Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 71. Perjuangan Antonio


__ADS_3

Antonio masih terdiam didalam kantornya. Pikiran dan hatinya masih tertinggal, didalam rumah Aurelia. Aura bahagia sangat jelas terlihat diwajahnya.


Galih beberapa kali mengetuk pintu, tetapi tidak ada sahutan ataupun tanda-tanda penghuni ruangan akan membuka pintu. Galih yakin bahwa Antonio masih berada didalam. Padahal jam kerja sudah usai.


Galih pun memutuskan untuk masuk kedalam. Ia khawatir terjadi apa-apa pada atasannya itu. Dengan kasar Galih membuka pintu, hingga membuat Antonio terlonjat kaget, sampai Antonio memegang dadanya. Galih memegang tengkuk kepalanya merasa kikuk dihadapan Antonio.


"Maafkan saya tuan, saya lancang," ucap Galih merasa bersalah.


"Kau mau membuat orang terkena serangan jantung?"


"Saya beberapa kali sudah mengetuk pintu. Tapi tuan tetap membisu. Hingga membuat saya berinisiatif untuk mendobrak pintu," sahut Galih membela diri.


'Benarkah, aku pasti melamun. Karena memikirkan ibu dari anakku.' batin Antonio.


"Besok saya tidak akan datang kekantor. Apa tidak apa jika kamu menghandle pekerjaan saya selama satu hari?" tanya Antonio. Galih hanya mengangguk pelan.


'Pasti mau ngapel. Sudah tua begitu juga. Puber kedua ternyata lebih parah. Sampai membuat Presdir senyum-senyum sendiri,' batin Galih.


Ia hanya mampu mengumpat dalam hati. Galih pun berpamitan. Antonio masih tidak bergeming ia sibuk dengan khayalannya, hingga membuat Antonio kembali senyum-senyum sendiri.


***


Didepan pintu, seseorang tengah gelisah. Takut penampilannya kurang sempurna. Ia beberapa kali menggolep rambutnya, sampai-sampai ia membawa kaca untuk melihat penampilannya.


"Sudah ganteng tidak ya?! Takut kurang rapi, nanti dia menolakku," gumam Antonio.


Dari arah belakang datang tiga orang penghuni rumah. Mereka saling mengisyaratkan untuk sampai tidak ketahuan mereka telah datang.


"Mom, itu daddy sedang apa? Tangannya kok megang-megang rambut terus?" tanya Nuri sambil melambaikan tangannya agar Aurelia mensejajarkan tinggi badannya.


Aurelia menahan tawa, "Sedang dandan kayaknya nak," jawab Aurelia.


"Sudah-sudah jangan berisik nanti dia tahu kita datang sayang," sambung Lastri menimpali.


Antonio pun berbalik, 'Oh tidak, aku ditonton. Mau ditaruh dimana mukaku,' batin Antonio.


"Eh... Kalian sudah lama berada disana." Antonio menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Enggak lama dad, cuma mungkin sampai beberapa menit. Aku lihat daddy waktu menggolep rambutnya. Begini-begini." Nuri memperagakn Antonio yang sedang mengangkat tangannya, lalu memegang rambutnya.


"Lucu itu dad." Nuri lalu menghambur kepelukan Antonio.


Antonio memandang Lastri dan Aurelia secara bergantian. Lastri terlihat tersenyum menampilkan deretan giginya. Seolah, ia menjamunya dengan hangat. Sedangkan Aurelia, ia tertawa namun ditahan. Terlihat dari tangannya yang menutupi mulut.

__ADS_1


Antonio bersemu merah, menahan malu. Kenapa harus menggolep segala disaat mau mengetuk pintu. Ia hanya menggeruti didalam hatinya.


Mereka pun masuk kedalam rumah, secara bersamaan. Nuri menggandeng tangan Antonio sampai kedalam. Karena ia ingin mommy dan daddynya bersatu. Nuri pun kebelakang menghampiri sang nenek.


Seperti yang neneknya bilang, bahwa kedua orang tuanya harus mempunyai waktu berdua saja, agar mereka bisa bersama.


'Nuri... Kok kamu tumben tidak berada ditengah-tengah kita sayang,' batin Aurelia.


'Anakku pengertian,' batin Antonio.


Aurelia hanya memperlihatkan prilaku bahwa ia risih Antonio selalu bertamu. Sedangkan Antonio terlihat berbanding terbalik dengan Aurelia.


Dia sudah bertekad, ia sudah digenggaman tentunya harus ia dapatkan.


"Apa sih lihat-lihat," ketus Aurelia.


"Pake, mata," jawab Antonio.


Aurelia hanya memutar bola mata jengah, sedangkan Antonio hanya tersenyum memperlihatkan senyuman indahnya. Disisi lain ia terpesona. Tapi, disisi lain pula ia harus terlihat jual mahal.


Ia tidak mau, kalau sampai mereka bersatu. Tentunya, akan banyak kabar miring pada Aurelia. Ia bersahabat dengan El, mantan istri Antonio.


"Pulang saja tuan, itu lebih baik. Dari pada disini," usir Aurelia secara halus.


"Ini kan masih siang, kalo sudah larut malam baru kamu memberi tahuku."


"Bisa tidak sih... Objek tatapanmu jangan aku. Mau ku colok matamu,"


"Emmm... Eh, kok galak sih,"


Aurelia pun duduk menjauh dari Antonio. Sedangkan Antonio selalu mengikutinya. Alhasil Aurelia gemas padanya, sampai ia melemparkan bantal sofa, agar Antonio tidak lagi mengikutinya.


Antonio tidak kehabisan akal, ia kali ini berpura-pura saja diam dan tidak mengikutinya. Ketika lengah, ia langsung mencekal pergelangan Aurelia. Ia tercengang, lalu menarik tangannya dengan kasar.


"Enggak sopan, pegang-pegang. Ingat sudah tua jangan kayak Abg terus," ejek Aurelia.


Antonio tertawa, "Karena kamu ... Aku jadi merasa seperti masih muda,"


"Sudah tua juga. Usia udah mau kepala empat. Masih merasa muda," gumam Aurelia dan masih terdengar oleh Antonio. Ia juga terlihat seperti ingin muntah, mendengar lontaran Antonio.


"Pulang tidak! Kalo kamu tidak pulang. Aku yang pulang saja," ketus Aurelia.


Ia lantas bergegas berdiri dari duduknya. Dan melangkah pergi. Antonio pun mengejar Aurelia. Ia kemabli memegang pergelangan tangan Aurelia.

__ADS_1


"Baik, kali ini aku akan mengikuti kemauanmu. Untuk pulang, tapi kumohon... Jangan melarangku untuk memperjuangkan kamu," ucap Antonio lirih.


Aurelia menghempaskan kembali tangan Antonio, "Terserah padamu, yang jelas sampai kapanpun aku tidak akan mau bersama kamu lagi. Ingat itu," tegas Aurelia.


***


Siang hari diperjalanan, Antonio sedikit teriris hatinya. Tatapan kebencian dari sang pujaan membuatnya mati rasa, tidak ingin hidup.


Beberapa kali Galih menelpon, Antonio tidak mengangangkatnya, karena ia tengah melamun. Sampai pengendara motor membuatnya tersadar.


"Woii, bawa mobil yang benar. Masih belajar, kok sudah bawa mobil," teriak seseorang pengendara motor.


Bagaimana tidak ditegur, Antonio melajukan mobilnya dengan terseok-seok. Membuat pengendara lain dalam celaka, apalagi dirinya sendiri.


"Astagfirullah." Antonio beristigfar lalu mengusap wajahnya.


Ia pun menoleh kearah samping, dan panggilan itu masih berdering. Antonio lantas mengangkatnya.


📞 "Galih ada apa?" tanya Antonio ketika mengangkat telpon.


"Mmm, anu tuan... Tuan besar ingin bertemu denganmu!"


'Papa El? Ada apa?' batin Antonio.


"Tuan kamu masih mendengarku? Cepat kemari. Kerumah rahasiamu,"


📞 "Iya,"


'Sudah banyak yang mengetahui rumah itu, berarti hidupku akan hancur. Karena, masa lalu kelam akan segera mereka ketahui,' batin Antonio.


Ia lantas melajukan mobilnya begitu cepat. Setelah penolakan Aurelia secara terang-terangan, membuat Antonio semakin down. Apalagi kini tuan besarnya mengajaknya bertemu. Dirumah yang seharusnya orang lain tidak mengetahuinya.


Ia sempat berfikir, dan merutuki diri sendiri. Menyesal karena mempercayakan semuanya pada Galih.


"Selamat datang tuan," sapa Galih.


Galih membungkukan badannya, Galih berada disamping Ananda. Antonio lantas mendudukan bokongnya disofa.


"Kamu bingung, karena saya menyuruh kamu untuk kemari?" tanya Ananda.


"Iya tuan, apa saya melakukan kesalahan?"


"Tidak ada yang salah disini. Yang salah hanya tindakanmu, karna menikahi putriku," seru Ananda.

__ADS_1


"Maafkan saya tuan," ucap Antonio dengan raut wajah terlihat sangat menyesali.


***


__ADS_2