
"Hah?! Siapa pah?" tanya El antusias.
"Siapa lagi papanya Alwi. Ya Willy lah," jawab Ananda dan berlalu pergi dari hadapan El.
El bersemu merah, pipinya memerah bagai tomat busuk. Hmm, dia tidak menyadari cinta sudah mulai tumbuh didasar hatinya. Ia masih menyanggah kata nyaman yang sudah terbangun kokoh.
Kebersamaan mereka membuatnya semakin yakin bahwa lelaki itu mampu menjadi ayah seutuhnya. Sang ayah kandung. Yang seharusnya mereka memang harus bersama.
Alwi sudah membereskan tugasnya, ia pun keluar kamar dan mencari sosok sang mommy. Tanpa berjalan lama ia sudah menemukan orang yang ia cari, yaitu berada dihadapan pintu kamarnya.
Alwi dengan isengnya menelpon Willy dengan video call. Ia juga meminta Willy agar tidak berisik dan lihat saja dihadapan kamera yang akan Alwi arahkan. Willy hanya tersenyum sendiri melihat sosok El.
Setelah Alwi merasa kantuk menyerang ia pun menyudahinya. Ia juga tidak lupa salam dan berpamitan pada Willy. Ia pun tertidur. Ima teringat pada Alwi ia langsung masuk kedalam kamar dan mendapati Alwi sudah tertidur.
"Selamat tidur jagoan, jangan lupa gosok gigi sama cuci kaki,"
Isi pesan yang sudah terbuka. Ia yakin Alwi sudah mematuhi perintah Willy. Ia juga sudah tertidur pulas. Selama itukah El melamun. Sampai Alwi sudah tertidur seorang diri. Dengan langkah perlahan El keluar kamar.
Ia terkejut tatkala Ima sudah berada dibelakangnya. El terlonjat, sampai ia memegangi dadanya. Ima hanya cengengesan menutup mulutnya. Ima menuntun El untuk kebawah.
Kini mereka berdua sudah berada diruang keluarga, "Ada apa mah?" Tanya El.
"Mama sudah putuskan, kamu akan menikah dengan Galih," seloroh mama Ima.
"Mah, pikirkan lagi. Mama hanya mengambil keputusan disaat mama sedang emosi saja." Lontar El.
"Ini bicara dengan kamu keadaan mama sudah dingin," sahut mama Ima.
"El, pergi saja ke kamarmu. Jangan dengarkan mamamu," sambung papa Ananda.
"Apaan sih kamu pah, gak jelas datang-datang ngomomg begitu."
El mematuhi ucapan sang papa, ia lantas bergegas pergi dari hadapan keduanya. Biarlah perdebatan mereka saja yang lakukan. El tidak mau pusing memikirkannya.
***
Sudah mau delapan tahun hubungan yang ia jalani. Ia juga sudah mematuhi setiap sang kekasih meminta hal konyol pada dirinya. Misalnya dengan bekerja diperusahaan Willy. Itu semua bukan keinginanya.
__ADS_1
Wanita itu terus saja menangis tiada henti-hentinya. Dikala tadi ia mendengar bahwa Willy dan El telah dibatalkan perjodohannya. Ia sempat kekantor sesaat setelah mengetahui ia tidak jadi menemui Galih.
Sudah banyak tisu yang berserakan didalam kamarnya. Dan setumpuk camilan untuk menemani kegalauannya. Sayup-sayup ia mendengar ponselnya berbunyi, tetapi ia tidak menghiraukannya. Ia masih sibuk dengan tangisannya. Setelah puluhan kali akhirnya ia pun mengangkatnya,
📞 "Kenapa chat dariku tidak dibalas? Dan kenapa ini telponku sudah puluhan kali namun kamu baru mengangkatnya hmm," cerca seseorang diseberang sana.
"Sudah lah tidak usah menghubungiku lagi, urus saja pertunanganmu dengan nona El," jawabnya ketus.
"Kamu dengarkan aku, aku bisa jelaskan semuanya. Kamu yang sabar ya, ini ujian cinta kita. Tuan Ananda tidak setuju dengan usul nyonya,"
"Aku tidak perduli." Dengan mengelap ingus karena tiada hentinya air matanya mengalir.
📞 "Kamu pasti sedang nangis ya? Aku kirim camilan keapartment mu ok. Tunggu aku."
Telpon dimatikan. Setelah nyonya Ima tidak merestui keduanya, ia berpamitan akan tinggal kembali diapartment miliknya. Baru saja angan-angannya tinggi berkhayal kini sudah harus patah berkeping-keping.
Tanpa menunggu dibuka, Galih sudah dapat masuk kedalam. Karena ia tahu kode apartment sang kekasih. Dengan menenteng banyak camilan ia membuka pintu kamar. Dilihatnya sangat berantakan.
Dengan menghembus napas kasar, Galih membersihkannya. Wanita itu membuka setiap kantong keresek yang dibawa Galih. Ia langsung menyambar Pop Mie goreng pedas gledek. Setelah ia menyeduhnya dengan rakus ia memakannya.
"Mau ditambahin nasi enggak?" saran Galih.
"Boleh,"
Galih dengan semangat langsung membawakan dan menghidangakannya.
"Selamat makan, semoga marahmu udahan," lontar Galih.
Wanita itu pun teringat. Dengan tatapan tajam setajam silet ia langsung menyuruh Galih untuk keluar dari apartment nya.
"Pergi!!! Aku sedang marah padamu,"
***
Mama Ima terus saja memaksa El untuk bertunangan dengan Galih. Ananda tidak kalah diam, dia diam-diam mengungsikan El kekampung Aurelia.
Ananda juga sudah meminta izin pada bu Lastri. Tanggapan bu Lastri pun dengan hangat menyambut kedatangan El dan Alwi. Alwi juga senang, akhirnya dia bisa bermain kembali dengan Nuri.
__ADS_1
Ima tidak henti-hentinya memberikan penolakan atas keinginan Ananda yang tetap ingin menjodohkan El. Dia sudah tidak mau lagi melihat Willy apalagi jika dia menjadi menantunya. Entah akan seperti apa lagi kemarahan Ima.
"Aku sudah bilang aku hanya ingin El dan Galih menikah. Kamu dengar itu pah," ketus Ima.
"Enggak mah, papa enggak setuju. El tetap harus menikah dengan Willy."
"Aku ... TIDAK MAU DIA JADI MENANTUKU,"Â hardik Ima
"Ya Alloh MAMA." suara Ananda tidak kalah meninggi dari Ima.
Ima sampai berembun kelopak matanya. Hatinya sedikit merasa tercubit. Atas meningginya suara sang suami. Namun Ima tidak patah semangat ia terus saja dengan pendiriannya. Menjodohkan El dan Galih. Ia juga belum menyadari kalau anak dan cucunya telah pergi dari sore hari.
Ima pun tidak menjawab lagi lontaran Ananda, ia langsung kekamar El untuk tetap memaksanya. Setelah berkeliling didalam kamar namun ia tidak menemukan. Ia langsung kembali lagi ke hadapan Ananda.
"Sembunyikan dimana El sama kamu pah?" tanya Ima ia sudah ngos-ngosan merasa dipermainkan.
"Ya enggak tahu lah, kenapa mama nanya sama papa?! Tanya saja sama hati mama. El nya mau enggak? Kalo mau dia juga tidak akan sampai hati meninggalkan mamah," ucap Ananda.
"Mama tahu papa sembunyikan,"
"Enggak mah," sahut Ananda.
"Ya sudah mama mau cari El," jawba Ima.
"Semua pasilitas mama sudah papa bekukan. Papa tidak suka punya istri pembangkang seperti mama!"
Langkah Ima terhenti. Ia tidak menyangka sejauh ini Ananda akan menghukumnya. Meskipun ia tahu keputusan sang suami pasti sudah ia perhitungkan matang-matang sebelum ia diskusikan.
Tetapi cukuplah dulu ia mengiyakan semua ucapan suaminya. Kali ini ia juga pantas untuk mengutarakan pendapatnya. Andai saja dulu suaminya tidak memilih bersembunyi tentu saja kejadian ini tidak akan terjadi pada El.
Buktinya sampai saat ini perusahaan itu masih digenggamannya. Tanpa ia ketahui kalau bukan campur tangan dari keluarga Imam. Semua itu tidak akan masih bertahan ditangan Ananda.
Dengan mudah almarhum akan memaksa El untuk menandatangani pengalihan harta. Untung saja Antonio dan Willy selalu siaga menjaga El. Meskipun pernah 3 kali kecolongan.
Ima berbalik dan menatap Ananda, ia juga menatap dengan tatapan tajam. Terpancar kekecewaan disorot mata teduhnya. Tapi apa boleh buat Ananda terpaksa melakukannya.
"Mama tidak pernah membenci papa,"
__ADS_1
***