Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 37 Pemandangan Menjijikan.


__ADS_3

Selamat membaca🌷


Semoga selalu menunggu cerita ambyarku ini.


***


"Apa hadiahku mommy?" tanya Alwi memeluk leher mommy-nya.


El pun melepaskan gelayutan tangan Alwi dari lehernya. Dan menurunkan Alwi perlahan-lahan. El pun membawa tatapan Alwi untuk melihat sosok gadis yang selalu dipanggilnya kakak.


Seketika Alwi berbinar-binar. Dengan bersorak dia berlari menghampiri El-Nuri.


"Kak Nulli.... "


El-Nuri pun tersenyum kearah Alwi dan mengelus pucuk kepala Alwi. "Aku akan tinggal dirumahmu tuan Alwi." Alwi semakin kegirangan mendengar lontaran El-Nuri.


***


Waktu cepat berlalu dan kini Aurelia dan anak gadisnya sudah 2bulan tinggal dirumah kediaman Nugraha. Tidak ada yang aneh selama ini, El selalu mengawasi mereka.


Selama beberapa minggu dia menyelidiki. Ketika tatapan keduanya saling memandang dan mengunci. Tatapan keduanya mengisyaratkan adanya kerinduan terpendam yang amat keduanya simpan rapat-rapat.


Itulah yang bisa El simpulkan untuk kedua orang dihadapannya.


"Ehemm," dehemen El membuyarkan tatapan keduanya.


Keduanya pun gelagapan karna tertangkap basah sedang saling mencuri pandang.


"Apa mas Tino tidak kekantor?" tanya El sudah mulai jengah dengan pemandangan didepan matanya.


Mereka kini tengah dihalaman belakang. Niat Antonio untuk berpamitan kepada El, namun tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Mereka pun saling membuang pandangan kearah lain.


El hanya mampu mengumpat didalam batinnya tanpa mengeluarkan unek-uneknya.


Cih, begitu saja tanpa rasa malu dihadapan istri yang sudah sah untuknya. Rasanya ingin sekali aku menikahkan keduanya. Jika memang benar keduanya saling mencintai. Walau, aku akan terluka. Batin El.


"Aku akan berangkat El. Mas permisi, mas kemari pun untuk berpamitan padamu," pamit Antonio dan El pun menganggukan kepalanya dan mencium punggung tangan Antonio.


***


"Tuan," sapa Galih pada Antonio.


Antonio pun mengangkat kepalanya ketika namanya dipanggil, menyimpan bolpoin yang tengah dipegangnya beserta menghentikan pergelutan bersama dokumen-dokumen yang tengah dikerjakannya.


"Kenapa?" jawab Antonio dengan berdiri dan berjalan menuju ke arah sofa.


"Apa ada masalah?" tanya Antonio penuh selidik pada Galih.


"Tuan Dian Kusuma mengajukan proposal?" ungkap Galih tanpa berbasa-basi.

__ADS_1


"Maksudmu?" tanya Antonio.


Antonio nampak menghela nafas berat. "Apa yang dia inginkan? Sebaiknya kamu pelajari dulu Galih dikira semuanya berjalan semestinya pengajuannya, kau boleh menerimanya?" ungkap Antonio panjang lebar.


"Saya sudah mempelajarinya?" jawab Galih dengan masih menggantung setiap untaian perkataannya.


"Lalu?" tanya Antonio dengan menyipitkan kedua kelopak matanya.


"Saya hanya ingin memberi tahu anda tuan, langkah selanjutnya saya harus bagaimana? Karna anda Presdir diperusahaan ini tentunya saya tidak akan membuat keputusan semau saya, karna saya disini hanya sekertaris anda."


Antonio hanya mampu menghembus nafas kasar dengan penuturan Galih. Menyandarkan punggungnya kesofa, menatap dan menerawang atap langit-langit ruangan kerjanya dengan tatapan kosong.


Galih hanya berdiri menonton apa yang tengah Antonio lakukan. "Bagaimana tuan?" tanya Galih membuyarkan lamunan Antonio.


"Aku tidak tahu apa yang dia rencanakan Galih!" jawabnya dengan nada putus asa.


"Kita ikuti saja rencananya tuan, saya akan mencari tahu maksud dari inti tuan Dian?" Antonio hanya menganggukan kepalanya.


Galih pun keluar dari ruangan Antonio. Dia mulai sibuk mencari-cari tahu apa maksud dari tuan Dian.


***


"Bagaimana apa diterima?" tanya Dian kepada orang kepercayaannya.


"Saya rasa mereka sedang mempertimbangkan nya tuan," jawab nya.


Senyuman licik tersungging dibibirnya. Dia kini tengah menata rencana liciknya kepada Antonio dengan membuat kerugian besar untuk perusahaan Antonio.


"Awasi gadis kecil itu dengan putranya,"


***


Waktu kewaktu kecurigaan El mulai menyeruak didalam dirinya. Ingin percaya terhadap sang suami namun apalah daya semua berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya.


Seperti tengah malam ini El tidak menemukan sosok sang suami berbaring diranjang empuknya. Ranjang yang dingin tanpa penyatuan sebuah cinta dari sepasang suami istri, yang mungkin hanya sepihak yang menginginkannya.


El pun berfikir sejenak kemana kah suaminya tengah malam begini? Bertahun-tahun berbagi ranjang tanpa adanya kegiatan menumpahkan hasrat.


Dia pun mulai berjalan untuk mencari sosok pria yang menjadi suaminya. Dia sudah kesana kemari untuk mencari suaminya namun karna perjalanan yang memutari rumah itu El pun kehausan dan menuju kearah dapur untuk minum.


Ketika dia sudah meminum dia pun akan naik keanak tangga. Namun karna mendengar perdebadatan sengit diantara mereka akhirnya El pun bersembunyi dibalik tembok.


"Lepas, sudah berhenti cukup kamu mengejarku terus. Aku lelah," geramnya dengan memukul lengan lelaki itu.


Apa yang mereka bicarakan sampai harus tengah malam membahasnya. Batin El.


"Tapi a-aku Anandita," ungkapnya dengan nada memelas dan menghiba.


"Apa," hardiknya dengan mulai emosi.

__ADS_1


"Suttttt," pinta Antonio untuk Aurelia jangan berteriak dan menempelkan jari telunjuknya kebibir.


"Panggil aku Aurelia," tegasnya pada Antonio. Antonio hanya mengangguk.


Antonio mulai berjalan dan Aurelia mundur perlahan kebelakang. Aurelia nampak ketakutan apa yang akan Antonio lakukan. Aurelia sangat ketakutan saat ini.


"ma-mau apa kamu?" tanya Aurelia bergetar. Yang tadinya bersikap garang dan ketus, kini berubah menjadi ketakutan dan melemah.


Antonio tidak menjawab semua lontaran pertanyaan yang ditanyakan Aurelia. Antonio pun menyundutkan Aurelia ketembok mengunci disisi kiri dan kanan dengan tangannya.


"Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu," bisik Antonio ditelinga Aurelia dan tentunya tidak bisa didengar oleh El.


Apa yang dibisikkan mas Tino... Kok bisik-bisik begitu sih. Batin El.


Aurelia mulai berkaca-kaca. Hatinya yang dulu gersang kini mulai berbunga-bunga kembali, dengan untaian gombalan Antonio bagaikan siraman dan pupuk untuk taman hatinya.


"Menikahlah denganku!" cicit Antonio dengan sendu.


Aurelia pun mendongakkan kepalanya untuk mencari tahu apakah ada kebohongan dimata indah laki-laki yang kini sedang mengunci pergerakan tubuhnya?


Namun nihil tak ada kebohongan sama sekali. Dia pun mulai menjatuhkan air matanya dihadapan Antonio. Dia mulai memperlihatkan sisi rapuh nya dihadapan Antonio.


"Apa aku boleh memelukmu?" tanya Antonio dengan hati-hati.


Tak ada sahutan ataupun jawaban, Antonio pun mulai mendekap tubuh mungil yang dikunci pergerakannya. Membawa tubuh itu kepada dada bidang menyambut hangat tubuh Aurelia.


El menganga dan bola matanya membulat sempurna hampir melompat dari kelopak matanya. El pun membekap mulutnya sendiri dan mengigit kecil bibir bawahnya. Agar tangisannya tak terdengar.


Menjijikan sekali pemandangan ini. Batin El.


El pun menghembuskan nafas berkali-kali untuk menetralkan keterkejutannya. Air matanya tak dapat terbendung dengan pemandangan didepan matanya.


El memegangi dadanya merasakan sakit begitu hebat.


Sakit aku mas Tino, kamu memeluknya tapi tidak pernah mau memelukku. Batin El kembali bergunam.


Ketika kaduanya sudah melepaskan pelukannya, Antonio pun dengam sigap mengusap sisa air mata dipipi Aurelia. Mengecup dahinya dan menyuruhnya untuk kembali kekamar.


Aurelia pun tanpa membantah pergi berlalu dari hadapan Antonio. Dan Antonio pun berjalan kearah dapur. Disaat Antonio kedapur dengan cepat El pun manaiki anak tangga menuju kamarnya.


Dan tanpa El sadari ada sepasang mata yang tengah melihatnya dengan tatapan iba dan juga sama hal nya merasakan yang El rasakan. Sakit! Begitipun yang ia rasakan.


***


Haiii aku kembali hadir😍


Tau kan harus tekan jempol untuk mengantisipasi ceritaku. Jangan lupa ya hihi


Aku tidak bisa up tiap hari seperti kemarin mohon dimengerti ya😍😍 aku lagi sibuk didunia nyata ini😂.

__ADS_1


***


BERSAMBUNG


__ADS_2