Salah Menikah

Salah Menikah
107. Honeymoon


__ADS_3

Pagi telah datang kembali. Kilauan cahaya sudah menembus sela-sela jendela. Dua pasang pengantin yang begitu bertolak belakang.


Bagaimana tidak berbeda, Willy dan El langsung tertidur tanpa melakukan malam pertama. Sedangkan Galih dan Putri mereka melakukannya sampai pagi hari. Hmm tentu saja tidak.


Dikamar pengantin Putri dan Galih, mereka sedang melempar tawa karena tidak percaya akan bersama dalam ikatan pernikahan. Galih tiada hentinya memeluk Putri dan menggelitiknya.


"Hentikan, aku tidak tahan geli." badan Putri memberontak ingin melepaskan diri dari pelukan Galih.


Galih pun melepaskannya dan membalikkan badan Putri. Ia peluk kembali menghirup aroma tubuh dari sang istri.


"Semoga cepat tumbuh benihku di rahimmu, aku ingin segera ia hadir,." lontar Galih dengan mengusap perut datar Putri.


"Jangan Gila kamu, masa iya langsung hamil. Nanti dikira hamdul dong," jawab Putri.


Galih hanya menyentil dahi Putri yang selalu tidak menangkap dengan benar lontarannya. Sedangkan Putri hanya meringis karena mendapat sentilan dadakan.


Mereka pun berjalan keluar menuju meja makan untuk sarapan bersama keluarga besar Ananda.


***


Sedangkan dikamar pengantin kedua yaitu El dan Willy tengah malu-malu karena Willy tidak sengaja mencium pipi El. Karena insiden terpeleset.


Dan kini tubuh Willy tengah mengungkung El. Mereka malah saling bertatap mata merasakan kerinduan yang teramat begitu menggunung.


Rasanya Willy ingin sekali menjelajahi tubuh El, namun ia urungkan ia takut membuat El trauma kembali, mengingat dulu ia telah menorehkan yang tidak baik.


"Kak," panggil El.


"Eh," Willy tersadar kala El memanggil dirinya.


Willy pun membantu El untuk terbangun. Sedangkan El berjalan tertatih-tatih karena pinggangnya yang terasa nyeri.


"Aww sakit ini kak," rintih El ketika Willy memberikan pijatan pada area pinggang El.


Sedangkan diluar sana Ima yang akan mengetuk pintu untuk meminta mereka sarapanpun ia urungkan, mendengar rintihan El. Yang sebenarnya ia salah menafsirkan.


"Eh, masih dilanjut toh pagi-pagi juga," ucapnya cekikan malu sendiri memikirkannya.


"Kasihan Ah, jangan diganggu nanti enaknya terganggu,"

__ADS_1


Ima pun turun kebawah tanpa El dan Willy, sedangkan Alwi yang meminta neneknya untuk memanggilkan kedua orangtuanya hanya terheran.


"Mommy sama daddy mana nek?" tanya Alwi.


"Mereka masih tidur nak," jawab Ima.


Alwi pun beringsut turun dari kursinya dan akan menaiki tangga.


"Yasudah aku yang akan bangunkan nek," pinta Alwi.


Ima pun menahannya agar Alwi tidak naik keatas, ia tidak ingin mengganggu mereka berdua. Sedangkan Alwi hanya merengek tidak terima karena ia seolah-olah ditahan untuk tidak boleh bertemu orangtuanya.


Selang beberapa menit pun El dan Willy turun. Willy memapah El karena El kesakitan akibat ia terjatuh dan pinggangnya bermasalah.


Setelah mereka menuju meja makan, dan melihat keadaan El, semua yang berada disana hanya tersenyum dan berfikir tidak percaya bahwa Willy se*arang itu mengga*li istrinya.


Willy hanya kebingungan kala ia sudah mendudukan El mereka tengah menahan tawa.


"Ada apa? Kenapa semuanya seperti ingin tertawa? Apakah ada yang lucu?" ucap Willy yang penasaran.


"Nak Willy kami tahu kamu memperjuangkan El begitu berat, tapi jangan begitu juga membuat El sampai seperti ini," sahut Ananda.


Akhirnya Willy tidak menghiraukan lontaran Ananda, ia yakin meskipun ia membela ia tidak akan menang.


'Biarlah mereka berbicara apa. Yang penting kenyataannya tidak seperti apa yang mereka pikirkan,' batin Willy.


'Aduh pake jatuh segala sih, jadinya mereka berpikiran yang tidak-tidak,' batin El.


Setelah acara sarapan pagi berakhir, Galih dan Putri berpamitan akan berbulan madu. Ananda mendo'akan semoga mereka secepatnya kembali dan memberikannya cucu.


"Hati-hati disana yah nak Putri. Terimakasih sudah selalu membantu," ucap Ima.


Ima sedikit bersedih melepas Putri pergi meskipun hanya dua minggu. Setelah Putri membantu Ima ia semakin sayang pada diri Putri.


"Nyonya tidak usah khawatir, kan ada mas Galih yang menjagaku." Putri dengan refleks memeluk Ima.


Selepas kepergian Galih, kini Ananda tengah menanyakan pada El dan Willy tentang bulan madu mereka. Namun keduanya hanya menjawab.


"Tidak usah pah, mah. Kami disini saja menjaga Alwi," ucap keduanya bersamaan.

__ADS_1


Alwi yang melihat tingkah kedua orangtuanya hanya tertawa terbahak-bahak. Sedangkan El dan Willy merutuki kebodohannya karena mengucapkan kata itu bersamaan.


Perasaan Willy saat ini begitu bahagia, ia tidak menyangkal bahwa ia pun memang ingin melakukan bulan madu. Seperti semua pengantin yang baru menikah.


Tetapi melihat El, ia berpikir mungkin El tidak akan mau menyetujuinya. Meskipun belum ia coba untuk merundingkan. Ia terlalu malu untuk berucap hanya sekedar untuk meminta El melayaninya layaknya seorang istri.


Ingin sekali ia merasakan kehangatan itu seperti dulu. Tetapi ia tidak bisa melakukannya. Ananda melihat sorot mata Willy yang mengisyaratkan begitu Willy ingin berduaan dengan anaknya. Sedangkan El pun sama seperti Willy.


Mereka terlalu malu untuk mengutarakan keinginannya. Akhirnya Ananda lah yang akan memutuskan kemana mereka akan berbulan madu.


"Ke bali saja yang dekat," ucap Ananda.


Mereka berdua hanya mengangguk pasrah. Sedangkan Ima hanya tertawa melihat keduanya.


"Jangan lama-lama ya mom-dad," lirih Alwi.


"Enggak akan lama kok sayang cuma dua minggu aja ok, sebagai gantinya bagaimana kalau kita juga liburan seperti mommy dan daddy. Kita ke kebun binatang,' ucap Ima menenagkan Alwi.


***


Kini mereka telah sampai ditempat tujuan, dengan menyeret koper Willy menggemgam tangan El begitu erat. Setelah sampai dihotel mereka berdua pun membersihkan diri.


Setelah itu mereka berdua tertidur karena kelelahan perjalanan jauh. Disaat El masih tertidur dengan isengnya Ima memberikan sebuah minuman pada Willy jika mereka kehausan diperjalanan.


Entahlah apa yang dipikirkan Ima. Ia sengaja memberi minuman itu dan sudah bercampur dengan obat perang*ang. Bukan tanpa alasan Ima melihat bahwa Willy malu-malu meskipun sejujurnya lelaki itu pun sudah bernaf*u. Dari yang Ima baca, tatapannya begitu menghanyutkan.


"Mama kayak anak SD ngasih bekal minum," ucap Willy.


Ia pun menengguk air itu sampai tandas tidak tersisa dibotolnya. Merasa bahagia karena akhirnya bisa bersama. Dan mempunyai mama mertua yang begitu baik pada dirinya.


Meskipun ia sempat dibenci oleh Ima, namun tidak mengurangi rasa sayangnya pada Ima. Bagaimanapun prilakunya kemarin dengan lapang dada Willy memberikan maaf dan mengerti akn sikap yang dilakukan Ima.


Willy kini tengah memperhatikan setiap hembusan napas El yang tengah tertidur.


"Aku beruntung bisa mendapatkanmu," gumam Willy.


Tanpa ia sadari dan tanpa ia ketahui obat itu telah beroperasi. Dan kini Willy begitu ingin sekali menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya. Ia dekatkan wajahnya dan cup...


***

__ADS_1


__ADS_2