
" Ahhhh," teriaknya ketika dia berlari dan menyebrang tidak melihat kiri kanan.
Nuri menutup matanya dengan kedua tangannya. Dia gemetar, ketakutan menyelimuti dirinya. Perlahan sang pengemudi turun dari mobilnya. Ia pun tak kalah kagetnya.
Ia turun dan menghampiri anak itu. Tangannya terangkat untuk memapah bocil yang tidak berhati-hati untuk menyebrang. Ia lantas mendudukan Nuri dan memberinya minum, Nuri masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Perlahan dia menurunkan tangannya ketika lelaki itu memberinya air minum.
"Daddy," sahut Nuri berkaca-kaca dan menubrukan badannya dipinggang lelaki itu.
"Mau kemana? Sendirian?! Mommymu mana?" cerca lelaki itu.
"Mmm, a-anu Dad aku mau kemakam! Aku rindu Daddy Akhtar," jawabnya lirih.
"Ayo Daddy antar,"
***
Lelaki itu pun mengantarkan Nuri pulang kerumah. Sesudah Nuri menumpahkan kebingungan yang dialaminya sekarang. Lelaki itu hanya bisa terenyuh dengan lontaran sang anak.
Dia langsung memeluknya dari belakakng. Perjalanan menuju rumah kepemakaman cukup dekat. Akhirnya mereka berdua telah sampai dirumah yang minimalis terkesan mewah itu. Keduanya menjuntaikan kakinya dan berjalan menuju rumah.
Aurelia menoleh kepintu utama, saat pintu itu terdengar terbuka. Sekian lama ia berkeliling disekitaran kampung dan tidak ada yang mengetahui kemana perginya Nuri. Ia langsung berlari dan memeluk Nuri begitu erat.
"Dari mana kamu? Mama sama nenek khawatir mencarimu," tanya Aurelia.
"Mom, nek. Aku minta maaf aku baru pulang dari rumah Daddy Akhtar." Nuri menjawab dan langsung menundukan kepala.
Lastri hanya sakit mendengar lontaran sang cucu. Hingga akhirnya dia memapah Nuri. Karna Aurelia melamun, dengan tatapan kosongnya menatap lelaki yang telah mengantarkan Nuri.
Mereka berjalan saling berdampingan, "Nek, aku mau bertanya," tanya Nuri.
"Tanya apa sayang?" jawab Lastri.
"Daddy ku daddy Akhtar kan nek?! Tapi kenapa bisa menjadi daddy Anton? Aku dibesarkannya dari kecil nek, dan yang kutahu hanya daddy Akhtar lah, aku bingung nek. Sampai akhirnya aku kerumah daddy untuk mencurahkan kebingungan yang tidak kumengerti," sahut Nuri.
Dan akhirnya mereka telah sampai dikamar Nuri, Lastri hanya tersenyum dan memeluk tubuh kecil itu.
"Nanti kalo sudah besar diceritakan ya! Nuri belum akan mengerti jika pun diceritakan sekarang," ucap Lastri.
***
"Anandita,"
"Kamu mendengarkan aku Anandita?" tanya lelaki itu.
__ADS_1
Dia mengibaskan tangannya kewajah Aurelia, agar ia tersadar dari lamunannya. Rely masih bergeming, hingga akhirnya lelaki itu menggucangkan bahunya. Aurelia pun tersadar, ia langsung mengedarkan pandangannya. Mencari Nuri, anaknya yang dari tadi ia cari.
"Nuri, anakku mana?" tanya Aurelia gelisah.
"Lalu, ada apa tuan Antonio datang lagi kerumah saya? Apakah Anda tidak takut dipecat?" cerca Aurelia.
Ya, lelaki itu adalah Antonio. Lelaki yang hampir menabrak Nuri. Antonio bermaksud untuk menemui mama mertua Aurelia. Ia hanya ingin meminta restu supaya ia bisa lagi memperjuangkan cintanya. Lama mereka hanya berdiri didepan pintu.
"Apa aku, boleh masuk dulu?" tanya Antonio.
"Eh, iya boleh masuk saja," jawab Rely sedikit risih karna Antonio bertamu.
Nuri sudah terlelap kedalam mimpi, Lastri pun membuatkan minuman untuk tamunya. Setelah selasai ia bergegas kedalam dan menyuguhkannya. Sebelum Lastri menjauh Antonio berdiri dan manggil pada Lastri.
"Bu, bisakah kita berbicara?" tanya Antonio hati-hati.
Lastri menganggukan kepalanya. Mereka pun mendudukan bokongnya dikursi tempat Aurelia berada.
"Apakah ada yang ingin dibicarakan?" tanya Lastri.
"Bu, aku kemari... Ingin meminta izin padamu!" sahut Antonio.
Rely menautkan halisnya, begitupun Lastri. Keduanya beradu pandang. Setelah puas menatap Aurelia, Lastri pun menoleh, pada Antonio dan menatapnya dengan tatapan teduh. Lastri mengangguk pada Antonio.
Ia takut bahwa sang mama mertua tidak merestui. Lama Antonio tidak berbicara. Hanya kegugupan yang tercipta diruangan itu. Hingga akhirnya Antonio mengungkapkan alasannya datang kesana.
"Aku, ingin ibu merestui aku untuk memperjuangkan cinta pada anak ibu," lontar Antonio.
Lastri tersenyum, dan menatap keduanya secara bergantian.
"Ibu merestui nak, tapi tunggu sampai masa iddah kamu berlalu. Baru satu bulan kalian berpisah. Tidak baik jika belum masa iddah selesai, kamu sudah mendapatkan pasangan baru,"
"Sekarang kamu pulanglah, waktu sudah hampir malam. Ibu tidak ingin tetangga beranggapan tidak baik. Pada anak ibu," pinta Lastri.
Antonio mengerti. Ia pun berpamitan dan pulang.
***
Antonio memilih untuk membelokkan arah perjalannya. Beberapa hari ia tidak mengontrol orang yang sedang ia tahan. Meskipun ia menahannya, dia memberikan pasilitas seperti biasa. Apalagi lelaki paruh baya itu defresi.
Antonio melihat ponselnya, ia menautkan halisnya ketika Galih hampir 20 kali menelponnya. Ia yakin Galih berada ditempat rahasianya. Antonio semakin mempercepat laju kendaraannya. Sedikit khawatir pada lelaki paruh baya itu.
Akhirnya ia telah sampai ditempat yang ia tuju. Bergegas ia masuk untuk melihat tahanannya. Antonio kaget bukan main ketika ia tahu bahwa yang bersama Galih adalah gadis kecilnya.
__ADS_1
Perlahan dia masuk, dan mencoba membuang rasa keterkejutannya. Kenapa Galih sampai membawanya kemari?
'Kenapa Galih bisa seceroboh itu membawa dia kemari?' Batin Antonio.
"Ehemmm," deheman Antonio membuat semua yang berada didalam kaget.
"Tuan," sapa Galih ia mendekat dan membungkukan badannya.
"Kamu ikut aku!" bisik Antonio pada Galih.
"Mmm, nona cantik aku permisi dulu. Meminjam Galih sebentar," izin Antonio padanya.
Wanita itu hanya mengangguk. Keduanya keluar dan berbicara empat mata. Diam-diam wanita cantik itu mengikuti mereka. Ia takut bahwa Galih akan dimarahi oleh Antonio.
Benar saja, ketika ia melongok karna pintu tidak tertutup rapat. Galih sedang dimarahi.
"Apa maksudmu membawanya kemari?" hardik Antonio.
"Kenapa kau tidak tangani saja seorang diri. Mengapa harus kau melibatkan nonamu!"
Dengan berapi-api Antonio akan melayangkan sebuah tamparan untuk Galih. Hingga akhirnya wanita itu memaksa masuk meskipun tidak diundang.
"Hentikan," teriak wanita itu dan masuk kedalam.
"Apa hak mu, akan menampar dia." tunjuk wanita itu pada Galih.
Ia mendekat disamping Antonio, menghempaskan dan menurunkan tangannya yang akan menampar Galih.
"Ini sudah bukan jam kerja. Dia bukan karyawanmu lagi. Tetapi dia asisten pribadiku ingat itu," seru wanita itu dengan tegas.
"Mas Galih, kau boleh keluar. Bawa saja paman kerumah sakit jiwa," pinta wanita itu.
Galih berpamitan pada keduanya dan membungkukan badannya. Ia langsung membawa lelaki paruh baya itu kerumah sakit. Untuk ditangani secara medis.
"Kau tahu, bahkan aku sering keluar masuk kerumah ini."
"Maafkan aku sebelumnya, jika aku tidak berlaku sopan padamu. Meskipun kamu mantan suamiku mas, yang harus kamu tahu bahwa paman itu ditangkap olehku. Bukan kamu,"
"El," panggil Antonio.
Wanita cantik itu adalah El, orang yang aktif memantau perkembangan kesehatan lelaki paruh baya itu.
Antonio bingung harus berkata apa lagi. Sampai akhirnya dia melayangkan beberapa pertanyaan untuk El.
__ADS_1
***