
Kini Antonio telah sehat kembali. Dia dibantu oleh sahabat nya El. El pun sesekali merawat suamiya disaat dia tengah sibuk karna menghandle pekerjaan Antonio.
Kesehatan Antonio semakin membaik, keluarga El beserta paman pun mengintrogasi Antonio. Antonio nampak terlihat gugup. Gurat wajahnya mengisyaratkan penyesalan.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya telah mengetahui. Kecuali Mama Ima. Yang bisa Antonio lakukan adalah pasrah, menghadapi semua kenyataan. Bahwa semua orang telah mengetahui masa lalu kehidupannya. Bersiaplah untuk menerima semua umpatan dari mereka atau bahkan pukulan atas dasar ketidak relaan, atas perlakuannya yang sangat tidak pantas dilakukan.
"Ini teh ada apa? Tumben ngumpul?" Ucap Ima.
Ternyata Ima yang membuka percakapan. Ima pun meletakan teh untuk mereka. Kedua paruh baya itu nampak masih santai menanggapi. Tidak ada gurat wajah yang melukiskan kebencian.
Setelah Ima meletakkan teh nya, ia pun duduk disamping Ananda.
"Bagaimana pah?" Ucap Ima mengusap pundak Ananda dengan lembut.
Ima menghembus nafas secara perlahan. Dia gemas pada suami-nya karna diacuhkan. Ima pun beranjak dari duduk nya dan berlalu pergi.
Papa Ananda pun meletakkan posnsel nya. Dia sengaja tidak merespon istrinya. Dan bersikap seolah tidak apa-apa namun nyata nya dia sedang menahan emosi kepada Antonio. Yang dengan sadarnya telah melukai anak semata wayang nya.
Imam hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi. Dia tidak membantu sang keponakan. Dia juga teramat kecewa terhadap Antonio kenapa dengan tega nya dia berbuat demikian?
"Kenapa harus menikahi anakku jika kamu tidak menaruh hati pada dirinya?" Ananda.
"Kau pikir dengan memberikan perhatian pada wanita lain dibelakang istrimu, perlakuan mu itu sudah dikategorikan benar?"
"Memang kau pikir anakku tidak mempunyai hati? Hah! Sampai hati kau tega melukainya?!" Ucap Ananda mulai berapi-api.
"Mau menjaga nya karna berhutang budi pada keluarga ku? Kau tidak perlu menikahi! Tapi menyakitinya! Kau tidak perlu merasa bersalah karna cucu ku bukan darah daging mu!" Ucap Ananda dengan rahang mengeras.
Seketika Antonio lemas, seakan tulang nya terlepas dari badannya. Imam pun tak kalah terkejut dengan lontaran Ananda. Apakah Ananda mengetahui semuanya? Pikiran kedua nya berkecamuk, bercampur antara tidak enak hati dan mengerti derajat mereka berbeda.
Imam pun langsung beringsut dan bersujud dikaki Ananda. Ananda langsung mengangkat tubuh itu untuk berdiri. Ketiga nya masih bergeming. Untuk sesaat ketiga nya terduduk dimasing-masing kursinya.
"Aku... Tidak tahu apa yang harus aku katakan untuk membuat dirimu memaafkan aku tuan Ananda," ucap Imam, membuka keheningan suasana yang ada.
"Hey, apa-apaan maksudmu? Kau banyak membantu ku, tentu saja aku tidak menyalahkanmu! Yang bermasalah adalah anak-anak kita. Kita tidak akan bermusuhan hanya karna anak-anak, jangan pernah dilakukan hal seperti tadi, apa tadi memanggil dengan embel-embel tuan?! Yaalloh... Kita bersahabat sudah puluhan tahun." Jawab Ananda.
Ananda langsung mendekati Imam, dia merasaakn apa yang Imam rasakan. Dia tidak ingin persahabatan nya merenggang karna cinta segitiga yang dialami anak-anaknya.
__ADS_1
Setelah melepaskan pelukannya Ananda pun duduk kembali ketempat nya.
"Maafkan aku tuan Ananda," lontar Antonio dengan tertunduk setelah melontarkan nya.
"Ya, aku akan memaafkan mu. Tetapi dengan syarat tentunya." Ananda.
***
Kini El dan Willy telah berada dirumah ketika keduanya sudah pulang dari kantor. Waktu yang cukup panjang membuat El semakin tegar dengan pernikahannya.
El melangkahkan kakinya memasuki kamar, kamar yang penuh dengan kenangan pahit. Jalan takdir tidak sesuai dengan harapannya. Dia termenung memikirkan pernikahannya. Benar kah jalan yang sedang dia pilih?
Atau apakah dia harus tetap bertahan sampai Antonio bisa menerima nya didalam kehidupannya? Apakah bisa Antonio mencintainya?
"Ahhhhhh,"
El berteriak didalam kamarnya. Lagi-lagi dia harus merasakan sakit. Dia menelangkupkan kedua tangannya diwajah. Banyak sekali beban yang dipikulnya.
Ceklek.
Teriak Alwi memasuki kamar El, dia berlari ketika dia tahu bahwa mommy telah pulang. Rindu... Itulah yang dirasakan Alwi. Ketika nenek-kakeknya tinggal serumah dengannya namun harus berpisah dengan mommy tersayangnya.
Dia bingung dengan keadaan mommy-nya. Sebab apakah membuat sang mommy berteriak? Dan kenapa mommy nya seperti begitu tersakiti. Pikiran anak seusinya sungguh sangat luar biasa. Mungkin karna dia begitu menyayanginya.
Dia berjalan perlahan ketika tidak mendapat sahutan, padahal dia berteriak ketika membuka pintu. Tapi ... Sang mommy nampaknya tidak menyadari keberadaan putra tampannya.
Alwi terlihat begitu murung ketika mendengar mommy-nya menangis. Dia pun semakin mempercepat laju lengkahnya kearah El. Ketika dia sudah didekat mommy-nya.
"Mengapa ini terjadi? Haruskah aku tersakiti terus dan menerus? Ini tidak adil!"
El menangis dengan keadaan masih menelengkupkan tangannya diwajah. Dia masih tidak menyadari. Beberapa saat Alwi mematung ditempatnya. Entah apa yang anak kecil itu pikirkan. Dia pun membelai pucuk kepala sang mommy.
Mommy nya sedang duduk ditepian ranjang. Alwi pun naik keatas sana. Tapi El masih tidak menyadari. Apakah sebegitu tidak penting kah disekelilingnya? Sampai-sampai teriakan anak tampannya tidak dia sadari.
El melepaskan tangannya diwajah. Dia menoleh, dengan linangan air mata.
"Mommy, nangis? Siapa yang menyakiti mommy? Aku akan melawannya!"
__ADS_1
Alwi merasa benci kepada orang yang telah menyakiti hati mommy-nya. Dia pun mengusap air mata sang mommy. El semakin terisak. Sedih, haru, bahagia bersatu dalam hatinya.
Bahagia karna sudah melahirkan sosok anak laki-laki yang sudah sangat peduli padanya.
"Mommy hanya leleh bekerja sayang,"
El hanya menjawab nya dengan asal. Tidak mungkin dia mengadu pada putra kecilnya bahwa dia tersakiti oleh daddy-nya. Dia juga tidak akan mengerti dengan masalah orang dewasanya.
"Benarkah mom?"
Alwi pun beringsut turun dari ranjang. Dan berlalu keluar tanpa berpamitan. El tak menghiraukan. Setelah beberapa menit berlalu Alwi membawa Ananda untuk memasuki kamar El.
El menautkan halisnya. Apalagi Ananda dia bingung, ada apa gerangan sang cucu menariknya dan membawa nya kekamar El. Tanpa melontarkan apapun.
Setelah sampai dihadapan El. Alwi bersidekap dengan gaya cool anak seusinya. El dan Ananda saling beradu pandang, keduanya geleng-geleng kepala karna tidak mengetahui apa yang akan dilakukan Alwi.
"Kakek, harus minta maaf sama mommy-ku!"
Alwi memerintah kepada kakeknya? What anak ini sungguh menggemaskan. Ingin rasanya Ananda menggulingkan Alwi keranjang dang menggelitik perutnya.
Ananda berjongkok untuk mensejajarkan tinggi badan cucunya.
"Kenap kakek harus meminta maaf? Kakek salah apa nak?"
"Kakek jahat sama mommy-ku, kakek membuat mommy menangis. Ayo kek, kakek harus minta maaf."
Alwi menarik tangan Ananda agar dia meminta maaf, Ananda pun mengamati keadaan sang anak, lama dia berspekulasi akhirnya dia pun menyadari kesedihan sang anak.
Dengan menggendong Alwi, dan memeluk El. Nyeri yang tersemat dihatinya semakin dalam. Seakan terasa ribuan jarum yang menusuk nya.
Alwi pun diturunkan disamping El, El berkaca-kaca sampai butiran air matanya mengenai Alwi. Alwi langsung duduk dipangkuan El dan memeluk mommy dengan erat.
"Sayang...,"
Ucap Ananda dengan membelai pucuk kepala El yang kini tengah terisak. Merasakan nyeri.
***
__ADS_1