Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 15 Anggap Semua Tak Pernah Terjadi


__ADS_3

"Aku tidak apa-apa mas, sudah dulu ya mau tidur ini," pamitnya untuk sesegera mungkin mengakhiri panggilan ini.


Dirinya masih tidak bisa mengontrol emosi yang mungkin suatu ketika air matanya akan terjatuh.


"Baiklah, selamat tidur ya. Tidak lupa kan disetiap sujud dan do'amu sebut namaku untuk menjadi imammu?" Seketika wajah sedih nan murung itu berganti dengan wajah merona.


Sambutannya selalu menyejukkan hati El. Perkataannya mampu mengalihkan rasa sedihnya. Semoga saja Antonio masih bisa menerima keadaan El?!


"Tidak pernah lupa." Jawabnya dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Wah sudah pandai menggoda kau El." Disela-sela ucapanya terdengar dia tertawa.


"Apa sih malah meledek, aku marah deh ah kalo gitu." El berpura-pura merajuk.


"Ya suasana hatimu sedang tidak baik sepertinya cantik. Sekarang baperan." Dengan masih menampilkan senyuman manis didepan El.


"Iya makanya sudah dulu ya?"


"Iya baiklah selamat tidur .. Assalamu'alaikum," Pamitnya.


"Iya... Wa'alaikumsalam," mengakhiri pembicaraannya.


Ketika panggilan diakhiri dirinya memegangi ponsel kedadanya, memeluknya dan menangis dengan amat mendalam.


Aku harus bagaimana mas? Aku harus bagaimana? Aku kotor, aku tidak layak untukmu, aaahhhhhhh. Dia berteriak memaki maki dirinya sendiri.


Menangis sejadi-jadinya, menumpahkan kesedihannya, dirinya bingung harus bagaimana berbicara pada Antonio. Ketika El telah lelah menangis, dia pun terlelap tidur, masuk kealam mimpi.


***


Malam berbintang yang menampilkan bulan telah usai. Kini matahari sudah mulai menampakan sinarnya meskipun masih nampak malu-malu. Kedua saudara angkat dirumah ini sudah bersiap turun untuk sarapan pagi.


Semoga tidak ada perkelahian sengit diantara mereka, kadang mungkin melintas dibenak El dirinya bisa bela diri tapi tidak bisa menjaga diri. Sungguh memalukan kau El, dimana kehebatan bela dirimu, dimana ilmu-ilmu yang telah kau pelajari.


Entahlah mungkin pikirannya sedang gugup. Atau kah kesadarannya limbung dengan keadaan mabuknya Willy?


Biarlah ... Semua sudah berlalu El, nasi sudah menjadi bubur. Akhirnya mereka pun berjalan beriringan menuruni anak tangga.


Tidak ada sapaan pagi ini, yang ada hanya keheningan, ketika sudah sampai dimeja makan dan dengan dua orang bibi art dirumah ini.


"Selamat pagi, Tuan, Nona," Sapa kedua art itu.


"Pagi bibi." El menjawab sapaan kedua art itu, menyeret kursi lalu duduk dan Willy hanya diam tanpa menjawab dengan muka datarnya.


"Bibi sudah sarapan? Kalo belum mari sarapan bersama?" Ajak El kepada kedua art nya.


Kedua art itu hanya saling beradu pandang


"Ti-tidak usah Nona kami makan dibelakang saja," Jawab kedua art itu dengan cepatnya.


"Yasudah kebelakang saja bi sarapan dulu kalo tidak mau sarapan bersama, apa setiap hari kalian seperti ini?" pertanyaan kembali untuk kedua art itu.


Kedua art itu hanya mengangguk tanda mengiyakan.

__ADS_1


"Ya ampun bi jangan seperti ini terus nanti ada masalah dengan lambung kalian, maaf ya aku selama ini tidak memperhatikan kesehatan kalian, untuk kedepannya sebelum kami makan pun kalian makan lah terlebih dulu, sekarang pergilah."


"Baik Nona." Mereka pun pergi meninggalkan kedua majikannya yang tengah menikmati sarapan. Willy hanya mampu berkata kata dalam hatinya, sungguh sangat baik sekali hatinya.


"El," panggilnya dengan nada melemah.


Hening! Tidak ada jawaban dari bibir cantik gadis ini, dia hanya menunduk mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan pendapatnya. Setelah terkumpul keberanian itu dia pun mulai angkat suara.


"Kak ..."


"Bersikaplah biasa supaya aku bisa melupakan perlahan-lahan. Ini memang tidak mudah, aku tau, tapi aku tidak bisa menerima tanggung jawabmu, aku tidak mencintaimu Kak," Jawabnya dengan mulai berkaca-kaca.


"Aku tidak mau menikah denganmu!"


Jika saja Willy masih ingat perbincangan dulu tentang El bila diperk**a? Dan jawaban Willy adalah mau tidak mau harus menikah dengannya sekalipun tidak saling mencintai.


Tapi apalah daya perasaan tak bisa dipaksakan, memang manusiawi jika Willy merasa bersalah, namun jangan merasa selalu bersalah, karna ini semua bukan hanya kesalahanmu saja Willy, tetapi dia yang tak ingin menerima niat baikmu.


"Anggap semua tak pernah terjadi Kak, aku akan tetap menjadi adikmu dan kau akan selalu kuanggap Kakak ku, aku tidak akan merubah sikap ku padamu," dengan nada melemah ia berucap kembali.


"Sekarang makan ya Kak nanti kau terlambat kekantor." Willy hanya mengangguk tanpa menjawab nya.


Mereka pun melanjutkan sarapan paginya dengan keheningan ketika pembicaraan itu berakhir. Setelah selesai sarapan Willy pun berpamitan untuk pergi kekantor.


"El, Kakak kekantor dulu," pamitnya pada El.


"Iya Kak, nanti kalo aku pulang dari kampus aku kekantor tidak apa-apa ya?" tanya nya pada Willy.


***


El pun pergi menuju kampusnya kembali. Dia menghirup udara dengan menghempaskannya perlahan-lahan sebelum dia berjalan menuju kelasnya.


"Hai ... Bertemu lagi."


El pun menoleh kebelakang seraya mengerutkan dahinya hingga terlihat guratan dahinya berlipat-lipat dirinya bingung dengan tingkah gadis satu ini, menurutnya gadis ini aneh.


"Kau ... "


"Yaampun saking ngafans nya anda sampai mengikuti saya ke kampus?" ucapnya dengan ketus.


"Heii, Nona cantik apa yang ada diotak anda? Melayangkan pertanyaan nya. "Saya juga kuliah disini lah," Jawabnya dengan mengelak.


"Ohh, maaf lah jika benar begitu!" Meminta maaf karna terlalu ketus padanya. "Siapa kemarin nama anda saya lupa?"


"Siapa?"


"Apa aku?" Gadis itu menunjuk dirinya sendiri dan menoleh kesamping kiri kanan.


"Kau bertele-tele." cercanya dengan berdecak dan pergi menuju kelasnya.


"Eh Nona tunggu." Dia pun berlari mengejar El.


Ketika sampai pintu kelas mereka pun beradu pandang dan El hanya menatap heran dengan gadis itu.

__ADS_1


"Apakah satu kelas? Kebetulan sekali, sepertinya anda anak baru dikelas ini?"


Belum saja Aurelia akan menjawab tetapi tak bisa disampaikan karna dosan sudah datang dan waktunya untuk membahas materi.


***


Setelah beberapa jam berlalu materi pun sudah dibahas, sekarang waktunya untuk pulang. Tetapi tidak dengan El, dia berniat untuk mendatangi kantor Willy.


"Nona." Pangil Aurelia pada El seraya berlari-lari kecil untuk mensejajarkan arah perjalannanya.


"Huh apalagi si mengganggu waktuku saja gadis ini." Mengomel sendiri merasa risih dengan kehadirannya.


"Iya," Jawabnya singkat.


"Apa?!!" Berhenti berjalan dan menatap gadis itu.


Aduh kok aku gugup kayak mau ketemu gebetan. Batin Aurelia berkata.


"Eh anu apa yah." Dia hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal


"Yaampun anda ini mau apa mengganggu saya, saya risih sekali dengan kehadiran anda."


Kenapa to the point sekali bicaranya. Batin Aurelia berkata kembali.


"Tidak apa apa nona, silahkan lanjutkan perjalanan anda, semoga sampai tujuan dengan selamat." Ucapnya dengan memainkan ujung pakaian bawahnya.


"Hanya itu saja?" bukannya menjawab namun pertanyaan pun diajukannya kembali untuk Aurelia.


Aurelia gelagapan dan hanya menganggukan kepalanya, sungguh gadis aneh menurut El. El pun berlalu pergi meninggalkan Aurelia dirasa perbincangannya tidak penting.


Gadis aneh. Gumamnya dalam hati.


El pun melambaikan tangannya untuk memberhentikan taxi dan memasukinya. Ketika didalam mobil El kembali memegangi dadanya, dia teringat kembali dengan kejadian malam yang sudah membuat lemah hidupnya.


Dia menangis sesenggukan dengan menatap potret laki-laki tampan yang selalu memintanya untuk menyebut namanya disetiap sujud dan do'anya.


***


Jika saja aku bisa memilih


Aku tidak ingin semua terjadi


Berikan pernyataan bahwa aku tak pantas


Untuk berada disampingmu


Agar aku bisa berhenti mencintaimu mengharapmu dan menyimpan namamu dihatiku.


(El-Suci Nanda Maharani)


***


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2