Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 96. Mencari tahu perasaan El.


__ADS_3

Hembusan angin malam hari menambah dingin pada tubuh El. Sedingin dulu, seperti pernikahannya tanpa kehangatan. Malam-malam memang waktu yang paling pas untuk melihat keindahan dimalam hari. Kegelapan yang menyimpan sejuta pesona keindahan.


Dengan ditemani secangkir kopi, "Terpesona, aku terpesona,"


El bernyanyi dengan penuh kegembiraan. Tentu saja ia tengah mengingat Willy. Pengorbanannya selama ini demi Alwi dan mungkin juga untuk memperjuangkan dirinya.


Willy keluar kamar, untuk mencari makanan. Tidak biasanya ia lapar tengah malam begini. Ia berjalan untuk menuju kamar pak kebun. Tetapi sebelum sampai ia berhenti dan mengamati seseorang yang tengah bersantai di dinginnya malam hari ini.


"Kita memang berjodoh El," gumam Willy. Ia pun berjalan menghampiri El.


"Sudah malam, nanti masuk angin calon istri," ucap Willy. Ia pun mendudukan bokongnya untuk menemani El.


Bluss....  Pipi putih mulus itu berubah warna menjadi memerah karena gombalan Willy. El menyesap kopi yang ia pegang, supaya rona wajahnya tidak terlihat oleh Willy.


"Mau ikut tidak El?  Tanya Willy.


"Kemana kak?"


"Mencari sesuatu untuk mengganjal perut. Atau mau kakak ajak kepelaminan?" tanya Willy. Dan berhasil membuat El salah tingkah.


"Sabar ya, aku sedang memperjuangkanmu. Menunggu untuk direstui mama mu," lontar Willy.


Lama Willy menunggu jawaban, "Mau ikut tidak El?" tanya Willy lagi.


Willy menatap El dengan sabar dan menunggu jawaban. Tetapi El masih tak bergeming, ternyata ia terhanyut dalam lamunan. Karena lama menunggu namun tak kunjung mendapat jawaban akhirnya Willy berdiri dan akan berjalan.


Tetapi dengan reflesks El memegangi tangan Willy, "Tadi ngajakin, tapi malah ditinggalin," sahut El. Ketika ia sadar akan pergerakan Willy.


"Kamu nya lama berpikir El, malah melamun,"


"Eh maaf kak," lontar El ketika ia sadar memegangi tangan Willy.


"Jadi ikut enggak, kakak sudah lapar banget El,"


"Eh, iya ayok kak,"


***


Kini Willy sudah membeli beberapa makanan ringan kesukaan para pelayan dirumah El. Setelah ia tinggal di sana pelayan El selalu mensupportnya. Karena mereka setuju jika Willy dan El bersatu.


"Kok banyak banget kak, untuk siapa?" tanya El.


"Untuk mereka." jawab Willy ia pun menyimpannya dibelakang mobil.


"El," panggil Willy.

__ADS_1


"Hmmm,"


"Tunggu kakak, yah. Secepatnya kakak akan menikahimu. Untuk malam ini kakak akan memberitahu mu tentang perasaan kakak selama ini,"


Willy menepikan mobilnya dan memesan dua porsi nasi goreng langganannya.


"Berapa porsi mas?" tanya abang nasi goreng.


"Dua porsi saja dibungkus bang," jawab Willy.


"Tumben dua, udah nikah nih si masnya." canda abang nasi goreng


"Baru calon bang, do'akan saja,"


Abang nasi goreng mengaamiinkan. Willy pun memberikan satu lembar uang pecahan lima puluh ribu untuk pembayaran. Seperti biasa Willy akan memberikan kembaliannya. Ia pun masuk kedalam mobil disaat pesanannya sudah matang.


Di sepanjang perjalanan pulang Willy hanya menatap El dengan ekor matanya. Willy selalu menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Ingin rasanya dia bisa secepatnya membina rumah tangga dengan wanita pujaannya.


"El, maaf. Tolong bantu kakak," pinta Willy.


Dengan senang hati El membantu. Namun ia hanya bisa membawa satu keresek saja. Diketuknya satu persatu kamar pelayan dan diberikan keresek satu persatu. Setelah selesai merekapun kembali duduk dan menyantap makanan yang tadi mereka beli.


El pun membawa piring serta minumnya, untuk dirinya dan juga Willy.


"Dalam rangka apa berbagi kak?" tanya El. Dengan mendudukan bokongnya dan menyimpan beberapa barang yang ia bawa dari dapur.


El pun menggeleng, "Bukan begitu maksud El kak,"


"Untuk beberapa hari kedepan kakak menginap dikantor El,"


"Beritahu jagoanku ya. Kalau aku melihatnya merengek sudah dipastikan aku tidak akan berkonsentrasi bekerja,"


'Kok tumben harus menginap dikantor segala sih,' batin El.


Ada rasa curiga menyelimuti hati El. Kenapa Willy sampai menginap dikantor segala. Pikiran El berkecamuk, ingin bertanya tapi gengsi. Tidak ditanyakan kegelisahan menyelimuti dirinya.


Harus apa supaya El dapat tahu alasan yang akurat. Dan kegelisahannya sirna. El melamun lagi, tatapan kosong karena memikirkan apa yang sebenarnya akan Willy lakukan.


Willy sudah menghabiskan makanannya, ditengoknya El yang masih memandang dirinya namun dengan tatapan kosong, Willy melihat nasi gorengnya masih penuh belum terkunyah oleh El.


Willy hanya mengernyit, apa yang membuat El sampai melamun dan menatap dirinya. Willy sudah beberapa kali mengibaskan tangannya diwajah El namun El masih saja belum tersadar, setelah lama akhirnya pun Willy menyentuh bahu El.


El terkesiap dan langsung tersadar dari lamunan. Ditatapnya tangan Willy yang menggantung memegang bahunya. Lalu ia menatap Willy dengan menghiba.


"Kenapa?" tanya Willy, ia sedikit heran dengan tatapan El.

__ADS_1


"Apanya," jawab El.


"Sudah makan dulu saja," saran Willy.


El pun membuka bungkusan itu dan menyantapnya dengan lahap. 


"Bolehkah kakak bertanya?" tanya Willy. Matanya masih menatap langit yang saat ini bertebaran Bintang. Indah seindah seorang perempuan yang berada disampingnya.


El hanya menganggukan kepala tanpa menoleh pada Willy. Lidahnya masih merasakan masakan enak nasi goreng itu.


"Sebelumnya maafkan atas kesalahan kakak yang telah membuatmu hancur. Kakak sudah berusaha untuk mempertanggung jawabkan kesalahan itu. Tapi kamu menlolaknya mentah-mentah,"


"Jadi untuk saat ini kakak mohon untuk kamu menerima. Jangan beralasan lagi bahwa kamu tidak mencintai kakak. Apa setelah lama kita bersama-sama kamu belum menyukai kakak angkatmu ini?"


"Uhukk... Uhukk...,"


'Yaaloh, aku harus jawab apa. Aku sendiri masih bingung dengan perasaanku sendiri,' batin El.


Willy langsung memberikan air minum untuk El. Ia juga menepuk-nepuk punggung El. El masih tidak menjawab ia lebih memilih menghabiskan makanannya.


El kini sedang bingung merangkai kata dan merasakan perasaannya saat ini. Walau sebenarnya mungkin rasa itu telah tumbuh namun El masih belum bisa menerimanya. Setelah menghabiskan makanannya sampai tandas.


"Emm, aku belum tahu kak. Rasanya aku masih mati rasa," ungkap El.


'Yeelah ini mulut kenapa enggak jujur sih. Rasa selain sebagai kakak angkat ini sudah tidak biasa,' batin El.


"Ya sudah tidak apa-apa, tapi jika mama mu sudah merestui. Tolong jangan menolaknya lagi," pinta Willy. El mengangguk menatap manik mata Willy.


Willy melihat sorot mata El, ada rasa cintakah dihatinya untuk Willy. Apakah juga tanda anggukan itu sebuah isyarat bahwa dia juga sudah memendam perasaan untuk dirinya.


Willy pun balas dengan senyuman pada El. Raut wajah tampannya semakin membuat El terpesona.


'Apakah dia sudah mencintaiku? Jujur lah El. Agar usahaku tidak sia-sia mengejar dirimu,' batin Willy.


"Kakak, masuk duluan yah El," pamit Willy.


El menganggukan kepala, ia menatap Willy sampai Willy masuk kedalam kamarnya. Setelah Willy masuk suara dari arah belakang mengagetkannya.


"El, sedang apa kamu nak malam-malam begini diluar?" tanya Ima yang berjalan menuju El.


Dengan secepat kilat El menyambar piring serta gelas bekas Willy. Ia takut mamanya akan mengomel kembali kala ia tahu kalau ia telah keluar bersama Willy.


"Cari angin mah," jawab El. Mencoba untuk bersikap biasa-biasa.


"Awas kalau kamu ketemuan sama lelaki itu, apalagi jaraknya dekat dari sini,"

__ADS_1


***


__ADS_2