Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 53 Perjuangkan Cintamu Untuk Putriku.


__ADS_3

Ima nampak kesana kemari mencari sosok suaminya. Dia menuju dapur untuk bertanya. Tetapi, tidak ada siapa-siapa disana. Ima pun akhirnya berjalan ketaman belakang. Nampak disana ada Willy, Antonio dan juga Imam tengah menikmati teh disore hari ini.


Dia enggan untuk bertanya, takut mengganggu perkumpulan mereka. Ia nampak ragu-ragu untuk melangkahkan kakinya untuk berjalan menghampiri. Ima berbalik, selang beberapa langkah dia berjalan, dia pun memutar kembali tubuhnya untuk menghampiri.


"Apa kalian melihat suamiku?"


Ima bertanya, karna biasanya selalu ada suami Ima diantara mereka. Ketiganya pun menoleh.


"Nyonya, sepertinya tuan Ananda ada dikamar nona El. Tadi tuan Alwi kemari dan menariknya untuk mengikuti tuan Alwi," jawab Willy.


"Terimaksih,"


Ima pun berlalu dari halaman belakang, dan berjalan menuju kamar El. Ketika dia membuka pintu dia melihat sang suami tengah membelai pucuk kepala El.


El nampak tertunduk, Ima hanya menyimpulkan bahwa mereka tengah membahas sesuatu yang menyedihkan. Begitu pilu pemandangan yang Ima lihat. Apalagi Alwi nampak digendongan El, dengan memeluk leher El.


"Sabar sayang," ucap Ananda.


Hanya itulah yang terdengar dari mulut suaminya. Lama Ima menunggu namun tanpa percakapan kembali. Akhirnya Ima-pun masuk kedalam kamar.


"Ada apa ini?"


Ima bertanya seraya berjalan menghampiri ketiganya. Ketiganya pun menoleh secara bersamaan. Alwi turun dari gendongan El, dan menghampiri Ima. Alwi bermaksud akan mengadukan pada Ima tentang kakek-nya yang telah membuat El menangis.


"Nek, kakek jahat!"


Alwi berucap dan mengadukan kepada Ima, ia menceritakan semuanya pada Ima, bahwa sang kakek telah menyakiti El. Meskipun kenyataannya tidak seperti itu.


"Besok mommy dirumah kok sayang, tidak bekerja lagi. Kakek-nya jahat? Menyuruh mommy Alwi bekerja ya? Tapi kemarin pas kerja sama ...," Ima.


"Daddy Will nek? Ya karna mommy ketika kerja dengan daddy Wil tidak pernah nangis pas pulang kerja!" Alwi.


"Terus kakek jahat apa sayang? Kakek tidak pernah menyakiti mommy-nya Alwi!"


Alwi pun menimbang percakapan yang ditangkapnya barusan. Ia tampak menatap ketiganya bergantian. Mungkin otak kecilnya sedang berpikir keras, dan meluruskan atas tuduhan yang dilayangkannya kepada sang kakek.


"Terus... Kalo bukan kakek, siapa yang menyakiti mommy ku?"


Alwi bertanya dengan mengetukkan jari kebibirnya. Dia kebingungan sendiri. Ketiganya tidak menjawab pertanyaan Alwi, namun mereka langsung menghampiri Alwi.

__ADS_1


Mereka membombardir Alwi dengan ciuman. Ima nampak menciumi pipi kanan Alwi. Dan El menciumi pipi kiri Alwi. Sedangkan Ananda menciumi kening cucunya sembari menjilati kening sang cucu. Ananda gemas dengan pertanyaan Alwi.


Alwi merasa dirinya terganggu karna ketiganya menciuminya, apalagi kakeknya yang sesekali menjilati. Sungguh membuat anak itu merasa jijik.


"Hentikan, nek, kek, mommy!!"


Alwi memelas ingin dihentikan, serangan dadakan ciuman bertubi-tubi itu. Hingga mereka pun tertawa dan menghentikannya. Alwi hanya bersidekap karna merasa kalah. Satu berbanding tiga sungguh membuatnya tidak bisa berkutik.


***


Hari sudah malam, entah apa yang akan dibicarakan Ananda pada Willy. Dan hanya empat mata saja. Membuat Willy kebingungan bercampur rasa gugup.


Pasti ada sesuatu yang sangat penting sampai dirinya dipanggil ditengah malam begini. Apalagi keadaan rumah sudah nampak hening karna penghuni rumah telah terlelap tidur menuju alam mimpi.


Willy nampak masih terdiam, dia enggan bertanya! Dia takut pertanyaannya malah membuat kesalah pahaman. Hingga dirinya menunggu sampai lelaki paruh baya itu memulai pembicaraan.


"Kau mungkin bertanya mengapa aku memanggilmu kemari!" ucap Ananda.


Willy hanya mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Ananda.


Flashback 💦


Antonio masih bergeming, dia tidak menolak ataupun mengiyakan. Dia masih mendengarkan semua lontaran Ananda. Ananda menengguk dahulu teh nya sebelum berbicara kembali.


Dia menoleh pada Imam, Imam hanya menganggukan kepalanya. Ananda pun melanjutkan pembicaraannya.


"Aku tidak tahu, apa kalian harus berpisah atau tetap bersama? Kalau istri-ku tahu entah apa yang bisa dipikirkannya. Anak nya menjanda diusia yang terbilang masih belia."


"Tapi kalau masih bersama... Kau selalu menyakitinya!"


"Bisakah kau menjaga dulu hatinya sampai anakku bisa menyembuhkan luka hatinya? Setelah itu kau boleh berpisah dengan putriku, dan nikahi wanita masa lalumu. Yang kau cari sekian lama!"


"Ka-kau tahu semuanya tuan Ananda?" ucap Imam menimpali.


"Sudah kubilang jangan memanggilku tuan!" Ananda.


"Aku tahu semuanya. Bahkan segalanya."


Antonio dan Imam hanya mampu menundukan kepala. Dan menyetujui semua perkataan Ananda. Bahwa mereka akan mendekatkan Willy dan El.

__ADS_1


Setelah perdebatan panjang dan meminta saran akhirnya Ananda memutuskan untuk mereka berpisah saja. Akan lebih banyak dosa lagi jika mereka masih bersama dan mereka sama-sama berdekatan dengan orang yang bukan pasangan sah-nya.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata dan telinga yang tengah mendengarkan percakapan mereka.


Flasback 💦


"Maafkan saya tuan, sa-saya tidak bermaksud membuat hidup anak anda ha-hancur!"


Willy langsung meminta ampun, dan bersujud dikaki Ananda, dia tidak menyangka bahwa hal buruk tentang anaknya dapat dia ketahui.


Willy semakin menyesali, tetapi apa boleh dibuat semua telah terjadi. Waktu tidak dapat diputar kembali. Ananda mengangkat tubuh kekar itu.


Dia sama sekali tidak membenci Willy. Semuanya mungkin sudah menjadi takdir, bahwa putri kesayangannya harus menjalani kepedihan untuk menuju kebahagiaan.


"Tidak apa, semuanya telah terjadi bukan! El menerima pamanmu menikahinya, karna ... Mungkin kau tahu sebabnya. Kau tidak perlu memikirkan dia. Kalau dia tahu bahwa kamu menikahi putriku, dia orang pertama yang akan sangat bahagia melihat kalian berdua menyatu. Jadi ... Perjuangkan cintamu untuk putriku. Tapi setelah dia bercerai dengan Antonio, dan tentunya setelah masa iddah berlalu."


Willy menganggukan kepalanya dan mengerti semua yang telah Ananda ucapkan.


***


Galih masih menunggu instruksi dari Antonio, apakah lelaki itu lupa dengan rencananya untuk menjebloskan nya kejeruji besi?


Galih menghembus nafas perlahan, dia jadi kalap dan bingung sendiri. Apa dia harus menghubungi nona cantiknya? Ahh benar saja dia harus menghubungi nya.


Galih pun menelpon nona mudanya, setelah beberapa saat tidak ada diangkat, selang beberapa waktu telponnya pun diangkat.


📞 "Kenapa mas?"


📞 "Tuan Antonio belum memberi perintah nona. Saya harus berbuat apa?"


📞 "Biarkan saja mas, sampai dia ingat dengan tanggung jawabnya. Jangan hanya melulu tentang masa lalunya."


Telpon pun dimatikan. Galih nampak menyesal karna telah salah meminta pendapat kepada sang nona. Dia juga tahu bahwa nona-nya masih belum bisa menerima kenyataan ini.


Kenyataan bahwa suaminya lebih mencintai sang mantan. Galih juga merasakan setiap keresahan dan kesakitan yang dirasakan nona mudanya.


Galih pun memerintahkan kepada orang suruhannya supaya mereka menjaganya dengan ketat. Agar dia tidak bisa menemukan celah untuk kabur.


***

__ADS_1


__ADS_2