata maaf atas kebodohannya karna berada diantara mereka. Aurelia menyesali kedatangannya ke ibu kota namun, menghancurkan rumah tangga orang lain.
Dia menangis sesenggukan dihadapan El, harus bagaimana agar semuanya tidak tersakiti?
"Aku harus apa untuk menebus semua kesalahanku?" tanya Aurelia dengan berlinangan air mata.
"Kamu harus menikah dengannya!" lontar El.
Aurelia terkejut dengan apa yang didengarnya. Haruskah begini? Bagaimana nanti keluarga besar El? Mereka pasti akan membencinya. Dia menghiba supaya El tidak meminta untuk Aurelia menikah dengannya.
__ADS_1
El tetap pada pendiriannya, bahwa sahabatnya harus menikah dengan Antonio.
***
Malam telah datang. Pasangan suami istri yang terikat dalam ikrar pernikahan suci namun tanpa adanya cinta, yang membuat keduanya merana.
Harus apalagi, jika bukan karna Alwi. Mereka sudah pasti akan berpisah kamar. Kini ketiganya sedang bercanda ria layaknya keluarga bahagia.
Sampai kapan keduanya bersandiwara? Tetapi ini mereka lakukan agar Alwi tidak merasa tidak diperhatikan. Karena ikatan keluarganya yang merenggang.
'Andai ini bukan sandiwara pasti aku bahagia' Batin El lirih.
Mereka memang selalu bersikap manis jika dihadapan Alwi. Alwi belum mengerti, tentu saja itu resiko El dan Antonio.
Setelah selesai bercanda Alwi pun. Meminta dibacakan dongeng oleh Antonio. Tidak biasa Alwi bermanja pada Antonio, apa dia merasa ini detik-detik kebersamaannya dengan Antonio. Mereka tengah berbaring bertiga diranjang. Seperti biasa sikecil berada ditengah-tengah mereka.
Alwi pun sudah terlelap, ketika sudah dibacakan dongeng dan mendengarkan sholawatan dari ponsel. Yang sedang anak-anak sering pakai sesudah adzan, sholawat Allahul Kafi Rabbanul kafi.
El pun bangun dari rebahannya. Dan merangkak turun dari ranjang. Supaya tidak membangun sijagoan yang sudah terlelap. Sebelum bergegas pergi El pun berseru.
"Mas, aku tunggu kamu dibalkon," seru El.
El pun berjalan menuju balkon. Antonio masih mengusap bahu Alwi yang sudah terlelap. Rasanya bahagia bisa sedekat ini dengan anak dari keponakannya. Dia mendengarkan yang El lontarkan.
Sesaat Antonio memeluk Alwi dia masih nyaman untuk memeluk dan enggan untuk beranjak. Sebenarnya dia berat untuk berpisah dengan mereka. Dia terlanjur menyayangi El dan Alwi.
Tetapi Cinta masa lalunya, membuat dia bodoh menyia-nyiakan orang sebaik El. Setelah lama memeluk Alwi diapun melepaskan pelukannya dirasa dia terlalu lama masih berdiam dikamar. Akhirnya dia berjalan dan menghampiri El.
El kini tengah menikmati dinginnya malam yang sunyi. Sesunyi hatinya yang tanpa ada mengisi. Hampa rasanya pernikahan yang dijalani tanpa rasa Cinta.
"Jangan disini El, ayo masuk saja nanti kamu sakit," seru Antonio.
Antonio pun kedalam dan membawa jaket lalu menyematkannya kebahu El. El pun menoleh dan tersenyum.
"Terimakasih, mas."
"Sama-sama. Ada apa? Ada sesuatu yang penting untuk dibahas lagi?" tanya Antonio.
__ADS_1
***