Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 23 Melihatmu Tersenyum Sudah Membuatku Bahagia(Willy)


__ADS_3

Apakah salah mengukir Indah namamu dihatiku?


Apakah salah aku terlalu mencintaimu?


Entah, dan tidak tau daya tarikmu membuatku mencintaimu setengah mati.


Aku tidak apa-apa jika kamu tidak bisa membalas perasaanku.


Tapi sedikit saja hargai perasaanku.


Aku terlalu mencintaimu.


***


"El,"


El pun menoleh, dengan bersorak dia bertepuk tangan. "Ah, kakak ayo sini, aku sudah tidak sabar." pinta El, pada Willy.


Itu benar nona? yaampun seperti anak kecil yang dihadiahi sebuah mainan yang diinginkannya. Tapi tingkahnya imut sekali. Batin Putri yang masih mengintip.


Willy pun dengan refleks mengambilkan piring beserta sendoknya untuk El.


Lucu sekali kamu El, andai aku yang menjadi suamimu. Batin Willy lirih.


"Enak loh kak, sini cobain dong. Aku suapi ya?"


"Tidak usah, kakak juga membeli 2 porsi supaya tidak memakan jatahmu,"


"Oh, baiklah," jawab El dengan menyuapkan nasi goreng kemulutnya.


"El kamu sedang mengidam?" tanya Willy dengan polos.


"Uhuk... uhuk..., " El tersedak ketika mendapat pertanyaan Willy.


Ikatan batin seorang ayah pada anaknya sangat kuat. Batin El.


Willy pun dengan sigap memberikan air minum, dan menepuk-nepuk pundak El.


"Sudah mendingan?"


"Sudah, kak aku langsung tidur ya? selamat malam. Selamat tidur ya kak." pamitnya dengan berlalu pergi meninggalkan ruang makan.


Willy hanya mampu menatap punggung itu hingga tak terlihat lagi dipandangannya.


Melihatmu tersenyum sudah membuatku bahagia. Batin Willy dengan memegangi dadanya.


Seketika langsung satu halisnya terangkat, mendapati penelpon yang tertera Sastra Saputra. Dirinya hanya menatap layar ponselnya dengan bola mata jengah.


📞"Apa?" tanya Willy dengan ketus.


📞"Ampun, sudah terdengar seperti sedang marah Bambang," kelakar sastra dengan diiringi candaan.


📞"Lo sama si Etu sama-sama gila," umpat Willy pada Sastra.


📞"Kapan kita akan bertemu?" tanya Sastra pada Willy.


📞"Gue masih normal," jawab Willy ketus.


📞"Idih, lo kira gue gak normal? masa iya pedang ngadu pedang," protes Sastra.


📞"Bagaimana kalau sekarang saja Will, kata si Etu kamu mau menghajar gue? gue mau masalah antara kita secepatnya berakhir," saran Sastra pada Willy.


📞"Besok saja pulang dari kantor." jawab Willy enteng dan memutuskan sepihak panggilan itu.


Disebrang sana Sastra pasti akan mengumpat habis-habisan, saat panggilannya selalu diputus sepihak, tapi dia hanya bisa mengelus dada karna Willy adalah sosok yang Setia kawan.

__ADS_1


Meski kadang Willy selalu memerintah dan kadang ketus, jahat namun Sastra tetap menyayangi sahabatnya.


3 laki-laki bersahabat sedari mereka kecil, mereka sudah mengenal karakter masing-masing.


Willy pun membereskan sisa makanan yang telah mereka makan, setelah membereskan Willy pun naik keatas kembali menuju kamar.


"Aduh pegal menunggu mereka, sampai-sampai aku jadi detektif amatir seperti ini," gumamnya lalu berlalu pergi menuju kamarnya kembali.


â›…â›…â›…


Malam telah berlalu, pagi hari menyambut, burung-burung seakan berbahagia dengan suara siulannya. seisi bumi telah membuka mata untuk menjalani kembali rutinitas.


Rutinitas untuk bekerja kembali, setelah hari weekend dilalui.


"K-kau sudah menikah? aku senang melihatnya. Namun aku juga merasa sedikit sakit diarah sini." Dengan Aurelia menunjuk dadanya.


"Memang cocok kamu bersanding dengan nona yang cantik itu," gumamnya dengan mulai menjatuhkan air matanya.


Seketika itu pula tangan kecil mungil itu mengusap lembut pipi Aurelia.


"Kenapa menangis? Bunda sedih ya tidak punya teman?" tanyanya dengan suara has anak kecil, dan mulai duduk dipangkuan Aurelia.


"Tidak sayang, bunda tidak kesepian. Ada kamu dihidup bunda," Jawab Aurelia dengan tatapan teduh.


Tingg


Tanda pesan masuk keponsel Aurelia.


💬"Sudah kau baca semuanya? saya ingin anda lebih extra lagi menjaga nona muda saya, dia tengah mengandung."


Seketika dadanya berdesir, detakan jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya, hatinya meronta ingin keluar. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa sesak didadanya.


Dia menangis sejadi-jadinya, memeluk tubuh kecil yang berada di pangkuannya. Setelah mengeluarkan kesedihannya dengan menangis, diapun bergegas untuk kekampus.


"Halo nona El," sapanya dengan ramah.


"Sekarang kita bersahabat yah? sudah kesepakatan kita, untuk membalas jasaku yang sudah menyelamatkanmu nona,"


"Ya, ya, ya kau sekarang menjadi sahabatku." El pun mengangkat jari kelingkingnya, dan dibalas dengan Aurelia menyatukan kelingkingnya.


Setelah kesepakatan disetujui El dan Aurelia pun berjalan menuju kelas.


Setelah kelas berakhir El pun berjalan berdampingan kembali, dengan candaan-candaan yang mereka lontarkan.


"Kamu tidak buruk juga menjadi sahabatku," lontarnya dengan tersenyum.


"Aku akan mendengarkan apapun untuk keluh kesah mu, aku akan menjadi pendengarmu. Tenang saja," balas Aurelia.


"Apa mau pulang bersama?" tanya El pada Putri, sebelum Putri menjawab El sudah melontarkan kembali perkataanya.


"Tapi aku mau Aurelia, aku mau bermain kerumahmu," rengeknya dengan menangkupkan kedua tangannya.


"Ayo baiklah," jawab Putri dengan tersenyum.


Setelah beberapa menit akhirnya sampai di kediaman Putri, kontrakan yang sangat sederhana dengan satu baby sitter untuk mengurus putri Aurelia.


"Dia putrimu?" tunjuk El pada anak kecil yang sedang berlari mendekat kearahnya.


"Yaampun, kau sudah bersuami rupanya, aku bisa belajar banyak darimu,"


"Suamiku sudah meninggal nona," sahutnya dengan tertunduk dengan sejuta kesedihan menghantam hatinya.


"Maafkan aku Reli." lontar El dengan merangkul Reli.


"Mommy," panggil gadis kecil itu.

__ADS_1


"Eh, sayang ... "


"Sudah makan sama bibi?" tanya Reli pada putrinya.


Gadis kecil itu mengangguk namun arah pandangannya menatap El yang berada disamping mommynya.


"Aunty?" panggilnya dengan tatapan antusias.


"Apa sayang?" membungkukan badannya lalu mengelus pipinya.


Gadis kecil itu mengangguk, "Aunty mau main sama aku?" tanyanya lagi sambil memainkan jemari El.


"Boleh ayo sayang." ajak El pada gadis kecil itu.


Dengan berlari kecil, tertawa riang. Gadis kecil itu menarik tangan El. "Ah, sayang, jangan berlari-lari aunty sedang mengandung dedek bayi," rengeknya dengan menggoda gadis kecil itu.


Langkahnya pun terhenti, dan mulai menggeser tubuhnya menghadap El.


"Aunty disini ada dedek bayi?" tanyanga dengan menunjuk telunjuknya ke perut El.


Entah apa yang berada dipikiran gadis kecil polos itu, yang ada didalam otak kecilnya hanya ingin dekat dekat aunty yang baru satu kali bertemu dengannya.


Mungkin karna El bersifat baik atau keibuan? hanya gadis kecil itu yang tau.


Aurelia hanya tersenyum kearah dua perempuan yang berarti untuknya.


Gadis itu menatap intens kearah Aurelia, Aurelia hanya menganggukan kepalanya untuk membenarkan lontaran El.


"Sayang, berkenalan dulu sama aunty nya ya? kan belum tau namanya, sudah dibawa lari-lari diajak bermain," sarannya pada putri kecilnya.


Dengan mengulurkan tangannya, "Aunty, namaku El-Nuri Nugraha,"


"Wah namamu, hampir mirip dengan aunty," jawabnya dengan gemas pada gadis kecilnya.


"El-Suci Nanda Marahani, itu nama aunty,"


"Panggilan kita sama aunty," jawabnya dengan mengembungkan pipinya.


"Sayang aunty makin gemas sih sama kamu, sini dedek bayi nya pengen dielus." rengek El pada gadis kecilnya.


"Aunty, apa dedek bayinya punya dady?" tanya El kecil dengan polos masih mengelus perut El.


El hanya menatap sendu gadis kecil dihadapannya, seketika itu pula dia langsung refleks menarik tangan El kecil untuk direngkuhnya.


Dia kecupi pucuk kepala gadis kecil itu berkali-kali, terlihat pangkal bahunya bergetar. Mengisyaratkan bahwa gadis kecil itu tengah menahan tangis.


"Aunty a-aku tidak punya daddy, daddy ku tertidur ditanah, dan semua orang menguburnya aunty," mengadu pada El dengan terisak.


"Sayang," panggil El, namun belum melanjutkan lontarannya gadis kecil itu berseru kembali.


"Aunty... "


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2