
Ima membuka paksa kamar Alwi dengan kasar. Ketika ia meraba samping ranjangnya sang suami tidak berada disana. Ia mendengar mereka tengah bergurau sungguh semakin Ima semakin murka.
"Ohh, jadi begini kelakuan kalian," decak Ima.
"Keluar dulu mah, kita bicarakan dibawah saja. Agar Alwi tidak terbangun." mereka berempat turun kebawah.
Suasan terasa semakin dingin. Kala melihat kemarahan Ima yang begitu membludak. Ia pasti akan marah-marah kembali. Ima menatap ketiganya dengan tajam.
Rasanya sungguh sangat membuat Ima lelah, "Karena kamu tidak bisa diajak berdamai nak Wil. Saya akan segera mungkin menikahkan El," sahut Ima.
El langsung membelalak, tidak percaya dengan keputusan sang mama yang secepat itu akan menikahkan dirinya.
"Mah," rengek El.
"Tidak ada tapi-tapian El. Nak Willy silahkan anda kekamar anda," ucap Ima.
Ima menjatuhkan tubuhnya disofa dengan memijat pelipisnya. Terlalu lelah kalau harus terus beradu mulut dan memaki lelaki itu.
***
Kini acara akan segera dipercepat. Ima mendatangi Galih untuk meminta pendapat. Namun bukan pemandangan yang ia inginkan, kala ia melihat diapartmennya Galih sedang bersama kekasihnya.
Ia menghembus napas berat. Rasanya lelah kala melihat perjuangannya hanya seorang diri. Tidak ada yang mendukungnya. Semua menentang keras kemauannya. Dengan berat hati ia mengetuk pintu meskipun pintu tidak tertutup.
Mereka berdua pun menoleh kearah pintu. Betapa terkejutnya mereka ketika tahu siapa yang bertamu.
"Saya boleh masuk?" tanya Ima.
"Boleh nyonya," jawab Galih masih bersikap santai.
"Saya mau kalian secepatnya menikah," ucap Ima.
Begitu berbunga-bunga, dan wajahnya berbinar-binar hati kekasih Galih kala mendengar lontaran Ima. Ia belum tahu bahwa Ima meminta Galih agar El dan Galih yang secepatnya menikah dengannya bukan dirinya.
Tetapi kekasih Galih kembali murung, kala mengingat sang nyonya yang akan menjodohkan Galih dan El. Ia pun beranjak dan akan berpamitan pulang. Tetapi dengan ramah Ima meminta kekasih Galih agar tetap disana.
"Siapa yang dimaksud nyonya?" tanya Galih.
"Iya kalian berdua, siapa lagi," jawab Ima.
__ADS_1
"Saya lelah hanya memikirkan ambisi saya. Saya hanya mau kamu menjelaskan saja apa yang sebenarnya terjadi agar saya mengerti,"
Galih pun dengan senang hati menceritakan segalanya secara rinci pada Ima. Ia sungguh bahagia kala tahu Ima sudah tidak memintanya untuk menikahi El.
Ima juga meminta Galih untuk memuluskan segala rencananya. Dengan senang hati juga kekasih Galih menawarkan diri untuk membantu Ima. Ia juga meminta Galih untuk menelpon Antonio.
Setelah semuanya mengerti akan rencana Ima. Mereka pun tersenyum lega karena akhirnya Ima sadar dan mau mendengarkan semuanya dengan jelas. Apalagi ia juga sudah mendengarkan dari Antonio langsung.
Ima semakin bersalah dan begitu malu ketika mendengar penjelasan yang Antonio berikan. Harus bagaimana ia kali ini untuk bersikap pada Willy. Bahkan untuk menyapanya saja begitu sangat malu baginya.
"Saya malu karena sudah berprasangka buruk pada nak Willy," sesal Ima.
"Tenang saja nyonya, keponakan saya pasti tidak akan membenci nyonya. Ia pasti akan senang karena nyonya telah merestui dia," ucap Antonio.
Ima pun berpamitan lebih dulu untuk pulang. Ia akan meminta Ananda untuk melancarkan aksinya supaya berjalan mulus. Sedangkan Galih, Antonio dan kekasihnya Galih sungguh bahagia mendengarnya.
"Senang aku mendengar nyonya Ima merestui tuan Willy," lontar kekasih Galih.
"Sudah aku duga kalian ada apa-apanya. Pantas saja pas saya menikahi El dulu. Kamu kekamar Galih. Apa kalian melakukan..." tuduh Antonio.
"Jangan sembarangan kalo bicara tuan aku masih gadis," tegas kekasih Galih.
Kini semua prasangka nya benar. Bahwa mereka mempunyai hubungan khusus.
"Saya mohon tuan jangan beritahu tuan Willy. Biarlah nanti pas waktunya mereka menikah mengetahui hubungan kami, karna kami juga akan dinikahkan secara bersamaan oleh tuan Ananda, agar mereka tidak merasa bersalah pada saya. Anggap saja ini kado untuk mereka," terang kekasih Galih.
Sedangkan Galih tidak bergeming ia hanya mendengarkan dan tetap santai menyikapi. Antonio pun mengerti dan mengiyakan.
***
Ketika Ima memasuki kamar, ia sedikit malu untuk mengutarakan keinginannya, malu karena tidak percaya dengan Ananda. Ia lebih dulu berganti pakaian.
Ima duduk ditepian ranjang dengan gelisah. Ia sedikit bingung harus memulai dari mana untuk membicarakan pada suaminya. Ia ingat betul begitu keras kepalanya dirinya dan tidak mau mendengarkan apa yang Ananda akan jelaskan.
Dengan ragu-ragu dan keberanian tinggi dan menghalau rasa malu pada dirinya Ima mendekatkan tubuhnya didekat Ananda.
"Pah, bangun." Ima mengecup pipi Ananda dengan sayang. Kala berada disamping Ananda yang telah tertidur. Tetapi Ananda masih berpura-pura tertidur.
'Mama pasti ada sesuatu. Makanya berubah jadi manis, pura-pura susah dibangunkan ah biar diciumnya banyak. Sudah lama mama tidak bersikap manja pada papa,' batin papa.
__ADS_1
"Papa." bisik Ima. Ia pun mendaratkan sebuah kecupan lagi dipipi kiri dan kanan lalu mengecup bibirnya.
Ananda pun terbangun dan menekan tengkuk Ima. Sudah lama ia tidak mengecap manisnya bib*r sang istri karena selalu marah-marah. Karena keinginannya yang Ananda tentang.
Ima mendorong paksa tubuh Ananda agar menjauh, "Ih papa," rengak Ima dengan mengusap bibirnya.
"Papa rindu mama." ucap Ananda dan langsung memeluk Ima.
"Ada sesuatu yang ingin mama sampaikan pah, lepaskan dulu," pinta Ima.
Ananda pun mengalah dan mendengarkan semua yang mau Ima jelaskan. Ananda begitu bahagia kala mendengar lontaran Ima. Sungguh istri paling sabarnya telah kembali.
Ia juga memberi tahukan bahwa ia telah bertemu Antonio dan meminta penjelasannya agar ia tahu segalanya.
"Terimakasih mah." Ananda mengecup sekilas bibir Ima.
"Papa senang mendengarnya mama sudah sadar,"
"Maafkan mama yah pah, karena tidak mau mendengarkan penjelasan papa," sesal Ima.
"Tidak apa mah,"
"Tapi mama malu sama nak Willy, kok bisa-bisanya anak kita begitu bodoh tidak mau nak Willy bertanggung jawab," gerutu Ima memaki sang anak yang begitu polosnya tidak mau diberi tanggung jawab.
Ananda pun menjelaskan tentang kekasih Willy, yang tidak lain adalah kekasih Asistennya. Dan kini Ima mengerti akan alasannya mengapa El tidak mau menikah dengan Willy.
"Ohh, bagitu pah. Pantas saja El menolak lamaran Willy. Putri kita sangat baik ya pah. Didikan keluarga sahabat papa sangat bagus. Tidak salah kita menitipkan kesayangan kita pada mereka."
"Iya sifat baiknya menurun darimu. Ya sudah tidur mah. Sudah malam." Mereka berdua pun tertidur pulas.
***
"El mama sudah putuskan kalian akan menikah dalam waktu dekat, persiapkan dirimu. Dua hari lagi kamu akan menikah," ucap Ima saat ia kini telah masuk kekamar El.
"Mah El sudah bilang, El tidak mau. El sekarang cintanya sama kak Willy daddy nya Alwi mah," tolak El.
"Enggak bisa El, kamu tahu kan mama enggak setuju kamu sama dia. Enggak ada penolakan. Mama tidak suka dibantah," jelas Ima.
'Maafkan mama sayang, mama hanya ingin memberikanmu kejutan,' batin Ima.
__ADS_1
El pun berlari mengejar Ima.
***