Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 74. Pertemuan Tidak disengaja.


__ADS_3

Mereka kini tengah berada dirumah sakit, El dan Alwi tidak ikut. Mereka hanya melihat Dian dari luar. Para perawat mewanti-wanti agar semuanya tidak memaksa untuk masuk.


"Maaf tuan, kalian semua tidak bisa menjenguknya untuk kedalam," ucap perawat.


"Kenapa sus?"


"Biar Dokter Sastra saja, yang menjelaskan,"


Dari arah belakang datang Dokter yang dimaksudkan perawat.


"Selamat sore semuanya," sapanya dengan lembut, ia lantas mengbungkukkan badannya.


"Siapa keluarga pasien pak?" tanya Dokter Sastra.


"Jelaskan saja pada kami semua Dok, kami semua keluarga beliau," jawab Galih.


"Tuan, pasien mengalami depresi. Seseorang yang mengalami depresi, dapat mengalami masalah dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan tak jarang mereka merasa bahwa hidup sudah tidak ada gunanya lagi. Meski demikian, seseorang yang mengalami depresi bukan berarti sosok yang lemah. Sebab depresi merupakan suatu penyakit yang dapat disembuhkan."


"Jika dibiarkan, depresi dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Misalnya gangguan kecemasan, gangguan panik atau fobia sosial. Orang yang menderita depresi cenderung terkucil secara sosial sehingga timbul keinginan untuk bunuh diri. Selain itu, mereka juga rentan menyakiti tubuhnya sendiri."


"Kasihan pah," sahut Ima.


"Dia bukannya, sekretaris papa?" tanya Ima, Ananda hanya menganggukan kepala.


"Sembuhkan dia pah,"


Ananda hanya mengelus pundak Ima dengan lembut, "Iya dia sekretaris papa dulu, inikan kita sedang ikhtiar, supaya penyakitnya dapat terobati,"


"Dokter, tolong berikan pengobatan yang terbaik untuk pasien, dan sembuhkan dia" pinta Ananda.


Sang Dokter pun menoleh dan tersenyum, "Hingga saat ini belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan dan menghilangkan depresi. Para penderita depresi dianjurkan untuk rutin mengonsumsi obat depresi dan melakukan konseling psikologis. Cara ini terbukti efektif bagi sebagian besar orang dengan depresi."


"Tuan Dian susah minum obat taun, akan sulit prosesnya. Mungkin keluarga terdekatnya bisa membantu untuk menenangkan,"


"Tuan Dian mengalami depresi berat, maka itu ia diharus dirawat di rumah sakit atau mengikuti program terapi rawat jalan sampai gejala membaik,"


"Berarti kami sudah benar Dok, membawanya untuk dirawat dirumah sakit jiwa," sahut Willy dari belakang.


'Itu kaya sibos. Haduh malu lah gue, kalau sampai dia disini. Tapi ya gimana lagi, cita-cita gue,' batin Sastra.


Lantas Willy berjalan kearah depan, Dokter pun berseru kembali.


"Selain mengonsumsi obat, penderita depresi juga dapat mengikuti psikoterapi. Psikoterapi adalah istilah umum untuk mengatasi depresi dengan membicarakan tentang kondisi pasien dan masalah-masalah terkait dengan dokter atau konselor pasien. Psikoterapi juga dikenal sebagai terapi bicara atau terapi psikologis."


"Ya baiklah, terimakasih untuk penjelasannya Dok, lakukan saja pengobatan semuanya sesuai prosedur, agar pasien segera pulih, kami izin pamit pulang, waktu sudah hampir magrib," pamit Galih.

__ADS_1


Mereka lantas pergi, hanya satu orang yang tersisa yaitu Willy. Ia bersedekap memandangi Sastra dengan bangga.


"Nggak nyangka saya, Dokter tolong. Sembuhkan paman Dian," ucap Willy.


Sastra hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung harus menjawab apa. Willy sekarang formal pada dia. Tidak biasanya, lelaki itu berprilaku demikian.


"Biasa saja Wil, kita kan sahabat,"


Sastra langsung memeluknya, dengan senang hati Willy membalas pelukannya. Sastra pun meminta Willy untuk mengikutinya supaya ia leluasa berbicara jika mereka didalam ruangan Sastra.


"Bagaimana kabarnya istrimu?" tanya Willy ketika mereka sudah didalam ruangan.


"Dia baik, anakku juga baik. Bagaimana kalau kita menjodohkan anak kita," saran Sastra.


"Eh, jangan gila. Saya belum punya anak,"


"Lah terus, yang kemarin siapa?"


"Yang mana?"


"Yang waktu diculik itu,"


"Anaknya El,"


Sastra menatap Willy dengan tatapan menyelidik. Jarinya mengetuk diarah bibirnya. Matanya tidak terlepas dari mata Willy, bahkan sampai Willy mengalihkan tatapannya. Sastra mengikutinya.


Ia sedikit risih, pasalnya Sastra terus menatapnya tanpa berkedip. Setelah Sastra sadar dengan lontaran Willy, ia langsung bergidik. Dan duduk ditempatnya.


"Jangan ngada-ngada kamu, aku sudah punya anak. Mana mungkin aku suka sesama jenis, amit-amit,"


"Aku hanya sedang, mengingat-ingat kemiripanmu dengan dia," lontar Sastra.


Willy tidak menanggapi lontaran Sastra ia juga berfikir demikian. Banyak kemiripan, tapi tidak ingin larut dalam kegelisahan, hingga Willy tidak terlalu memikirkannya.


"Ngawur," jawab Willy melempar kunci mobilnya.


Keduanya pun tertawa mengingat percakapannya barusan. Merekapun membicarakan perihal pekerjaannya masing-masing. Berbagi suka dukanya menjalani pekerjaan mereka.


Hingga seseorang mengetuk ruangan Sastra, keduanya terhenti dari perbincangan. Mereka berdua terus menatap pintu, sudah dipersilahkan masuk tetapi orangmya belum nampak.


Seorang wanita masuk, dengan ragu-ragunya. Willy dan Sastra hanya mengernyit heran. Mereka tidak tahu siapa wanita tersebut. Sampai wanita itu dihadapan keduanya, dengan polosnya ia membungkukan badannya.


Ia memperkenalkan diri dan menjatuhkan bokongnya untuk terduduk disofa yang kosong. Willy dan Sastra saling berpandangan, mereka hanya mengangkat bahu tidak menahu wanita yang masuk itu.


Pintu pun terbuka kembali, Restu datang dengan mengusap kepalanya dari depan hingga kebelakang. Cengiran kuda ia tampilkan, serentetan gigi yang nampak menampilkan kesan, polos tidak tahu malu.

__ADS_1


Willy dan Sastra pun akhirnya tahu siapa wanita itu. Pasangan serasi, sama-sama polos dan tidak tahu malu itu.


"Aku jagoan kan, tahu kalian sedang berkumpul. Makanya aku kemari." bangganya dengan berlenggak-lenggok bak model dihadapan kedua sahabatnya.


Willy dan Sastra hanya berpura-pura seperti ingin muntah, wanita itu hanya tertawa. Melihat reaksi sahabatnya Restu.


"Tahu darimana kamu Tu?" tanya Sastra.


"Tadi kerumah sibos, kata papanya masih dirumah sakit, makanya aku kemari,"


"Kamu itu, sok ganteng. Muka pas-pasan juga. Lenggak-lenggok kaya model, pantesnya jadi topeng monyet," celetuk wanita itu pada Restu.


"Jelek-jelek juga calon suami kamu lah. Sama calon itu, baik-baikin Citra calon suaminya malah ngejatuhin," gerutu Restu.


"Wih, ada yang mau melepas masa lajang nih. Witwiw, inget ya pas malam pertama langsung streaming," sahut Sastra.


"Gila lo," umpat Restu.


Gelak tawa dari Sastra dan Willy terdengar menggelegar disana. Sedangkan pacar Restu hanya bergidik mendengar lontaran Sastra. Sedangkan Restu mengumpat keduanya dengan candaan.


"Kamu gak lempar aku pake kunci mobil. Nih, kaya Willy dong. Aku dilempar kunci mobil, auto jadi punya mobil dua dong aku," ucap Sastra dengan riang.


"Eh, jangan gila Tra. Saya pulang naik apa?"


"Hmmm, bos," sambung Restu.


Restu tidak ikut menimpali lontaran mereka. Ia mempunyai pertanyaan yang lain untuk Willy. Ia terlihat akan berbicara, ia urangkan. Seterusnya Restu begitu.


Ketiganya hanya memandang Restu dengan tatapan keheranan.


"Mau bicara apa sih kamu Tu? Mangap terus mingkem. Udah kaya ikan Mujair," sungut Sastra.


Seketika mulut Restu mengurucut, ia tertawa dengan lontaran Sastra. Karena ia disamakan dengan ikan.


"Lah, monyong dong nih bibir saya Dok. Tapi kan kamu dokter, bisa oplas saya jadi ganteng kan?" jawab Restu dengan bersedekap dan menaik turunkan halisnya.


Wanita yang diduga pacar Restu hanya menepuk jidatnya.


"Oplas apaan sih kamu? Udah deh jelek ya jelek saja deh. Jangan mau digantengin," sungut pacar Restu.


"Kamu jangan ikutan nimbrung, cewe diam saja. Ada sesuatu hal yang ingin aku tanyakan sama kamu bos. Tapi sekarang mau nanya dulu sama dokter,"


"Dok bagaimana keadaan paman saya?"


Sastra menjelaskan semuanya pada Restu, seperti ia menjelaskan pada keluarga besar Ananda. Restu pun mengangguk mengerti, ia akan sering berkunjung untuk bisa membujuk Dian.

__ADS_1


Wajah Restu terlihat serius, kini ia akan bertanya pada Willy, "Sampai kapan kamu akan menyendiri terus? Sudah waktunya untuk berumah tangga bos. Relakan saja, dia mungkin bukan jodohmu," ucap Restu memberi saran.


***


__ADS_2