Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 17 Kekhawatiran


__ADS_3

Dilain tempat ...


Tepatnya dikota Tasikmalaya ...


Kota Tasikmalaya, kota kecil sejuta cerita... Itu pun katanya! Kotanya kota Santri. Menjunjung tinggi nilai norma agama. Dan mayoritas memeluk agama islam. Dan pastinya El pun sudah diberi tahu tentang nilai kehormatan dirinya.


kota kelahiran Ima Nanda Pratama yang tak lain istri dari Nanda Pratama. Beralamat di C , Kampung S, dengan adanya curug tonjong yang terkenal angker menurut penduduk setempat.


3 orang paruh baya itu tengah berbincang tentang masalah yang tidak tau sampai kapan akan terungkap.


Setelah beberapa tahun menjalani pengobatan dinegri orang, akhirnya keduanya pun diperbolehkan pulang karna keadaan memang sudah memungkinkan untuk kembali kekota asalnya.


Mereka memutuskan untuk pulang dengan menetap dikota ini. Meskipun berat harus meninggalkan putri kesayangannya.


"Pah." Panggil Ima dengan berjalan menghampiri ke2 lelaki itu dengan membawa nampan berisi camilan.


Nanda pun menoleh. "Iya Mah?"


"Bagaimana dengan anak kita El? Aku teh rindu dia," Keduanya menghela nafas berat dengan penuturan Ima. Nanda menjawab semua keresahan Ima.


"Iya Papa mengerti, Papa juga kangen, sini lihat potret putri kecil kita, sudah tumbuh dewasa." Lontarnya dengan menyodorkan ponselnya.


"Yaaloh, sayang cantiknya dia."


Nanda pun menatap Imam dengan haru, sahabat sekaligus orang kepercayaannya. Seperti Imam tau akan tatapn Nanda dia pun beranjak dari duduknya dan membawa dokumen-dokumen tentang keseharian El.


"Lihatlah gadismu pintar menyembunyikan." Ungkapnya pada Nanda dengan memberikan map berisi dokumen keseharian El.


Setelah membaca kening Nanda berkerut meminta penjelasan tentang photo laki-laki yang berada disamping El.


"Sepertinya keponakanku menyukai gadismu." Dengan raut wajah sedih dia menundukan kepalanya.


Imam merasa bersalah karna membiarkan keponakannya mencintai gadis seperti El yang mungkin tak pantas jika bersanding dengan Antonio.


"Kau kenapa? Ini sangat bagus bukan? Jadi aku tenang meskipun tidak kembali ke ibu kota sekalipun," Imam pun mengangkat wajahnya dengan menatap Nanda.


"Tidak apa-apa dia lelaki bertanggung jawab aku yakin dia akan menjaga gadisku,"


"Iya Mas Imam tidak usah merasa kita tidak akan merestui, kita sama-sama manusia. Jika yang dijadikan patokan harta untuk kami itu salah." Ima menimpali pembicaraan mereka.


"Lalu maksud Mas Imam pintar menyembunyikan itu apa?"


"Anak gadis kalian sudah mengetahui siapa yang menjadi musuh dalam keluargamu, sehingga dia diam-diam masuk kuliah hanya untuk memancing mereka dengan tidak adanya pengawasan dari kami."


"Yaaloh Pah." Ima memeluk tangan Nanda dengan erat menumpahkan kesedihannya. Nanda pun mengusap lembut pucuk kepala Ima untuk menenangkan.


"Kalian tenang saja ada Galih dan orang-orangku selalu mengawasi Putri kalian."

__ADS_1


"Sekarang Antonio keponakanku sudah pulang dari luar kota, dia sudah menangani proyekmu disana, dan aku menugaskan orang-orangku menyuruhnya untuk kemari terlebih dulu sebelum kerumahku," ucap Imam panjang lebar.


"Hmm." Dengan Nanda masih mengusap-ngusap pucuk kepala Ima.


***


DiBandara...


Ketika pria tampan tengah keluar dari pesawat, menyeret koper yang dipegangnya dan menuruni tangga, dia sudah disambut dengan orang-orang suruhan Imam.


"Tuan." Dia membungkukan badannya.


"Apa saya harus menemui mereka sebelum kembali kerumahku?" tanya nya pada lelaki itu.


"Iya tuan."


Mereka pun berjalan memasuki mobil yang akan menempuh perjalanan, Antonio pun menelfon seseorang untuk mengabarinya bahwa dia telah sampai.


"Assalamualaikum, tuan anda sudah kembali? Saya akan segera menjemput anda,"


"Wa'alaikumsalam, tidak perlu, saya ada urusan. Tolong kau tetap jaga El, jangan mengabari keponakanku!" perintahnya pada Galih.


"Baik tuan,"


Sambungan telfon pun terputus. Antonio menghela nafas dan menatap langit-langit mobil, merelekskan badannya yang tengah dilanda keletihan setelah perjalanan.


Antonio membuka pintu mobil dan menurunkan kakinya untuk menginjak tanah yang berwarna merah itu, matanya menangkap kesana-kemari dengan senyuman tipis tersungging.


Pemandangan yang belum pernah dia lihat selama diIbu Kota. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya, mengagumi keindahan alam semesta ciptaan Alloh Swt.


Suhu dingin menyeruak tubuhnya hingga masuk kedalam jas yang dikenakannya, bisa dibayangkan Kota ini masih Asri, masih segar dan belum terpapar polusi.


Ke 3 paruh baya itu pun nampak menyambut kedatangan Antonio, 2 laki-laki yang terlihat sudah menua namun kesan tampan masih lekat nampak diwajah keduanya. 1 Perempuan yang masih Ayu dengan memakai daster kesan orang sederhana melekat diketiganya.


"Wilujeng sumping dirorompok kasep," sambutan hangat berbahasa sunda terucap dari mulut perempuan cantik itu.


"Assalamua'laikum... " Salam Antonio pada ketiganya dengan mencium punggung tangan ketiganya.


"Wa'alaikumsalam," Jawab ketiganya serempak.


Merekapun memasuki rumah beriringan, Antonio pun istirahat sejenak.


💦


Setelah menjalani solat berjama'ah isya dimesjid mereka pun makan malam bersama. Kesan sederhana benar-benar melekat pada diri ketiganya. Pantas saja mereka sangat betah dan enggan meninggalkan kampung ini. Setelah makan malam.


"Anton bagaimana perusahaan?"

__ADS_1


"Semua lancar paman, tetapi... " jawabannya Anton menggantung.


"Kenapa?" seru ketiganya serempak.


"El paman, sepertinya zona nyaman sudah akan hampir habis untuk kita nikmati," lirihnya dengan sendu.


"Aku ingin meminta restu pada kalian supaya aku bisa menjaga El 24 jam penuh paman, tuan, nyonya," pintanya meminta restu pada ketiga paruh baya itu.


Ketiganya hanya tersenyum. "Boleh secepatnya nikahi," tungkas Ima dengan senyumannya.


mereka pun berbincang-bincang dengan keseharian El.


***


Dikantor...


Tampak raut wajah itu kini rahangnya mengeras dan tersulut emosi. Ditelfonnya sang pujaan hati pemilik cintanya.


"Dimana kamu ada yang ingin aku pertanyakan!" Perintahnya dengan penuh penekanan.


"Baiklah tunggu aku dicaffe tempat biasa!" jawabnya dengan lembut.


Telfonpun berakhir. Dan kini keduanya tengah duduk dicaffe dengan pembahasan serius.


"Bagaimana tingkah nona El hari ini apakah berbeda?"


"Orang-orangku bilang dia menangis dikantor tuan Willy!"


"Dan nona El pun terluka? kenapa bisa seperti itu?" cercanya dengan memborbardir pertanyaan. Seketika matanya membulat sempurna mulutnya menganga tanda dia kaget dengan pertanyaannya.


"Satu-satu tanya nya, aku pusing harus jawab yang mana dulu," decaknya dengan tersulut api cemburu.


Hening! Entahlah Galih terlalu khawatir kepada nonanya, hingga sang pujaan dibombardirnya pertanyaan. Galih pun mulai menyentuh jari jemari lentiknya dengan lembut.


"Jangan cemburu ya? Kan dari pertama pun sudah aku beri penjelasan tentang prioritasku yaitu nona muda ku." Godanya dengan menjawil dagu perempuan itu.


Sepertinya pujaan hatinya sudah muak dengan tingkah laki-laki dihadapannya, dia ingin hanya dirinya yang jadi prioritas, namun itu semua hanya angan-angan. Bukankah wajar jika cemburu? Jawabannya wajar saja itu manusiawi.


"Apa?!" pekiknya dengan ketus.


Seketika itu dari sebrang sana ada orang yang tengah mengamati gerak-gerak pasangan kekasih ini.


Sebenarnya apa hubungan mereka? Apakah pasangan kekasih? Romantis sekali, aku sampai iri. Sudah aku duga hubungan mereka memang bukan sebatas pekerjaan. Tetapi melibatkan perasaan!.


***


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2