Salah Menikah

Salah Menikah
Bab 75. Undangan dari Restu dan Resty


__ADS_3

Sastra menatap Restu dengan tatapan tajam. Ia hanya bisa mengumpat lelaki itu didalam hatinya. Willy hanya tersenyum menanggapi lontaran Restu.


Willy mencerna setiap untaian kata yang Restu lontarkan. Mungkin kata-kata itu akan langsung ia lakukan, jika El masih menyandang status istri pamannya. Kini wanita pujaan hatinya telah menjanda. Lalu apakah salah jika Willy mengejarnya. Meskipun ia masih menutup hatinya.


"Kata-katamu itu akan kulakukan, jika dia masih istri pamanku. Kini dia menjanda, kesempatan yang tidak akan aku sia-siakan."


Mata Sastra dan Restu membulat sempurna. Mereka berdua lantas meminta Willy untuk menjelaskan semuanya. Willy menjelaskannya dengan sangat menyusun. Dimulai ia melihat pamannya menikah, lalu drama rumah tangga yang dijalani keduanya.


Sastra hanya menggeleng tidak percaya, dengan apa yang baru ia dengar saat ini. Restu pun tak kalah menganga. Sampai sang pacar menutup paksa mulut Restu.


"Aduh, itu mulut kalo kaget. Mangap terus. Nanti gajah masuk ah." ucapnya seraya menutup mulut Restu dengan tangannya.


Restu dengan lembut menurunkan tangan pacarnya dari mulutnya. Ia hanya tersenyum malu, namun tanpa dosa. Willy menatap arloji yang tersemat, ia berdiri Dan merapikan pakaiannya.


"Mau kemana?" Tanya Sastra.


Sastra pun mengikuti Willy hingga ia pun berdiri Dan menirukan apa yang dilakukan Willy. Restu pun sama melakukan apa yang telah dilakukan Willy. Disaat mereka bertemu, Willy selalu menautkan halisnya.


Kebingungan selalu didapatnya. Willy selalu bersikap santai. Padahal ia ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat gelagat sahabatnya. Rasanya ia ingin menonyor kepala keduanya. Agar mereka pintar, dan tidak kurang setengah ons.


"Ngapain," ucap Willy.


Sastra dam Restu hanya mengangkat tangan lalu membentuk 'W' dan melambaikannya seolah tidak mengerti apa yang Willy lontarkan.


"Untung didepan teman kamu, bukan didepan teman aku. Kamu malu-maluin banget sih bang," teriaknya didalam ruangan.


Sastra menepuk bahu Restu dengan kasar, sampai Restu akan tersungkur.


"Aku pulang, sudah malam ini," sahut Willy.


"Jangan dulu. Aku serius mau tanya beneran sekarang, duduk lagi tuan." Restu lantas memaksa Willy agar ia terduduk lagi dikursinya.


Belum satu menit Willy terduduk ponselnya sudah berdering, pujaan hatinya menelpon. Sebelum mengangkat Willy hanya merapikan jasnya. Lalu, mengangkatnya.


Ketiganya hanya mendengarkan, Restu dan Sastra hanya mendengarkan perbincangan mereka. Sesekali mereka berdua tersipu, membayangkan keluarga merekapun terjalin bahagia seperti Willy.


📞 "Daddy Wil, dadah... Ditunggu dirumah. Beli martabak yang rasanya mantap jiwa," kata terakhir yang diucapkan Alwi.


Setelahnya telponpun berakhir, Willy masih tersenyum bahagia. Sedangkan ia tidak menyadari jika ia masih bersama sahabatnya. Ia lantas menyandarkan punggungmya kesofa. Ia memejamkan sesaat matanya.


"Pulang gih, kasihan anakmu." Usir Restu.


Willy beranjak dan berpamitan pada mereka, "Tuan tunggu!" Seru pacar Restu.

__ADS_1


"Ini undangannya, tolong datang ya dengan anakmu. Aku sudah suka sama anakmu disaat mendengar suaranya saja,"


"Resty," eja Willy.


"Tu, kamu Lama nikah. Cari nama calon yang mirip dengan namamu," gelak tawa dari Sastra tidak hentinya mengejek Restu.


Sedangkan Willy berpamitan untuk pulang. Sastra mengejar Willy karna kunci mobilnya berada pada dia.


***


Disuasana kamar yang gelap, terlihat wanita paruh baya itu tengah memikirkan sesuatu.


'Bagaimana jika Willy seperti Antonio. Apa ia juga akan menyakiti hati anakku,' batin Ima.


Ananda menekan saklar, agar kamarnya terang dengan cahaya. Ia menghembus nafas kasar. Ananda sudah menebak, pasti sang istri sedang memikirkam anaknya. Ia menyesali karna sudah memberitahukan pada istrinya.


Ia berjalan mendekati sang istri, "Jangan terlalu dipikirkan. Nanti kamu sakit lagi mah, lihat dari atas yu. Ada Willy dengan Alwi yang sedang diruang tamu, kamu bisa menilainya sayang," seru Ananda.


Ima hanya memeluk dengan erat tubuh lelaki yang selalu ada disaat dirinya terpuruk. Ia perlahan menjuntaikan kakinya dari ranjang. Mereka berjalan beriringam untuk melihat Willy dan Alwi.


Ima menatap mereka dengan tatapan haru, sedih yang ia rasakan. Kenapa anaknya harus salah menikah, jelas-jelas yang terlihat serius adalah Willy.


"Sudah tenang? " Tanya Ananda. Ima mengangguk.


****


"Dad, ini beneran martabaknya mantap jiwa." Jempol Alwi terangkat memuji makanan yang enaknya luar biasa dilidahnya.


El tertawa mendengar celotehan anaknya. Entahlah, dia tahu dari siapa kata-kata itu. Setelah anaknya masuk TK, sungguh membuatnya kewalahan. Anak kecil itu lebih aktif dari biasanya.


Apalagi keingin tahunannya, membuat El bingung untuk menjawab pertanyaan yang terlontar dari bbir mungil itu.


"Sayang tahu dari mana sih, kata-kata itu?" tanya El.


"Mommy nggak usah kepo deh," jawab Alwi.


"Kalo sedang makan, jangan ngobrol tampan, nanti keselek. Makannya dihabiskan dulu nanti ngobrol lagi," sambung Willy.


Ketiganya menyantap martabak sampai tandas, yang tersisa hanya dusnya. El dan Willy hanya memakan satu potong. Sitampan yang rakus itu seperti baru memakan martabak.


Karena mamakan yang manis, Willy mengantar Alwi untuk menggosok gigi. Setelah selesai mereka berdua kekamar Alwi. Alwi didekap penuh Cinta oleh Willy. Hingga Alwi tertidur dipelukannya.


***

__ADS_1


El masih terduduk ditempatnya semula. Setelah Willy turun, El mempersilahkan Willy agar duduk. Menikmati teh dimalam hari.


"Kayaknya, kalo ditaman belakang lebih enak deh kak. Ngeteh ditemani malam Indah penuh Bintang," ucap El.


"Boleh, tapi kamu pake jaket dulu." El beranjak untuk membawa jaket.


Sedangkan Willy ia ketaman belakang, tidak lupa juga ia membawa teh untuk mereka. Setelah El membawa jaketnya ia lantas melewati ruang tamu. Diatas meja ia melihat sebuah undangan.


"Resty dan Restu. Untuk tuan bos Willy," Eja El.


Ia langsung membawa undangan itu, untuk diberikan pada Willy. Setelah sampai ia langsung memberikannya. Willy menerimanya.


"Eh, bintangnya nggak ada yah kak?" tanya El. Ia menutup mulut agar tawanya tidak terlalu kencang.


"Jadi nggak Indah, yang ada malam gelap gulita. Sunyi, sepi."


"Kata siapa? Tetap Indah kan ada kakak yang menemani hari-harimu." Willy lantas menyeruput tehnya. Agar rasa gugup tidak ia rasakan.


El hanya tertawa, Willy pun menoleh.


"Mmm, kalo kamu... Ikut kakak mau nggak?" tanya Willy ragu-ragu.


"Pasti ke pesta pernikahan ya? Boleh sih kayaknya, kalo diajak kejurang mah ogah," jawab El.


"Masa ngajak loncat kejurang El!  Kalo loncat kepelaminan mau?" tanya Willy.


Willy masih bersikap santai, sedangkan El, ia salah tingkah dibuatnya. El menyemburkan teh yang sedang ia seruput. Membuat Willy kaget ia lantas membersihkan mulut El.


Willy pun menepuk pundak El, "sudah kak,"


"Aku, belum kepikiran untuk menikah lagi kak. Mungkin kakak nggak usah bahas itu lagi,"


"Kakak bercanda El, tidak usah dianggap serius juga," ucap Willy.


Willy pun berpamitan pulang karena jam sudah menunjukan pukul 09.30. Setelah mengantarkan Willy, El langsung berbaring di ranjangnya.


Ia masih memikirkan lontarkan Willy.


"Kalo loncat ke pelaminan mau?"


Ada rasa bahagia, rasa gugup yang dirasakannya berbeda ketika berada disamping Antonio. El menepuk kedua pipinya, agar tersadar dari khayalannya.


'Masa sih, setelah gagal membina rumah tangga dengan pamannya. Trus nikah sama ponakannya,' batin El.

__ADS_1


***


__ADS_2