
"Kak berhenti disini!" titah El pada Willy.
Ciiittt
Rem mobil pun dipaksa berhenti tanpa aba-aba.
"Auwwwwww," keluh El dengan tangan mengusap perut.
"El kenapa? kedokter ya?" saran Willy karna khawatir.
El pun menghembus nafas, lalu mengeluarkannya perlahan-lahan. "Tidak usah kak, aku sudah merasa lebih baik," jawab El pada Willy.
Willy hanya mengangguk saja. "Kakak lihat yang diseberang sana itu seperti mas Tino kak?"
Willy pun menoleh, dia mencermati sosok pria tegap yang menjadi pusat objek tatapannya.
"Itu bukan El, hanya mirip saja,"
Namun El tetap pada pendiriannya menganggap laki-laki yang tengah bercengkrama dengan Aurelia adalah Tino. Hormon kehamilannya kadang membuatnya menjadi keras kepala, tanpa mendengar saran dari orang lain apalagi dari Willy.
Willy yang selalu dibencinya, namun entah kenapa janin yang dikandungnya selalu ingin bersamanya.
📞 "Hallo bos kita sudah melihat target," lapor pria itu.
📞 "Bagus coba kalian tabrak saja gadis itu," titahnya pada anak buahnya.
📞 "Baik bos."
Gas mobil pun tengah diinjak dan bersiap-siap untuk melaju pesat untuk menabrak sosok gadis berparas cantik itu.
Dia keluar mobil memutarinya lalu, menoleh kekanan dan kekiiri.
Bruummm
Bruummm
Pedal gas tengah mereka injak untuk menabrak gadis yang tengah hamil muda.
"Nona jangan berjalan tetap disitu," teriak Aurelia dari sebrang. Sontak membuat Willy keluar lalu menarik tangan El supaya tak berjalan lebih jauh.
"Ahhhhh,"
Mereka berdua terjatuh dengan posisi Willy berada dibawah, dan El diatas tubuh tegap Willy dengan mendengar debaran jantung Willy.
Dengan berlari Aurelia menjerit histeris. "Nona,"
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Aurelia khawatir, lalu menarik lengan El dengan lembut. Membantu gadis itu untuk berdiri.
"Nona mau kemana?" tanya Aurelia.
"Apa pria yang tadi itu paman Antonio?" seru Willy pada Aurelia.
Antonio?. Batin Aurelia.
Aurelia melamun sejenak dengan pertanyaan Willy, Willy memperhatikan setiap reaksi dari mimik wajah perempuan dihadapannya.
"Sepertinya karna hormon kehamilan yah, nona seperti pencemburu jika menyangkut suaminya," imbuh Aurelia.
"Siapa yang tengah hamil maksudmu?" Willy kebingungan.
"Nona El tuan, tolong lebih waspada lagi, saya permisi," pamitnya dengan membungkukan badannya, dan berlalu pergi.
Apakah anak ini anakku?. Batin Willy.
***
Willy dan El, sudah tiba dirumah dengan keadaan El yang terlihat lemas. Dengan sigap Antonio menggendong El menuju kamarnya.
Nampak Willy mengekorinya dari belakang. Willy pun menceritakan kejadian tadi yang tengah mereka alami.
__ADS_1
"Shittt," decak Antonio.
Antonio menyambar ponsel dinakas dan menelfom seseorang.
"Sialan pake sibuk segala," umpat Antonio.
Setelah beberapa saat akhirnya panggilan pun masuk kenomor Antonio.
📞 "Tuan apakah nona El baik-baik saja? saya sudah tahu siapa dalangnya," lapor Galih pada Antonio.
📞 "Baik kau urus segalanya, kalo bisa bunuh saja mereka. Beraninya akan mencelakai istriku,"
Panggilan pun berakhir, tepatnya dimatikan secara sepihak.
Sultan mah bebas😂😂 sabar ya mas Galih, ini Author lagi telfonan sama mas Galih. 😂
"Aku sudah menelfon dokter untuk melihat kondisi istri paman,"
"Baik, makasih ya Will, paman saat ini banyak pekerjaan jadi tidak menjaga El lebih extra." keluh Antonio dengan bersedih.
Willy pun menepuk bahu Antonio. "Tidak apa-apa paman, aku permisi dulu." Willy keluar dari kamar Antonio dengan merasakan sedikit nyeri dibagian hatinya.
Dokter pun datang untuk memeriksa El, janin didalam kandungannya baik-baik saja, dengan beristirahat El akan pulih kembali. El hanya kelelahan.
"Vitamin sudah saya resepkan tuan, lebih extra lagi menjaga kehamilannya. Dia tidak kenapa-kenapa, dia hanya kelelahan saja," penjelasan dari dokter Arini.
Dokter Arini pun bergegas pergi setelah memeriksa El. Sejak kejadian kemarin Antonio lebih extra waspada dan siaga. Seperti tengah menjaga anaknya sendiri. Antonio pun meminta Galih untuk meminta cuti kuliah selama kehamilan El.
Beberapa bulan kemudian...
Setelah beberapa bulan berlalu kini kehamilan El sudah memasuki bulan sembilan, perutnya pun kini sudah membuncit. Itu artinya El akan segera melahirkan sosok yang ditunggu-tunggu. didalam perutnya.
"Mamah aku mau melahirkan namun tidak ada dirimu disampingku," gumam El dengan menghejen.
Antonio mencium kening El bertubi-tubi, mencoba menguatkan, dia tidak bisa menjemput orang tua El disituasi seperti ini.
"Ayo bu sedikit lagi, akan keluar bayinya,"
"Ahhhh,"
Oaaa
Oaaa
Dokter pun membersihkan tubuh bayi laki-laki berparas tampan, lalu memberikannya pada Antonio untuk diadzani. Setelah selesai diadzani, bayi itu pun diberikan kepada El, ibu dari sang bayi untuk memberikannya asi.
"Selamat ya bu anaknya laki-laki sangat tampan, seperti daddy nya," ucapan selamat dari suster perawat.
El hanya tersenyum, lalu memberikannya asi untuk bayi mungilnya.
"Kamu lapar ya baby boy, pelan-pelan sayang nanti tersedak," El meneteskan air mata kebahgiaan atas kelahiran putra pertamanya yang telah terlahir selamat dan menjalani persalinan normal.
Sungguh tak dapat berkata apa-apa, dan tak mampu lagi dia mengucap syukur, atas nikmatnya melahirkan sosok anak dari rahimnya.
"Semoga menjadi anak soleh berbakti kepada orang tua sayang,"
"Mas sudah mempunyai nama untuk anakku?"
"Mmm, mas belum menyiapkannya El,"
"Tidak apa-apa mas,"
Tidak akan menyiapkan karna ini bukan darah dagingnya, selama ini pun dia tidak pernah menyentuhku. Meskipun kami telah menikah. Batin El.
"Alwi Ananda Nugraha"
"Nama yang sangat indah,"
💬 "El kecil kemari dedek bayinya sudah lahir. Apa tidak mau menjenguknya?" isi pesan yang dikirimkan El kepada El-Nuri gadis yang selalu bertanya kapan dedek bayinya lahir.
__ADS_1
Setelah memberi nama, bayi itu dengan anteng tertidur pulas digendongan El.
Ceklek
Pintu kamar ruangan El terbuka lebar. Sosok gadis itu berlari-lari dengan tertawa riang untuk menyambut kelahiran bayi laki-laki yang akan menjadi temannya bermain.
"Aunty---,"
"Wah, baby boy yah, tampan aunty," puji El kecil dengan membelai pipi lembut bayi suci yang baru terlahir itu.
"Mommy mu mana sayang?" tanya El, ketika gadis itu hanya seorang diri.
"Sebentar lagi datang aunty,"
"Aunty... dia daddy nya baby boy?" tanya El antusias, El lalu menatap Antonio untuk memberi isyarat apakah boleh dia menjawab iya, Antonio pun menganggukan kepalanya.
"Iya sayang,"
Ceklek
Pintu ruangan itu terbuka kembali menampilkan sosok Aurelia. Antonio menatap lekat perempuan itu.
Serasa tidak asing, dipenglihatan mataku. Dadaku berdebar kencang ketika aku menatap bola matanya. Apakah dia perempuan yang selama ini kucari?. Batin Antonio.
"Hallo nona, alhamdullah yah sudah selamat dua-duanya." Aurelia bernafas lega karna semuanya berjalan lancar.
"Iya Reli, kenalkan ini suamiku mas Antonio," El memperkenalkan Antonio.
"Salam kenal tuan Antonio, saya Aurelia." balas Aurelia memperkenalkan dirinya.
"Mom," cicit El kecil dengan menggoyang-goyangkan lengan Aurelia.
"kenapa?" tanya Reli dengan berjongkok didepan El kecil.
"El, mau menginap dirumah Aunty," rengeknya El dengan mengembungkan pipinya.
"Boleh kok sayang," jawab El kepada El kecil.
Pintu ruangan terbuka kembali. "Wah jagoanku sudah terlahir, tampan sekali," seloroh Willy dengan bangganya.
"Sudah diberi nama El? aku punya saran memberikannya nama, Alwi Nugraha," saran Willy pada El.
Ketika Antonio sudah sadar dengan pemberian nama Willy yang sama dengan El, mereka semua pun tertawa.
Setelah beberapa hari dirawat El pun sudah diperbolehkan pulang. Dengan antusiasnya El kecil melompat-lompat kegirangan, dia sudah tidak sabar untuk menginap dan menjaga baby boy.
Selama beberapi hari pula Antonio, turun tangan sendiri untuk mencari tau sosok Aurelia. Dia tidak meminta Galih untuk mencari tahu tentang latar belakangnya.
"Apakah benar ini,"
"Kau didepan mataku sekarang, aku harus bagaimana untuk bisa berdua denganmu dan bertanya banyak tentang hal anakku," ucap Antonio dengan mulai meneteskan air matanya.
Bukan karna lemah, sosok ayah akan menjadi cengeng ketika menyangkut tentang buah hatinya.
"Kurang ajar kau tuan, cihh,"
"Laki-laki tidak bertanggung jawab,"
"Aku orang pertama yang akan membunuhmu jika kau membuat nonaku terluka,"
Umpatan-umpatan beruntun untuk Antonio ketika dia telah menemukam fakta baru tentang masa lalu Antonio.
"Gadis itu ternyata benar dugaanku,"
"Apa lagi ini, APA,"
***
BERSAMBUNG
__ADS_1