Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 103. El meminta bantuan Willy


__ADS_3

El mengejar Ima untuk menolak semua yang Ima ucapkan. Ia tidak mau kalau sampai dirinya menikah dengan orang yang tidak ia cintai.


"Mah, dengarkan El. El enggak mau menikah dengan mas Galih. El hanya mencintai kak Willy," ucap El.


Ima masih berjalan tidak menghiraukan penolakan sang anak. Toh ia juga sudah merestui. Kini ia tahu anak perempuannya telah jatuh cinta pada Willy. Ia semakin bersemangat untuk segera berlalu dihari berikutnya. Untuk menikahkan mereka.


Ia juga sedang memikirkan bagaimana bahagianya sang anak kala ia tahu mamanya hanya berpura-pura untuk menikahkan El bersama Galih.


"Tidak El, mama tidak perduli kamu mencintai siapa. Cinta akan tumbuh kalau kalian selalu bersama." Ima pun berhenti berjalan dan membalikkan badannya untuk melihat sang anak.


"Kekamar gih, sudah malam. Jangan banyak begadang dua hari lagi jadi pengantin," sahut Ima.


El berjalan dengan gontai menuju kamar. Ia resah sendiri memikirkan ucapan Ima, bahwa pernikahannya akan segera dilangsungkan dalam waktu dua hari lagi.


Ia pandangi Alwi kala keresahannya semakin menjadi. Ia tidak mau kalau sampai menikah dengan Galih namun hubungannya dengan Alwi akan merenggang. Setelah bergulat dalam pemikiran yang berbelit tak terasa kantuk pun melanda El, hingga akhirnya ia terkelap kedalam mimpi.


***


Matahari sudah mulai menampakkan kembali cahayanya. Rutinitas pagi hari ini seperti biasa ia akan mengantar Alwi untuk kesekolah. Setelah pulang dari sekolah El lebih memilih menaiki taksi. Namun bukan pulang menuju rumahnya, melainkan kekantor Willy.


Alwi tidak banyak bertanya kali ini akan kemana mommy nya membawa pergi dirinya. Setelah sampai didepan kantor Willy, dengan cepat El membawa Alwi keatas.


"Kak," sapa El ketika dia telah berada diruangan Willy.


Willy yang tengah memakan makan siangnya pun menoleh. Ia tersenyum karena El dan Alwi yang mengunjunginya.


"Ada apa El?" tanya Willy, ketika ia melihat raut wajah El yang terlihat cemas.


El tidak menjawab pertanyaan Willy, ia masih bingung harus mengucapkan dari mana supaya Willy bisa membantunya untuk menggagalkan pernikahan El dan Galih.


"Aku enggak mau kak, kalau sampai harus menikah dengan mas Galih. Aku maunya menikah denganmu," bisik El dengan lirih.


Deg... Jantung Willy seakan berhenti berdetak. Kala mendengar bahwa pernikahan sang pujaan hatinya akan segera berlangsung. Dunia Willy seakan terasa hancur. Tempatnya bernapas seakan menghentikan denyut nadinya.


Putri memasuki ruangan Willy, ia sedikit kepo. Ia tetap harus berada disana meskipun tugasnya untuk mengantar dokumen saja. Dengan berpura-pura mengajak Alwi bermain.


"Bawa El pergi kak, aku enggak mau kalah sampai menikah dengan mas Galih. Izinkan aku untuk menginap dikantor kakak saja ya," lirih El.

__ADS_1


"Enggak bisa El, kamu tidak bisa memikirkan dirimu saja. Kamu sudah punya Al. Kamu juga harus melihat dia, kalau dia tidak nyaman disini bagaimana? Pulang saja ya, biar kakak antarkan. Kita bahas nanti malam." Willy pun menuntun El untuk pergi.


Ketika ia akan menggendong Alwi ia terpaku melihat Putri yang tengah mengajak bermain Alwi.


"Sudah lama disini Put, aku keluar dulu mau mengantarkan El dan Alwi," ucap Willy.


Mereka lantas berpamitan pada Putri. Putri dengan langsung membawa gawai yang berada disaku celana. Tentu saja untuk mengabari pada sang kekasihnya. Mereka pun ketemuan untuk membahas masalah ini.


***


"Jadi bagaimana?" tanya kekasih Putri.


"Nona El meminta tuan Willy, supaya tuan Willy membawanya pergi," jawab Putri.


"Baguslah. Kalau tuan Willy mengantarkan nona El pulang dan dengan lapang dada untuk nona menikah denganku tentu saja ia lelaki yang sangat luar biasa," terang kekasih Putri.


Brakkk... Putri menggebrak meja. Rasanya sungguh menyakitkan ketika kekasih hatinya menjawab dengan entengnya akan menikah dengan El.


Kekasih Putri mengedarkan pandangannya, dan tentu saja mereka menjadi objek tatapan para tamu lainnya. Dengan membungkukan badan dan mengatupkan kedua tangannya kekasih Putri meminta maaf atas ketidak nyamanannya para tamu cafe lainnya.


"Kamu bisa kontrol emosi kamu tidak, kalau ditempat umum begini?! Malu Put. Kamu malu-maluin," gerutu kekasih Putri.


Namun dengan cepat kekasih Putri memegang tangan Putri. Ia juga meminta Putri untuk duduk kembali.


"Maksud aku bukan begitu. Jangan cemburuan terus. Keluarga mereka sudah sangat berjasa padaku. Meskipun aku menjungjung dan memuji nona El, itu semua hanya rasa seorang kakak tidak lebih,"


"Aku mohon jangan begini terus, kita kan juga akan menikah. Apalagi konsep pernikahan ini dari konsep keinginan kita. Nyonya dan tuan besar membiayai segalanya untuk kita," jelas kekasih Putri.


"Iya maafkan aku," sesal Putri.


"Jadi kita harus bagaimana?" tanya kekasih Putri.


"Aku tidak tahu makanya mau bertanya padamu," ungkap kekasih Putri.


"Pasti nona tidak akan pulang untuk malam ini. Ya sudahlah biarkan saja, sama tuan Willy nona pasti aman. Kita hanya perlu memberi tahu saja pada nyonya. Supaya dia tidak khawatir,"


Kekasih Putri pun menelpon Ima dan menjelaskan semuanya pada Ima.

__ADS_1


***


Ketika mobil Willy akan memasuki gerbang, El mencekal tangan Willy. Ia menatap Willy dengan menghiba. Matanya berembun dan tanpa terasa buliran kristal bening itu terjatuh tanpa diminta.


Dengan menghembus napas berat Willy pun akhirnya mengalah. Ia membawa kembali El dan Alwi kekantornya, karena masih jam waktu bekerja.


"Aku tidak tahu harus bagaimana?" ungkap Willy ketika ia memasuki kantor kembali.


El tanpa menyahut berjalan memasuki kamar khusus yang berada diruangan Willy. Setelah ia menidurkan Alwi, ia menyeret kursi yang berada dihadapan Willy, ia juga mendudukan bokongnya disana.


"Bawa aku pergi kak. Atau kita kawin lari saja," ucap El.


Ketika Willy kini tengah berkutat dengan setumpuk dokumen yang berada dimeja kebesarannya, ia pun menghentikannya seketika. Ia melihat El dan menggeleng kepala.


"Kamu jangan berlebihan El, aku membawamu bukan berarti aku akan menikahimu tanpa restu dari orang tuamu! Aku tidak mau kalau sampai kamu durhaka pada ibumu karena aku yang belum tentu bisa membahagiakan mu," terang Willy tidak terima dengan usul El.


El pun menunduk karena ia tahu sarannya sangat tidak masuk akal.


"Sekarang kamu tidur saja, temani Alwi," titah Willy.


'Harus apa aku untuk mencari solusi dari masalah ini,' batin Willy.


Setelah jam kerja telah usai Willy pun membawa Al dan El untuk menginap dihotel selama beberapa hari.


"El kakak tidak punya apartmen untuk kalian tinggali, untuk selama beberapa hari kamu tinggal disini saja. Segala kebutuhan kakak akan mengantarkannya padamu," terang Willy.


"Maaf, aku merepotkanmu kak,"


"Tidak apa, ayo bersihkan dulu tubuh kalian, nanti kakak kemari lagi membawa kebutuhanmu," ucap Willy.


"Tapi kak, aku dan Al tidak ada pakaian. Masa iya kami memakai pakaian ini lagi,"


"Yasudah ayo kita beli,"


Merekapun kini telah memilih pakaian, tanpa mereka sadari ada seseorang yang telah mengikuti mereka dari keluar kantor sampai ke hotel.


"Mereka sedang berbelanja di mall xxx!"

__ADS_1


***


__ADS_2