
Kejujuran El waktu itu membuat Willy selalu menjaga jarak dengan Putri. Ia pun sudah menjelaskan semuanya bahwa ia lakukan untuk menjaga perasaan El.
Perasaan El sudah sangat begitu berarti dalam kehidupan Willy. Ia sudah berjanji dan bertekad akan menjaga perasaannya agar tidak tersakiti oleh dirinya.
"Huhh, dia cemburu," gumam Willy.
Ia teringat kala sedang mengunci pintu mobil. Dan berduaan dimobil. Salah tingkah, gugup terlihat jelas dan terpangpang nyata dihadapannya. Willy gemas sekali ingin mencubit hidung El.
Setelah waktunya makan malam ia pun keluar kamar, berjalan dan memasuki rumah utama untuk makan malam seperti biasanya, Ia duduk disebelah Alwi seperti biasa.
Willy dan Ima tidak sengaja bertatap mata. Sorotan mata Ima masih menahan amarah yang nampak menatap tajam pada Willy. Bodo amat dengan umapatan Ima yang menyebut dirinya muka tembok.
Toh semuanya memang benar nyata adanya. Dia melakukan itu hanya semata-mata supaya Ima bisa menerima Willy lagi seperti dulu. Setelah selesai makan malam tidak biasanya Ima meminta semuanya untuk tetap berdiam diri dimejanya masing-masing. Hanya minus Alwi.
"Minggu depan El akan bertunangan, mama sudah mempersiapkan segalanya," sahut Ima memulai percakapan.
"El enggak setuju mah," Desah El. Ia tidak menerima begitu saja keputusan Ima yang terbilang semaunya sendiri.
"Tidak ada penolakan El, apa yang kamu banggakn dari dia hah?! Lelaki tidak tahu malu begini," hina Ima pada Willy.
Untuk kali ini Willy tidak menjawab lontaran Ima. Rasanya sudah lelah kalo harus beradu mulut dengan calon mama mertuanya. Ananda pun sama santainya menyikapi perdebatan pada keduanya.
"Pokoknya El gak mau mah," Seloroh El.
"Terserah kau saja, mama tidak perlu pendapatmu," ucap Ima.
Ima pun pergi dahulu, bergegas masuk kekamarnya. El pun menatap Ananda dengan tatapan sendu. Kristal bening dipelupuk mata indahya tidak bisa ia tahan.
"Jangan menangis nak, biarkan saja terserah mamamu mau seperti apa. Tenang saja kamu dan Galih tidak akan bertunangan,"
"Tapi papa dengar kan barusan mama bilang apa," ucap El.
"Sudahlah jangan dipikirkan lebih baik kamu masuk kedalam, tidur dengan Alwi. Biar papa dan Willy yang mencari solusi,"
El menurut, ia langsung kekamar Alwi. Sedangkan Ananda dan Willy tengah merundingkan agar upaya rencana Ima untuk menjodohkan El dan Galih gagal.
Mereka berdua tidak akan bertunangan sama sekali. Yang ada hanya akan sebaliknya. Sedangkan dikamar Alwi turun dari ranjang dan menuju ruang makan. Ia tahu bahwa Willy masih ada.
__ADS_1
Perasaannya begitu yakin. Ia langsung menghampiri Willy. Willy pun menoleh, ia juga berpamitan pada Ananda karena Alwi merengek ingin ditemani Willy.
"Kamu jangan manja terus sayang, kan udah besar. Sebentar lagi masuk SD," ucap Willy. Ketika ia sudah berada dikamar.
"Tapi daddy, maafkan Al," jawab Alwi.
Alwi menundukan kepalanya karena ia merasa dirinya terlalu manja pada Willy. Bukan tanpa sebab, ia hanya rindu Willy. Ia hanya ingin satu kali ini saja ia bisa tidur bersama dengan mommy dan daddy nya.
"Al enggak akan manja lagi dad, tapi Alwi maj kita tidur satu kamar bertiga." tunjuk Alwi pada pembaringan yang berukuran king size itu.
El membelalak tidak percaya dengan keinganan Alwi. Ia takut kembali dimarahi Ima seperti tempo dulu.
"Sayang jangan berlebihan nak, nanti dimarahin nenek," ucap El.
"Aku maunya kita tidur sekamar mom, kapan sih bisa terjadi. Pokoknya aku mau secepatnya kita tidur barengan." Alwi merajuk dan bersedekap.
El dan Willy hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah manja dan selalu ingin berada didekat Willy. El pun menjuntaikan kakinya dan berjalan menuju Alwi. Ia dudukkan ditepian ranjang untuk diberi pengertian.
"Al mohon mom, satu kali ini saja. Untuk besok-besoknya Al enggak akan mau minta lagi kita untuk tidur barengan," mohon Alwi.
El menatap Willy. Willy pun mengirimi pesan singkat pada Ananda untuk meminta izin. Agar tidak ada kesalah pahaman untuk esok hari ketika ia ketahuan tidur satu kamar dengan El.
Willy mencoba melepaskan perpagutan tangan mereka, tapi pegangan Alwi begitu erat ia sampai tidak bisa melepaskan nya. El hanya mengernyit .
"El tangan nya Al susah dilepasin," bisik Willy pada El diseberang ranjang yang hanya terhalang oleh tubuh mungil Alwi.
Mereka berdua pun secara perlahan melepaskan tangannya dari cekalan tangan Alwi. Setelah beberapa saat akhirnya mereka bisa melepaskannya.
"Kak jangan dulu pergi, aku mau bicara," bisik El.
Willy pun menurut kini mereka sudah berada disofa kamar Alwi. El ingin memperjelas semuanya. Gerangan apa yang membuat Ima tidak mau merestui mereka.
"Kenapa El?" tanya Willy.
"Mmm, kak, mama belum tahu kalau sebelumnya kakak sudah mau bertanggung jawab tetapi aku menolak kakak. Dan disaat aku tahu tengah berbadan dua tapi mas Tino memintaku untuk menikah dengannya,"
"Alasannya karena pacar kakak, kak Putri. Sepertinya mama belum tahu sampai kesitu. Atau papa belum menjelaskannya pada mama?"
__ADS_1
"Papa tidak pernah memberi tahu mama mu El, dia tahu segalanya sendiri dengan menyewa detektif. Mungkin detektif itu tidak secara rinci memberi tahukan segalanya. Kamu kan tahu mama mu keras kepala mana mungkin dia mau mendengarkan penjelasan kita," sambung Ananda.
"Padahal dulu mamamu tidak begini El,"
Ananda menimpali apa yang menjadi tanda tanya pada El. El pun mengangguk dan mengerti mengapa sang mama tetap tidak merestui mereka.
"Jadi bagaimana supaya kita bisa menjelaskan semuanya pah?" resah Willy.
Ia sudah tidak tahan lagi berlama-lama seperti ini. Ia ingin secepatnya Ima tahu kebenarannya.
"Sangat sulit nak, kita harus mendatangkan Antonio, ia adalah kunci permasalahan ini. Ini hanya kesalah pahaman saja," terang Ananda.
"Iya pah, mama harus secepatnya tahu. Agar ia tidak selalu menyalahkan kakak. Justru disini yang salah itu aku," sesal El.
El merasa menyesali atas jalannya yang salah. Memilih Antonio menikahinya. Dan menolak mentah-mentah pertanggung jawabannya Willy dulu. Saat ini ia ingin bersama Willy sangat sulit.
"Apa ini karmanya El pah?" lirih El.
"Memangnya kenapa?" tanya Ananda berpura-pura tidak tahu.
"Karena El dulu menolak pertanggung jawaban kakak,"
"Benarkah begitu nak Willy." Willy pun menganggukan kepala.
"Karma mu itu El, sekarang jadi susah kan pas kamu benar-benar mau menikah dengannya. Nak Willy, kamu tahu pas kamu tidak pulang kerumah karena lembur bekerja? El semalaman gelisah tidak bisa tidur memikirkan nak Willy,"
Bluss.... Wajah El bersemu merah menahan malu. El hanya bisa menunduk karena papanya membuka aib El malam itu.
"Benarkah pah? Dia rindu padaku berarti. Berarti sekarang kalo anakku yang bilang ingin bertemu, apakah mommynya yang ingin bertemu denganku?" goda Willy.
"Bisa jadi itu nak Willy, mungkin hanya alasan saja kalo memakai nama Alwi," sambung Ananda.
"Papa, apaan sih," rengek El karena malu.
Brakkk...
Pintu dibuka dengan kasar hingga ketiganya terlonjat kaget.
__ADS_1
***