Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 78. Imam ingin El dan Willy dijodohkan.


__ADS_3

Willy pun dipersilahkan masuk, setelah Ima mengejar Alwi. Kenapa anak itu bisa selalu tahu jika Willy berkunjung. Dengan polosnya Alwi, turun dari sofa tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Ima, El dan juga Ananda.


Ia langsung berlari ke pintu utama. Ia juga menengok kekanan dan kiri. Matanya tertuju pada mobil yang terparkir dihalaman rumah. Dengan kaki sebelah keluar dan wajah ditopangkan disetir kemudi.


El, Ima dan Ananda tahu siapa pemilik mobil itu, Alwi lantas berlari kearah mobil. Setelah Alwi membawa Willy kekamarnya, ia langsung tertidur pulas. Willy juga terlelap disamping Alwi dengan memeluknya.


"Sayang, makan malam yu. Ajak daddy Wil nya nak," ucap El.


Ia membuka pintu perlahan, setelah ia melihat pemandangan itu, air matanya jatuh tanpa ia sadari. El memegangi kembali dadanya.


Ia pun menutup pintu perlahan, ia memegangi mulutnya agar suara rintihannya tidak terdengar. Ia berlari kearah kamarnya. Lagi-lagi Ima mengawasinya.


Ia berjalan kearah pintu kamar Alwi, dibukanya lalu ia mendongakkan kepalanya melihat situasa didalam. Ima hanya mengernyit, cuma tidur berpelukan apanya yang harus disedihkan.


Ia bertanya-tanya sendiri didalam hatinya. Ima semakin yakin tidak ada yang beres dengan kelakuan anaknya, ia juga yakin bahwa El menyembunyikan sesuatu yang sama sekali tidak Ima ketahui.


"Aneh, kan bapaknya Alwi itu Antonio. Tetapi yang selalu kontak batin dengan Alwi adalah Willy," gumam Ima.


"Darrrr." Ananda mengguncang bahu Ima, hingga ia terlonjat kaget.


"Ya Alloh papa, kamu tuh. Enggak lihat aku sudah tua, aku bisa jantungan kalau dikagetkan tahu! Kamu mau buat aku mati, supaya bisa kamu kawin lagi." Ima menjewer kuping Ananda.


"Duh, duh ampun mah. Bercanda doang. Kok baperan kamu," seru Ananda.


"Bercanda kamu bilang!" Ananda membekap mulut Ima.


"Alwi bobo kan mah, jangan kencang-kencang kalo bicara. Udah kaya banjir bandang saja itu bibir nggak berhenti-henti kalo ngomel," oceh Ananda.


Ananda langsung meninggalkan Ima yang sudah menjauh dari kamar Alwi. Ima pun mengejar Ananda dengan perasaan dongkol.


***


Alwi menusuk-nusuk pipi Willy dengan jari telunjuknya. Adzan subuh sudah selesai berkumandang, namun Willy masih terpejam. Willy lantas menahan tangan Alwi, ia mencekalnya dan mengigit-gigit kecil.


"Heu, heu, dad geli berhenti dad," ucap Alwi tertawa.


"Aku kemarin jatuh dad, dijatuhin mommy," adunya pada Willy.


Dengan cemberut Alwi memperlihatkan dahinya yang sedikit memar. Alwi langsung terbangun dari pembaringannya. Ia melihat cedera yang dialami Alwi. Willy sedikit lega lukanya tidak begitu parah.

__ADS_1


"Al, tidak merasakan hal yang aneh-aneh? Kayak pusing atau pengan muntah-muntah?" tanya Willy khawatir.


Alwi pun tengah memikirkannya, "Enggak tuh dad, luka aku sembuh pas daddy datang," ucap Alwi.


Alwi langsung turun dari ranjang, memutari ranjangnya dan meminta Willy untuk turun seperti dirinya. Alwi juga ingin sholat berjama'ah.


***


Kini Willy akan berangkat ke kantornya, meskipun Alwi merengek ingin ikut menemani Willy bekerja. Alwi merengek pada mommynya. Namun tidak ada sahutan. Merengek lagi pada kakek-neneknya pun sama tidak ada sahutan.


Dengan langkah tidak bersemangat Alwi pun mengizinkan Willy untuk pergi. Berbeda dengan Ima, lagi-lagi wanita separuh baya itu semakin curiga.


Dengan langkah cepat, ia kembali kekamarnya dan mengunci pintu agar sang suami tidak mengetahui pembicaraannya.


Ia menelpon Galih, sudah dibujuk dengan seribu rayuan agar Galih membuka suara. Tetapi nihil ia tidak membicarakan sepatah katapun. Ima pun bertekad akan mencari tahu segalanya sendiri.


"Aku yakin Alwi itu anaknya Willy. Bukan Antonio, kok bisa ya? Menikah dengan Antonio tapi anaknya dari Willy,"


"Mah buka, ini kenapa sih masih pagi sudah kunci-kuci segala," gerutu Ananda dibalik pintu. Dengan langkah cepat Ima langsung berlari dan membuka pintu.


"Kelupaan, maaf pah," ucap Ima. Ima lantas pergi dari hadapan Ananda.


"Mommy, kan daddy Wil daddy Alwi kenapa enggak disurah tinggal sama kita saja sih," ucap Alwi.


Alwi pun menghadap pada sang mommy untuk memintai penjelasannya. Lagi-lagi El melamun. Alwi terus mengguncang tubuh El. Bahkan Alwi tak segan-segan menepuk El dengan bantal tepat diwajah El.


El langsung terjungkal kebelakang karena kaget. Untung saja tempatnya duduk masih menyisakan ranjang, hingga El hanya terjerambab keranjang.


"Mommy, maaf Al enggak sopan. Habis mommy ditanya enggak pernah jawab. Kalo Al ngomongin daddy Wil," sungut Alwi. Alwi lantas turun dari ranjang dan keluar kamar.


Ketika ia membuka pintu lagi-lagi ia dikejutkan dengan sang nenek yang berdiri didepan pintu. Alwi akan berteriak, namun dengan sigap Ima membekap mulut Alwi dan membawanya kearah balkon.


"Sayang, ada yang mau nenek tanyakan," seru Ima. Ketika mereka telah berada dibalkon. Ima memapah Alwi untuk duduk dipangkuannya.


Agar Alwi tidak merasa Ima menanyakan sesuatu yang berat, Ima pun berbasa-basi dahulu. Sebelum pokok pembicaraan akan diajukan.


Anak seumuran Alwi memang akan berkata jujur, tidak akan ada kebohongan dibibir mungilnya. Meskipun berbohong anak seusinya akan mengakui kesalahannya.


"Mmm, nenek mau tanya. Katanya Alwi daddy nya bukan daddy Anton ya. Tahu dari siapa sih kamu nak?" jawab Ima dengan hati-hati.

__ADS_1


"Mmm, dari kakek nek," jawab Alwi.


Ima lagi-lagi dibuat tertohok dengan jawaban Alwi. Dengan perlahan Ima menurunkan Alwi dari pangkuannya. Mereka berdua kedalam dengan riang.


Setelah mengantarkan Alwi kedalam, Ima menghubungi jasa detektif. Lebih baik mencari tahu sendiri. Dari pada susah-susah menanyakan pada Galih yang tentunya dia tidak akan membongkar rahasia majikannya.


***


Imam berkunjung kerumah Ananda. Dengan ragu-ragu ia meminta Ananda untuk meluangkan waktunya agar mereka bisa mengobrol. Mereka berdua pun  berbincang diruang kerja.


"Ada apa, tumben kemari?" tanya Ananda.


"Tapi, tolong jangan marah jika kamu tidak setuju," jawab Imam.


"Hmmm,"


"Aku ingin anak kita dijodohkan saja. Akan lama menunggu jika keduanya saling jatuh cinta. Jika dilihat dari sudut anakku, Willy telah mencintai anakmu begitu dalam. Aku kasihan dengan dia. Setiap malam selalu terlihat kesepian hanya memangdang potret Alwi," tutur Imam.


Ananda menghela nafas panjang, "Ide yang bagus. Tapi masalahnya ...,"


"Apa?" tanya Imam.


"Aku tidak ingin anakku gagal lagi. Apa tanggapan orang tentang anakku. Apalagi citra perusahaan yang kubangun akan rusak dengan sekejap. Apalagi sekarang El menyandang status janda, banyak berita yang simpang siur tentang keluarga kami," ungkap Ananda.


"Aku yakin bersama Willy pernikahan ini tidak akan gagal lagi. Kau tahu kan yang tidak benar adalah keponakannku bukan anakmu,"


"Setelah anakku bercerai dengan pamannya, lalu menikah dengan keponakannya. Orang akan beranggapan bahwa anakku dan anakku mempunya hubungan terlarang," jawab Ananda.


Sesaat keduanya berfikir, setelah didalami perbincangannya barusan. Memang benar, akan ada berita yang membuat bahwa mereka mempunyai hubungan terlarang.


Tetapi mereka teringat dengan Galih, Galih pasti akan bisa mengatasi segalanya dengan tuntas.


"Bagaimana kalau..."


***


Haii pembaca setiaku, mohon dukungannya untuk like dan komentar tentang isi ceritaku.


jika mera belum dilike boleh juga scrol dari awal bab lalu like hehe

__ADS_1


bagi yang ikhlas saja ya😍 semoga tetap menunggu ceritakh sampai tamat.


__ADS_2